
keduanya masih menunggu apa yang akan aku katakan, aku sengaja menggantung setiap perkataan yang akan keluar dari mulutku agar mereka merasa permainkan.
"cepetan apa syaratnya, jangan main-main ya Diah" kata kak Yuni menatapku dengan kesal.
"asal kalian yang mengeluarkan uang untuk membayar cicilan pada adikku!!" jawabku membuat keduanya membelalakan mata.
"mana bisa begitu, uang gaji Lukman aja udah kamu kuasai masa harus kami yang bayar uang cicilan hutang Lukman. jangan mengada-ngada kamu!!" kata kak yuni memelototkan mata.
"jelas lah, kalian minta uang jatah bulan kok. kalo aku yang bayar mana cukup gaji mas Lukman, sementara kalian aja sekali merong-rong pada mas Lukman soal uang, jadi kalo kalian mau uang jatah kalian utuh ya kalian harus mencicil hutang mas Lukman pada adikku" jawabku membuat ibu mertua mantap tajam kearahku.
"kamu jngan kurang ajar ya Diah, gaji Lukman itu besar disana itu juga ada hal ibu dan juga saudaranya kamu jangan mau menguasai sendiri seperti itu" jawab ibu mertuaku yang dari tadi mendengarkan perkataan ku dan juga ka Yuni.
"apa ibu lupa kalo aku juga istri mas Lukman bahkan sekarang aku yang memegang keuangan dirumah ini untuk memenuhi kebutuhan semuanya, aku berhak mengatur siapa yang akan mendapat jatah bulanan dan siapa ngga tidak. lagi pula, kak Yuni punya suami dan anak-anaknya punya ayah. semua masih tanggung jawab suami nya, kecuali kalo kak Yuni seorang janda baru mas Lukman boleh kembali menafkahi kak Yuni" jawabku dengan jelas membuatnya membelalakan mata.
"kamu menyumpahiku menjadi janda, hah! dasar ipar kurang ajar!!" jawab kamu mengayunkan tangannya hendak menampar ku.
"jangan main kekerasan disini kak, aku bahkan ngga akan segan-segan melaporkan tindakan kak Yuni pada pihak yang berwajib jika sampai tangan kotor kak Yuni mendarat dipipiku." kataku mengancamnya yang langsung terdiam dengan wajah menahan amarah karna aku mampu menangkis tamparan yang akan ia layangkan.
"sudah berani melawan kamu sekarang Diah, seharusnya kamu bersyukur dinikahi adikku. kalo bukan karna adikku mungkin sekarang kamu masih bekerja keras hanya untuk sekedar makan" kata kak Yuni membuatku tertawa dengan keras.
"kak kak, asal kakak tau. bahkan aku bekerja keras bukan untuk makan kak, tapi untuk sekolah adikku. kalo soal makan Alhamdulillah orangtuaku masih sanggup memberiku makan, bukannya perkataan itu cocoknya untuk kak Yuni dan juga kedua saudara kak Yuni. yang dari kecil harus sudah mencari uang sendiri hanya untuk sekedar makan sampai ngga bisa melanjutkan sekolah" jawabku dengan nada sinis menatap wajahnya yang terlihat sangat terkejut mendengar perkataan yang yang keluar dari mulutku.
"kurang ajar, jadi kamu menghina keluarga kami hah!! jangan merasa pintar Diah karna kamu ngga sepintar itu, kamu hanya perempuan bodoh!!" jawabnya kembali membuatku terkekeh.
"iyaa aku bodoh, terlalu bodoh karna mau menikah dengan Lukman dan masuk kedalam keluarga toxic seperti kalian. aku ngga menghina kak tapi itu lah kenyataannya, bukannya itu fakta?" jawabku dengan nada ketus, kak Yuni menatapku dengan pandangan tak suka. aku rasa dia benar-benar merasa terhina dengan apa yang aku katakan, tapi aku tak peduli. toh sejak tadi aku yang selalu ia hina-hina, aku hanya membela dirimu sendiri dari hinaan yang keluar dari mulutnya. apakah aku salah?!
"kurang ajar, sudah keterlaluan kamu Diah. ibu akan adukan perkataan kamu ini pada Lukman agar kamu segera diceraikan" kata ibu mertua, aku pun merespon dengan keterkejutan yang pura-pura.
"ooohh Alhamdulillah kalo gitu Bu, jadi aku ga perlu repot mengemis mas Lukman untuk menceraikan aku. silahkan ibu bujuk mas Lukman untuk menceraikan aku, kalo bisa aku akan sangat berterimakasih" jawabku menampilkan senyum lebar pada wanita lanjut usia tersebut.
__ADS_1
"dasar gila, ayok Yun kita pulang. sia-sia kita datang kesini" ajak ibu mertua pada anak perempuannya tersebut. mereka pun melangkah keluar dari rumah kontrakan ku dengan wajah menahan amarah.
"jangan lupa bilang sama mas Lukman untuk segera menceraikan aku Bu!!" teriakku dari depan pintu tanpa peduli tetangga mendengar apa yang aku katakan.
keduanya pun hilang dari pandangan mataku, aku pun segera melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. ku lihat nayla dan juga Syifa tak ada ditempat tidur, aku yakin dia pasti sudah dibil oleh anak nenek Jum yang tinggal disebelah rumah melalui pintu belakang yang memang aku buka sejak selesai mandi tadi. aku pun menghampiri mereka untuk mengambil Syifa yang memang belum aku mandikan.
