
"buat apa lagi mereka kesini" kata sintia bergumam dengan sinis.
"mau ngapain lagi kalian kesini?" tanya Rey ketika mas Lukman dan keluarganya sudah berada tepat didepan halaman rumah dengan senyum mengembang, namun senyum itu pun luntur seketika mendengar perkataan Rey yang sangat dingin.
seketika, nyali mas Lukman dan keluarganya pun terdiam melihat wajah kemarahan yang terlihat jelas diwajah Rey. karna baru kali ini Rey menunjukkan kemarahannya dihadapan keluarga mas Lukman.
"kami cuma mau berbela sungkawa, biar bagaimana pun saya masih menantu dirumah ini" kata mas Lukman dengan yakin.
"cih, menantu? sejak kapan kamu menganggap disini adalah mertua kamu?" tanya Rey dengan nada ketus.
"Rey, apa ngga sebaiknya mereka dipersilahkan masuk dulu. ngga enak didengar tetangga malem-malem bertengkar" kata pak lek Edi pada Rey membuat keluarga mas Lukman kembali mengembangkan senyum tipis.
"ngga perlu pak lek, Rey ngga Sudi rumah ini diinjak dengan kaki mereka!" jawab Rey dengan tegas dan yakin membuat wajah mas lukman dan keluarganya pun memerah.
"tapi Rey,,,,," kata pak lek Edi terhenti dengan diangkatnya telapak tangan Rey menghentikan perkataan pak lek Edi.
"sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis, dan jangan pernah ganggu kakak saya dan anak-anaknya mulai detik ini!!" kata Rey dengan tegas menatap tajam mas Lukman sekeluarga. terlihat jelas kemarahan diwajah Rey yang matanya terlihat masih memerah.
"reyy,," kataku dengan lirih menatap Rey yang terus menatap keluarga mas Lukman dengan tatapan tajam.
"ngga bisa gitu dong, biar gimana pun Lukman kan tetap ayah dari anak kakak kamu. kamu ngga bisa seenaknya aja memisahkan mereka" kata kak Yuni mengotot membuat Rey menatap kakak dari mas Lukman dengan tatapan yang meremehkan.
__ADS_1
"sejak kapan?" tanya Rey tenang namun tegas. semua orang pun terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rey.
"maksud kamu apa?" tanya mas Lukman dengan wajah bodohnya.
"sejak kapan anda mengakui kalo anak-anak kakak ku adalah anak anda? bukannya selama ini anda masa bodo dengan kehidupan mereka?" tanya Rey membuat mas Lukman menatapnya.
"jangan berlagak bodoh dihadapan semua orang yang ada disini, biar kan mereka semua tau. saya ngga perduli setalah ini mereka berfikir saya menghancurkan rumah tangga kakak saya, saya ngga perduli. saya ngga mau kakak saya dianggap bodoh ketika melepaskan kamu yang memang pantas dilepaskan, jadi jangan terus memperlihatkan wajah sok suci kalian dihadapan saya. karna mulai saat ini saya akan mengambil alih kembali tugas keluarga untuk tanggung jawab pada kakak saya dan anak-anaknya" kata Rey membuat semua orang yang ada ditempat ini tercengang, begitupun aku yang tak memutus apa yang dikatakan oleh Rey dihadapan semua orang.
"sebenarnya ada apa Rey, kenapa kamu begitu marah pada mereka? apa kamatian bapakmu ada sangkut pautnya dengan mereka semua?" tanya pak lek Edi membuat keluarga mas Lukman langsung membelalakan mata.
"memang tidak ada sangkut pautnya pak lek, semuanya sudah takdir tuhan. saya hanya tak suka melihat keberadaan mereka yang sudah dengan terang-terangan menyakiti mbak Diah, dan ya asal pak lek tau jika sebelum bapak meninggal paginya mereka kerumah mama hanya untuk memaki-maki mbak Diah dihadapan bapak" jawab Rey membuat pak lek membelalakan mata.
"ap-apa yang kamu katakan?! tidak, aku tidak ada kerumah ini untuk memaki kakak kamu!" kata mas Lukman manatap Rey yang memasang wajah sinis.
"kamu ngga bisa mengusir Lukman begitu aja dari rumah ini sementara disini ada anak dan istrinya, jadi dimana pun mereka Lukman masih tetap berada disebelahnya" kata ibu mas Lukman dengan santai menatap Rey dengan tajam.
"terserah kalian mau berkata apa, yang jelas tak ada lagi tempat untuk kalian terutama lelaki pengecut ini dirumah ini! jadi, silahkan pergi karna kami pun akan beristirahat" jawab Rey tanpa memperdulikan perkataan dari ibu mas Lukman yang sudah memasang Rey dengan tatapan yang sulit diperhatikan.
Rey pun melangkahkan kaki memasuki rumah diikuti oleh pak lek Edi, kemudian aku dan juga Bude pun kembali memasuki rumah.
"kunci pintunya mbak!" kata Rey menyuruh ku mengunci pintu, aku pun menutup pintu tanpa menghiraukan mas lukman dan keluarganya yang masih berada didepan rumah.
