Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 24.


__ADS_3

ketika aku berhadapan dengan mas Lukman ternyata ia tengah memegang ponselnya dan juga memijit kepalanya yang terlihat sangat pening.


"kenapa kamu mas?"tanyaku dengan suara pelan takut mama dan bapak mendengar pembicaraanku dengan mas Lukman, maklum rumah kontrakan ku hanya tiga petak jadi suara pun bisa terdengar kemana-mana jika agak keras.


"emm gapapa kok" jawabnya dengan ragu.


"ngomong aja udah, kenapa? ada masalah?" tanyaku penasaran.


"emm iyaa ini, kakak ku emm gimana ya ngomongnya" jawabnya dengan terbata bata.


"kenapa emang kakak kamu?" tanyaku lagi dengan duduk menghadapnya.


"gini, kemarin kan aku nitip uang buat cicilan dua motor. itu loh motor kita yang gede sama motor Abang, tapi uangnya dipake sama kakak aku. bulan kemarin kan aku udah gabayar karna uang yang buat bayar motor buat nutupin warkop, nah bulan ini aku bayar dua bulan begitu juga motor punya Abang. tapi ternyata uangnya sebagian dipake sama kakak aku, sampe sekarang ternyata belum dibayarin. akhirnya kemarin aku coba bayar dimini market ternyata keblokir, aku udah urus ke leasingnya tapi dia minta uang buka blokir untuk yang gede satu juta delapan ratus ribu untuk yang motor Abang satu juta. mas pusing, udah ngga gaada uang lagi. jangan kan buat bayar buka blokiran, buat cicilannya aja jadi kurang" jawab mas Lukman kembali membuatku meradang, mas Lukman yang melihat aku tak merespon pun mengangkat wajahnya dan mendapati mataku yang menatap lurus kedepan dengan pandangan tajam.


"terus jadinya gimana?" tanyaku dengan datar.


"makanya mas pusing, mana mas ngga ada uang lagi. kamu bisa ga minta tolong Rey buat pinjemin uang sama mas?" tanya mas Lukman dengan santainya padaku.


"yang make uangnya siapa?" tanyaku dengan dingin.


"kakak aku!" jawabnya dengan pelan.


"yaudah suruh dia yang ganti lah, emang berapa total semua uang yang kamu kasih kedia kemarin?" tanyaku lagi pada mas Lukman.

__ADS_1


"yaa untuk motor kita aja udah ketauan dua juta lima ratus, terus motor Abang aja satu juta dua ratus lima puluh. yaa totalnya tiga juta tuju ratus lima puluh ribu" jawabnya sambil menghitung sendiri uang yang ia titipkan pada kakak kandungnya itu.


"terus yang di pake kakak kamu berapaa?" tanyaku dengan masih menatapnya tajam.


"sekitar dua juta lima ratusan" jawabnya singkat.


"emang ya keluarga kamu ngga ada yang bener, dititipin ngga amanah. kalo ngeliat duit ijo banget, aku heran. katanya dikasih suaminya empat juta sebulan, rumah dibayar kontrakan pertahun sama orangtua suaminya, buka percetakan juga ga mati katanya seratus ribu sehari. kenapa si masih kekurangan uang? sekarang kalo udah kaya gini kamu minta tolong sama aku buat ngomong sama Rey? susahmu kamu masih ke aku, aku gamau tau ya mas suruh kakak kamu itu kerumah ini setelah mama dan bapak pulang. atau aku yang akan minta ganti sendiri sama kakak ipar lelakimu itu!" jawabku pada mas Lukman yang langsung menatapku dengan tajam


"kamu mau buat rumah tangga kakak ku berantakan kalo kaya gitu caranya!" jawab mas Lukman dengan menahaj bentakan yang akan keluar dari mulutnya.


"terus, oohh apa rumah tangga kita yang kamu biarkan berantakan demi menolong rumah tangga kakak kamu itu? iya! aku ngga akan ya mas bantu kamu buat ngomong sama Rey, kemarin aja hutang lima juta belum kamu bayar kan? sekarang udah mau hutang lagi. enak aja kamu, kalo susah baru inget sama keluargaku giliran seneng aja boro-boro inget ngelirik juga ngga" jawabku dengan ketus.


"ayolah Diah, jangan begitu. apa kamu mau motor itu ditarik leasing nantinya, sayang loh udah tinggal sepuluh kali cicilan lagi" katanya mencoba membujukku.


"cukup ya jangan jelekkan keluargaku, biar gimana pun mereka tetap kakak dan juga abangku Diah. dia kakak iparmu!" kata mas Lukman menekan kalimatnya.


"aku tau, kakak ipar yang selalu merecoki kehidupan rumah tangga adiknya. bukannya aku benar mas? aku ga pernah bicara omong kosong, aku bicara sesuai fakta. jangan kamu selalu membela mereka ketika mereka salah, kamu lupa bagaimana kamu membohongi aku saat mulai membayarkan motor Abang tapi bilangnya punya hutang diluar? inget ga kamu? kurang apa aku mas? tapi apa, nyatanya kamu masih tetap seenaknya sama aku" jawabku membuatnya terdiam.


