
"jangan sok mengajari kami, aku tau apa yang harus aku lakukan. lagipula ngga ada yang salah dengan apa yang aku lakukan, memang mbakmu aja yang selalu berlebihan menanggapinya” jawab mas Lukman yang selalu jumawa membenarkan apa yang dia lakukan terhadap aku.
"nah mas Rey dengar sendiri kan bagaimana ucapannya yang selalu ia benarkan meskipun salah, bagimana dengan hak mbakku jika dia dikoreksi pun tidak mau dan malah masih dengan pemikiran kolotnya itu" kata Rey dengan manatap Reihan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan antara mas Lukman dan juga mertuaku.
sosok bernama Reihan itu pun tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar perkataan Rey, aku yakin ia pun merasa lucu menemui seorang lelaki yang seperti mas Lukman.
"baiklah begini saja, bukan maksud saya mau ikut campur tapi saya punya solusi untuk masalah kalian dengan pilihan yang akan pak Lukman ambil." jawab Reihan menatap mas Lukman yang menyeritkan kening.
"kok, kenapa saya?" tanya mas Lukman.
"jelas kamu, karna kamu yang membuat ulah atas keributan ini!!" jawab Rey yang langsung diberikan pengertian untuk diam oleh Reihan.
"begini pak Lukman, saya ada dua pilihan untuk pak Lukman. pertama, pak Lukman ingin semua ini maju kemeja hijau dan bercerai dengan mbak Diah atau pak Lukman memberikan seluruh gaji pak Lukman pada mbak Diah dan membiarkan mbak Diah yang mengaturnya agar rumah tangga kalian baik-baik saja." jawab Reihan membuat mas Lukman dan ibu mertua membelalakan mata.
"mana bisa begitu, eh Diah kamu sengaja kan biar semua uang hasil kerja Lukman bisa kamu kuasai. iyakan!!" jawab ibu mertua dengan berteriak dan menunjuk-nunjukku dihadapan Rey dan juga Reihan.
"tenang dulu Bu, saya bicara seperti ini karna saya yakin mbak Diah bisa mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik. apalagi saat ini mas Lukman memiliki hutang yang sangat banyak pada Rey, saya yakin mbak Rita pasti akan mengaturnya dan memberikan jatah ibu dengan nominal yang pantas. dan tentunya, hanya ibu yang mendapatkannnya tidak untuk selain ibu" jawab Reihan semakin membuat ibu membelalakan mata.
"tidak bisa begitu, seharusnya saya lah yang mengelola uang gaji Lukman karna saya ibunya. bukan dia!!!" jawab ibu mas Lukman dengan mata berapi-api.
"terserah saya hanya memberikan solusi, ingat Bu andai semua ini naik kejalur hukum akan dipastikan anak ibu anak kalah karna sedari tadi saya telah merekam apa yang kalian ucapkan pada Rey dan juga mbak Diah. lagipula jika uang gaji pak Lukman diberikan semua pada mbak Diah saya yakin Rey akan membiarkan hutang pak Lukman dicicil oleh kakak kandungnya, iyakan Rey?" tanya Reihan pada Rey yang langsung menganggukan kepala.
__ADS_1
"tentu saja, karna saya yaki kalo mbak Diah yang mengelolanya pasti semua akan berjalan dengan baik dan saya pun lebih percaya pada mbak Diah dibanding jika ibu yang memegang gaji mas Lukman. lagipula ngga etislah Bu masa merecok keuangan rumah tangga anak sendiri" jawab Rey dengan nada sinis pada ibu mertua.
"tidak tidak pokoknya saya tidak setuju, awas ya Lukman kalo kamu sampe menyetujui syarat yang diberikan pengacara gendeng ini. ibu ngga rela dan ngga ridho ya" jawab ibu mertua menatap mas Lukman yang terlihat mulai bingung.
"tapi Bu, benar juga apa yang dikatakan pak Reihan. Lukman juga gamau Bu terus-terusan punya hutang, padahal bukan Lukman juga yang memakai uangnya tapi malah Lukman yang ketumpuan membayar bahkan harus sampai berhutang." jawab mas Lukman membuat ibu mertua menjewer telinganya karna telah membantah apa yang dikatakan ibunya tersebut.
"kenapa kamu malah jadi membela mereka, kamu mau jadi anak durhaka pada ibu hah!!" teriak ibu mas Lukman membuat Syifa seketika menangis.
"ibu pelankan suara ibu, jadi nangiskan anakku. sudahlah Rey kalo memang mas Lukman ngga mau saran yang diberikan pak Reihan yasudah masukkan saja semuanya kedalam meja hijau, biar sekalian anaknya dipenjara biar ibu mertua mbak yang angkuh itu kelabakan sendiri karna tambang emasnya udah tak bisa menghasilkan uang lagi untuknya" jawab ku membuat mas Lukman membelalakan mata.
"Diah, kamu apa-apaan si kok malah memutuskan seperti itu. lagian kalo aku dipenjara bagaimana dengan kamu dan juga anak-anak, kalian juga pasti akan kerepotan kalo ngga ada aku" jawab mas Lukman membuatku tertawa.
