Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 137.


__ADS_3

kata-kata mama bagaikan bak petir disiang bolong bagiku, bagaimana mungkin mama bisa berkata seperti itu sementara aku saja selama ini selalu berkata hati-hati jika Nayla menanyakan soal ayahnya.


"tapi, biar bagaimana pun kan aku tetap ayahnya ma. Nayla dan juga Syifa pasti butuh aku suatu saat nanti, jadi mama ngga mungkin bisa memisahkan kami begitu saja" jawab mas Lukman membuat mama mencibir.


"sudah saya bilang bilang bukan, jika saya akan mematikan itu. biarpun membuat kamu seolah mati dihadapan keduanya, itu semua balasan atas perbuatan kamu pada ibu mereka" jawab mama memandang tajam mas Lukman yang langsung menundukkan kepala.


"jadi, bagimana saya bisa melunasi hutang Lukman Bu. maaf jika saya tau terlambat, jika saya tidak mendengat secara tak sengaja pertengkaran Lukman dan juga Yuni mungkin sampai sekarang saya ngga akan mengetahui hal ini. maafkan saya Diah" kata suami kak Yuni terus meminta maaf.


"papah, kenapa papah kesini dan merendahkan diri papah didepan orang-orang gatau diri ini!!" bentak kak Yuni yang tiba-tiba berada didepan rumah.


"apa kamu bilang, coba ulangi lagi!" kata mama menatap tajam kak yuni yang kini berdiri berkecak pinggang.


mama pun berdiri menghampiri kak Yuni yang masih berdiri ditempatnya.


"orang-orang gatau diri ! kenapa? mau marah, marah aja. lagian memang benarkan apa yang saya katakan, kamu sama anak kamu itu memang gatau diri!!"


plaaaakkk


perkataan kak Yuni membuat mama semakin murka, bahkan tak segan melayangkan tangannya untuk menampar kak Yuni dihadapan suaminya sendiri.


"itu untuk mulut coberanmu!"


plaakk


"itu untuk rasakit hatiku.


plaaaakk


"itu untuk rasa sakit anakku dan cucuku" bentak mama setelah mendaratkan tiga kali tamparan di pipi kak yuni.


"sialan kau nenek tua, kurang ajaar!!" teriak kak Yuni yang langsung dihentikan oleh suaminya.


"stop Yuni, jangan buat masalah dirumah orang. untuk apa kamu kesini jika untuk membuat keributan, hah!!" bentak suami kak Yuni dengan keras membuat kak Yuni membelalakan mata.

__ADS_1


"kamu bentak aku mas? kamu ngga liat nenek tua ini menamparku tiga kali mas, kenapa kamu malah menyalahkan aku. hah!!" bentak kak Yuni balik pada suaminya.


"karna kamu memang pantas mendapatkan itu!!!" teriak suami kak Yuni dengan sangat kencang hingga membuat Syifa yang berada.digendonganku menangis.


"sini mbak biar Syifa sama aku kekamar" kata sintia yang baru pulang sekolah mengambil alih Syifa dan membawa Nayla kedalam kamar.


"tega kamu mas mempermalukan aku seperti ini, tega kamu!!" kata kak Yuni meneteskan air mata, aku tak percaya perempuan seperti kak Yuni bisa meneteskan air mata.


"lebih tega mana lagi dengan kamu yang dengan sengaja membuat keluarga kecil adik kandungnya sendiri berantakan, hah!! kalo aku mau, bahkan saat ini juga aku bisa meninggalkan kamu. aku muak dengan sifatmu dan juga ibumu itu, sekarang terserah kamu. jika kami ngga mau pergi dari sini maka setelah ini aku tidak akan pernah kembali lagi kerumah terkutuk itu!!" bentak suami kak Yuni membuat kak Yuni membelalakan mata dan setelahnya pun pergi dengan membawa rasa kesal bercampur malu.


"maafkan Yuni ya Diah, Bu kalo sifatnya seperti itu" kata bang Wendi padaku dan juga mama yang hanya bisa tersenyum kecut.


"bahkan kami sudah menerima yang jauh lebih parah dari ini bung" kata Rey yang tiba-tiba masuk kedalam rumah dan langsung menatap tajam mas Lukman dan juga bang Wendi.


"maaf kamu siapa ya?" tanya bang Wendi.


"saya Rey, adik mbak Diah dan pengganti kepala keluarga dirumah ini sejak orangtua lelaki kami meninggalkan kami empat puluh hari yang lalu" jawab Rey kembali menatap tajam mas Lukman yang tak berani menatap Rey.


"innalillahiwainnailahi Raji'un, saya turun berduka cita dek. berarti Lukman berhutang padamu ya?" tanya bang Wendi yang langsung kami angguki.


"aku kesini mengantarkan Wendi ketemu kalian, itu aja"jawab mas Lukman membuat Rey berdecih.


