Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 60.


__ADS_3

"apa aku pernah melarang mas? ngga kan, aku ngga pernah melarang kamu untuk berbakti mas. ngga pernah!! tapi untuk ibumu, bukan berarti aku membenarkan sikap kamu mengiyakan apa yang ibumu katakan mas, lihat sekarang semuanga bahkan hal terkecil pun kak Yuni datang kesini mas. bukan hanya ibumu yang punya kebutuhan mas, tapi aku dan anak-anakmu pun juga punya kebutuhan. lihat sudah berapa bulan kamu tak membelikan Nayla pakaian? lihat pakaian Syifa, bahkan seharusnya dia sudah tak mengenakan pakaian ini mas. tapi mana? bahkan sesetel pun dia belum punya baju yang pantas untuk digunakan oleh anak seusianya" jawabku memberi tahukan mas Lukman pakaian bayi yang masih dipakai oleh Syifa yang kini sudah memasuki usia tiga bulan.


"baiklah, berikan pakaian yang layak untuk anak-anak kita menggunakan uang gaji itu. aku ngga akan mengutak Atik uang gaji yang saat ini sudah berada ditangan kamu, tapi aku mohon berikan pada ibu sebagai baktiku padanya yang memang harus aku penuhi di. mulai sekarang aku akan mempercayakan semua gajiku padamu di, aku ingin kita hidup seperti dulu baik dari segi apapun di. tapi tolong jangan laporkan mas pada polisi" kata mas Lukman yang pada akhirnya luluh dengan semua perkataan yang aku ucapkan.


"apa kamu yakin mas dengan apa yang kamu katakan?" tanyaku memastikan pada mas Lukman yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.


"iyaa di, mas yakin. maaf kan mas kalo selama ini mas memang bersalah sama kamu dan juga anak kita, kamu benar mungkin selama ini aku terlalu memanjakan kak Yuni hingga dia menjadi seenaknya dan membuatku lupa pada kewajibanku pada istri dan juga anakku. sekali lagi maafkan aku di" jawabnya membuatku terharu, tapi aku tak semata-mata begitu saja mempercayai apa yang mas Lukman katakan. aku akan mencari tau mengapa tiba-tiba ia berubah secepat ini bahkan berbicara dengan sangat lembut padaku.


"baiklah mas kalo ini aku akan memberikan kamu kesempatan, kamu harus membuktikan jika kamu bisa berubah mas. aku juga ga pengen mas tiap hari selalu meributkan masalah uang, uang dan juga uang, aku juga malu mas. malu sama tetangga yang dengar, malu juga kalo sampe kakak kamu itu berkata yang ngga-ngga diluar sana soal aku" jawabku menundukkan kepala.


"ngga mungkin lah dia dia berkata yang ngga-ngga diluar sana, apalagi ini juga menyangkut aib keluarga di" jawabnya membuatku terkekeh kecil sambil menghapus sisa air mata yang masih menggenang.


"namanya orang kalo udah ngga suka sama orang lain mas, pasti membicarakan yang ngga-ngga tentang orang itu. apalagi kamu tau sendiri aku bukan orang sini, kalo dibanding sama kakak kamu yang jelas disini banyak temannya. jelas aku kalah mas, kalo bukan sama kamu aku belindung sama siapa lagi. aku ngga pernah peduli mas apa yang mereka katakan dan mereka lakukan padaku, asal bukan ke anak-anakku dan ada kamu yang bisa sebagai pelindung bagi kami mas" jawabku menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"aku minta maaf di, kalo selama ini belum bisa jadi orang yang seharusnya melindungi kamu seperti apa yang aku janjikan dihadapan bapak. maafin aku udah membuatmu kecewa di" jawabnya sambil menggenggam tanganku.


"semoga perkataan kamu kali ini bisa dipercaya mas, dan semoga perlakuanmu ini bukan hanya karna takut dengan surat perjanjian itu. tapi karna memang tulus dari hati kamu dan juga untuk keutuhan rumah tangga kita" jawabnya yang langsung membuat ya tersenyum dan menganggukan kepala.


