
seharian aku dan mas Lukman saling diam, hingga sore hari ternyata mertua dan kakak iparku pun datang kerumah kontrakan ku. tak perlu waktu lama aku pun langsung mengajak kakak iparku menjauh dari mama dan juga ibu mertua yang tengah mengobrol, meskipun terdengar ibu mertua yang selalu berbicara dan mama yang hanya sekedar mendengarkan kadang menjawab dengan sekedarnya dengan malas.
"kita bicara sebentar mbak" kata ku padanya yang langsung ia angguki. ia pun mengikuti langkahku menuju belakang rumah yang terlihat sepi dari penghuni kontrakan lain, aku pun membuka pembicaraan pada kakak iparku tersebut.
"ada apa si Diah?" tanyanya dengan dahi menyerit tapi sangat terlihat ke panikan dimatanya.
"langsung aja deh ya mbak, aku tuh mau minta mbak ganti uang mas Lukman yang udah mbak pake kemarin" jawabku membuatnya menyeritkan kening.
"loh kenapa kamu yang minta ganti, Lukman aja biasa aja tuh" jawabnya dengan santai, membuatku menatap mas Lukman dengan pandangan mengejek.
"mas Lukman santai kelihatannya, tapi mbak gatau kan kalo mas Lukman itu pusing mikirin gimana caranya dapetin uang enam juta lagi gara-gara kelakuan mbak!" jawabku sedikit mengeras agar kakak iparku ini sadar jika aku tak selemah yang dia pikirkan.
"terus kenapa jadi kamu yang kebakaran jenggot, uang yang aku pake kan uang adikku bukan yang kamu" jawabnya semakin membuatku kesal.
"adikmu itu suamiku kalo kamu lupa! ada tanggung jawab dia yang harus dia penuhi pada anak dan istrinya, kamu kan juga punya suami. apa suami ga ngasih uang bulananmu yang katanya empat juta itu sampe harus pake uang adikmu sendiri, hah!" jawabku dengan kesal menatapnya yang membelalakan mata mendengar perkataanku.
"jatah bulananku ngga hubungannya dengan kamu, lagian nanti juga aku balikin kalo suamiku udah gajian. sabar dulu kenapa si" jawabnya dengan mata melotot kearahku.
"sabar, sabar! kamu pikir pihak leasing bisa sabar nungguin pembayaran yang belum dibayarin itu, hah!! kamu enak bisa santai kaya gini, oohh atau gini aja deh aku minta sama suamimu aja ya buat gantiin uang mas Lukman. gaji suamimu kan lima belas juta tuh pasti banyak dong tabungannya secara ngasih kamu cuma empat juta, iyakan mas?" jawabku dengan berani menatap mas Lukman yang dari tadi hanya berdiam diri mendengarkan perkataanku pada kakak kandungnya.
"jangan kurang ajar ya kamu Diah! kamu sengaja mau buat rumah tangga aku dan suami berantakan iya?! dasar adik ipar gatau diri, bisanya nyusahin adikku doang tapi belagu!" jawabnya semakin membuatku meradang.
"nyusahin kamu bilang hah? kamu itu yang nyusahin, dasar benalu! udah ada suami yang jatah masih aja make duit orang, dasar parasit!!" jawabku menjawab perkataannya.
"jangan kurang ajar kamu ya Diah, harusnya kamu itu terimakasih karna adikku masih memberimu makan. masa karna uang segitu aja kamu mencak mencak, aku itu kakaknya dan ibu tinggal denganku. jadi aku berhak memakai uang Lukman untuk keperluanku dan juga ibu, kamu ngga ada hak untuk mengatur kami keluarganya Lukman." jawabnya membuatku meradang.
"liat mas, dia bahkan dengan santai mengatakan seperti itu tentangku. istrimu! jangan lupa ya kak, aku ga kerja dan jadi ibu rumah tangga itu kamu dan ibu ikut andil menghasut mas Lukman untuk membujukku menjadi ibu rumah tangga, andai aku masih kerja uang yang diberikan mas Lukman tiap hari bahkan uang gajinya pun tak ada apa-apanya dibanding pendapatanku!" jawabku membuat mas Lukman menatapku dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"sombong! nyatanya kamu sekarang ngga punya pendapatan dan cuma mengandalkan uang dari adikku, harusnya kamu tau diri. aku dan ibu berhak menggunakan uang Lukman, bukan cuma kamu aja. Lukman, kasih tau istrimu biar ga banyak bicara. cukup tugasnya mengerjakan perkerjaan rumah dan juga anak sebagai ibu rumah tangga, ga usah neko-neko" katanya dengan pandangan sinis kepadaku, kemudian kakak iparku itu pun pergi meninggalkan ku dan juga mas Lukman yang masih diam mematung mendengarkan perdebatan kami.
"dasar setres, ga punya otak! amiit amit jabang bayi, untung bukan kakakku" gumamku sambil melirik mas Lukman yang menatapku dengan tatapan sendu.
