
"pasti bapak sembuh, iyakan pak? nanti kalo bapak sembuh, insyaallah kita akan umroh. kan tabungan kita udah cukup yakan pak?" kata mama dengan mata berkaca-kaca, tak terasa air mataku pun ikut turun mendengar apa yang mama katakan.
"iyaa ma, bapak pasti sembuh. kita harus tetap optimis dan terus berikhtiar untuk kesembuhan bapak, lagian banyak kok diluar sana yang tetap masih bisa sembuh melawan penyakit apapun. aku percaya bapak pasti sembuh seperti sedia kala seperti keinginan kita" jawabku mendekat kearah mama dan mengelus punggung badannya.
"iyaa di, kadang mama tiap malem itu selalu ngebayangin andai bapak dipanggil duluan sama yang maha kuasa. apa mama akan sanggup menjalani hari-hari tanpa bapak, meskipun bapak selama ini keras tapi biar gimana pun kami udah bersama lebih dari dua puluh tahun di." jawab mama yang mulai menitikan air mata, begitu juga bapak yang aku liat matanya berkaca-kaca mendengar perkataan mama.
"mama harus ikhlas andai suatu saat bapak diambil oleh yang maha kuasa, begitu juga aku dan adik-adik ma. memang awalnya pasti akan merasa sulit, tapi aku yakin setelah dijalanin semua akan terasa ringan dan baik-baik aja. ya syaratnya hanya satu, mama harus tetap semangat karna masih ada kami yang akan menjaga mama sampai mama tua nanti" jawabku memeluk mama yang sudah menangis berderai air mata.
"iyaa di, makasih ya kamu tetep bisa menguatkan mama. padahal kamu yang tengah mengalami kepahitan rumah tangga, tapi kamu bisa begitu tegar menghadapinya. justru kamu malah disini, membiarkan mama membagi kegelisahan mama yang pasti juga akan menjadi pikiran untuk kamu" kata mama membuatku tersenyum.
"Diah gapapa kok ma, mungkin dia udah kebal dengan perasaan Diah. jujur aja setelah Diah mengetahui jika mas Lukman berselingkuh semua perasaan Diah pada mas Lukman udah hilang sepenuhnya ma, Diah merasa rumah tangga ini sudah ngga patut untuk diperjuangankan. selama ini Diah berjuang sendiri demi anak-anak ma, tapi kenyataannya justru tak pernah terlihat Dimata mas Lukman. tetap saja Diah yang salah karna mas Lukman beranggapan jika dia berselingkuh karena Diah yang terlalu banyak menuntut padanya" jawabku menundukkan kepala dengan suara terdengar sangat lirih.
"kamu yang sabar ya Diah, setiap rumah tangga pasti ada cobaannya. kamu ingatkan, dulu waktu kamu dan adik-adikmu masih kecil-kecil mama sama bapak juga suka berantem tapi kami tetap tidak memutuskan untuk berpisah. karna ada kalian diantara kami, sampai akhirnya kamu mau menikah pun bapak bersikeras menentang tapi mama juga bersikeras membela kamu untuk mendapat restu dari bapak. akhirnya sekarang kamu sendiri yang terjebak dalam pernikahan dengan keluarga toxic seperti ini" kata mama kembali membuatku terkekeh kecil.
"aku gapapa kok ma, mungkin memang ini yang harus aku jalani ma. aku ikhlas kok, lagian aku masih punya Allah tempatku mengadu. iyakan?" jawabku yang langsung dijawab anggukan kepala oleh mama.
"iyaaa, ngomong-ngomong kemana si Rey kok belum keluar juga dari kamar" tanya mama dengan raut wajah heran.
"eehh iyaa juga ya ma, jangan-jangan tidur lagi" jawab ku sambil melirik bapak yang tampak memejamkan mata.
"coba sana kamu liat di, kasian bapak kayanya udah kepengen makan ketoprak" kata mama membuatku langsung bangkit dan sedikit berlari menuju kamar Rey.
"reeeeeyyy" kataku berteriak.
__ADS_1
"apaan mbak, aku dikamar mandi" jawabnya juga berteriak terdengar tepat didalam kamar mandi.
"oalaahh dikamar mandi toh, pantesan aja lama keluarnya. cepetan lah kasian bapak udah nungguin dari tadi ketopraknya" kataku membuat Rey kembali berteriak mengiyakan dari dalam kamar mandi.
aku pun kembali keruang tamu duduk bersama mama yang baru saja selesai membaringkan bapak tepat disebelah Syifa dan juga Nayla yang sudah tertidur sedari tadi.
"ternyata Rey lagi buang hajat ma, pantesan aja dia lama" kataku pada mama yang langsung terkekeh.
"emang dia mah begitu kebiasaan deh pasti dia nongkrong, kebanyakan makan dia itu" jawab mama membuatku puh ikut terkekeh.
