
aku pun tersenyum kecil mendengar perkataan umi Hamidah yang begitu semangat menyatukan aku dan juga mas Hamid.
sebagai seorang perempuan tentu saja ada rasa malu diperlakukan seperti itu, terlebih pada seorang lelaki yang memang menjadi incaran banyak perempuan. tapi aku sangat sadar diri, bagaimana aku dan juga siapa aku. apalah aku yang menjadi calon janda dari lelaki bernama Lukman itu.
"sudah jangan dipikirin Diah, umi hanya bercanda kok" kata umi Hamidah sambil tersenyum menatapku.
"iyaa umi" jawabku dengan tersenyum canggung.
"ooohh ternyata kamu enak enakan disini ya Sadiyah, ipar serakah! bisa-bisanya ya kamu, suami lagi terbaring lemah dirumah setelah pulang dari rumah sakit kamu malah enak-enakan makan enak disini sama laki-laki lain lagi" suara seorang yang aku kenal membuat kami mengalihkan pandangan pada pengisi suara tersebut.
"CK, dia lagi mbak. kenapa ketemu dianterus si dimana pun kita berada" gumam Rey dengan kesal.
"kak Yuni, mau apalagi kamu kesini? ngga bosen ya jadi penguntit kemana pun aku berada pasti kak Yuni tau. heran aku!" jawabku berdiri menghadapi kak Yuni yang kini berada tepat didepan mataku.
"aku menguntit? jangan mimpi Diah, heran deh kok bisa-bisanya kamu anteng makan ditempat seperti ini sementara suami kamu saat ini masih terbaring lemah dirumah. dasar istri durhaka!" bentak kak Yuni dengan mata melotot.
"aku mau makan dimana pun bukan urusan kamu kak, dan lagi suami? siapa yang kamu maksud, Lukman? ingat ya mbak, aku dan mas lukman saat ini sedang proses perceraian jadi aku ngga ada hak apapun lagi untuk mengurus mas Lukman." jawabku dengan berani.
"lagian mbak Yuni kan kakaknya, mas Lukman juga masih punya ibu. ngapain ngarepin mbak Diah yang jelas bakal jadi calon istri untuk mengurusnya, jangan lupa mbak mas Lukman saat ini sakit karna apa. apa perlu aku beritakan alasannya disini, didepan semua pengunjung restoran ini" jawab Rey menantang kak yuni.
"sebaiknya kamu diam, karna aku ngga ada urusan sama kamu! urusanku sama perempuan ini, setelah tadi siang mempermalukan aku jangan harap aku melupakannya begitu saja!" jawabnya dengan wajah marah.
"lantas kamu mau membalasnya disini, kamu yakin? apa kamu ngga takut nanti kamu yang akan malu sendiri! heh Yuni, saya sudah diam ya kamu menghina keluarga kami tapi sekarang saya ngga akan diam aja.!" kata mama menatap tajam kak Yuni, seketika aku dan juga Rey kaget mendengar perkataan mama yang membalas perlakuan kak Yuni.
"Halah ibu memangnya bisa apa, ibu itu cuma orang miskin yang pasti ngga akan bisa berbuat apapun. kalo bukan karja Rey bekerja diperusaah besar, ngga mungkin kalian bisa makan direstoran kaya gini. jadi jangan belagu!" katanya membuat aku dan juga Rey saling pandang.
"saat ini kamu boleh menghina kamu terus-terusan, tapi suatu saat kamu dan keluargamu lah yang akan merasa terhina. masih mending Rey bekerja diperusahaan besar itu anak saya, sedangkan kamu? bahkan kamu sekolah aja hanya lulusan SMP. uang masih nodong sama suami dan adik aja sok-sok an" jawab mama membuat kak Yuni semakin membelalakan mata mendengar perkataan pedas mama.
"kamu!! dasar nenek peot sialan, udah bau tanah tapi ngga sadar diri!!" kata kak Yuni menatap mama tak suka.
"hei, sadar diri sedikit. aku sama ibumu tuan ibumu, bau tanah ibumu kalo pun mati ibumu duluan yang mati. umur kita paling hanya selisih 6/7 tahun, jadi jangan asal bicara kamu. tinggal nunggu aja, aku atau kamu duluan yang mati!!" bentak mama membuatku semakin terkejut dan wajah kak Yuni pun memerah menahan amarah.
"kurang ajar, jaga bicara kamu!!" bentak kak Yuni dengan kasar.
"ada apa ini" kata seseorang yang aku kira adalah pengelola restoran ini.
__ADS_1
"ini pak, dia buat kegaduhan disini" kata Rey menunjuk kak Yuni yang matanya masaih melebar menatap mama.
"bohong pak, dia ini yang membuat keributan" jawab kak Yuni menunjuk kami.
"heh bodoh! lihat lah, siapa yang berada ditempat siapa? kalo kami yang membuat keributan ngga mungkin disini, pasti ditempat kamu. sementara sekarang, siapa yang menghampiri siapa!" kata Rey dengan mencibir. kak Yuni pun melihat sekelilingnya, dia mulai merasa posisinya tak aman. akhirnya kak Yuni pun pergi dengan menghentakkan kakinya.
"akhirnya pergi juga perempuan itu, sadar diri juga dia sebelum digeret keluar dari restoran ini. terimakasih ya pak, maaf sudah membuat keributan" kata Rey menatap lelaki yang membuat kak Yuni merasa posisinya terancam
"tidak apa-apa pak, silahkan dilanjut makannya saja. saya permisi" kata lelaki tadi dengan sopan.
