
"itu menurutmu mas, harusnya kamu sadar jika mereka menjatuhkan aku berarti mereka menjatuhkan dirimu juga. andai aku ngga kuat mental, mungkin aku sudah gila mas." jawabku membuat mas Lukman diam tak berkutik.
"udahlah mas, rasanya aku sangat-sangat malas membahas hal ini. sudah aku bilang berulang kali mas, cukup diam andai kamu tak bisa membalaku dihadapan keluargamu mas" jawabku dengan nada ketus.
aku pun kembali keluar rumah untuk mengambil Syifa dan juga Nayla, terlihat mereka sudah bangun dari tidurnya.
"Mak, aku mandiin si Nayla sama Syifa dulu ya Mak" kataku pada emak yang berada disamping kedua anakku.
"oohh yaudah neng, emang udahan ngobrolnya sama lukman?" tanya emak yang langsung membuatku menganggukan kepala.
aku tak menceritakan apa yang dikatakan mas Lukman padaku, biar nanti saja jika keluarga mas Lukman kembali berulah baru aku akan bertindak sendiri.
aku pun mengambil Syifa dan juga Nayla yang berjalan sendiri memasuki rumah setelah berpamitan pada emak, mas Lukman pun terlihat memainkan handphone dengan sesekali tersenyum. aku tak memperdulikan, ku siapkan pakaian kedua anakku kemudian aku pun memandikan keduanya satu persatu.
setelah semuanya selesai, aku pun bergantian mandi. ku titipkan keduanya pada sang ayah yang masih sibuk berbalas pesan dengan ntah siapa.
"mas, jagain dulu anaknya. aku mau mandi" kataku membuat mas Lukman tersentak.
"yaampun di, kamu itu ngagetin aku aja tau ngga si" jawabnya membuatku menyeritkan kening.
"kok buat kaget, makanya jangan terlalu fokus sama ponsel mas. liatin tuh anaknya, ponsel terus diurusin" jawabku dengan nada ketus.
"biarin aja si, mereka juga anteng kok. lagian ngga akan kemana-mana juga kalo di" jawab mas Lukman seolah acuh pada anaknya sendiri.
"mas, mas kamu itu disuruh jagain anaknya aja kebanyakan alasan. nanti kalo Syifa jatuh gimana mas, dia lagi aktif-aktifnya belajar tengkurap mas" jawabku menyentak mas Lukman yang masih sibuk memainkan ponselnya.
__ADS_1
"mas, kamu dengerin ga sih kalo aku ngomong. liatin dulu anaknya jangan sibuk terus sama hp, aku banting ntar hpnya" lanjutku membuat mas Lukman langsung menatapku dengan tatapan tajam.
"apaan si di, ini hanphone ku ya, ngga ada urusannya sama kamu. ngga usah ikut-ikutan, udah sana mandi tinggal mandi juga. toh anaknya juga anteng diem aja" jawabnya kembali membuatku meradang.
"awaass ya kalo sampe Syifa jatuh, liat aja kamu" kataku mengancam mas Lukman, aku pun langsung mencari pakaian ganti dan membawanya menuju kamar mandi.
baru saja aku selesai mandi dan sudah selesai memakai pakaian terdengar suara Syifa menangis seperti terjatuh dari tempat tidur dengan bunyi yang kencang, pasti mas Lukman tak menjaga anaknya dengan benar. aku pun langsung keluar dari kamar mandi dengan perasaan kesal dan ingin marah pada mas Lukman.
"tuh kan, pasti kamu ngga liatin. iyakan mas? kan udah aku bilang, liatin takut Syifa jatuh karna dia lagi aktif belajar tengkurap mas. kenapa si kamu ngeyel banget kalo dikasih tau" kataku yang langsung mengambil alih Syifa dalam gendongan mas Lukman.
"yaa aku mana tau di, orang aku juga lagi pegang ponse tadi jadi ga liat kalo Syifa ternyata udah sampai keujung sana" jawabnya membuatku bertambah kesal.
"ponse, ponsel aja kerjaan kamu itu pegangin ponsel aja. gaada kerjaan lain, hah!! disuruh jagain anak sendiri aja ngga becus, gimana si kamu mas" jawabku menatapnya dengan kesal.
