Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 29.


__ADS_3

"tolong jangan ikut campur urusan rumah tanggaku ma, ini bukan ranah mama untuk ikut campur" jawab mas Lukman semakin membuat mama jengkel.


"man Lukman, apa kamu bilang? mama ikut campur urusan rumah tangga kamu, apa kamu ngga salah ucap man? mama fikir walaupun kamu ngga berpendidikan tinggi kamu itu cukup pintar, ternyata tetap saja otakmu dangkal" jawab mama dengan sangat pedas membuatku membelalakan mata karna selama ini mama tak pernah mengeluarkan kata-kata sepeda itu.


"maksud mama apa, mama menghinaku karna cuma lulusan SD?" jawab mas Lukman dengan geram.


"apa kamu ngerasa terhina karna ucapan mama? seharusnya kamu mikir man, yang ikut campur dalam rumah tangga kalian ya keluarga kamu. mereka yang merecok rumah tangga kalian, kenapa kamu lempar kesalahannya ke mama. mama disini membela Diah yang memang anak mama, lagian kalo emang kamu salah ya akuin aja" jawab mama seketika membuat mas Lukman terdiam.


"tuh kan ngga bisa jawab, kamu ngga sadar juga mas. aku selama ini udah diam loh kamu cuma kasih nafkah lima puluh ribu, yaa walaupun kadang kala kamu membelikan aku pakaian tapi itu kan ngga setiap bulan. ngga sebanding kayanya kaya apa yang kamu kasih buat ibumu dan juga kakak kakakmu" jawabku dengan mata berkaca-kaca hampir menangis karna memang masih sensitif karna habis melahirkan.


"yang penting kan aku tetap memberikan nafkah yang cukup untuk kamu dan anak-anak, apa salahnya aku berbagi sama keluarga aku Diah lagi pula kamu kan udah mengizinkan" jawab mas Lukman membuatku menatap ya dengan tatapan malas.


"kamu ingetkan apa janji kamu waktu aku mengizinkan? seberapa uang yang keluar untuk keluargamu kamu akan gantikan juga untuk kamu berikan padaku, tapi mana mas? bahkan seperak pun aku ngga pernah kamu berikan selain uang nafkah lima puluh ribu itu. kamu fikir itu adil?" jawabku dengan sedikit berteriak, terlihat mas Lukman begitu shock dengan perkataanku yang masih mengingat jelas apa yang ia ucapkan setahun yang lalu.


"kenapa? kamu kaget aku masih inget semua kamu ucapin ke aku mas? ngga usah shock gitu lah, bahkan aku masih inget kok dari awal kita ketemu terus pacaran terus akhirnya kita nikah. ngga pernah ada yang terlewat. emmm mungkin sekarang bisa dibilang aku menyesal" jawabku menatap mas Lukman yang semakin memelototkan mata.

__ADS_1


"apa maksud kamu?" tanya mas Lukman padaku.


"andai ngga ada Nayla dan juga anak yang baru aku lahiran ini, mungkin sekarang aku udah ngga disini mas. udah ngga disamping kamu, aku lelah mas. aku lelah harus mengalah dengan keluargamu, andai orang lain yang menjadi sainganku pasti akan aku hadapi. tapi ini keluargamu, bahkan kamu sendiri aja ngga bisa membantah ucapan ibumu. aku kalah mas, aku menyerah. aku tidak baik-baik saja dengan rumah tangga yang ga sehat seperti ini" jawabku dengan sedikit meneteskan air mata pertama kalinya dihadapan mama dengan memeluk bayi kecilku.


mama pun memelukku yang sudah terlihat sangat lemah, sementara mas Lukman seolah tak perduli begitu saja denganku.


"jangan karna ada mama sama bapak disini kamu bisa sebegitunya merendahkan aku Diah, aku sama sekali ngga terpengaruh dan ngga akan segan-segan berbicara kasar didepan orangtuamu ya Diah" jawab mas Lukman dengan menekan kata setiap kalimatnya.


"urusanmu, aku ngga peduli. yang aku pedulikan adalah lebih baik kamu ceraikan aku atau kamu selesaikan urusan dengan keluargamu sekarang juga" jawabku membalas tatapan mas Lukman tak kalah tajam.


"eehh enak aja nyuruh Diah yang cari pinjaman, mending kamu aja. nanti kalo ditagih kan kamu, kalo Diah nanti dia yang ditagih kamu ngga mau lagi bayar. nanti dibilang Diah lagi yang Makai uangnya, jangan mau Diah. biar aja dia mikir sendiri pakai otaknya yang sok pintar itu" kali ini bukan aku yang menjawab melainkan mama, aku pun berfikir membenarkan apa yang mama ucapkan. melihat ternyata watak mas Lukman seperti ini, aku sangat yakin jika mas lukman akan melakukan seperti apa yang mama katakan.


"aku ngga bicara sama mama ya ma, aku bicara sama Diah. jadi kalo Diah masih mau tinggal disini lebih baik ikutin apa kata aku" jawab mas Lukman membuatku terkekeh.


"eeehh mas, kamu lupa sama apa yang barusan aku bilang? aku minta kamu menalak aku loh mas, baru aja. kenapa kamu dengan pede mau nengusirku, lagi pula harusnya kamu yang pergi dari rumah ini sesuai dengan perjanjian pranikah kita. kamu lupa, oohh atau jangan jangan kamu sengaja mau mencari alibi untuk bisa bebas dari perjanjian surat pranikah itu? lucu kamu mas" jawabku dengan santai menatap wajah mas Lukman yang sudah memerah menahan amarah.

__ADS_1


"udah lah Lukman semakin kamu bicara semakin kamu terlihat bodoh, mending kamu diam dan fikirkan caranya bagaimana kamu bisa mendapatkan uang itu sebelum orang leasing itu datang kesini untuk menarik motor mu itu" jawab mama dengan senyum sinis menatap mas Lukman yang terlihat tak berani menanggapi ucapan mama. mama pun kembali kedalam dengan senyum puas diwajahnya telah membuat mas Lukman tak berkutik, aku pun mengikuti langkah mama dengan menggendong Syifa mendekat ke arah bapak yang ternyata sudah bangun dan aku yakin bapak pasti mendengar apa yang aku, mama dan mas Lukman bicarakan.


aku pun tersenyum melihat bapak yang juga tersenyum kearahku. ku lihat bapak memang Syifa dengan tatapan teduh, entah mengapa aku melihat bapak selalu ingin menangis akhir-akhir ini dan perasaanku pun selalu gelisah.


"masih diam aja dia?" tanya mama padaku yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"yaa masih ma, mau apa lagi dia selain ngandelin pinjeman dari Rey. aku si ngga rela ya Rey cuma dimanfaatin untuk kalo dia butuh doang, enak aja" jawabku dengan kesal sengaja aku keraskan suara agar mas Lukman dengar apa yang aku bicarakan.


"iyaalah apalagi mama, Rey itu kan juga anak mama. kalo dia orang tuanya aja ngatur urusan keuangannya ya mama juga berhaklah ngatur urusan keuangan Rey, apalagi Rey belum nikah" jawab mama membalas ucapaku.


"iyaalah, biarin aja dia mikir sendiri. kalo susah aja nyuruh aku mikir, biarin aja sekarang mikir sendiri." jawabku dengan kesal pada mas Lukman yang tiba-tiba saja datang berdiri tak jauh dariku.


"ooohh udah berani kamu sekarang bicara begitu tentang aku yang jelas suami kamu sendiri ya Diah, bener-bener kurang ajar. istri ngga tau diuntung kamu Diah" kata mas Lukman melayangkan tangan padaku....


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2