Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 54.


__ADS_3

"ingat kak, bukan ngga bisa tapi memang ibu ngga mau. apa kak Yuni lupa kalo aku dan mas Lukman sudah berusaha mengajak ibu tapi memang ibu yang ngga mau tinggal dengan kami" jawabku menatap kak Yuni yang masih memelototkan matanya menatapku.


"sama saja kan, itu berarti Lukman ngga bisa merawat ibu. udah bagus aku yang merawat ibu cuma dimintain uang sedikit aja pelitnya kebangetan" jawab kak Yuni dengan nada sinis.


"sedikit? udah tau uang itu sedikit kenapa masih kamu ambil, hah! ngga adalah artinya dibanding uang yang suamimu berikan, iyakan!" jawabku dengan nada sewot.


"yaa jelas lah, ngga ada apa-apanya dibanding dengan apa yang diberikan suamiku untukku. kamu itu iri kan dengan aku yang bisa mendapatkan uang lebih dari Lukman sementara kamu hanya mendapat lebih sedikit" jawabnya membuatku tertawa sinis.


"aku? iri! tidak kak sama sekali ngga! sebagai seorang istri aku hanya mengingatkan sifat suamiku yang sudah mulai diluar aturan agama, aku patut meluruskannya agar dia tak terus berada dalam jalan yang salah" jawabku dengan santai.


"maksud kamu apa? apa kamu lagi bilang kalo Lukman itu udah berada dijalan yang salah dengan memberikan uang pada keluarganya? jangan ngaco kamu Diah, dilihat dari sisi manapun tetap aja kamu yang salah sebagai istri ngga bisa membiarkan suami membantu keluarganya apalagi ibunya sendiri" jawabnya membuatku kembali mendengus kesal.


"eh kak sekarang aku tanya, kemana uang jatahnya dari suami itu? kemana uang yang diberikan mas Lukman pada ibu, dan kemana uang yang mas Lukman berikan yang katanya untuk anak-anakmu itu? asal kamu tau kak, bahkan mas Lukman ngga pernah memberikan uang lebih untuk anaknya tapi dia malah memberikan uang untuk keponakannya. sekarang, siapa yang gila disini?" jawabku menatap tajam kak Yuni dan juga mas Lukman yang sudah menampilkan wajah memerah menahan amarah.

__ADS_1


"cukup di, jangan keterlaluan! apa begini hal kamu dapatkan setelah pulang dari rumah orangtuamu hah, apa ini yang mereka ajarkan!!" bentak mas Lukman membuatku kembali menatapnya dengan tatapan tajam.


"jaga ucapanmu mas, seharusnya disini yang sangat marah itu aku. aku yang harusnya membenci dan menghina keluarga kamu, kenapa kamu malah melimpahkan seolah keluargaku aku yang salah. sekarang aku tanya, apa selama ini keluargaku pernah merongrong keuangan kita dan menghina kamu padahal mereka tau bagaimana sikapmu padaku? ngga pernah mas, andai mereka melawan itu bukan karna mengajari aku untuk songong pada suaminya tapi karna sebagai orangtua mereka pun ikut tersakiti jika anaknya disakiti" jawabku dengan menahan geram.


"Halah emang kamu dan keluargamu aja yang lebay, lagian memang kita melakukan apa. selama ini kamu yang ribet, padahal uang yang aku gunakan itu uang adikku bukan uangmu. tapi kamu seolah memperlakukan uang itu adalah uang hasil kerja kerasmu sendiri, ngga punya malu. udah pengangguran sok bisa menghasilkan uang sendiri, mana segala minta cerai lagi. emangnya kamu bisa apa tanpa Lukman, hah! kerjaan aja ngga punya" jawab kak Yuni membuatku menampilkan senyum tipis.


