
setelah kemarin memanjakan diri dan bertemu teman lama, hari ini aku kembali disibukan dengan aktifitas ku seperti biasanya. aku kembali kekantor mas Hamid setelah dua hari libur dihari Sabtu dan Minggu kemarin yang bertepatan dengan libur tanggal merah saat hari Sabtu.
"di,, diaaaaahh" terdengar suara orang memanggilku ketika aku baru sama sampai di halaman lobby kantor.
ku tengok kebelakang, ternyata mas Hamid yang yang datang bersama Rizal tepat dibelakang ku. aku pun menundukkan kepala.
"ada apa pak?" tanyaku dengan bahasa formal karna masih dalam area kantor.
"eemm bisa kan siang nanti kita bicara, em maaf ma-maksud saya kita. ya kamu, saya dan juga Rizal" kata mas Hamid. aku pun mendongak, tak sengaja mata kami saling bertemu. kemudian aku pun mengalihkan pandangan dengan kembali menundukkan kepala.
"maaf mas, tapi ada apa lagi ya? bukan nya kita sudah sepakat untuk tidak berhubungan dalam bentuk apapun sampai selesainya masa Iddah saya?" tanyaku yang masih menundukkan kepala.
"eemm iyaaa, tapi maaf kan saya di. saya ngga bisa terus-terusan seperti itu, rasa dihati saya selalu bergejolak setiap harinya" kata mas Hamid kembali membuatku mendongak sekilas.
"maaf pak, saya harus kembali keruangan saya" kataku yang langsung meninggalkan mas Hamid yang masih terpaku ditempatnya.
aku pun melangkah kan kaki menuju lift khusu karyawan, untung saja suasana masih sepi. bahkan receptionis pun belum memulai tugasnya, tak lama lift pun berbunyi dilantai dimana ruang kerjaku berada.
ku hembuskan nafas kasar dan mengecek ponselku yang sedari tadi tak ku sentuh selama dalam perjalanan menuju kantor, tak ada satu pun notivikasi di ponselku. akhirnya aku kembali meletakkan ponsel itu tepat disamping komputer meja kerjaku.
"hayoooo, bengong aja. mikirin apa" aku pun tersentak kaget ketika mbak Laras tiba-tiba ada didepanku mengejutkan.
"astagfirullah mbak, untung aku ngga punya riwayat jantung. kalo ada, udah terkelepar aku disini" kataku membenarkan posisi duduk.
"habisnya, Lo dari tadi bengong aja. hati-hati, ruangan ini banyak penunggunya loh" kata mbak Laras menakut-nakuti.
"CK, penunggunya juga kita-kita mbak. emangnya siapa lagi, mbak kok tumben datangnya siangan? biasanya mbak duluan yang datang" kataku membereskan berkas yang ada dimeja ku.
"iyaa gue semalem telponan sama bokap gue dikampung, itu loh bicarain soal adik gue yang mau gua masukin pesantren pas MA nanti. dan Lo tau ngga sih, bapak gue itu ngedukung gue banget tau gak sih. asli gue seneng banget" katanya dengan wajah binar.
"Alhamdulillah, syukurlah kalo orang tua mbak Laras langsung setuju. berarti orangtua mbak Laras ngedukung penuh anak-anaknya dalam hal agama" jawabku membuat mbak Laras tersenyum lebar.
"iyaa lah di, mana ada sih orang tua yang ngelarang anaknya buat belajar agama lebih dalam." jawab mbak Laras membuatku sedikit tersenyum.
"banyak lah mbak, pasti ada ngga mungkin gaada. tapi naudzubillahiminzalik kalo emang ada, semoga bukan teman, saudara, atau orang-orang terdekat kita" jawabku membuat mbak Laras tersenyum senang.
"eehh btw, tadi kaya receptionist Lo diajak makan siang sama pak Hamid. bener Lo?" tanyanya lagi membuatku menghela nafas dan menganggukan kepala.
__ADS_1
"terus?"
"terus apa?" tanyaku dengan dahi menyerit.
"yaaa, lo terima apa Lo tolak. begitu loh maksud gue" jawabnya.
"aku tolak mbak" jawabku membuat mbak Laras membelalakan mata.
"ternyata bener kata itu bocah kalo Lo nolak ajakan pak Hamid, pantesan heboh dibawah" kata mbak raya yang baru saja sampai didalam ruangan.
"heboh gimana sih mbak?" tanya pada mbak raya yang baru saja masuk ruangan.
"yaa heboh lah, seorang owner sekaligus founder perusahan ini ditolak oleh seorang karyawan staff. jadi tranding kayanya Lo hari ini" kata mbak raya membuat ku memutar bola mata malas.
"ngga usah berlebihan deh Lo, bukannya mereka emang sukanya bergosip yang ngga-ngga ya" kata mbak Laras pada mbak raya.
