Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 61.


__ADS_3

"seratus ribu kamu bilang? heh mas, lagian jam segini itu temanmu pasti masih ngirim. kamu mau keluar sama teman yang mana?" kataku yang langsung membuat mas Lukman terdiam.


"emm i-itu loh temen lama mas yang tinggal dikota baru, mas mau main kesana" jawabnya dengan tergagap membuatku menyeritkan kening.


"kalo cuma disana kenapa harus pake uang sebanyak itu? lagian emang teman mas itu ngga kerja apa?" tanyaku dengan nada heran.


"ngga di, dia tuh lagi dirumah nganggur. jadi aku mau main kesana, kan udah lama juga aku ngga main kesana. gapapalah sekali-kali main" jawabnya membuatku yang lagi makan seketika tersendak.


"pelan-pelan lah di, kenapa harus buru-buru sih" katanya memberikan segelas air minum untukku.


aku pun menerima dan meminum air tersebut hingga habis tak tersisa sebelum kembali berbicara pada mas Lukman.


"aku ngga salah denger mas, kamu bilang sekali-kali mau main? bukannya kamu emang sering main sama temenmu? bahkan aku ngga pernah sekali pun ketemu teman-temanku loh selama kita menikah, mau yang teman sekolah dulu atau pun teman kerja" jawabku melanjutkan makan dan menyuapi Nayla.


"yaa kan emang kita udah punya anak di, pasti ribet lah kalo bawa-bawa mereka buat ketemu temen. apalagi kalo kamu sendiri, kalo aku kan ngga mungkin juga Nayla mau ikut kalo ngga sama kamu" jawabnya dengan lancar.


"nay, ayah mau main kerumah temennya. Nayla mau ikut ngga?" tanyaku pada Nayla yang langsung membuat mas Lukman terlihat gusar.


"sama mama ngga?" tanya Nayla dengan polosnya.


"kalo mama ikut, Nayla juga mau ikut gak?" tanyaku lagi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nayla yang tengah mengunyah.


"nah, liat. dia aja mau kok, kalo kamu mau main ajak lah. lagian apa salahnya ajak aku sama anak-anak kalo cuma kesana, apa kamu takut ketauan kalo ada sesuatu yang kamu sembunyiin?" tebakku membuatnya langsung terlonjak kaget dan reflek menggelengkan kepala.


"ng-ngga kok aku ngga nyembunyiin apapun, yaudah aku ngga jadi keluar deh kalo kamu curigain kaya gitu. padahal aku cuma bosen aja loh di dirumah ngga ada kerjaan kaya gini" jawabnya membuatku heran, padahal dia bisa saja mengerjakan pekerjaan rumah atau bermain bersama anak-anaknya tapi tadi apa dia bilang, bosan!


"mas, kamu kan bisa bantuin aku cuciin baju Syifa dan juga Nayla mas. atau kamu bisa juga jagain mereka berdua sementara aku mencuci, kenapa kamu bilang bosan. alasan aja berlagak kaya anak muda, sadar mas kamu udah punya anak dua" jawabku membuatnya kembali terdiam dan merebahkan tubuhnya tepat disebelah Syifa.


"lagian mau ajak main Syifa gimana, dia aja kan masih bayi. kamu ini gimana si" jawabnya dengan nada kesal.

__ADS_1


"ini kan ada Nayla yang udah bisa di ajak mainan,apa salahnya ditemenin doang sambil liatin Syifa yang masih tidur. jangan digangguin Syifa ya, aku masih nyuapin Nayla. nanti dia bangun" kataku menegur mas Lukman yang berusaha membuat Syifa terbangun.


"tadi katanya suruh ngajak main sekarang ngga boleh dibangunin, gimana sih kamu di. ribet banget deh" jawabnya dengan kesal.


"assalamualaikum" terdengar suara salam didepan pintu.


"waalaikumsalam" jawab aku dan mas Lukman serentak, terlihat ibu mertua dan juga anak-anak dari kak Yuni datang.


"siapa di?" tanya mas Lukman yang memang tidak kelihatan melihat ke arah depan.