"eehh kak, walaupun aku ngga kerja aku masih bisa pulang kerumah orangtuaki. bahkan walau tanpa aku minta, aku akan disambut baik dengan mereka. yang pasti aku ngga akan bertemu dengan keluarga macam kalian, dan satu lagi. bukan aku yang ga bisa apa-apa jika aku dan mas Lukman bercerai, tapi mas Lukman yang ngga bisa apa-apa. mas Lukman akan kembali dengan penghasilannya yang gak seberapa, bahkan bisa jadi lebih kecil dari apa yang dia dapatkan sekarang. kak, mas apa yang kamu dapatkan saat ini ada hakku dan juga anak-anak sebagai tanggung jawab darimu" jawabku menatap mas Lukman yang langsung memalingkan wajah.


"memangnya kenapa kalo kakak saya menguasai keuangan mas Lukman? mereka suami istri, mbak Diah berhak mengelola gaji mas Lukman dengan sebagaimana mestinya. kenapa? kamu iri karna kamu hanya di berikan jatah dan tak diberikan untuk memegang seluruh keuangan suamimu, makanya merecok kehidupan rumah tangga adikmu sendiri kak Yuni? bukannya jatahmu katanya juga sudah banyak, hah!" kata Rey yang berada dibelakang kak Yuni membuat perempuan tersebut membelalakan mata mendengar perkataan Rey.


"aku? iri dengan kakak mu yang tampang pas Pasan ini, iihh sorry ya" jawabnya membuat Rey terkekeh.


"eeehh kak Yuni, mending ngaca. nih, jelas-jelas dilihat dari segi mana pun tetap kakakku yang menang. bahkan jika dipoles aja aku yakin semua lelaki akan menempel pada kak Diah seperti dulu sebelum dengan mas Lukman, bahkan suamimu juga bisa aja takluk dengan kak Diah loh" jawab Rey membuat kak Yuni membelalakan mata, begitupun aku dan juga mas Lukman yang tak menyangka jika Rey akan mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Rey, kamu apa sih Rey" kata ku menegur Rey yang masih terkekeh.


"biar mbak, biar perempuan ini sadar. bahkan dilihat dari sisi mana pun tetap mbak lah pemenangnya, lihat wajahnya. bahkan uang empat juta aja ya ngga bisa merubah wajahnya menjadi glowing, bahkan liat bajunya. tiap hari cuma pake daster dengan rambut dikuncir seperti itu. lihat, boro-boro enak dipandang. aku yakin pun dari pagi pasti juga belum mandi" jawab Rey membuatku menahan tawa karna memang itu lah kebiasaan kak Yuni yang sudah sangat aku hafal, karna setiap pagi ia pasti akan keluar rumah tanpa mandi terlebih dahulu. bukan hanya dia tali begitu juga dengan ibu mertuaku dan juga anak-anaknya.


"jangan kurang ajar kamu ya Rey, seenaknya aja menghina orang. kamu ngga liat bagaimana mbakmu itu, dia juga sama sepertiku." jawabnya membuatku menghentikan tawa sementara Rey langsung menatap tajam kak yuni.


"jelas beda kak, Mbak Diah kusam karna memang dia ngga dikasih uang yang cukup oleh mas Lukman. jangan kan untuk merawat wajah dan beli baju, untuk makan aja kurang. iyakan, bahkan hampir tiap hari kak Yuni juga minta kan barang lima sampai sepuluh ribu. segitu buat makan aja kurang kak, sementara kak Yuni dari suami dapat dari adik kandung dapat kerja juga setiap hari pasti dapat. waahh pasti tabungannya udah banyak, iyakan mbak" jawab Rey membuatku langsung mengacungkan jempol kearahnya.


"jangan sok tau kamu Rey, Lukman kamu kenapa diam aja kakak mu dibina seperti itu. kamu ngga mau belain aku?" kata kak yuno mencari pembelaan pada mas Lukman yang hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"bagaimana mau belain kak, kalo emang apa yang aku bilang itu bener semua dan ngga ada yang salah. sebagai seorang lelaki aku yakin mas Lukman juga berfikir yang sama seperti apa yang aku pikirkan, apa lagi suamimu. iyakan mas lukman?......


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2