
"hei mas!! seharusnya kamu sadar, tiga juta yang kamu maksud sisa untuk sekarang itu sudah dibayarkan untuk hutang pada Rey dua jutanya!! nah sisanya, seperti yang kamu tau sendiri. uang jatahku lima puluh ribu sehari bahkan kamu memintaku untuk memenuhi segala isi dapur termasuk beras dan juga gas bagimana kamu ga bisa hemat!!!" bentakku dengan memelototkan mata menatap mas Lukman yang terkejut mendengar suaraku yang lebih keras dari tadi.
"mbak, mbak tenang dulu mbak. kita bisa bicarakan ini dengan pelan-pelan mbak, ga enak didengar tetangga kalo teriak-teriak begitu" kata Rey menenangkan aku yang begitu emosi menghadapi mas Lukman.
"Rey, mbak ga habis pikir bagaimana ada orang seperti dia yang begitu tega memperlakukan istri dan juga anaknya seperti ini, tdi siang dia minta maaf tapi ternyata lihat sendiri malam ini bagiamana kelakuannya. dan lagi yang membuat mbak heran, dia tidak mau menceraikan mbak Rey. maksud dia apa berbuat seperti itu? untuk apa mbak mempertahankan rumah tangga seperti ini terus menerus" jawabku kembali membentak Rey sangking kesalnya pada mas Lukman.
"iyaa mbak iyaa Rey tau, tapi kita bisa bicarakan ini dulu baik-baik mbak. tenangkan dulu diri mbak untuk bisa menghadapi mas Lukman, Rey mohon mbak" kata Rey padaku yang seketika membuatku langsung terdiam dan mengeluarkan air mata yang sudah tak bisa aku bendung lagi.
"bagaimana mas Lukman, sebetulnya ini permasalahan rumah tangga mas Lukman itu susah ya karna masih bersitegang disitu-situ aja. seperti sekarang, saya fikir kok kenapa si uang lagi uang lagi yang menjadi pemasalahannya. ga etis rasanya ya, apalagi ini masalah sensitif mas. baiklah begini, karna menurut mbak Diah yang menjadi permasalahannya ada sikap keluarga mas Lukman yang sering meminta uang padahal sudah diberikan untuk ibu mas Lukman. saran saya, sekali lagi ya saya memberikan saran. bagiamana jika mas Lukman dan mbak Diah pindah dari kontrakan ini?" jawab Raihan yang sedari tadi diam mendengarkan perkataan kedua orang yang berada argumen dihadapannya.
"bukannya saya ngga mau Raihan, tapi saya memang sudah betah disini. lagipula disinilah saya tumbuh singga sekarang, ngga mungkin saya meninggalkan tepat ini" jawab mas Lukman membuat Raihan menyeritkan kening.
"kenapa ngga mungkin? bahkan mbak Diah rela meninggalkan tempat dimana ia dibesarkan, untuk mengikuti mas Lukman sebagai suami. apa salahnya jika sekarang mas Lukman yang mengalah pindah dari wilayah ini untuk ketentraman rumah tangga mas Lukman sendiri?" tanya Raihan membuat mas Lukman menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"begini Rai, kalo saya pindah dari rumah kontrakan ini lalu bagaimana dengan ibu saya jika ia lapar dan belum makan seharian. sementara saya tau kondisi keuangan mereka bagaimana, selama saya dirumah ini aja mereka sering kesini sewaktu waktunya makan siang karna dari pagi belum bisa makan. jadi bagaimana jika kamu pindah dari sini" jawab mas Lukman membuat Raihan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"lantas bagaimana mau mas Lukman? saya memang belum berumah tangga, tapi setau saya rumah tangga itu dibangun dengan dua orang yang berbeda kepala. mas Lukman tau sendiri, kalo mbak Diah tidak nyaman berada dirumah ini karna terlalu sering diganggu oleh keluarga mas Lukman. mas Lukman sebagai seorang suami pun harus memberikan tempat yang nyaman untuk anak dan istri mas Lukman kan?" jawab Raihan seketika membuat mas Lukman terdiam.