"assalamualaikum ayuu mana Syifa sama Nayla nya" kataku menghampiri mereka yang tengah asik bermain dengan bayiku.
"ini teh disini, maaf ya teh tadi aku ambil. abisnya teteh kaya lagi ngobrol makanya aku ambil" jawabnya membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa gapapa yu, makasih ya udah mau jagain nayla sama Syifa" jawabku dengan senyum mengembang.
"sama-sama teh, ini Syifa belum mandi ya teh. masih bau" tanyanya membuatku terkekeh kecil.
"belum lah, teteh baru mandiin Nayla doang tadi soalnya diakan masih tidur pas tadi teteh ngobrol" jawabku membuatnya membulatkan bibir.
"yaudah teteh mandiin dulu deh, nay mau pulang apa disini sama teh ayu?" tanyaku pada anak pertamaku.
"Nayla disini aja ma, sama teh ayu sama teh Selly" jawabnya yang langsung aku angguki.
"yaudah mama mandiin adiknya dulu ya, jangan nakal oke" kataku yang langsung diangguki oleh Nayla.
"iyaa ma," jawabnya singkat.
aku pun melangkah kan kaki memasuki rumah melalui pintu belakang, kemudian membaringkan Syifa diatas kasur lalu ku tinggal untuk menutup pintu depan yang sedari tadi terbuka dan belum aku tutup.
setelah selesai, aku pun kembali kebelakang untuk menghangatkan air yang akan aku gunakan untuk campuran air dingin yang untuk mandi Syifa. setelah matang barulah aku mencampurkan air hangat tersebut pada air dingin baru lah aku mulai memandikan Syifa.
"selesai Alhamdulillah, bayi udah wangi nih" kataku mencium Syifa yang sudah harum, ia pun hanya tertawa dengan ciri khas bayi.
__ADS_1
setelah itu aku pun memakaikan pakaiannya kemudian mengoleskan minyak telon dan bedak bayi kewajah Syifa agar tetap harum, setelah semua selesai aku pun menitipkan kembali Syifa pada ayu agar aku bisa membereskan rumah dan mencuci pakaian milik Syifa yang sudah aku pisahkan di ember kecil. sengaja aku pisahkan, karna aku mencucinya setiap hari sementara pakaianku dan juga Nayla dan mas Lukman akan aku cuci dua atau tiga hari sekali.
"ayu, teh nitip dulu Syifa ya disini. teh mau beresin rumah sama nyuci pakaian Syifa, ngga lama lah palingan satu jam. nanti kalo Syifa haus kerumah aja ya bikin susu," kataku pada ayu yang memang sudah terbiasa aku repotkan untuk membantu, untungnya dia memang tak keberatan. aku pun tak lupa memberikannya sedikit rejeki sebagai upah membantuku menjaga Syifa.
"iyaa teh, tenang aja. kalo cuma sejak mah gampang teh, lagian teh Selly libur kok. dia nanti bisa bantuin jagain" jawab ayu membuatku menganggukan kepala.
"yaudah kalo gitu, emak sama Abah kemana?" tanyaku pada ayu.
"emak sama Abah ada panggilan ke daerah alexindo" jawabnya mengambil alih Syifa yang sudah rapi. yang dimaksud disini adalah panggilan perkerjaan yang memang ditekuni oleh emak, yaitu sebagai tukang urut yang bisa dipanggil kerumah.
"wiiihh udah wangi nih Dede" kata ayu dengan gemas.
"iyaalah teh masa mau mau bau terus, udah siang ya harus mandilah biar ngga bau keringet" jawabku menjawab perkataan aku seolah Syifa yang menjawab.
"kapan keringetan, orang tidurnya pake AC. emang teteh pake kipas begini nih, mana rebutan lagi" jawabnya menunjuk kipas kecil yang berada tak jauh darinya, membuatku tersenyum kecil.
"gapapa lah yu, syukurin yang penting masih ada kipas angin dari panas-panasan" jawab Selly yang langsung aku angguki.
"bener itu kata Selly yu, bersyukur. lagi pula masih banyak diluar sana yang justru kepanasan karna mencari uang agar bisa tetap makan, jangan mengeluh. kasian emak sama Abah yang udah susah payah cari uang untuk biaya sekolah ayu sama Selly" jawabku seketika membuatnya terdiam.
"iyaa teh, bener tuh yu bersyukur yu" kata Selly pada sang adik.
"yaudah teteh mau beres-beres rumah dulu ya. titip Nayla sama Syifa ya, teteh juga belum sarapan nih nanti nunggu tukang bubur. Selly sama ayu mau bubur ayam?" tawarku pada keduanya yang langsung saling memandang untuk mendapatkan jawaban.
"ngga usah teh, emak pasti udah bikin sarapan buat kita. kasian kalo ngga kemakan" jawabnya membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"yaudah kalo gitu teteh kerumah ya, Nayla jangan nakal ya" kataku membuat mereka menaggukan kepala secara bersamaan.
aku pun segera melangkahkan kaki kembali kerumahku dan segera mengerjakan pekerjaan yang harus aku selesaikan.
__ADS_1