
hari-hari pun berlalu, udah hampir satu bulan aku berada dirumah mama. mas Lukman belum juga memberikan keputusannya untukku, tak tau apa yang ia pikirkan hingga sampai sekarang tak juga memberikan keputusan. bahkan, ia sama sekali tak memberikan kabar padaku. ia hanya mengirimkan uang melalui rekening Rey ketika terakhir kali ia memberikannya.
"tuh kan dia ngga berani nampilin batang hidungnya kerumah ini, mama yakin dia ngga akan ngerubah pikirannya itu Diah" kata mama membuatku terdiam.
"dia cuma belum ada waktu aja kali ma buat kesini makanya belum kesini-sini" jawabku yang tak yakin dengan perkataanku kali ini.
"halaahh udah lah di, lagian ngapain si kamu masih ngarepi laki-laki kaya gitu" kata mama dengan ketus.
"yaa biar gimana pun kan dia ayah dari anakku ma" jawab ku pada mama yang langsung memutar bola mata malas.
"iyaalah iyaa terserah kamu aja" jawab mama dengan kesal mendengar jawabanku.
mama pun meninggalkanku sendiri diruang tamu, ia pun melangkah masuk kedalam kamarnya bersama dengan bapak yang aku perhatikan akhir-akhir ini semakin membaik tapi yang aku heran mukanya lebih pucat dari sebelumnya bahkan kulitnya pun tampak lebih menguning dari sebelumnya padahal setiap hari mama selalu menjemurnya dibawah sinar mata hari pagi.
"mbak wey ngelamun aja" kaya Sintia yang tiba-tiba datang mengagetkanku.
"apaan si sin, kebiasaan deh kalo dateng ngagetin kaya gitu. untung mbak ga jantungan" jawabku mengelus bagian dadaku.
"hehehe yaa sorry mbak, abis mbak ngelamun terus sih" jawabnya dengan ceringiran memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"heleh kamu aja yang kebiasaan dateng selalu kaya gitu, bisa aja ngelesnya. dari mana aja si kamu, jam segini baru pulang" kataku menegurnya yang sudah pergi dari pagi hingga saat ini hampir pukul dua siang baru pulang kerumah.
"biasalah mbak, main sama temen MI dulu, lagian aku kan udah bilang sama mama mbak" jawabnya sambil lepaskan jilbab yang masih dia pakai.
aku pun hanya diam tak menanggapi apa yang dikatakan oleh adikku itu, pikiranku masih melayang jauh tentang apa yang mama katakan. lagi lagi dia pun menggangguku mempertanyakan hal yang membuatku semakin jengkel.
"mbak, kok mas Lukman ga kesini-sini tumben biasanya beberapa hari sekali kesini. ini kok udah semingguan ngga nongol dia" tanyanya membuatku memperlihatkan muka masam.
"mana mbak tau, mbak kan juga dari kemarin-kemarin disini gimana si" jawabku dengan ketus.
"yee biasa aja dong mbak, tapi mbak misalnya nih ya mas Lukman jemput mbak dan bilang kalo dirumah udah ada yang bantuin mbak dirumah gimana? apa mbak akan tetep pulang sama mas Lukman?" tanyanya seketika membuatku menatapnya.
__ADS_1
"yaa iyalah mbak pasti akan pulang, gimana si kamu ini aneh-aneh aja pertanyaan kamu" jawabku yang merasa kesal karna pertanyaan yang Sintia berikan.
"yaa ngga gitu juga kali mbak, biasa ajalah jawabnya. tapi kan mbak, mbak tau sendiri mama kaya gimana aku yakin mama pasti minta ikut buat nganterin kesana memastikan kalo kamu bener-bener ada yang bantuin dirumah" jawabnya, aku pun membenarkan apa yang Sintia katakan.
"yaudah tinggal ajak aja, apa susahnya si" jawabku dengan santai.
"emm iyaa juga si, tapi apa mbak ngga takut nanti malah menjadi perang besar sama mertuanya mbak kalo sampe mama kesana?" tanya sintia lagi membuatku seketika menahan tawa.
"mana mungkin sin, emang kamu menyangka kalo mbak pulang mereka akan menyambut mbak gitu dirumah? alaahh mustahil kali" jawabku yang menahan tawa mendengar perkataan sintia.
"yaa kali aja gitu mbak, apalagi mbak kan juga baru melahirkan cucunya juga" jawab Sintia semakin membuatku tertawa kencang hingga mama pun kembali keluar dengan membawa bapak yang berada dikursi rodanya.
"ada apa si ini, kok ketawanya Diah kenceng banget sampe kedengaran kedalam kamar mama" tanya mama membuatku melirik ke arah Sintia dengan menutup rapat mulutku dengan dua tangan.
