Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 89.


__ADS_3

"makan dulu ya nak, ini bakso nay" kataku pada Nayla setelah bangun dengan sempurna sambil mengucek matanya.


Nayla pun menganggukan kepala sebagai jawaban, ia pun langsung memakan bakso miliknya dengan pelan.


"nyawanya belum nyari dia mbak, liat masih mau merem begitu" kata Sintia menatap Nayla yang memakan baksonya sambil memejamkan mata.


"gapapa, nanti juga matanya melek sendiri kok" jawab mama yang juga langsung aku angguki.


"mama ini baksonya kok enak banget si ma" tanya Nayla yang sudah membuka mata membuatku dan juga yang lainnya seketika menoleh kearahnya.


"eeehh udah melek kamu nay, kirain masih mau tidur sampe muka kamu yang nyelup dimangkok" kata Sintia meledek Nayla sambil terkekeh membuat Nayla mengerucutkan bibir.


"apaan si ante ngga jelas banget" jawab Nayla dengan nada anak kecilnya. aku, Rey dan juga mama pun terkekeh mendengar jawaban Nayla.


"eehh anak kecil ngga boleh kaya gitu ngomongnya, ngga boleh songong sama orangtua" kata Sintia memperingati Nayla.


"apaan si ante, emang ante orang tua aku apa. orangtua itu kan mama sama uti bukan ante" jawab Nayla membuat sintia membulatkan mata.


"hei, ante juga orangtua tau. orang yang lebih tua dari kamu, jadi kamu harus sopan sama ante" jawabnya sambil mendekati Nayla kemudian menegelitikinya.


"ahahhaa ampun anteee, maamaaa liat ante nih" kata Nayla menjerit ditengah makannya.


"sin udah nanti dulu lah, Nayla kan lagi makan. nanti keselek kalo dibercandain kaya gitu, nanti dulu lah bercandanya." kata ku melerai Sintia yang masih terus menggelitik Nayla.


"abisnya dia rese banget si masa kalo dikasih tau ngejawab terus, sok tau banget" jawab Sintia dengan terkekeh kecil.


"yaa namanya juga anak kecil, dia juga berkata sesuai dengan apa yang ada didalam pikirannya kali sin" jawab mama yang juga aku angguki.


"iyaa tapi jawabannya ituloh bikin orang kesel aja deh, sok tau banget gitu. padahal umurnya aja baru tiga tahun tapi masa udah bisa jawab begitu sih mbak anak kamu" jawab Sintia dengan menggelengkan kepala.


"karna memang pada dasarnya anak seusia Nayla ini sedang pintar-pintarnya menjawab pertanyaan dan memberikan pertanyaan pada orangtuanya sin, makanya kamu harus pinter-pinter memberikan pertanyaan dan juga berikan kata yang baik apalagi sampai Nayla kenal kata-kata kotor apalagi sampai keluar kata binatang kaya anak-anak jaman sekarang kan cepet banget tuh nangkepnya" jawabku yang juga diangguki oleh mama.


"bener tuh apa kata mbak kamu sin, makanya hati-hati kalo bicara sama Nayla" jawab mama membuat Sintia menganggukan kepala.


"udah sekarang makan cepetan itu bakso, sebelum aku habisin nih" kata Rey membuat Sintia membulatkan mata.


"eettt ngga bisa gitu lah, masa udah ngebeliin mau dimakan sendiri" jawab Sintia mengaman kan bakso miliknya.

__ADS_1


"siapa suruh dari tadi dianggurin, untung cepet diambil lagi kalo ngga ya aku makan aja" jawab Rey dengan santai membuat Sintia mencibir kakak lelakinya.


kami pun menghabiskan bakso tersebut tanpa mengeluarkan suara lagi, mama pun juga sudah selesai mamakan bakso miliknya dan kini ia akan membangunkan bapak didalam kamar.


"reeyyyyy,, diaaahhh, siinntiaaaaa cepet kesini" kata mama dengan berteriak.


kami pun saling berpandangan kemudian memutuskan untuk menghampiri mama dengan tergesa-gesa.


"apa apa si ma?" tanya Rey yang langsung terhenti melihat wajah panik mama.


"ini lihat bapak ngga mau bangun Rey, liat ini" kata mama menepuk-nepuk pipi bapak.


"coba sebentar ma Rey cek dulu, mama sama mbak Diah dulu sini" kata Rey menyuruh mama mendekat kearahku.


"di, mama takut terjadi apa-apa sama bapak di" kata mama setelah berada dalam dekapanku.


"bapak ngga akan kenapa-kenapa kok ma, semoga saja bapak cuma kepulesan tidur" jawabku menenangkan mama.


"bapak masih melek ma, tapi nadinya lemah. mama tolong telpon dokter Yadi kesini ya ma panggil aja kerumah, gapapa mahal pun" kata Rey yang langsung membuat mama menganggukan kepala.