"ibu, Ita, sama sinyo" jawabku singkat, mas Lukman pun langsung berdiri untuk menyambut ibu mertua dan dua keponakannya.


"ibu, masuk ma" katanya menyuruh ibu memasuki rumah.


"duduk sini aja man, adem. lagi makan?" tanya ibu mertua membuat mas Lukman menggelengkan kepala.


"ngga ma, Diah sama Nayla yang lagi makan. aku abis rebahan disebelah Syifa" jawab mas Lukman dengan senyum kecil.


"udah Lukman mah nanti gampang ma, dikulkas juga ada telor sama mie" jawab mas Lukman dengan senyum tipis.


"masa istrinya makan nasi Padang sama anak ya suaminya makan mie sama telor, emang ngga masak dia. males banget" kata ibu mertuaku menyindir.


"iyaa tadi pas Diah beli kan aku ngga dirumah ma, makanya dia beli cuma satu" jawab mas Lukman yang masih berusaha membela ku.


aku tak menyahuti perkataan ibu mertuaku, biarkan mas Lukman yang menjawab. aku hanya ingin tau apa benar mas Lukman akan membela ku dari keluarganya, apa bisa dia membela harga diri istrinya dihadapan keluarga. kita lihat saja!


"yaa tetap aja, dia kan udah kamu kasih uang gajimu. setidaknya masaklah untuk suaminya, ini udah ngga masak beli makanan sendiri aja lagi. mikirin perutnya sendiri" jawab ibu mertua melirik sinis ke arahku yang tetap tak memperdulikan perkataannya, hanya fokus menghabiskan makanku yang tinggal sedikit.


"Nayla udah kenyang ma" kata Nayla membuatku langsung menganggukan kepala.

__ADS_1


"Nayla minum ya" kataku menyerahkan segelas air minum untuk Nayla.


"udah gapapa Bu, ada apa ibu kemari? baru tadi Lukman abis nganterin kak Yuni, kok sekarang ibu kesini?" tanya mas Lukman membuat ibu mertua menghela nafas.


"kakak mu lagi nganterin cetakan ke yang pesen" jawab ibu mertua sambil melirik ke arahku. sementara mas Lukman hanya menjawab dengan membulatkan mulut berbentuk huruf O.


"mama lapar man" kata ibu mertuaku membuatku hampir saja tersendak.


"emang mama belum makan? Lukman juga dirumah ngga ada makanan ma, ngga ada nasi juga." jawab mas lukman yang langsung dijawab gelengan kepala oleh sang mama tercintah.


"emang kak Yuni ngga masak? tadi pagi udah sarapan apa?" tanya mas Lukman dengan raut wajah heran.


"mama belum sarapan dari pagi itu belum makan apa-apa ini, kakakmu itu lagi gaada duit makanya nganterin pesenan dulu biar ada duit" jawab ibu mertua dengan suara agak nyaring.


"yaah terus gimana ma,Lukman juga ngga masak" jawab mas Lukman yang juga melirikku dengan sebelah matanya, terlihat jelas dimataku.


aku tak menghiraukan perkataan kedua ibu dan anak itu, aku tak mau lagi ikut campur urusan keduanya. biar lah dianggap jahat, toh selama ini mereka pun tak pernah memperdulikan aku dan juga anak-anakku. bukan mendendam, tapi mencoba untuk tak perduli karna sering tak dipedulikan.


aku yang telah selesai makan pun beranjak untuk membuang bungkus makanan yang telah kosong ditempat sampah belakang rumah, sengaja karna malas membuang ditempat sampah dihalaman depan.


"di" kata mas Lukman menghampiriku yang mengambil air minum.


"Hem" jawabku yang masih menenggak air didalam gelas.


"beliin mas makanan ya, mas lapar" jawabnya yang langsung aku berikan anggukan kepala, ia pun tersenyum dengan mata berbinar.


"nih, cukupkan!" kataku menyerahkan uang dua puluh lima ribu kehadapan mas Lukman.


"emm, kurang di. mama juga lapar, dia juga katanya dari pagi belum makan juga sama anak-anak kak Yuni" ....

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2