Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 129.


__ADS_3

"terimakasih ya nak Hamid sudah mau repot-repot mengantar kami semua sampai rumah" kata mama setelah mobil sampai dihalaman rumah.


"sama-sama bude, Hamid sama sekali ngga kerasa direpotkan kok bude" jawab mas Hamid dengan tersenyum.


"iyaaa bude percaya kamu ngga akan merasa direpotkan, tapi bude tetep terimakasih sama kamu ya nak Hamid" kata mama dibalas anggukan kepala oleh mas Hamid.


"kalo begitu kita semua masuk dulu ya kerumah, nak Hamid mau mau mampir?" tanya mama yang langsung dijawab gelengan kepala oleh mas Hamid.


"tidak bude, sudah malam. Hamid mau langsung pulang kerumah aja, karna kebetulan besok juga Hamid mulai kerja lagi" jawabnya tersenyum lembut.


"ooohh begitu, ya baiklah kalo gitu kami permisi ya. assalamualaikum" kata mama membuka pintu mobil kemudian turun, kami pun mengikuti mama. tak lama, mas Hamid pun memutar mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah.


"ayok masuk" kata Rey.


"assalamualaikum" salam kami serempak ketika memasuki rumah yang sudah seharian kosong itu.


"Alhamdulillah sampai juga dirumah, ternyata lelah juga menghadiri acara kaya gitu" kata mama menyelonjorkan kakinya.


"iyaa ma, Sintia juga baru kali pertama Dateng ke acara kaya gitu. pegel banget badannya" jawab Sintia memijat pelan punggung badannya sendiri.


"alaaahh kamu mah udah biasa kali, kan sama aja kalo kamu lagi ada pensi atau festival disekolah" jawab Rey membuat Sintia menghela nafas.


"beda lah mas, itu kan seru sama temen-temej sementara ini kan ngga. yaa kayanya lebih berasa aja gitu" jawab Sintia membuat Rey memutar bola mata jengah.


"alaah alasan kamu aja itu mah. oiyaa ma, kayanya mulai sekarang kita akan sering datang keacara pesantren itu ma, karna tadi Abi minta seperti itu" jawab Rey membuat mama mendongak menatap anak lelaki satu-satunya itu.


"lalu kamu jawab apa Rey?" tanya mama dengan dahi menyerit.


"Rey cuma jawab nanti akan Rey tanyakan lagi sama mama. itu aja sih, kalo mama setuju ya Rey juga setuju" jawab Rey membuat mama menghela nafas lega.


"lagian kenapa si ma? kayanya Abi Hasyim berniat baik sama kita ma, kok kayanya mama keliatan ga begitu suka?" tanyaku pada mama.


"bukan begitu, mama cuma merasa ngga enak aja. kamu tau sendiri kan mama ini janda, bukan hal yang baik jika kita terlalu dekat dengan mereka. takut menimbulkan fitnah yang tidak-tidak, mama cuma ngga mau hal itu terjadi. itu aja, tapi kalo kalian mau sesekali datang kesana mama ngga masalah" jawab mama menundukkan kepala dan memijat pelan betis kaki nya.


"tapi ngga mungkin juga kita datang kesana tanpa diundang ma, kita juga masih kerasa asing kok. iyakan mbak?" jawab Sintia yang langsung aku angguki.


"iyaaa bener, lagian Diah juga heran dengan maksud Abi Hasyim dan juga umi Hamidah bersikap seperti itu pada kita. jujur, Diah juga jadi kurang nyaman jika terus dijodohkan dengan mas Hamid" jawabku dengan suara pelan diakhir kalimat.

__ADS_1


"nah, itu juga yang menjadi pertimbangan mama. mama juga kurang sreg, apalagi seperti yang kita tau jika mbak Diah belum menyelesaikan perceraiannya tapi ntah kenapa mereka terus mendesak mbak kalian untuk bersama nak Hamid. mungkin dengan kita menjaga jarak itu sudah keputusan yang paling tepat" kata mama yang langsung kami semua angguki.


"assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar rumah, Rey pun berdiri dan melihat siapa yang bertamu malam hari begini.


"waaalaikumsalam, eh mas raihan mari masuk mas" kata Rey mempersilah tamu yang ternyata Raihan itu masuk kedalam rumah.


"kayanya lagi rame ya Rey?" tanya nya.


"yaa begini mas, kan sekarang mbak Diah tinggal dirumah ini juga" jawab Rey yang membawa Raihan masuk kedalam rumah.


"ibu, apa kabar? turut berduka cita ya Bu, maaf kemaren Raihan ga bisa datang kepemakaman bapak. kerjaan lagi banyak-banyaknya" kata Rey menyalami mama.


"gapapa kok nak Raihan, iyaa terimakasih ya. doa kan saja bapak agar diterima disisinya, maafkan bapak jika ada salah yang disengaja maupun yang tidak disengaja" jawab nya dengan tersenyum.