"jika kamu ngga bisa memilih lebih baik kita berpisah aja mas, aku lelah menghadapi sikap ibu dan juga kakak kamu. andai mereka hanya meminta sepiring nasi aku tak melarang mas, tapi ini. mereka meminta bahkan terus meminta uang yang memang jelas sudah menjadi hakku. aku mempertahankan apa yang menjadi hakku tapi mereka seolah menjadi orang yang paling aku zhalimi" jawab ku dengan menatap mas Lukman yang membelalakan mata.
"tidak, aku ngga akan menceraikan kamu Diah. ngga akan pernah!!!" bentak mas Lukman membuatku menundukkan kepala.
"lantas mau mas Lukman gimana? bercerai gamau, pindah pun juga gamau. sampai kapan mas Lukman membiarkan mbak Diah berjuang sendiri menghadapi keluarga mas Lukman dan juga diri mas Lukman sendiri yang selalu mau menang sendiri. jangan egois mas, mbak Diah juga butuh kebahagiannya dan juga ketenangannya nomer satu" kata Rey menatap mas lukman dengan tatapan tajam.
"benar apa yang dikatakan Rey mas, jangan terlalu menggenggam apa yang yang mas miliki karna jika begitu erat milik mas Lukman pun akan cepat terlepas" kata Raihan membuat mas Lukman menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"maksud kamu apa? kamu senang jika aku dan juga Diah berpisah? apa karma kamu seumuran dengan Diah dan ingin memilikinya makanya kamu terlalu ingin aku bercerai dengannya?" jawab mas Lukman yang sudah mulai berbicara melantur.
__ADS_1
"apa yang kamu katakan mas? jangan sembarangan ngomong, bicaramu makin kesini makin ngelantur aja mas." bentakku pada mas Lukman yang hanya menyunggingkan senyum sinis.
"lantas apa maksud dia berbicara seperti itu kalo bukan seperti apa yang aku katakan tadi, itulah salah satunya dia datang kesini agar dapat mengambil simpati kamu. kamu aja yang disadari dan kurang peka sebagai perempuan" jawab mas Lukman membuatku dan juga Rey saling lirik.
"sudahlah mas, jangan berbicara hal yang tidak perlu dibicarakan untuk mengalihkan pembicaraan. saat ini kita membicarakan apa mau mas Lukman dalam rumah tangga bersama mbak Diah, bukan hal yang lain" jawab Rey dengan nada tegas.
"urusan rumah tanggaku dan juga Diah tak hubungannya dengan kalian, asal kalian tau. bagaimana pun kehidupan rumah tangga kami, kamu tak perlu ikut campur. aku bisa aja minta kamu untuk berhenti ikut campur dalam Maslaah rumah tanggaku dan juga kakakmu, tapi apa Diah selalu melibatkan kamu dalam setiap permasalahan kami" jawab mas Lukman membuat Rey terkekeh kecil.
"bagaimana ngga, kalo mas Lukman sendiri aja selalu meminta pembelaan pada orangtua dan juga kakak mas Lukman yang super toxic itu. jika bukan padaku, lantas pada siapa lagi mbak Diah mengadu? pada mas Lukman sudah jelas ga mungkin, iyakan!" jawab Rey menskakmat mas Lukman yang sudah tak bisa lagi berkata-kata mendengar perkataan Rey.
"baiklah ini untuk terakhir kalinya saya membantu mas lukman dan juga mbak Diah, saya cuma ingin mengingatkan jika surat perjanjian yang sudah masuk kekantor notaris itu sudah dapat dipastikan asli dan juga mbak Diah dan Rey dapat memakainya sebagai bukti andai suatu saat mas Lukman melakukan hal yang dikarang dalam surat perjanjian itu" kata Raihan mengingatkan ku dan juga Rey.
"baiklah kalo gitu mas Raihan, terimakasih sudah membantuku dan juga mbak Diah selama ini. suatu saat pasti aku akan meminta bantuan lagi pada mas Raihan, aku harap mas Raihan dapat membantuku lagi lain kali" .....
__ADS_1
bersambung....