"itu tadi siapa nak Diah?" tanya umi Hamidah padaku.
"itu kak Yuni umi, kakak mas Lukman. suami Diah" jawabku dengan lirih.
"astagfirullah kok ada ya orang kaya begitu, bahkan sama orang yang lebih tua pun ngga ada sopan santunnya sama sekali" kata umi Hamidah yang diangguki oleh mama.
"yaa itu ada mid, itu modelan yang pertamanya kamu belum aja ketemu sama yang lainnya" jawab mama dengan nada kesal.
"apa semua keluarga suami kamu seperti itu Diah?" tanya umi Hamidah.
"bukan cuma itu umi, bahkan kakak lelakinya itu hanya bisa menjadi benalu umi. sekarang malah ntah berada dimana, mereka itu sukanya bikin masalah tapi ngga bisa menyelesaikannya umi. makanya kalo abis bikin masalah terus kabur, lah percis kaya kak Yuni tadi itu" jawab Rey membuat umi Hamidah menggelengkan kepala.
"sudah-sudah umi, itu bukan urusan umi. lagian kan itu masa lalunya Diah umi, umi ngga berhak berkata seperti itu" kata mas Hamid menatap uminya yang masih terlihat kesal atas peristiwa tadi.
"habisnya umi itu kesal loh Hamid, bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada Diah tadi. apa lagi tadi sama bude mu, yaallah yaa Rabbi kaya ngga punya tatakrama sama orang yang lebih tua. bener-bener keluarga mines mereka itu, untung kamu sudah tidak menjadi bagian dari mereka Diah. umi ngga bisa bayangkan bagaimana dulu kamu berada ditengah-tengah mereka" kata umi Hamidah menatapku dengan tatapan yang dalam.
"sudah-sudah, yuk kita pergi dari sini. ini Nayla juga udah selesai makannya kok" kata mama mengalihkan pembicaraan.
mas Hamid dan juga Rey pun sama-sama berdiri hendak membayar makanan yang kami pesan, keduanya pun saling melempar agar salah satu yang membayar.
"udah mas biar aku aja yang bayar" kata Rey pada mas Hamid yang kekeh mau membayar makanan.
"udah gapapa Rey biar mas aja, kan mas yang ngajak kalian makan disini" kata mas Hamid yang pada akhirnya membuat Rey mengalah dan mengikhlaskan makanya dibayar oleh mas Hamid.
"terimakasih banyak ya mas" kata Rey yang langsung dijawab dengan acungan jempol oleh mas Hamid.
__ADS_1
setelah mas Hamid selesai membayar bill restoran, kami pun kembali menaiki mobil yang dikendarai oleh mas Hamid. seperti saat berangkat, Rey bersama Sintia bergoncengan naik motor.
"kita mampir ke mall dulu ya?" tanya umi Hamidah.
"mau ngapain midah?" tanya mama.
"kita belanja dulu lah sit, udah lama aku ngga belanja. mumpung ada anak bujang yang bersedia membayarkan ini loh" jawab umi melirik mas Hamid yang hanya bisa memutar bola mata malas.
"ooohh yasudah kalo bgitu, kami ikut aja" jawab mama pada akhirnya.
setelah percakapan ringan antara mama dan juga umi Hamidah, tak ada lagi satu kata pun yang keluar dari mulut kami. hanya celotehan Nayla yang menemani selama perjalanan.
"nah sudah sampai nih, yuk turun" kata umi Hamidah ketika sudah sampai dilobby mall.
"yeeeyy, kita mau mainan ya Simbah uti?" tanya Nayla pada umi Hamidah.
"iyaa nanti kita mainan ya nay, nanti nay mainan sama om Hamid ya?" kata umi Hamidah yang langsung dijawab anggukan kepala dengan mata berbinar oleh Nayla.
"iyaa Simbah uti" jawab Nayla patuh. kami pun melangkah kan kaki memasuki area mall.
Nayla berjalan bergandengan dengan Sintia dah juga Rey dengan sangat antusias.
"mid, umi sama perempuan-perempuan ke butik tempat biasa ya. kamu bisa ajak main Nayla dulu ketempat permainan?" tanya umi Hamidah pada mas Hamid.
"ooohh yaudah kalo begitu umi, biar Hamid sama Rey ajak Nayla sama Syifa ketempat permainan kalo gitu. gapapa kan Diah kalo Syifa di ajak?" tanya mas Hamid padaku, membuatku terkesiap dan reflek menganggukan kepala.
"iyaa gapapa kok mas, ini Rey. maaf ya ngerepotin" jawabku sambil memberikan Syifa pada Rey.
"yasudah kalo gitu kami keatas dulu ya" kata mas Hamid yang langsung menggandeng Nayla ditangan kanannya.
"ayok kita ke butik langganan umi, kamu pasti suka sama gamis-gamis disana. bagus-bagus dan juga fashion nable deh buat anak muda kaya kamu dan juga kamu Sintia" kata umi Hamidah padaku dan juga Sintia.
"tapi, Sintia ga betah pake gamis umi" jawab Sintia dengan kepala tertunduk.
"gapapa, belajar pelan-pelan nanti pasti terbiasa kok" jawab umi Hamidah yang akhirnya membuat Sintia menganggukan kepala.
__ADS_1
"belajar menutup aurat dari hal yang terkecil ya Sintia" kata umi Hamidah lagi, Sintia pun hanya bisa kembali menganggukan kepala sebagai jawaban.
bersambung....