
setelah semua urusan selesai, mas lukman dan bang Wendi pun pergi meninggalkan rumah mama dengan membawa buku tabungan dan juga ATM mas lukman yang selama ini ku bawa.
"udah mbak ngga usah dipikirin, yang penting sekarang anak-anak udah terjamin" kata Rey padaku.
"iyaa sih Rey, tapi apa ngga keterlaluan ya Rey mbak minta segitu. memang bener si kata mas lukman kalo empat juta itu setara gaji dia sebulan" jawabku.
"yaa gapapalah mbak, itu kan emang kewajiban dia sebagai bapaknya. lagian gaji mas lukman pasti masih ada sisanya kan untuk dirinya sendiri juga cicilan motor gedenya itu?" kata Rey yang juga aku benarkan.
"iyaa si pasti masih ada sisanya, tapi yasudahlah memang itu kewajiban dia sih" jawabku pada akhirnya.
"iyaalah mbak, lagian ngapain sih dipikirin. biarin aja lah mbak" jawab Rey. aku pun menganggukan kepala.
hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari ini tepat beberapa hari setelah kedatangan mas lukman dan juga bang Wendi kerumah. tepatnya dimana hari ini adalah jadwal sidang terakhir perceraian ku dan juga mas lukman berlangsung. pagi-pagi sekali aku sudah siap mengenakan pakaian putih hitam juga jas yang akan ku kena kan sekalian untuk berkerja selepas persidangan nanti.
"udah siap mbak?" tanya Rey yang akan mengantarkan aku kepersidangan hari ini.
"udah kok Rey, nih. mau jalan sekarang?" tanyaku.
"iyaa yuk, tau sendiri jalanan macet kan. kata mas Raihan jam sembilan nanti jadwal sidang mbak, oiyaa mbak udah izin kan sama atas mbak dikantor?" tanya Rey yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"udah kok Rey, tapi ya mbak ngga bisa izin full mbak cuma izin setengah hari aja" jawabku yang juga diangguki oleh Rey.
"yaudah gapapa mbak, berarti nanti habis selesai sidang mbak langsung aku anter kekantor aja ya" jawab Rey membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaaa Rey, yaudah yuk kalo gitu kita jalan. mbak juga tadi udah pamitan sama mama juga Nayla dikamar" jawab ku.
kami pun melangkah kan kaki menuju motor milik Rey, kemudian berjalan menjauh dari rumah mama menuju pengadilan agama untuk mendengarkan sidang putusan perceraian ku hari ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah sampai mbak" kata Rey ketika kami sudah sampai diparkiran pengadilan agama.
"iyaaa Rey, tuh lihat Raihan udah nungguin didepan pintu masuk nya. yuk" kataku mengajak Rey mendekati Raihan yang sudah menunggu didepan pintu pengadilan agama.
"hai mas, udah lama?" tanya Rey pada Raihan yang sudah sampai lebih dulu.
"ngga kok, baru sampai juga tapi kebetulan tadi belum masuk sengaja nungguin kalian" jawab Raihan dengan tersenyum.
"yaudah kalo gitu kita masuk yuk" kataku yang langsung diangguki keduanya, kami pun masuk kedalam pengadilan agama dan menunggu didepan ruang sidang.
ternyata disana sudah ada mas lukman dan juga ibu nya beserta calon kakak iparku, siapa lagi jika bukan kak Yuni. mereka ini selalu klop kemanapun selalu bertiga, memang keluarga Cemara. sayangnya, abangnya mas lukman ntah kemana berada. jika ada pasti lebih klop lagi hehehe.
"nah ini dia nih, dasar wanita gatal. kamu itu emang sengaja ya mau memeras lukman biar semua uang gajinya jatuh ke tangan kamu, makanya kamu minta nafkah untuk anak-anak kamu sampai juta-jutaan" kata kak Yuni dengan tampang mencemooh.
"biarkan saja kak, ngga usah diladenin" bisik Rey yang langsung aku angguki. aku pun terus berjalan kearah depan tanpa menggubris perkataan kak Yuni.
"mbak, bisa diam tidak. kalo ngga bisa diam lebih baik mbak pergi dari sini karna hanya akan mengganggu jalannya persidangan, lagian ngga punya malu apa gimana pake pakian kaya gembel gitu ketempat kaya gini." kata Raihan dengan nada tegas membuatku dan juga Rey saling berpandangan.
"eh kurang ajar, emang kamu siapa ngomong kaya gitu sama aku. biarpun ini hanya daster tapi mahal kami tau!!!" bentaknya tak terima dicemooh oleh Raihan.
"setidaknya tau tempatlah, dimana harus memakai pakaian kaya gitu. pakaian kaya gitu itu tempatnya dirumah, didapur bukan ditpat kaya gini. setidaknya pakailah celana jeans dan kaos bukan pakaian kaya gini" jawab Reihan semakin membuat telinga kak Yuni panas.
