Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 124.


__ADS_3

"sudah-sudah kali ini keributkan apa sih, dari tadi mama dengar kalian ini terus saja mengoceh. padahal yang satu didalam yang satu lagi diluar, ngga malu apa kalo sampe didengar orang" kata mama yang tiba-tiba terdengar suaranya.


"mama ngapain disini?" tanya Sintia. aku pun bergegas keluar dari bilik ganti, melihat mama dan juga Sintia saling berhadapan.


"ngapain-ngapain kamu ini, kedengar suara kamu sama mbakmu itu makanya mama kesini nyamperin. lagian kalian ngeributin apa si dari tadi mama denger kayanya ngga ada ujungnya" tanya mama.


"tau tuh mbak Diah, padahal aku cuma nanya buat apa umi Hamidah meminta kita untuk pakai gamis eehh malah merembet kemana-mana" jawab sintia membuat mama menyeritkan dahi.


"yaa lagian kamu kaya gitu aja ditanyain, apa susahnya tinggal ikutin aja apa kata umi Hamidah. pake banyak tanya segala!" jawabku dengan kesal mendengar perkataan Sintia.


"udah-udah, udah belum kalian pilih bajunya. mama udah capek, ayok selesain biar cepet pulang" kata mama. akhirnya aku pun memilih pakaian yang baru saja aku coba, karna sudah pas dan nyaman saat aku kenakan.


"oiyaa mbak, mbak jadinya mau ngambil baju yang itu?" tanya Sintia padaku.


"iyaaa, yang ini aja. lagian udah pas dan nyaman juga dibadan mbak" jawabku melirik gamis yang berada ditangan.


"bentar deh aku juga mau ambil gamis yang tadi aku pengen" kata Sintia berlari untuk mengambil gamis yang sudah ia inginkan.


"dasar, bukannya sekalian dibawa terus cobain" gerutuku sambil menatap Sintia yang hilang dibalik banyaknya baju yang menggantung.


"memang adikmu itu bener-bener" gumam mama yang mendengat gerutuanku.


"Siti, Diah kalian udah selesai milih gamisnya?" tanya umi Hamidah yang datang menghampiri kami.


"eehh midah, udah nih. kita juga masing-masih udah dapat gamis kok" jawab mama dengan senyum.


"syukurlah kalo begitu, aku kira kalian ngga ada yang cocok sama gamis disini" jawab umi Hamidah membuat mama tersenyum canggung.


"tapi ngomong-ngomong midah, maaf nih ya. buat apa ya kamu meminta kami pakai gamis kaya gini, kan kita belum akan ada besar" tanya mama pada umi Hamidah. umi hamida pun tersenyum menatap mama.


"lusa itu hari kepulangan santri kerumah mereka masing-masing Siti, jadi mungkin besok akan diadakan acara dipesantren. karna itulah mas Hasyim meminta kalian semua datang kepesantren besok, makanya aku ajak kalian semua kesini. mungkin besok sekalian memperkenalkan kalian semua pada wali santri yang akan datang kepesantren" jawab umi Hamidah membuat aku dan juga mama menganga.


"apa? kenapa kamu,,,,, kenapa secepat ini midah?" tanya mama dengan panik.


"memangnya ada apa? apa ada yang salah?" tanya umi Hamidah dengan dahi menyerit.


"kami belum siap midah, kamu tau sendirilah kami siapa dan bagaimana. mana mungkin kami menghadapi banyaknya orang diluaran sana" jawab mama dengan wajah tertunduk.


"maka dari itu aku pengen kamu siap memperkenalkan diri kamu kehadapan wali santri nantinya, biar semua orang juga tau kalo pesantren itu ngga hanya satu pemiliknya" jawab umi Hamidah disertai senyuman.


"tapi midah,,,"

__ADS_1


"sudah lah ngga ada tapi tapian Siti, semua ini sudah dipikirkan masak-masak sama mas Hasyim. nanti juga didepan pondok santri putri akan dibangun rumah untuk kalian, dulu rencananya tanah itu akan dibangun rumah untuk Hamid tapi ternyata Hamid memilih rumah diluar pondok. makanya tanah depan pondok putri akan dibangunkan rumah baru untuk kalian, itu pun kalo kalian setuju" jawab umi Hamidah membuatku dan juga mama saling berpandangan.


"tapiii,,,,"


"tapi umi, mohon maaf. kami mau merenovasi rumah mama, jadi lebih baik tanah itu dibiarkan begitu saja umi. maaf bukannya kami menolah tapi alangkah baiknya jika tanah itu untuk keperluan pondok" jawabku membuat mama pun mengangguk menyetujui perkataan ku.


"ooohh begitu, baiklah jika memang begitu. nanti biar umi sampaikan pada Abi Hasyim ya Diah, mungkin nanti akan dipikirkan lagi oleh Abi mau dibangun apa tanah itu" jawab umi Hamidah dengan tersenyum.


"iyaa umi terimakasih jika umi mau mengerti" jawabku membalas senyum umi Hamidah.


"mama, mbak nih aku udah dapat gamisnya. yuk" kata Sintia yang baru tiba.


"udah dapat semua berarti kan? yuk kita bayar terus cari tas sama emmm perhiasan mungkin" kata umi Hamidah menatap kami yang terlihat kosong tanpa adanya perhiasan ditangan.


"jangan, jangan midah. ini saja sudah cukup" kata mama berusaha menolak.


"gapapa kok Siti, beli seperlunya aja asal bisa dipakai. ayok, tolong jangan menolak ya" jawab umi Hamidah dengan wajah memelas.