"udah liat kan gimana jawaban kakak kandung kamu tersayang itu? bener kan apa kataku kalo dia masih bisa santai dengan apa yang udah dia perbuat. gasalah kan aku bilang dia benalu, karna kenyataannya emang begitu!" kataku oada mas Lukman yang masih terdiam.
"terus gimana dong Diah, mas udah bener-bener pusing gimana bayar cicilan motor itu" tanyanya dengan nada merengek.
"mana aku tau, kamu pikirin aja sendiri caranya. aku cuma ibu rumah tangga, ga bisa kasih solusi, dapat uang dari mana aku buat nambahin uang cicilanmu yang berkurang banyak itu" jawabku dengan kesal menatap mas Lukman yang masih menatapku dengan mata berkaca-kaca.
ada rasa tak tega sebanarnya tapi mau bagaimana lagi, itu semua adalah karna ulahnya yang selalu membiarkan apa yang dilakukan oleh kakak kesayangannya itu. aku tak ingin terlibat terlalu jauh setelah apa yang ia dan keluarganya lakukan padaku, apalagi dengan lancar kakak iparku itu menghina ku yang hanya seorang ibu rumah tangga.
"tolong lah Diah, cuma Rey satu-satunya harapan mas untuk menolong mas. mas mohon bantu mas untuk bicara sama Rey ya sayang ya" katanya mencoba merayuku, padahal aku sudah bicara dengan Rey tapi aku sama sekali tak berniat meminjamkan uang tersebut pada Rey karna aku yakin ngga akan kembali lagi uang Rey nantinya. aku pun berkata pada Rey jika jangan sampe memberikan pinjaman pada mas Lukman apapun alasannya.
"tidak, sekali tidak tetap tidak mas!" jawabku dengan nada tegas namun pelan.
"kalo gitu biar aku yang bilang sendiri sama Rey deh" jawabnya dengan santai, aku pun meliriknya dengan tatapan mengejek.
aku pun berdecak kesal melihat senja makanan kesukaanku sudah habis tak bersisa.
"ehh maaf ya Diah ini semprongnya ibu habisin, habis enak sih" kata ibu mertuaku dengan tanpa rasa bersalah.
"gapapa lah ma, orang Lukman yang nyuguhin buat kita kok" jawab kakak iparku itu membuatku kesal, aku dan mama pun saling pandang mendengar perkataan kakak iparku itu.
"gapapa Bu, silahkan abisin. toplesnya bawa pulang juga gapapa, tenang aja aku masih banyak kok" jawabku dengan senyum mengejek kearah keduanya.
"kalo toplesnya mah ibu juga punya, isinya ada ngga?" tanya ya dengan ta pa malu.
__ADS_1
"isinya beli lah sendiri, punyaku kan udah ibu sama kak Yuni abisin" jawabku ketus.
"mana punya uang ibu buat beli beginian, Lukman aja ngga ngasih ibu uang bulan ini" jawabnya dengan menundukkan kepala.
"yaa gimana mau ngasih ibu klo buat cicilan motor aja kurang" jawabku menatap kak Yuni dan ibu bergantian. keduanya pun terlihat salah tingkah mendengar perkataanku didepan mama dan juga bapak.
"kok bisa ga bisa bayar cicilan motor, emang gajinya kemana? bukannya harusnya empat hari yang lalu udah gajian ya Lukman?" tanya mama membuatku menganggukan kepala.
"iyaa harusnya ma, tapi uangnya hilang" jawabku dengan sedikit kesal.
"hilang, kok bisa hilang? emang ga di transfer uangnya?" tanya mama lagi dengan penasaran.
"gataulah ma, tanya aja sendiri nanti sama orangnya" jawabku pada mama yang langsung terdiam, seolah tau bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. sementara kedua orang itu masih acuh tak acuh mendengar perkataanku dan juga mama.
"oiyaa Bu, ibu mau disini lama?" tanha ibu mertuaku pada mama.
"iyaa mungkin beberapa hari, ada apa Bu?" tanya mama pada ibu mertuaku itu.
"oohh gapapa kok Bu, kan udah lama ya Diah disana kok kesini masih diikutin aja si. emang Diah anak kecil" jawab ibu mertuaku membuat aku dan mama saling pandang.
"namanya juga orangtua Bu, mau sedewasa apapun anak Dimata orangtuanya pasti masih seperti anak kecil." jawab mama dengan terkekeh kecil.
"iyaa tapi udah berumah tangga loh Bu" jawab ibu mertuaku melirikku dengan sinis.
"yaa gapapa toh Bu, selagi ngga mencampuri urusan rumah tangganya. iyakan Diah? kamu ngga keberatan kan?" tanya mama pada ku yang langsung aku balas dengan senyum dan anggukan kepala.
"gapapa lah ma, asal jangan ngerepotin aja" jawabku melirik ibu mertua yang mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
aku dan mama yang melihat pun menahan tawa kami dengan respon yang dikeluarkan oleh ibu mertuaku itu.
bersambung....