
tak lama terdengar suara langkah kaki yang aku yakini itu adalah suara langkah kaki mas Lukman, benar saja mas Lukman memasuki rumah dengan kepala tertunduk kemudian duduk dihadapanku dan juga mama dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"kenapa kamu, dateng-dateng kaya gitu mukanya" kata ku pada mas Lukman yang langsung menatapku dengan tatapan sendu.
mas Lukman tak menjawab perkataanku, ia hanya melirik sekali sebagai tatapan isyarat menyuruhku masuk keruang bagian tengah. aku pun mengikutinya memasuki ruang tengah diiringi tatapan mama yang langsung membuatku menggedikkan bahu.
"ada apa?" tanyaku ketika duduk berhadapan dengan mas Lukman.
"tolong maafkan kak Yuni, jangan laporkan semuanya sama suaminya. nanti pasti mereka akan berantem dan rumah tangga mereka pasti akan diambang kehancuran" jawab Bayu membuatku menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
"gini aja deh mas, aku ngga akan bilang ke suami kak Yuni. tapi dengan syarat?" jawabku menatap mata mas Lukman yang sudah berbinar mendengar jawaban yang keluar dari mulutku.
"syarat? apa syaratnya?" tanya mas Lukman penasaran.
"kamu harus mau menceraikan aku secara agama dan Negara, dan bersedia meninggalkan semua yang kita miliki untukku dan juga anak-anak. gimana?" tawarku membuat mas Lukman membelalakan mata.
"ngga bisa gitu dong, masa kita harus pisah cuma karna masalah seperti ini. jangan egois kamu Diah" jawab mas lukman memandang kesal ke arahku.
"aku? egois? ngga salah mas?" jawabku membuat mas Lukman semakin menatapku dengan tatapan tajam.
"lantas apa kalo bukan egois, kamu harusnya itu sadar Diah. kak Yuni itu kakak aku dia juga yang ngurusin mamaku, masa uang segitu dipakai dia aku harus ribut minta balikin. ngga panteslah masa sama kakak sendiri begitu" jawab mas Lukman kembali membuatku meradang.
"hei, kamu itu bodoh atau t*lol di mas. sekarang aku tanya, uang yang dipakai uang apa?" tanyaku menegaskan pada mas Lukman yang kurasa sudah kembali dipengaruhi oleh kak Yuni.
"uang buat bayar motor lah, gimana si kamu" jawabnya dengan ketus.
"yang make siapa? motor udah dua bulan loh ngga dibayar, bentar lagi pasti diambil itu sama leasing. emang kamu udah ada semua uangnya?" jawabku dengan menggebu-gebu, mas Lukman hanya terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulutku.
"yaa belum, tapi kan kita bisa cari pinjeman dulu Diah. apa susahnya si" jawabnya dengan santai.
__ADS_1
"oohh yaudah kalo gitu silahkan cari pinjeman tapi jangan pernah minjem dengan keluarga aku, oohh satu lagi sekalian lunasin uang punya Rey yang lima juta ya. aku gamau tau, kamu harus lunasin itu atau aku akan berikan BPKB dan motor matic kita sama Rey" jawabku sedikit mengancam mas Lukman yang membelalakan mata.
"ngga bisa gitu lah, itu motor kalo dijualkan masih laku delapan jutaan. masa buat bayarin yang lima juta, rugi tiga juta lah aku" jawabnya dengan suara meninggi, aku yakin mama dengar apa yang kami perdebatkan.
"anggap aja itu uang bunganya, lagian dimana-mana kalo minjem kan pasti ada jaminannya ngga peduli berapa harga barang yang dijaminkan. iyakan?" jawabku dengan santai membuat mas Lukman mendengus.
"tapi kan aku minjem sama adik sendiri masa harus begitu" jawabnya dengan santai.
"Rey adikku, aku ngga rela kamu memakai uang Rey tapi tak mengembalikannya. ingat mas hutang itu sampai dalam kubur pasti akan ditagih hingga ke akhirat, kamu mau punya hutang sampai kamu mati?" jawabku membuatnya menggeram menahan amarah, biar lah kali ini aku membuatnya takut seperti itu agar ia pun tak seenaknya menyepelekan suatu hal.
"kamu nyimpahin aku mati, hah!!" jawabnya membentak.
"hei apa apaan si ini, ngga malu berdebat sampe kedengaran sampe keluar hah!!" kata mama berteriak dari ruang depan.
"tuh dengar, ngga malu kamu hah!! aku gamau tau ya mas kamu harus balikin semua uang Rey. titik!!" jawabku mengakhiri perkataan, kemudian mengisi Syifa yang terbangun dari tidurnya.
"mama tanyalah sama anak mama itu!" jawab mas Lukman membuatku menatapnya dengan tajam.