"sudah-sudah Yuni, diam lah jangan sampai kamu mengacaukan persidangan kali ini" kata ibu mertua seketika membuat kak Yuni menghentikan ocehannya.
"untuk kamu Diah, saya ngga rela jika Lukman menghabiskan gajinya untuk anak-anakmu saja. dia juga punya keperluan, punya tanggung jawab pada saya ibunya. jadi, kamu jangan mau enaknya sendiri aja. saya akan tuntut nafkah itu balik dipersidangan nanti" jawab calon ibu mertuaku yang mungkin tak tau jika mas lukman sudah membuat perjanjian hitam diatas putih bersama bang Wendi.
"silahkan saja jika ibu bisa, sadar dirilah Bu. lihatlah, kami bawa pengacara sementara ibu dan anak ibu hanya membawa diri. lagian apa hak ibu mencampuri hak anak-anak terhadap bapaknya, apa karna ibu sendiri tak diberikan hak yang pasti oleh mantan suami ibu yang lebih memilih istri pertamanya jadi ibu bisa bertindak sama pada kakakku? oohh tentu saja tidak, ingat Bu. bahkan status kalian beda, mbak Diah jelas anaknya sah Dimata agama dan hukum sementara anak-anak ibu hanya anak dari istri siri yang bahkan ngga punya sah kuasa apapun dalam negara" jawab Rey membuat rahang calon ibu mertua mengeras, begitu pun mas Lukman yang terlihat seperti marah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rey.
__ADS_1
"tutup mulutmu Rey, kamu ngga tau apapun soal keluarga kami. jadi tolong jangan sok tau!!" kata mas lukman membuat Rey berdecih.
"sudah Rey, sebentar lagi kita masuk ruang sidang" kata Raihan menengahi Rey dan juga mas Lukman. Rey pun menganggukan kepala sebagai jawaban.
benar saja, tak lama panggilan sidang untukku pun sudah dipanggil sesuai nomer urut. aku, Rey dan juga Raihan pun masuk kedalam ruang sidang diikuti oleh mas Lukman dan yang lainnya.
"selamat pagi menjelang siang, bapak-bapak dan ibu-ibu. baiklah, hari ini agenda kita putusan sidang ya? untuk bapak Lukman dan ibu Diah, silahkan duduk di kursinya" kata hakim ketua.
aku dan mas Lukman pun duduk di bangku yang sudah dipersiapkan dihadapan para hakim yang akan menentukan putusan ceraikanku dan juga mas Lukman.
"baiklah, sesuai dengan bukti-bukti yang ada serta pasal-pasal yang tertera dalam undang-undang. maka dengan ini pengadilan agama memutuskan mengabulkan perceraian dari penggugat terhadap tergugat, kini keduanya resmi BERCERAI" kata hakim ketua diikuti ketukan palu tiga kali yang menyatakan keputusan sah dan tak bisa lagi diganggu gugat.
"dan sesuai gugatan yang diajukan oleh ibu Diah terhadap pak Lukman yang baru, dengan ini pengadilan pun mengabulkan semua permohonan penggugat. termasuk hak asuh anak dan juga nafkah untuk dua orang anak yang harus diberikan oleh tergugat sesuai dengan nominal yang tertera didalamnya" kata hakim ketua dengan lantangnya.
"tidak bisa begitu pak hakim, kami keberatan!!!" teriak kak Yuni yang juga diangguki oleh ibu mertua.
"siapa kamu?" tanya hakim ketua.
"saya kakak Lukman pak hakim, tidak bisa begitu pak hakim. tuntutan yang dituntut oleh penggugat sama saja setara dengan hampir satu bulan gaji tergugat, jika dikabulkan maka kami keluarganya mau makan apa pak hakim" kata kak Yuni yang juga diangguki oleh ibu mertua dan juga mas Lukman.
"hampir kan, bukan semua? lagi pula disini tertera jika saudara lukman hanya menanggung ibu kandungnya, dengan gaji diatas tujuh juta rupiah perbulan dengan cicilan sebilah satu juta dua ratus lima puluh ribu dan tinggal dirumah kakaknya yang sudah menikah dan turut dinafkahi oleh suaminya. jadi, saya rasa ini sudah keputusan final. bisa dimengerti?" kata hakim ketua menjelaskan. kami pun menganggukan kepala dengan senyum puas yang tersungging dibibir kami masing-masing.
setelah semua selesai, kami pun keluar dari ruang sidang dengan hati yang lega. aku pun hanya tinggal menunggu akte cerai yang akan diberikan beberapa hari lagi setelah keputusan.
"hebat, kamu sogok berapa hakim itu untuk memenuhi semua gugatan kamu. dasar perempuan licik!!!" ......
bersambung.
__ADS_1