"tau tuh mbak diah, aku lagi ngasih tau yang bener dia malah ketawa kenceng banget. aneh!" jawab Sintia dengan heran.
"yaa iyaalah ma, gimana aku ngga ketawa kenceng. Sintia itu ma, berhayal kalo aku pulang disambut sama mertuaku. jelas aja aku ketawa karna itu hal yang mustahil" jawabku dengan menekan kata mustahil diakhir kalimat.
"apaan si ma, orang Sintia juga masih sekolah udah ngomongin nikah aja. Sintia masih mau kuliah dulu tau, ngga mau mikirin nikah dulu. masih jauh laah" jawabnya dengan mengerucutkan bibir.
"yaa Alhamdulillah kalo gitu, bagus kalo kamu punya pikiran buat kuliah dulu. mama mendukung, asal jangan pacaran kelewat batas aja" jawab mama langsung membuat Sintia menganggukan kepala.
"iyaa mama tenang aja, lagian sampe sekarang aja aku ngga berani pacaran kali ma." jawabnya dengan memutar bola mata malas.
"masaa, tapi banyakkan yang deketin bahkan banyak juga yang chat. emang mama gatau apa" jawab mama yang memang selalu mengontrol pergaulan Sintia bahkan hingga ke dalam ponselnya sekalipun.
"deketin mah wajar kali ma, yang penting kan aku gamau pacaran" jawabnya dengan santai membalas perkataan mama.
"yaa iyaalah terserah kamu aja" jawab mama yang menghampiriku dengan mendorong kursi roda milik bapak.
tak lama terdengar suara motor berhenti didepan rumah, aku kenal sekali suara motor ini seperti suara motor mas Lukman. tak lama terdengar suara salam didepan pintu, benar saja mas Lukman datang. pucuk dicinta ulam pun tiba.
__ADS_1
"assalamualaikum" salamnya ketika tepat didepan pintu.
"waalaikumsalam" jawab kami serempak, dan mama yang langsung memasang muka masam.
"ngapain kamu kesini? mau nganterin pakaian anak dan cucu mama?" tanya mama langsung to the point.
"ng-ngga ma, aku kesini mau jemput Diah pulang kok" jawab mas Lukman dengan terbata-bata.
"oohh mau jemput pulang, terus udah tau siapa yang mau urus anak saya dirumah dan juga pekerjaan rumahnya?" tanya mama dengan menatap mas Lukman dengan tajam.
"udah kok ma, ada wa Ida yang mau bantuin nanti dirumah" jawab mas Lukman dengan menundukkan kepala.
"yakin kamu? ngga cuma lagi membual kan? awas kamu kalo cuma omong kosong doang" jawab mama dengan mengancam mas Lukman.
"ngga ma saya beneran, lagian rumah kami kan kecil cuma rumah petakan doang ma. kalo pun Diah yang mengerjakan pun tak akan sampai kecapean" jawab mas Lukman kembali membuat mama menatapnya dengan tatapan tak suka.
"iyaa memang, tapi kamu tau ga kalo ngurus dia anak itu ga gampang apalagi Diah baru melahirkan Cesar geraknya terbatas. makanya kenapa saya minta kamu pastikan siapa yang akan membantu Diah dirumah sana. udah lah mama ngga percaya sama kamu, kalo kamu mau ajak Diah pulang gapapa tapi mama akan ikut serta buat nganterin pulang dan menginap beberapa hari disana" jawab mama membuat mas Lukman membelalakan mata.
"tapi ma,,,," jawab mas Lukman terputus dengan perkataan mama.
"apa tapi tapian, kenapa? masalah kalo saya mau menginap?" tanya mama pada mas Lukman dengan pandangan tajam.
"ngga kok ma, iyaa gapapa kok kalo mama mau menginap dirumah. yaudah kapan kamu mau pulang, biar aku jemput lagi. nanti aku pesan taksi online buat kamu biar aku bawa motor" kata mas lukman dengan pasrah.
"besok! biarkan Diah pulang besok! besok kamu liburkan? besokkan hari Rabu!" jawab mama dengan ketus, mau tak mau mas Lukman pun menganggukan kepala.
aku pun tertawa dalam hati melihat mas Lukman yang tak bisa berkata apa-aoa dihadapan mama, biarlah mama menginap dirumah ku beberapa hari biar mama tau sendiri bagaimana perlakuan mas Lukman dan keluarganya padaku selama ini. oohh atau aku yaki mereka ngga akan menampakkan wajahnya dihadapan mama dan juga bapak, aku yakin itu.
bersambung.....
________________________________________
__ADS_1
maaf ya guys kalo proses up nya telat, bukannya outhor ngga nulis. tapi review nya yang lama, outhor nulis sore tapi lolos reviewnya besok paginya. maaf ya guys🙏🥺