"terus kalo aku kasih pembatas dipinggirnya kamu bisa santai gitu? otak kamu dimana si mas, aku cuma suruh kamu liatin loh Syifa ini. kalo cuma kaya gitu doang aja kamu ngga mau, buat apa kita punya anak mas. ponsel terus saja, emang ada apaan diponsel kamu? chatingan dengan perempuan lain?" tanyaku membuat mas Lukman seketika melebarkan kaya.
"eeehhh jangan asal nuduh kamu di, fitnah sembarangan aja. ngga mungkin lah aku chatingan sama perempuan lain, emang aku lelaki apaan" jawabnya tersirat rasa gugup.
"terus kenapa kamu liatin Syifa aja gamau, emang gabisa ditinggal barang sebentar itu ponsel. hah!!" bentakku pada mas Lukman yang langsung terdiam mendengar suaraku.
"iyaa maaf-maaf, aku kan ga sengaja" jawabnya membuatku memicingkan mata.
"ngga sengaja endasmu!! udah jelas aku udah bilangin taku nanti Syifa jatuh, emang dasar aja kamu yang lalai" jawabku dengan sinis menatap mas Lukman.
"udah lah, kamu itu selalu aja diperpanjang. mendingan kamu susuin dulu itu biar diam" jawabnya seolah tak merasa bersalah.
__ADS_1
"enak banget kamu ngomong mas, kaya ngga ada beban ya, ngga punya perasaan dasar kamu mas" kataku dengan jelas.
"apaan lagi si Diah, kamu itu kok dikasih solusi biar dia diem aja malah dibahas terus. bikin pusing aja" jawabnya sedikit kesal.
"kamu aja yang gatau diri, dititipin anak sebentar aja ga becus ngejagain. tapi sok banget bisa ngurusin anak" jawabku dengan cepat sambil menyusui Syifa.
"alaahh tau lah pusing aku, aku mau keluar ajalah. kerumah ibu!!" bentaknya yang langsung takku hiraukan.
"yaudah sana, biasanya juga pergi tinggal pergi kok" jawabku dengan ketus.
"minta uang sini buat makan malam, aku yakin kamu pasti ngga akan belikan aku makan lagi kaya tadi" katanya membuatku terkekeh.
"dih, kamu mau kerumah ibumu kenapa minta uang segala. kamu kesana pasti dikasih makan lah, ngga mungkin didiamkan gitu aja. lagian duitnya kakak kamu kan banyak masa beliin satu buat adiknya aja ngga bisa, apa emang dasarnya aja pelit jadi ngga mau uangnya sendiri diganggu gugat. giliran ngerecok uang orang mah cepet" jawabku membuat mata mas Lukman seolah ingin melompat keluar.
"jangan kurang ajar ya Diah, aku cuma minta uang. ngga usah banyak cukup seratus ribu aja" jawabnya membuatku terbebelak.
"seratus ribu, makan apaan sampe seratus ribu? hah!! jangan aneh aneh mas, emang kamu fikir uang gajimu sebesar apa minta uang sekali makan seratus ribu" jawabku dengan ketus mentap mas Lukman yang sudah siap membalas perkataanku.
"yaa memang aku berikan gajiku sama kamu semua kan, itu kan banyak Diah. tujuh juta setengah itu banyak loh di" jawabnya membuatku memicingkan mata.
"uang segitu mas harus dipakai untuk bayar kontarakan dan ngasih ibumu juga mas, toh kemarin juga bahkan udah kepakai untukmu berikan pada keluarga kakakmu itu kan seratus lima puluh ribu belum untuk kita makan. belum juga untuk beli keperluan Nayla dan juga Syifa, kamu mikir ga si mas. dan lagi, belum juga untuk bayar cicilan motor kamu dan cicilan hutang kamu sama Rey. iyakan!! banyak dari mana mas" jawabku membantak mas Lukman.
"lah emang harus tetap cicil juga hutang sama Rey, bukannya udah dibayar pakai motor Mio kita itu?" ......
bersambung....
__ADS_1