"yaallah semoga ngga terjadi apa-apa sama bapak" kata Sintia yang sudah mulai meneteskan air mata.


"berdoa aja semoga bapak masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan Kuta ya sin" jawabku yang langsung diangguki oleh Sintia.


"udah Rey, tapi katanya harus ada yang jemput. karna dia ngga ada yang mengantar, dia juga ngga punya kendaraan sendiri Rey" jawab mama.


"yaudah biar aku aja yang jemput ma, biar cepet" kata Sintia yang langsung berlari menuju kamarnya mengambil jaket dan juga kunci motor, tak lama ia pun keluar dengan terburu-buru.


"ma, sepertinya kita harus mengumpulkan semua saudara ma. kita hanya harus mengikhlaskan bapak andai bapak sudah tidak bisa bertahan" kata Rey membuat mama menggelengkan kepala.


"silahkan kalo kamu mau hubungin keluarga kita Rey, tapi tolong jangan berkata seperti itu tentang bapak. memang kamu udah siap jika terjadi sesuatu pada bapak? hah!" bentak mama yang mulai histeris dengan perkataan Rey, aku pun menenagkan mama dan menyuruh Rey menghubungi semua sanak saudara didepan rumah sekalian menjaga Nayla dan juga Syifa.


"kamu hubungin semua keluarga didepan aja ya Rey, sekalian jagain nayla dan juga Syifa. sepertinya mama ngga baik-baik aja, biar mbak yang jagain mama disini" kata ku yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya.


Rey pun meninggalkan kamar mama dengan wajah sendu, bukan hanya Rey aku pun merasa sangat kehilangan bapak. meskipun aku menguatkan diriku agar tetap kuat agar bisa menjadi pondasi untuk mama dan juga adik-adikku tapi tetap saja ada rasa sakit yang membuatku tak terasa meneteskan air mata.


"mama belum siap kehilangan bapak di" kata mama yang terus menangis melihat kondisi bapak yang sepertinya tengah mengalami skaratul mautnya.

__ADS_1


"kita doakan saja yang terbaik untuk bapak ma, Diah yakin bapak pasti masih bisa diselamatkan" jawabku sambil menghapus air mata yang mengalir dipipiku.


"assalamualaikum" terdengar salam didepan pintu kamar, terlihat Sinta datang dengan dokter Yadi yang diikuti oleh Rey yang menggendong Syifa dan juga Nayla.


"akung kenapa ma? aku sakit lagi ya, kok ada pak dokter" tanya Nayla dengan polosnya.


"iyaa nay, akung sakit lagi. Nayla doain akung ya biar cepet sembuh dan bisa main sama Nayla kaya dulu, main sama dedek Syifa juga" jawabku yang langsung disambut anggukan kepala oleh Nayla.


"ma-ma" kata bapak terdengar lirih memanggil mama.


"yaa pak, mama disini sama bapak. mama ngga kemana-mana pak" jawab mama menggenggam tangan bapak yang tersenyum menatap mama.


"ma-ka-sih" jawab bapak dengan suara tersendat dan sesekali menutup matanya.


"bapak harus sehat biar bisa main dengan dengan cucu-cucu kita pak" jawab mama membuat bapak hanya menganggukan kepala.


"maaf mas, mbak kondisi bapak kalian sangat menghawatirkan. sebaiknya segera dibawa kerumah sakit sebelum terlambat mas, karna nadinya sangat lemah" kata dokter Yadi membuat ku dan juga Rey saling berpandangan kemudian menganggukan kepala.


"baik dok, kami aja segera membawa bapak kerumah sakit,,,,," jawab Rey terputus dengan gelengan kepala yang bapak berikan.


"ng-gak u-sah nak, pak-lekmu" jawab bapak kembali membuat ku dan juga Rey saling pandangan.


"bapak mau ketemu sama pak lek?" tanyaku yang langsung dijawab anggukan lirih dari bapak.


"biar aku telponin mbak" jawab Sintia.


"ngga usah sin, tadi aku udah telpon kok sebentar lagi juga kesini" jawab Rey membuat Sintia menganggukan kepala pada akhirnya.


"nanti pak lek kesini pak, bapak tunggu ya" kata Rey langsung diangguki oleh bapak.


tak alam terdengar suara salam dari depan pintu rumah, Sintia pun langsung keluar untuk menyambut tamu yang datang. yang pasti sudah kami yakini jika yang datang adalah pak lek Edi.


"pak lek, bapak mau bicara dengan pak lek" kataku pada pak lek Edi ketika ia sudah sampai didepan pintu kamar, ia pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. kemudian pak lek Edi pun menghampiri bapak yang menatapnya dengan tatapan sayu.


"e-di, a-aku ti-tip mer-eka se-mua. se-le-saikan ur-us-an an-ak su-lu-ngku. be-ri-kan hak me-rek-a ya-ng aku ti-tipkan pa-damu" kata bapak dengan nafas tersengal.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2