"baiklah kalo begitu kita sepakat untuk menggugatnya kepengadilan ya" jawab Reihan mencatat apa yang seharusnya ia catat didalam buku harian miliknya.
"tu-tunggu dulu, baiklah saya akan memberikan semua gaji saja pada Diah sesuai dengan mau kalian. tapi ingat ya Rey, hutangku biar Diah cicilan dan kamu ngga perlu memasukkan aku kedalam penjara dan memisahkan aku dengan Diah dan anak-anak" jawab mas Lukman pada akhirnya, Rey pun tersenyum meremehkan menatap ibu mertuaku yang membelalakan mata mendengar keputusan yang mas Lukman ambil.
"Lukman, ngga bisa gitu dong. nanti gimana kalo Diah ngga memberikan uang bulanan untuk ibu dan juga Yuni, dan Abang kamu" kata ibu mertuaku membuatku mengerutkan alis karna baru mengetahui jika mas Lukman ternyata menjatah anggota keluarganya sendiri bahkan kak Yuni yang notabanenya sudah mempunyai suami dan juga tahan bulanan sendiri dari suaminya.
"ibu!!!" sentak mas Lukman membuat ibu mertua seketika menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"oohh jadi begitu, jadi itu alasanmu sebenarnya memberikan aku uang lima puluh ribu untuk sehari dengan dalih berhemat. licik sekali otakmu mas, mas. mana sinikan ATM dan juga buku tabungan kamu, ingat ya mas mulai hari ini aku yang pegang seluruh gajimu sesuai apa yang pak Reihan ucapkan. iyakan pak, Rey?" tanya ku pada kedua lelaki tersebut yang langsung diangguki oleh keduanya, dengan wajah terpaksa mas Lukman pun memberikan ATM dan juga buku tabungannya yang selalu ia simpan didalam laci lamari miliknya sendiri.
__ADS_1
"sudah ya, jadi semuanya dianggap sudah clear ya. mbak Diah kalo ada apa-apa silahkan hubungi saya atau Rey, ini kartu nama saya. dan pak lukman, tolong tanda tangani ini sebagai bukti jika pak Lukman dengan suka rela memberikan seluruh gajinya pada istri" kata pak Reihan, mas Lukman pun langsung menandatangi ya tanpa membaca dulu isi dari surat tersebut. pak Reihan dan Rey pun saling pandang dan tersenyum yang mengandung arti, aku pun tak tau apa arti dari senyuman itu.
"sudah, jadi berapa yang sanggup pak Lukman cicil setiap bulan pada Rey untuk membayar hutang tersebut. ini buat penegasan sekali ya ya agar tak ada salah faham, atau kurang lebihnya dalam pembayaran cicilan perbulannya" kata pak Reihan lagi menatap bergantian kami berempat.
"seadanya uang aja kali ya Rey, mbak akan pastikan setiap bulan pasti masuk kedalam rekening kamu. tapi mbak ngga bisa memastikan beberapa nya, karna kamu pasti tau sendiri kebutuhan ponakan kamu banyak semoga aja gaji mas Lukman akan cukup" jawabku sebagai perwakilan mas Lukman yang hanya menundukkan kepala.
"iyaa mas Raihan, karna seluruh gajinya mas Lukman ada ditangan mbakku aku percayakan padanya untuk urusan cicilannya padaku. aku ngga berani menekannya harus berapa, karna aku sangat tau kebutuhan Nayla dan adiknya sangat banyak apalagi Syifa juga butuh pempers dan Nayla masih butuh susu formula diusianya sekarang" jawab Rey memberikan pengertian pada Raihan.
"baiklah kalo kamu mengizinkan begitu, semoga tak ada keslaah fahaman dikemudian hari. kalo begitu sudah cukup ya, bisa kita pulang Rey? aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan" kata pak Raihan pada Rey yang langsung menganggukan kepala dan berdiri untuk mengantar pak Raihan kedepan pintu.
"makasih banyak ya mas atas bantuannya" jawab Rey menyalami pak Reihan yang tersenyum dan menganggukan kepala.
"baiklah kalo gitu saya pamit, assalamualaikum" jawabnya menyalami kami satu persatu.
"waalaikumsalam" jawab kamu berempat serempak dengan nada yang berbeda-beda.
"puas kamu sudah menguasai semua gaji anak saya, hah! seneng kan kamu, jangan merasa diatas angin Diah. karna itu ngga akan bertahan lama, mungkin hingga sampai hutang Lukman lunas pada adikmu maka aku akan minta Lukman memberikan seluruh gajinya padaku" kata ibu mertua dengan suara pelan karna takut terdengar oleh Rey, padahal Rey pun sedari tadi mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibu mertuaku ini dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bu, ibu. ibu itu sudah tua, kenapa masih memikirkan tentang uang dan uang. ngga cukupkah ibu mencampuri kehidupan rumah tangga kakakku dan anak lelakimu, ingat mas perjanjian barusan mengenai gaji mas Lukman yang harus diberikan pada mbak Diah itu berlaku seumur hidup sesuai yang tertulis disurat yang mas tanda tangani" jawab Rey membuat mas Lukman dan ibu mertua membelalakan mata, sementara aku hanya menyunggingkan senyum sinis pada keduanya.
bersambung......
__ADS_1