"yeee enak aja kebanyakan makan, aku aja baru makan tadi pagi doang ma. masa kebanyakan makan si" kata Rey yang ternyata sudah berada di belakangku.
"yaa lagian orang disuruh beliin bapaknya ketoprak juga malah buang hajat dulu, kasian tuh bapaknya sampe ketiduran nungguin kamu" jawab mama membuatku semakin terkekeh.
"yaa jadi lah, nanti kalo bangun kan bisa langsung dimakan. daripada nanti nyariin belum ada" jawab mama membuat Rey langsung berjalan keluar rumah dengan langkah gontai. aku dan mama pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rey.
"tadi katanya pas mama lewat kamar Rey, mama denger kamu bicara ditelpon sambil marah-marah. pasti sama kakaknya Lukman ya di?" tanya mama penasaran.
"iyaa ma, biasa. siapa lagi kalo bukan dia" jawabku dengan singkat.
"kenapa lagi dia?" tanya mama dengan dahi menyerit.
"minta uang buat bayar biaya rumah sakit mas Lukman lah, apalagi" jawabku dengan nada kesal.
__ADS_1
"lah emang belum kamu bayar biaya rumah sakitnya?" tanya mama yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"belum lah ma, mau bayar pake apa. mana jaminan kesehatan juga ga punya, biarin aja mereka yang mikirin. aku tuh tadi sengaja nyuruh suster buat ngasih nota pembayarannya sama mereka yang disana, lagian masa aku yang harus bayarin setelah apa yang mas Lukman lakukan padaku. enak aja, dia sendiri yang kecelakaan sama selingkuhannya kok aku yang disuruh nangung getahnya." jawabku dengan nada marah.
"emang gaada pikiran mereka itu, udah bagus itu di biar dia tau kalo kamu ngga bisa dibodoh-bodohin sama keluarga mereka. biarin aja mereka ngerasain kesulitan mencari biaya rumah sakit Lukman" jawab mama dengan nada geram dengan kelakuan keluarga mas Lukman.
"iyaa ma, untung aja kunci rumah ada diaku. biarin aja sementara mereka ngurusin mas Lukman yang abis kecelakaan itu, aku si ngga Sudi. biarin aja mas Lukman menuai apa yang udah terjadi sama dirinya, biar dia juga berpikir kalo dia menjadi beban sepeti sekarang keluarganya akan tetep disampingnya atau ngga" jawabku yang langsung mendapat anggukan kepala dari mama.
"iyaa kamu bener banget di, selama ini kan mereka selalu aja tuh merecok rumah tangga kamu sama Lukman. nah kalo sekarang Lukman sakit karna kecelakaan ini dan ngga bisa memberikan kebutuhan mereka apa mereka akan berbaik hati merawat Lukman sampai benar-benar sembuh" jawab mama yang juga aku benarkan.
"iyaa ma, liat aja nanti kalo mas Lukman sampai sore juga belum keluar dari rumah sakit mereka akan kesini. yakin deh aku" jawabku membuat mama terkekeh kecil.
"kesini, emang masih berani dia? mau mama buat malu lagi dia berani datang kerumah ini membuat keributan" jawab mama dengan mengembangkan senyum sinis.
"yaa mama liat aja nanti pasti mereka akan kesini deh, aku yakin. mama kan tau mereka ngga akan menyerah kalo apa yang mereka mau belum mereka dapatkan, apalagi kak Yuni merasa uang Lukman ada diaku semua pasti mereka akan meminta uang itu padaku" jawabku membuat mama membelalakan mata.
"yaa mana bisa begitu, emangnya dia pikir uangnya berapa sampai mau diminta lagi. lagian itu kan udah beberapa hari yang lalu, pasti pun udah dibagi-bagi untuk membayar hutang-hutang Lukman. emang dia pikir gaji Lukman itu besar apa" jawab mama membuatku menganggukan kepala.
"iyaa memang si masih ada uang yang seharusnya aku berikan sama Rey di rekeningku, tapi kan itu uang Rey. memang Rey ngga mau aku balikin, tapi tetap aja kamu mengambil uang itu dari mas Lukman. kalo ngga begitu nanti anak-anakku ngga mendapatkan apa-apa lagi dari gaji ayahnya ma, iyakan?" kataku pada mama yang langsung disetujui olehnya.
"iyaa bener itu, lagian tugas Lukman memenag mengembalikan uang Rey. masalah Rey mau memberikannya untuk kamu dan anak-anak ya itu berarti udah hak kamu sama anak-anak, ngga ada lagi campur tangan sama Lukman" jawab mama yang juga langsung aku benarkan.
"iyaa ma aku juga mikirnya begitu, makanya aku sengaja nyimpen uang yang untuk Rey kedalam rekeningku yang belum lama ini aku buat sama Rey biar ngga ketauan sama mas Lukman" .....
__ADS_1
bersambung...