"bahkan kamu tak ada niat sedikit pun untuk bertemu putri mu, CK bapak macam apa kamu!!" kata Rey berdecih, membuat mas lukman mendongak menatap Rey.


"apa? apa aku salah berbicara?" tanya Rey dengan tajam, mas Lukman pun hanya terdiam tak lagi menyahuti perkataan Rey yang memang benar adanya.


"maaf rey, kami kesini untuk membayar hutang Lukman padamu" kata bang Wendi membuat Rey menganggukan kepalanya tipis.


"boleh, tapi apa ada jaminan jika nanti mas Lukman tetap membiayai kedua anaknya. maaf meskipun mbak Diah sudah kerja, tapi tanggung jawab kedua anaknya tetap tanggung jawab mas Lukman sampai keduanya lulus kuliah. bener kan bang Wendi?" kata Rey yang juga diangguki oleh bang Wendi.


"begini saja Rey, jika nanti lukman tidak membiayai anak-anaknya kamu bisa menghubungiku. biar aku yang mengirimkan biaya anak-anak diambil dari uang belanja ibu dan juga Yuni, bagaimana?" kata bang Wendi membuat penawaran pada Rey.


"bang, Lo apa apaan si. itu urusan gue ngga ada sangkut pautnya sama kak Yuni sama ibu yang udah jadi tanggung jawab Lo!!" kata mas Lukman pada bang Wendi.

__ADS_1


"eehh enak aja kalo ngomong! tanggung jawab gue itu Yuni sama anak-anak gue,.sementara ibu itu tanggung jawab Lo! begitu juga sama anak Lo ya itu juga tanggung jawab Lo, kalo Lo ngga ngejalanin tanggung jawab Lo ya gue yang akan potong uang belanja Yuni dan juga ibu Lo sebagai pengganti. karna gua yakin dan pasti kalo setelah gua lunasin hutang Lo dan seluruh gaji Lo balik ke Lo pasti Lo kasih ke mereka, iyakan!" kata bang Wendi menatap tajam mas Lukman yang langsung membuang muka.


"CK, bikin susah aja!"gumam mas Lukman yang masih bisa terdengar oleh kami.


"kalo ngga mau susah ngga usah punya anak, Lo yang bikin masakan gue yang ribet!" bentak bang Wendi pada mas lukman yang langsung terdiam.


"baik kalo begitu, mbak Diah berapa mbak Diah minta untuk hak anak-anak dalam sebulan?" tanya Rey padaku.


"empat juta Rey, dua juta Nayla dan jyga dua juta Syifa. sesuai dengan kebutuhan keduanya" jawabku dengan yakin dan juga mantap membuat mas Lukman membelalakan mata.


"udah gila kamu Diah, empat juta itu sama saja hampir satu bulan gaji aku kamu tau!!" bentak mas Lukman padaku.


"jangan meninggikan suaramu dirumah ini!!!" teriak Rey membuat mas Lukman kembali memelankan suaranya.


"lihatlah bang, gila mana ada empat juta gue sebulan bang" kata mas Lukman pada Abang iparnya.


"gue gamau tau, lagian empat juta untuk dua anak itu wajar man. emang Lo kira biaya sekolah sama biaya yang lainnya itu murah!" kaya bang Wendi yang justru menyetujui permintaanku, mas Lukman pun berdecak.


bukan maksudku untuk memeras mas Lukman, aku hanya sedikit memberikannya pelajaran karna sudah menyia-nyiakan kedua anaknya.


"okee kalo begitu, empat juta ya. ini, hitam diatas putih silahkan tanda tangan biar ada bukti kuat jika nanti istrimu dan juga ibu nya lelaki pengecut ini kembali berbuat ulah pada mbak Diah" kata Rey yang langsung diangguki oleh bang Wendi. bang Wendi pun menandatangi surat perjanjian hitam diatas putih itu sementara mas Lukman terlihat sekali rasa tak rela nya.


"ayo cepat tanda tangan man, jangan buat masalah. buruan!!" kata bang Wendi mendesak mas Lukman.


"tapi bang,,,,,,"


"ngga ada tapi-tapian, buruan atau Lo tau sendiri akibatnya" kata bang Wendi membuat mas Lukman terpaksa menandatangi surat perjanjian itu.


"nah begitu kan enak dari tadi ngga usah pake adu otot segala," kata bang Wendi membuatku dan juga Rey tersenyum kecil.


"mbak, ambil milik lelaki pecundang ini. ingat, hanya ATM dan buku tabungannya" kata Rey yang langsung aku angguki.


"motor Mio Ki sekalian Diah!!" bentak mas Lukman dengan wajah kesal.

__ADS_1


"tidak, itu milik mbak Diah. silahkan kamu bawa motor cicilan mu itu, sama kan? itu harta gono-gini sesuai yang sudah tertulis diperjanjikan pranikah kalian!!" kata Rey dengan tegas kembali membuat mas Lukman mendengus.


bersambung.


__ADS_2