"kamu royal pada keluargamu, kamu royal pada temanmu tapi kamu pelit terhadapku. bahkan uang lima puluh ribu yang kamu kasih tiap hari pun masih kamu tanyakan sisanya, dan aku harus berhemat dengan uang itu. sedangkan dengan temanmu, kamu ngga segan mengeluarkan uang sampai ratusan ribu untuk mereka. iyakan? dan sekarang kamu kehilangan uang jutaan rupiah karna ulah kakak kandungmu sendiri. aku bilang ya, kamu kualat mas! kualat karna pelitmu padaku dan juga anak-anak" lanjutku sedikit lantang agar mama dan bapak tetap tidak bisa mendengar apa yang kami bicarakan.


"jaga ucapanmu Diah, kamu udah kelewatan menghina keluargaku!!" katanya dengan mengerjakan gigi.


"mereka memang pantas dihina mas, sekarang kamu bela mereka terserah. kesusahan mu karna mereka bukan urusanku, ingat mas bukan urusanku!!" jawabku menekan kata diakhir kalimat pada mas Lukman agar ia mengerti betapa kecewa nya aku merasa tak dianggap sebagai istri karna ulahnya dan keluarganya sendiri.

__ADS_1


"terus gimana ini, mas pusing Diah. ayolah bantu mas kali ini aja" katanya memohon.


"tidak mas, sekali tidak ya tetap tidak. aku ngga akan mengubah keputusanku, mintalah pada kakakmu atau aku yang akan bicara sendiri dengan suami kakak mu itu. aku yakin dia pasti akan mengganti semua uang yang udah dipakai sama kakak tersayangmu itu" jawabku dengan ketus sambil merebahkan badan disamping Syifa, sementara Nayla sudah berada didepan bersama dengan uti dan akungnya selama kami berdebat.


"ngomong sama kamu bikin tambah pusing aja, percuma minta pendapat sama kamu ngga akan pernah dapat solusi. yang ada malah tambah bikin pusing aja dengan semua omonganmu itu" katanya memunggungiku yang tidur dengan berbaring bersandar di tembok.


"yaudah ga usah minta pendapat aku, percuma juga kan. toh kamu juga ngga akan pake semua saran dari aku, yaudah lakuin aja apa yang mau kamu lakuin. aku ga peduli, yang penting semua kebutuhan anak-anak kebutuhanku dan juga uang untukku masak selalu ada. tapi inget ya, kalo ada apa-apa jangan pernah meminta bantuanku!" jawabku langsung memejamkan mata karna terasa sangat mengantuk sekali.


"sama sekali ngga bisa bantuin, sama sekali ngga bisa diajak buat mikir bareng bareng kamu mah selalu begitu tanggapan kamu!" gumam mas Lukman yang membuatku langsung membuka mataku lagi.


"apa? ga bisa diajak mikir? mikir yang kaya gimana mas? sadar! buat apa aku ikutan mikirin apa yang ga seharusnya aku pikirin, lihat palingan kakak kamu sekarang lagi enak-enakan tanpa mikirin gimana caranya kamu dapatin yang buat bayarin motor itu. aku yakin!" jawabku dengan sangat yakin.


"aahh udahlah capek ngomong sama kamu, ngomong sedikit jawabnya banyak banget" jawab mas Lukman.


"omonganmu aneh mas, coba andai aku yang habisin uang segitu banyaknya. bukan uang untuk bayar motor deh, anggap aja uang belanja bulanan aku. aku yakin kamu pasti akan mencak-mencak, iyakan? apalagi kalo aku pake uang buat bayar motor kata apa yang kakak kamu lakuin, pasti kamu udah seret aku dari ujung jalan sampe kerumah. bener ga aku?" jawabku menantangnya yang langsung terdiam mendengar perkataanku.


"udahlah mas, mendingan minta kakak kamu itu ganti uang motor itu. total lah semuanya jadi berapa, banyak loh itu jadinya hitung aja dua juga lima ratus ribu ditambah dua juta delapan ratus ribu. udah hampir enam juta mas, dapat uang dari mana kamu segitu banyaknya" jawabku dengan tawa mengejek.


"makanya kan aku minta tolong kamu buat bilang ke Rey kalo aku minjam uang dia segitu, nanti pasti aku balikin kok jangan takut ngga aku balikin" jawabnya membuatku tertawa kecil.


"nyatanya emang uang lahiran kemarin aja belum kamu balikin mas lima juta, udah hampir sebulan mas. sebulan" jawabku menekan kata sebulan dihadapannya.


"makanya ya mas, kalo dikasih tau sama istri itu dicermati benar atau salah. jangan asal tangkep aja, jangan egois mau pake pendapat sendiri gamau paket pendapat orang. kena sendiri kan batunya, giliran repot aja minta bantuan. duh sorry ya" jawabku dengan kesal menatap mas Lukman yang terdiam mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2