"assalamualaikum" terdengar suara salam dari belakang, aku yakin itu adalah ayu dan juga Nayla yang sudah pulang membeli makan milikku.


"waalaikumsalam" jawabku dan mas Lukman serentak.


"eehh ada bang Lukman, maaf deh kalo ganggu. ini ayu cuma mau ngasih nasi Padang titipan teteh" kata ayu menyerahkan nasi padangan pesananku.


"makasih ya yuk, oiyaa kamu jajan apa. ini kok kembaliannya utuh" jawabku membuatnya menggaruk tengkuk yang tak gatal.

__ADS_1


"hehe iyaa teh, kaya teh Selly ngga enak kalo pake uang teteh. tadi kepake lima ribu doang buat si Nayla beli jajan" jawab ayu membuatku terkekeh kecil.


"padahal mah ngga apa kali yu, masa kamu ngga beli apa-apa si. ngga enak teteh jadinya" jawabku yang merasa tak enak pada ayu.


"gapapa teh, yaudah deh ayu pulang dulu ya teh" kata ayu yang berpamitan kembali kerumahnya.


"iyaaudah kalo gitu, nih deh mentahnya aja buat jajan nanti ya" kataku menyerahkan uang sepuluh ribu untuk ayu.


"ngga usah teh" jawabnya menolak pemberianku, aku pun memaksanya dengan menaruhnya disaku Hoodie yang dia pakai.


"udah gapapa, ambil aja" jawabku singkat.


"makasih ya teh, ayu pulang dulu" jawabnya membuatku langsung menganggukan kepala.


"iyaa gapapa, lagian tadi aku udah makan dirumah ibu" jawabnya dengan singkat sembari tersenyum kecil.


"Nay, makan dulu sini Deket mama" kataku pada Nayla yang langsung dituruti olehnya, Nayla pun mendekat dan aku pun meraihnya agar duduk mendekat kearahku.


"itu pedes ma, pake sambel" katanya sambil menutup mulutnya sendiri.


"ngga kok, ini yang dipinggir nih. pake ayam ya" jawabku yang langsung membuatnya menganggukan kepala.


aku pun menyuapi Nayla sesuap demi suap bergantian dengan menyuap kemulutku sendiri, hingga akhirnya nasi Padang tersebut habis tak bersisa. aku lihat mas Lukman tengah membalss pesan dari sesorang sambil tersengum kecil.


"balas w****** siapa mas?" tanyaku pada mas Lukman yang langsung terkaget mendengar pertanyaanku.

__ADS_1


"ngga, ini grup supir lagi pada gibahin orang office. mas baru mau bales tapi bingung mau bales apa" jawabnya membuatku memicingkan mata.


"lelaki kok ngegibah, kaya perempuan aja" jawabku begitu menohok, membuat mas Lukman membelalakan mata.


"yaa gapapa kali di, lagian kan sesama supir doang. emang salah klo gibah sedikit" jawabnya dengan singkat.


"yaa ngga etis aja, lelaki kok lemes. malu kali sama jenis kelamin" jawabku dengan singkat.


"iyaaudah terserah apa yang kamu bilang di" jawabnya yang sudah pasrah dengan perkataan aku.


seketika kami pun hening dan tak ada yang berbicara sama sekali, mas Lukman pun sesekali membalas pesan didalam ponselnya entah dari siapa. meskipun dia bilang mengobrol digrup tempat kerjanya, aku tidak semata-mata percaya begitu saja.


"di, mas minta uang boleh?" tanyanya membuatku memicingkan kan mata, sudah ku tebak pasti kebaikannya ada hal yang membuatnya secepat itu berubah.


"untuk apa?" tanyaku singkat.


"mas mau keluar, ketemu temen" janwabya dengan senyum mengembang.


"ngga!"singkatku membuatnya melunturkan senyumnya yang sudah begitu antusias.


"kenapa di? ayolah, ngga banyak kok cuma seratus ribu aja. lumayanlah buat ngerokok sama ngopi" jawabnya dengan santai.


"seratus ribu kamu bilang? heh mas, lagian jam segini itu temanmu pasti masih ngirim. kamu mau keluar sama teman yang mana?.......


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2