Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 148.


__ADS_3

ketika mendengar suara mas Hamid, smeua karyawan yang ada diruangan ini pun seketika menundukkan kepala. begitu juga dengan mbak Ratih yang terlihat ketat ketir dengan perkataan yang keluar dari mulut mas Hamid.


"ma-maksud pak Hamid apa ya?" tanya mbak Ratih dengan wajah panik.


"apa kurang jelas perkataan saya? Rizal, cepat buat surat pemecatan untuk wanita ini. biar dia tau rasa akibat dari apa yang dia perbuat" kata mas Hamid memperjelas kalimat yang keluar dari mulutnya.


"baik pak!" jawab Rizal dengan bahasa formal karna masih dalam area kantor.


"tapi pak, bapak ngga bisa seperti itu dong. selama ini pekerjaan saya baik kok, saya ngga pernah berbuat curang pada kantor ini. kenapa karna masalah sepele dengan orang rendahan ini bapak bisa seenaknya memecat saya, saya ngga terima pak!!" kata mbak Ratih yang tetap ngeyel mempertahankan posisinya.


"itu lah, saya ngga butuh pegawai dengan etitude yang rendah. asal kamu tau, di mata saya kamu jauh lebih rendah dibanding dia yang kamu sebut sebagai orang rendahan itu!!" kata mas Hamid membuat semua mata melirik kearahku dengan pandangan yang berbeda-beda, sementara mbak Ratih semakin melihatku dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"sudah jelas ya semua, ini untuk pelajaran bagi kalian semua. barang siapa yang berani merendahkan orang lain, baik itu staff biasa atau ob/og sekalipun saya ngga akan bisa terima dan saya akan menindak tegas tentang yang satu itu. faham kalian semua!" tegas mas Hamid membuat seluruh karyawan menganggukan kepala tanda mengerti apa yang bos besar mereka katakan.


"dan kamu! ikut keruangan saya" kata mas Hamid membuat ku juga mbak Laras dan mbak raya saling memandang kemudian keduanya menganggukan kepala kearahku.


akhirnya aku pun mengikuti langkah mas Hamid, kemudian diikuti oleh Rizal yang berada dibelakang ku.


"kamu gak papa kan di?" tanya mas Hamid dengan wajah yang terlihat masih datar.


"gak apa-apa kok mas, makasih ya" kataku tanpa menatap mas Hamid dan terus menundukkan kepala.


"CK, okelah okelah. btw Lo beneran mau mecat karyawan itu mid? dia salah satu karyawan teladan kita loh didivisi keuangan, Lo ga masalah kehilangan salah satu karyawan terbaik kita?" tanya Rizal menatap mas Hamid.

__ADS_1


"mungkin karna dia merasa menjadi salah satu karyawan terbaik makanya dia bisa bersikap seenaknya seperti itu, baiklah untuk kali ini sebaiknya Lo berikan surat peringatan kedua dan juga turunkan jabatannya. berikan dia menjadi staff accounting!" kata mas Hamid tegas membuat Rizal menganggukan kepala.


"baik lah, gue balik keruangan dulu" kata Rizal mambalikan badan namun langsung aku hentikan.


"tunggu zal, aku juga mau keluar. maaf mas aku harus kembali keruang kerjaku" kataku pada mas Hamid dan juga Rizal secara bergantian.


"CK, Lo di. manggil gue zal, zal aja padahal umur gue sama Hamid itu lebih tua gue setahun loh. Hamid Lo panggil mas, sementara gue Lo panggil cuma nama" kata Rizal memprotes panggilanku pada nya.


"terus Lo mau Diah manggil Lo apa? akang, Abang?" kata mas Hamid dengan sinis.


"yaa panggil apa kek, sayang juga boleh" kata Rizal membuat mas Hamid membelalakan mata, sementara yang berkata pun sudah lari terlebih dahulu tanpa mau melihat ekspresi kesal wajah mas Hamid.

__ADS_1


"kurang ajar si Rizal!! "


bersambung....


__ADS_2