
tak pernah terbayangkan dalam hidup ini mengarungi bahtera rumah tangga yang begitu sulit, ku kira mas Lukman adalah lelaki yang bertanggung jawab. namun, aku salah ternyata dia tak lebih dari seorang pengecut yang selalu berlindung dibalik ketika ibu nya. entah mengapa baru begitu menyesal telah menikah dengan mas Lukman disaat aku telah memberikan dua orang anak untuknya.
malam ini aku putuskan untuk membereskan beberapa pakaian untukku dan juga kedua anakku, untuk sementara aku akan menginap dirumah mama dan juga bapak. rasa sakit hatiku benar-benar sudah membuatku muak menghadapi sikap mas Lukman yang semena-mena terhadap aku dan juga anak-anak.
tepat pukul delapan malam mas Lukman baru saja pulang, ntah darimana. mungkin saja dia dari rumah keluarganya.
"kamu mau kemana di?" tanya mas Lukman yang tak langsung aku sahuti.
"Diah, kalo suami nanya itu dijawab bukannya didiamin kaya gitu. jangan jadi istri kurang ajar yang selalu membantah perkataan suami Diah!" kata mas Lukman membuatku menatapnya tajam.
"kerumah mama" jawabku singkat.
"mau ngapain? harus bawa pakaian sebanyak ini?" tanya lagi.
"bukan urusan kamu, ngga usah campuri urusan aku. urus aja urusan kamu sendiri dan juga keluargamu!" jawabku sinis tanpa memandangnya. aku pun melanjutkan membereskan pakaian yang akan aku bawa kerumah mama.
"baiklah, jngan sampai kamu mengadu yang tidak-tidak pada keluargamu. ingat, biar bagaimana pun aku tetaplah suamimu, kamu harus tetap menghargai dan menghormati aku sebagai kepala keluarga" katanya membuatku menyunggingkan senyum sinis.
"kalo kamu mau dihargai dan dihormati, kenapa kamu juga ngga pernah menghargai dan juga menghormati aku sebagai istri? coba mas, kamu fikir setelah apa yang kamu lakukan padaku kenapa kamu bersikap seolah tak bersalah? sebanarnya, apa salah ku dan apa kurangku mas? bahkan aku menerima setiap perlakuan kamu yang tak adil padaku dan juga ibumu dan keluargamu" jawabku dengan menatap wajahnya yang nampak seolah tak bersalah.
"kenapa kamu selalu membahas itu Diah? bukannya aku sudah mengikuti apa yang kamu inginkan, uang gajiku semuanya sudah berada ditangan kamu. lantas apa lagi yang kurang? selama ini aku juga selalu memenuhi kebutuhan kamu, apa lagi yang mau kamu tuntut dariku? semuanya sudah aku berikan, kenapa seolah-olah aku yang paling bersalah disini?" jawabnya seolah lupa, andai bukan karna surat perjanjian yang ia tanda tangani aku yakin dia tetap akan memperlakukan aku sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
"mas, mas. andai ngga ada surat perjanjian antara kamu dan juga Rey, aku yakin kamu pasti ngga akan melakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan sedari lama. iyakan?"jawabku dengan sinis menatapnya yang terdiam mendengar perkataanku.
"jaga ucapan kamu ya Diah, aku ini masih suamimu. jangan berlaku kurang ajar begitu padaku Diah" jawab mas Lukman dengan memelototkan mata.
"lantas aku harus bicara gimana lagi sama kamu mas? apa aku salah membela diri, asal kamu tau mas. andai kamu menceraikan aku saat ini pun aku ngga akan pernah menyesal mas, eemm satu lagi terserah kamu mau berkata bagaimana yang jelas aku hanya mempertahankan harga dirimu sebagai perempuan dan juga sebagai seorang istri" jawabku dengan nada tegas.
"terserah kamu lah Diah, aku malas berdebat sama kamu" jawab mas Lukman berlalu kekamar mandi, aku pun tak menanggapi apa yang dikatakan oleh mas Lukman lagi segera ku selesaikan mempecking barang yang akan aku bawa besok.
esok paginya, aku pergi sebelum mas Lukman terbangun. sengaja aku tak membangunkannya dan juga sengaja berangkat lebih pagi darinya agar dia juga merasakan bagaimana hari-harinya tanpaku untuk mempersiapkan segala kebutuhannya. pukul lima aku sudah memandikan Nayla begitupun juga dengan Syifa, baru aku membersihkan diri setelah kedua anakku itu tapi.
setelah semua selesai aku pun segera memesan taksi online ketempat tinggal kedua orangtuaku, tak butuh waktu lama taksi online yang aku pesan pun datang.
"assalamualaikum" kataku sambil mengetuk pintu rumah mama yang ternyata masih terkunci.
"waalaikumsalam" terdengar suara dari dalam rumah menjawab salamku.
"eehh di, masuk. kok kesini ngga bilang si?" kata mama membukakan pintu untukku dan juga Nayla.
"maaf ma, memang aku ngga bilang siapapun karna sebanarnya juga mendadak karna menghindari mas Lukman" jawabku menundukkan kepala.
"memang ada apa lagi sampai kamu harus menghindari Lukman? apa kalian bertengkar lagi? dia buat masalah apa lagi sama kamu?" tanya mama tanpa jeda.
__ADS_1
"panjang ceritanya ma, aku hanya malas aja sudah dirumah itu. ntah kenapa selalu aja ada masalah yang timbul disana" jawabku membuat mama menyertitkan kening.
"coba cerita sama mama, memang apa yang membuat kamu terlihat bete kaya begitu?" tanya mama penasaran.
"biasa ma, ibu dan juga kak Yuni bikin masalah lagi. setiap hari semenjak aku memegang ATM mas Lukman, selalu aja ada yang mereka minta ma. ntah itu uang atau barang bahkan juga kadang minta di belikan lauk. bahkan ngga jarang juga kalo aku masak mereka meminta hasil masakan aku, aku si ngga masalah ya ma kalo aku masak mereka minta. yang aku permasalahkan itu masa tiap hari ma, giliran aku pertanyakan kemana uang jatahnya dia malah maki-maki aku. gimana aku ngga bete" jawabku membuat mama membereskan rahang.
"kurang ajar Lukman! lantas dia gimana? membela kamu atau bagaimana sikapnya?" tanya mama.
"aku juga ngga tau mas, tapi aku yakin ibu dan juga kak Yuni udah berkata yang ngga-ngga sama mas Lukman. boro-boro mas Lukman membela aku ma, bahkan mas Lukman sudah berani menamparku ma karna membela keduanya" jawabku membuat mama membelalakan mata.
"apa!!" terdengar suara dari arah dalam, ternyata Rey mendengarkan apa yang aku katakan pada mama. alamat akan kembali perang lagi antara mas Lukman dan juga Rey, mati aku!! gumamku menepuk kening.
"duh kan ma, Rey denger. mati aku ma" bisikku pada mama.
"udah biarin aja Rey tau, memang Lukman itu harus diberi pelajaran baru kapok. dia ngga bisa meremehkan kamu seperti itu, semakin dia berani semakin kamu diinjak-injak terus sama dia" jawab mama membuatku kembali tertegun.
"tapi ma, bisa gawat kalo Rey tau alasan aku kesini karna hal itu. duuhh gimana nih ma" jawabku terus berbisik, sambil melirik kearah Rey yang menghampiriku dan juga mama diruang tamu.
"apa benar yang aku dengar tadi mbak? seperti itu kelakuan mas Lukman pada kamu?.....
bersambung.....
__ADS_1