__ADS_1
"Rey, ngga seharusnya kamu begitu dengan mereka nak. biar gimana pun mereka masih tetap suami dan mertua kakak kamu, kalo kamu tidak bisa melihat mereka setidaknya pikirkan perasaan kakakmu. bisa saja setelah mereka dari sini, dirumah mereka berkata yang ngga-ngga tentang kakakmu. nanti kakakmu sendiri yang akan mengalami kesulitan" kata pak lek Edi membuat Rey menggelengkan kepala.
"tidak paklek, mulai hari ini mbak Diah ngga akan pulang kekontrakannya lagi. dia akan tetap tinggal dirumah ini, biar nanti barang-barang dikontrakkan mereka aku akan suruh temanku buat ambil" jawab Rey dengan tegas.
"sebanarnya apa permasalahan kalian? kenapa kalian sangat marah seperti ini? Diah, apa selama ini kamu diperlakukan dengan tidak baik oleh keluarga suami kamu?" tanya pak lek Edi yang langsung membuatku menundukkan kepala.
"pak lek tau, mbak Diah diberikan nafkah tidak layak pak lek padahal selama ini lelaki pengecut itu memiliki gaji yang lumayan besar untuk ukuran seorang supir. bahkan dengan barangnya keluarganya ikut campur dalam rumah tangga mereka, dan lagi lelaki pengecut itu memberikan gajinya pada ibu dan juga kakaknya lebih banyak dibanding apa yang dia berikan pada mbak Diah pak lek. apalagi lelaki itu juga sengaja memanfaatkan mbak Diah untuk terus meminjam uangku untuk memenuhi keinginan keluarganya pak lek, bahkan hanya karna mbak Diah yang memegang keuangannya dia sudah terus-terusan memakai mbak Diah bahkan sampai bermain tangan yang terakhir dia juga sudah berani menyelingkuhi mbak Diah pak lek" jawab Rey membuatku meneteskan air mata.
"apa benar begitu Diah?" tanya pak lek Edi padaku. aku puh hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"kenapa selama ini kamu Dian aja Diah? kenapa kamu ngga pernah berkata apapun pada kami?" tanya pak lek Edi membuatku langsung menggelengkan kepala.
"selama ini aku berfikir jika aku harus menutupi aib keluarga pak lek, makanya aku ngga pernah menceritakan semuanya sama keluarga. tapi semenjak mas Lukman lebih memilih membantu abangnya membuka warung kopi dengan tabungan lahiranku aku mulai menceritakannya pada Rey dan juga mama" jawabku dengan menundukkan kepala.
"terys sekarang bagiamana? kamu akan tetap bertahan dengan lelaki seperti itu, pak lek ngga mau kamu berpisah hanya karena Rey yang mendesak karna biar bagaimana pun perceraian dibenci Allah apalagi alasannya karna seseorang yang memisahkan. jadi, semua itu pun harus murni karna keingin kamu sendiri juga" jawab pak lek Edi yang juga diangguki oleh bude tari.
"iyaa bener apa yang dibilang pak lek kamu di, sebaiknya kamu pikirkan dulu matang-matang. kamu juga Rey, kamu ngga berhak mengatur rumah tangga kakak kamu harus bagaimana. biar kakak kamu sendiri yang memtuskan yang terbaik untuk rumah tangganya, karna biar bagaimana pun ada Nayla dan juga adiknya diantara mereka" jawab bude tari yang langsung aku angguki.
"iyaa bude aku memang masih memikirkannya baik-baik, makanya sebetulnya aku mau menenagkan diri dirumah temanku yang ada diluar kota hari ini tapi ternyata bapak berpulang yang mengharuskan aku tak jadi pergi kesana sampai ada kejadian seperti ini" jawabku dengan menundukkan kepala.
"yasudah sebaiknya sekarang kamu dirumah ini dulu, tenangkan hati dan pikiran kamu. coba kamu jalani hari-hati kamu seperti biasa namun tanpa sosok suami, kamu mampu atau tidak. jika nanti anak kamu memberikan pertanyaan tentang anaknya kamu mampu menjawabnya atau tidak, itu pun juga harus dipikirkan di. jangan egois hanya karna rasa sakit hatimu, kamu jadi lupa kalo ada Nayla dan juga Syifa diantara kalian" jawab bude tari membuatku menganggukan kepala dengan ragu.
__ADS_1
"kalo begitu bude pulang dulu ya, sepertinya mereka juga udah pergi" kata bude tari membuatku langsung menuju pintu dan sedikit membukanya, memang sudah tak ada lagi keluarga mas Lukman didepan rumah. bude tari pun melangkah keluar rumah setelah aku membuka pintu rumah dengan lebar, kemudian menyalakan motor yang dia bawa dan melakukannya dengan kecepatan sedang. semantara aku kembali masuk kedalam rumah bergabung bersama Rey dan juga pak lek Edi tanpa kembali menutup pintu rumah.
bersambung.....