"gosip, gosip. tapi kali ini fakta, tau ngga sih Lo. baru kalo ini loh gue denger ada karyawan nolak atasannya, biasanya ijo loh itu karyawan. mepeeettt terus kerjaannya, apalagi tau kalo bos nya terpesona sama dia. makin besar aja kepalanya, nah Diah malah nolak. CK, CK, CK" kata mbak raya berdecak pinggang membuatku sedikit tersenyum.
"yaa kali Diah kaya gitu, Lo fikir Diah murahan. Diah itu kan janda terhormat, ngga sembarangan Deket sama lelaki. harusnya pak Hamid tau kan Diah juga udah jelasin sama pak Hamid, bahkan mama nya aja udah ngelarang kan. sampai masa Iddah loh, masaa iddaahh" kata mas Fahmi yang juga baru saja menaruh tasnya diatas meja kerjanya membuatku membelalakan mata.
"kok mas Fahmi tau soal itu?" tanyaku pelan.
"terus? apa menurut kalian aku salah?" tanyaku menatap ketiganya.
"ngga doongg, udah jelas Lo itu sudah benar membuat keputusan. Lo itu berlian di, Lo ga silau walau dijunjung setinggi langit. gue salut" kata mas Fahmi dengan senyum tulus.
"makasih mas, tapi aku ga sebegitunya" jawabku dengan rasa malu.
"hei, kerja bukan ngerumpi. masih pagi udah ngerumpi aja!!" kata perempuan bernama mbak Ratih yang langsung menatapku dengan sinis.
"oohh Lo yang dimasukin kekantor ini sama pak Hamid, biar apa sih? biar bisa deketin pak Hamid pake muka Lo yang sok polos itu?" tanyanya menatapku yang juga berani menatapnya.
"maksud mbak apa ya?" tanyaku masih berusaha dengan santai.
"maksud Lo apa bikin semua orang dikantor ini membicarakan Lo? Lo fikir Lo artis, hah!!" bentaknya meninggikan nada bicaranya padaku. aku yang semula duduk pun berdiri, kemudian berjalan mendekati mbak Ratih dengan menatap tajam.
"kalo ngga tau, sebaiknya diam. benar atau ngga nya itu bukan urusan kamu! emang kamu siapa? hah!" kataku dengan nada geram menatap mbak Ratih yang justru memelotokan mata.
__ADS_1
"sialan, anak baru bawaan bos aja berani Lo? jangan-jangan emang Lo bekingan bos, hah? Lo simpenan bos kan, makanya Lo bisa dengan mudah masuk kesini padahal Lo cuma tamatan SMA." katanya membuay nafas ku memburu.
plaaaakkk
"itu untuk mulutmu yang begitu lancang berucap yang tidak-tidak tentangku, kamu siapa hah! kamu tidak tau apa-apa, bahkan apapun! apa masalahku padamu, jika kamu mau ambil pak Hamid. silahkan! itu pun jika dia berminat dengan wanita murahan seperti mu!!" kataku setelah menampar mbak Ratih.
mbak Ratih pun memegang pipinya yang aku rasa pasti sangat sakit akibat tamparan yang aku berikan.
"kurang ajar! berani sekali kamu menamparku!" katanya mengangkat tangan kanannya yang siap membalas tamparanku.
namun, sebuah tangan menghentikan mbak Ratih saat tangannya sudah siap mendarat dipipiku.
"apa-apaan ini, kalian fikir ini pasar hah!!" bentak Rizal yang mungkin kebetulan lewat ruangan ini.
semua orang diruangan ini pun diam, termasuk aku yang tadi berkelahi dengan mbak Ratih.
"coba, apa ada yang bisa jelaskan kenapa ada hal seperti ini diruangan ini?" tanya Rizal menatap kami satu persatu secara bergantian.
"Diah menampar saya duluan pak" kata mbak Ratih membuatku memutar bola mata malas.
"betul begitu Diah?" tanya Rizal dengan menatapku.
"betul" jawabku mantap.
"barbar sekali dia pak Rizal, padahal saya kesini hanya minta laporan untuk bagian keuangan yang belum dia selesaikan tapi dia malah marah-marah sama saya" kata mbak Ratih.
aku, mbak Laras dan juga mbak raya pun saling berpandangan setelahnya menganggukan kepala bersamaan.
"tidak pak, bukan begitu ceritanya. tapi begini,,,,,"
"diam kamu Laras, ini bukan urusan kamu!!"banyak mbak Ratih.
"ini urusan aku, karna aku melihat semuanya hingga tuntas tapi kamu justru memfitnah Diah. dasar ngga tau malu!!" bentak mbak Laras menatap tajam mbak Ratih.
"jadi, bagaimana ceritanya Laras?" tanya Rizal. mbak laras pun menceritakan semuanya dengan detail, sementara Rizal menggelengkan kepala dan menatap mbak Ratih yang menundukkan kepala.
"urus dia Rizal, saya tidak butuh karyawan yang suka seenaknya seperti itu"
__ADS_1
bersambung....