"hmmm baiklah midah kalo kamu memaksa," jawab mama yang langsung mengajak kami menuju kasir membayar gamis-gamis yang sudah kami pilih.


"makasih ya midah, sudah repot-repot membelikan kami gamis seperti ini" kata mama setelah kami sudah selesai membayar gamis dan keluar dari toko pakaian muslimah itu.


"kita mau kemana lagi umi?" tanya Sintia yang berada disebelah umi Hamidah.


"kesana ya" jawab umi Hamidah menunjuk toko emas yang tak jauh dari toko pakaian muslimah tadi.


"yang benar umi?" tanya Sintia terlihat antusias yang langsung dijawab anggukan kepala oleh umi Hamidah.


"waaahh berarti aku boleh beli emas ya ma?" tanya Sintia dengan mata berbinar, mama pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


"iyaa kamu pilih aja apa yang kamu suka ya sin. anting, gelang, kalung, cincin yang bagus tapi tidak berlebihan dan tidak mencolok untuk orang yang memandang" jawab umi Hamidah dijawab anggukan antusias oleh Sintia.


"Alhamdulillah yaallah akhirnya aku bisa punya perhiasan lengkap, iyaa umi aku akan pilih sesuai sama apa yang umi bilang. tapi umi, bolehkan cincinnya dua? satu dijari kelingking satunya dijari manis?" tanyanya pada umi Hamidah.


"boleh kok, kamu pilih aja ya" jawab umi Hamidah ketika kami sudah sampai di toko emas dan disambut dengan ramah oleh karyawan tokonya.


"selamat sore, mau cari apa ibu?" tanya pelayan toko tersebut dengan sangat ramah.


"sore mbak, saya mau cari emas murni ada mbak?" tanya umi Hamidah yang langsung disambut senyum oleh pegawai tersebut.


"ada ibu, bentuk logam mulia atau perhiasan?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"perhiasan mbak, saya mau yang sepaket lengkap ya mbak yang paling bagus" jawab umi Hamidah dijawab anggukan oleh pegawai tersebut.


"tunggu sebentar ya Bu, biar saya ambilkan" jawabnya yang langsung meninggalkan kami untuk mengambil perhiasan yang dimaksud.


"Diah, kamu juga boleh pilih untuk Nayla dan juga Syifa kok. jangan lupakan mereka" kata umi Hamidah membuatku yang sedang melihat perhiasan anak tersentak.


"emmm bener boleh umi?" tanyaku dengan ragu.


"iyaa tentu saja Diah, pilihkan yang paling bagus. ingat ya satu paket tapi yang tidak terlalu mencolok" jawab umi hamidah tersenyum membuat aku menganggukan kepala antusias.


aku pun memilih dua pasang anting, empat pasang cincin, dua buah gelang dan juga dua buah kalung untuk Nayla dan juga Syifa. sementara untukku sendiri masih diambilkan oleh pegawai yang tadi berbicara dengan umi Hamidah, tak lama pegawai itu pun datang bersama temannya membawa enam buat kotak perhiasan masing-masing membawa dua kotak ditangan kanan dan kirinya.


"ini Bu, silahkan dilihat dulu. ini model terbaru kami, totalnya dua puluh satu gram dengan harga sembilan belas juta rupiah. yang ini dengan berlian kecil ditengah sebagai matanya, sebilah dua puluh tujuh juta rupiah dengan delapan belas gram emas murni. dan yang lain ini dua puluh dua juta masing-masing tujuh belas gram Bu" kata pegawai tersebut menjajarkan banyak perhiasan dihadapan kami.


"Diah sepertinya yang ini cocok untuk kamu" kata umi Hamidah memberikan kotak perhiasan dengan mata berlian asli kepadaku.


"ini umi? apa ngga telalu berlebihan umi, maaf umi ini berlian loh umi" jawabku dengan nada tak yakin.


"iyaaa ini, iyakan sit ini cocok kan untuk Diah. kalem tapi terkesan mewah, bener kan mbak?" kata umi Hamidah meminta persetujuan pegawai tersebut.


"betul sekali Bu, pasti cocok untuk ditangan mbaknya ini cincinnya. modelnya juga tidak terlalu mencolok tapi mewah dan juga elegan" jawab pegawai toko perhiasan itu membenarkan perkataan umi Hamidah.


"nah kan apa umi bilang, kamu yang ini ya? ya Diah ya, umi pengen lihat kamu pakai ini" kata umi Hamidah dengan wajah penuh harap, aku pun menatap mama yang menganggukan kepala.


"baiklah umi, aku mau menerima ini" jawabku pada akhirnya membuat umi Hamidah tersenyum senang.


"terimakasih ya Diah, Siti kamu pilih mau yang mana." kata umi Hamidah pada mama.


"aku ikut kamu aja midah, selera kamu pasti lebih bagus" jawab mama yang aku tau pasti merasa tak enak memilih perhiasan didepannya.


"baiklah kalo begitu. saya mau ini, ini sama ini ya mbak. Sintia kamu udah dapat perhiasan yang kamu suka nak?" tanya umi Hamidah dijawab anggukan kepala oleh Sintia.


"sudah umi, ini sedang dihitung dan juga ditulis sekalian sama punya Nayla sama Syifa umi" jawab Sintia menghampiri kami.


"ini digabung ya mbak" kata umi Hamidah pada pelayan toko itu.


"baik Bu, biar kami totalkan" jawabnya dengan sopan.


kami pun menunggu, lima belas menit kemudian semuanya pun selesai. umi Hamidah pun mengeluarkan uang yang sangat banyak, membuatku dan juga mama merasa tak enak pada umi Hamidah.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2