"begitu caramu menjawab perkataan mama man?" kata mama geram melihat tingkah mas Lukman.
"mas Lukman mau pinjam uang lagi sama Rey ma, padahal uang yang kemarin minjem pas aku lahiran aja belum diganti. giliran aku minta dia malah ngga terima, aku mau kasihkan motor matic itu untuk bayar hutang juga dikasih. ntah maunya apa menantu mama itu" jawabku menatap mama yang menyeritkan kening.
"minjem uang? buat apa lagi Lukman?" tanya mama penasaran, mas Lukman pun terdiam tak bisa menjawab apa yang mama tanyakan.
"kenapa diam man, jawab kalo mama nanya" tanya mama mengulangi pertanyaannya.
"buat genepin bayar motor dia bulan sama uang buka blokiran ma" jawab mas Lukman dengan menundukkan kepala.
"lah uangmu kemana? kenapa juga sampe dia bukan ngga dibayar itu motor, emang berapa uang blokirannya?" tanya mama pada mas Lukman yang masih terus terdiam.
__ADS_1
"uang blokirannya satu juta sama satu juta delapan ratus ma, itu dua motor. yang satu motor gede itu satunya lagi motor yang dipake Abangnga yang ntah ada dimana sekarang" jawabku membuat mas Lukman menatapku dengan tatapan tajam.
"apa!! terus kenapa skrng bisa ngga kebayang lagi motornya? kan uang gajimu pasti cukup untuk semua itu kalo tanggal sepuluh kemarin langsung kamu bayarin" tanya mama menatap tajam mas Lukman.
"uangnya di pake kak Yuni" jawab mas Lukman dengan lirih tanpa berani menatap mata mama yang sudah membelalakan mata.
"apa? dipake kaakak kamu itu?! yaampuuunn, gayanya selangit mama mu berkoar koar kemana-mana kalo kakakmu itu dikasih bulanan empat juta loh man. emang masih kurang? empat juta bersih loh cuma untuk dapur doang mas Angga cukup" jawab mama dengan memicingkan mata.
"yaa aku ngga tau ma, kita kan gatau kebutuhan orang. lagian hak dia kan mau di pakai untuk apa yang dari suaminya, bukan urusan kita" jawab mas Lukman dengan gampang.
"hei, jelas urusan kita karna karna uang yang dipake sama kakak kamu itu kamu jadi ga bisa bayar motor. emang kamu mau motormu itu ditarik, kalo mau ya gapapa. terserah kamu, asal kamu jangan pernah aja minjem sama Rey atau kemanapun" kali ini aku yang menjawab membuat mama menganggukan kepala.
"iyaa bener apa yang dikatakan oleh Diah, kamu ini selalu aja mau sisetir sama mama sama kakak mu. padahal kalian ini ngga tinggal serumah, tapi mama heran kenapa begitu angkuh keluargamu padahal,,,,, yaampuuunn. kayanya ngga bisa ya kalo ada orang yang jauh lebih dari dari pada dia, maunya kamu itu susah terus sedangkan dia harus diatas. merasa lebih baik dari pada kamu, gitu kali yaa" jawab mama dengan sangat tajam.
"cukup ya ma jangan menjelekkan kakak aku begitu, biar gimana pun dia itu kakak aku ma" jawab mas Lukman membuatku dan mama saling pandang kemudian tertawa kecil membuat mas Lukman mendengus.
"man, Lukman kasian banget si kamu hidup direpotin muku sama keluarga sendiri padahal dia juga punya suami yang nafkahin. oohh atau kamu mending minta ganti sama suami aja pasti di kasih kan, mama liat dia orangnya baik" jawab mama membuatku menganggukan kepala.
"aku udah saranin begitu, tapi dia tetep kekeh belain kakaknya itu. malah aku dibilang mau ngehancurin rumah tangga kakaknya, kan lucu" jawabku dengan ketus.
"emang bener kan kaya gitu kalo kau sampe bilang sama suami kakak itu yang ada kamu malah buat mereka bertengkar dan akhirnya kakak aku juga yang akan dimarahi oleh suaminya" jawab mas Lukman membuatku tersenyum kecil.
"ngga gitu konsepnya man, urusan kamu sama Diah soal uang yang dipake sama kakak kamu. soal urusan rumah tangga Kakak kamu ya urusan mereka, salah siapa kakak kamu pakai uang yang harusnya dia bayar kan motor. udah diamanahin kok ngga amanah" jawab mama yang langsung aku benarkan.
bersambung....
_______________________________________
maaf ya cuma bisa update satu bab, karna kebetulan hari ini lagi banyak kesibukan. dan lagi kurang sehat juga🙏 tapi diusahain tetep update kok😊
__ADS_1