"pasti Bu, mbak Diah apa kabar?" tanya Rey padaku.


"Alhamdulillah masih baik-baik saja sampai saat ini" jawabku membuatnya terkekeh kecil.


"baiklah, begini mbak. tadi saya sudah memasukkan berkas perceraian mbak Diah ke pengadilan agama, insyallah semuanya sudah dalam proses. mbak akan menerima surat panggilan sidang beberapa hari kedepan" kata Raihan menyampaikan apa yang akan disampaikan.


"baik Raihan, terimakasih banyak sudah mau mbak repotkan. maaf, untuk biayanya bagaimana?" tanyaku dengan ragu.


"saya jadi ngerasa ngga enak sama kamu Rai!" seru ku menatapnya yang hanya terkekeh.


"sudahlah tak apa, tapi mbak juga jangan lupa siapkan semua bukti perselingkuhan mas lukman yang mbak Diah punya" katanya yang langsung aku angguki.


"iyaaa pasti mbak akan simpan, apalagi mbak memang sudah sangat yakin untuk berpisah dengannya" jawabku membuatnya menarik sudut bibirnya.


"oiyaaa selain itu, saya juga mau memberikan ini" katanya mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas nya.


"apa ini nak Rai?" tanya mama.


"ini undangan pernikahan adikku Bu, aku sebenarnya sengaja bertamu selain untuk membahas proses perceraian mbak Diah tapi juga untuk mengantarkan undangan ini" jawab Raihan dengan tersenyum.


"oalaah ibu kira nak Raihan yang mau menikah, taunya malah diduluin adiknya" jawab mama membuat Raihan terkekeh.


"kalo saya belum ketemu jodoh Bu, tapi adik saya Alhamdulillah sudah. jadi dari pada kelamaan pacaran mendingan sekalian menikah" jawab Raihan yang langsung diangguki oleh mama.

__ADS_1


"dimana acaranya mas?" tanya Rey.


"di hotel grassia Rey, kamu pasti tau kan?" jawab Raihan membuat Rey menganggukan kepala.


"tapi apa Laila yakin mau menikah muda mas? setau aku, dia bahkan lebih muda setahun dari aku kan mas?" tanya Rey yang langsung diangguki oleh Raihan.


"yaa mau bagaimana, kamu tau sendirilah ayahku sangat tidak suka yang namanya pacaran. lebih baik langsung dinikahkan" jawab Raihan membuat Rey menganggukan kepala.


"yaa gapapa lah Rey, betul itu kata ayahnya nak Raihan. jaman sekarang banyak muda mudi yang pacarannya sudah tidak sehat, selain itu pacaran juga kan dilarang dalam agama kita. lebih baik menikah dan berpacaran halal nanti setelah menikah" jawab mama yang juga diangguki oleh Raihan.


"betul Bu, kata ayah juga begitu. yasudah, hanya itu aja yang mau saya sampaikan. sudah malam, saya pamit dulu ya Bu, Rey" kata Raihan berpamitan pada mama dan juga Rey.


"kok cepet banget, ngga nanti aja nak Raihan. maaf ya dianggurin" kata mama dibalas senyum oleh Raihan.


"gapapa kok Bu, nanti lain kali Raihan main lagi kesini. itu pun kalo ibu ngga keberatan" jawabnya dengan sedikit terkekeh.


"tentu saja ngga keberatan lah nak Raihan, yasudah kalo begitu kamu hati-hati ya?" kata mama yang langsung diangguki oleh Raihan.


"assalamualaikum" salamnya setelah menyalami mama, Rey pun mengantarkan Raihan hingga kedepan pintu dan tak lama Rey pun kembali kedalam rumah.


"kenapa kamu Rey?" tanyaku pada Rey.


"eemm gapapa mbak, aku masuk kamar dulu ya mbak" jawabnya dengan wajah lesu. Rey pun memasuki kamar dengan langkah gontai.


"kenapa tuh orang, kaya ngga punya nyawa hidup aja, perasaan tadi baik-baik aja" gumamku.


"patah hati kali mbak" jawab Sintia asal.


"patah hati kenapa? atau jangan-jangaaaann,,,,," kataku menebak.


"yaa sesuai dugaan mbak Diah, mas Rey memang selama ini menyukai mbak Laila tapi mas Rey ngga berani bilang karna dia ngga mau mengajak mbak Laila pacaran. eehh ternyata keduluan sama orang lain, ngga gercep sih" jawab Sintia dengan kekehan kecil, aku pun menganggukan kepala.


"sudah-sudah biarkan saja, nanti datang jodoh yang terbaik untuk mas mu. insyaallah" jawab mama yang langsung aku angguki.


"amiinn" serempak aku dan Sintia pun menjawab.


bersambung...

__ADS_1


####


jangan lupa like komen dan juga vote ya guys🙏☺️ follow Ig outhor ya guys @adivahasanah , disana nanti outhor akan umumkan cerita baru outhor untuk pertama kali nya. terimakasih☺️


__ADS_2