Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 40


__ADS_3

1"kalo kamu ngga mau kita berpisah bikangkah pada ibu dan kakakmu untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga kita, ingat mas aku sudah melahirkan dua anak untukmu. kewajiban mu ada pada ku dan juga anak-anak. surga anak lelaki memang berada dibawah kaki ibunya mas, tapi bukan berarti kamu mengiyakan segala kemauan ibumu diatas batas kemampuan kamu. aku juga istrimu, ngga akan ada bau surga jika kamu terus membuatku menangis. memang ngga ada mas durhaka pada istri adanya durhaka pada orangtua, tapi ada mas yang namanya mendzalimi istri dan anak." kataku menatap mata mas Lukman dengan mata berkaca-kaca.


"aku istrimu mas, apa ada salahku jika ingin mengatur keuangan rumah tangga kita agar menjadi lebih baik. aku hanya ingin kita memiliki tabungan yang cukup untuk anak-anak kita kelak, jika kamu terus mendahulukan keluargamu lantas bagaimana dengan anak-anak kamu mas. mereka juga butuh biaya yang cukup bahkan sangat besar, sementara keluargamu. mereka sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, tugasmu hanya pada ibu bukan yang lainnya" lanjutku menahan Isak tangis sekuat tenaga didepan mas Lukman.


"sudah cukup, sebaiknya kita tidur" jawab mas Lukman mengalihkan pembicaraan, aku pun hanya diam dan tak menanggapi. Ku pejamkan mata agar cepat tertidur, karna aku yakin sudah bengkak mataku karna menangis sejak tadi.


esok paginya, aku dikagetkan oleh suara gedoran pintu tepat pukul setengah enam pagi. hmm aku tau pasti ini ibu mertua dan juga kakak ipar lagi, ku bangunkan mas Lukman agar ia yang membuka kan pintu sementara aku harus mencuci muka terlebih dahulu sebelum kembali berdebat dengan kedua orang tersebut.


setalah mas Lukman bangkit dari tidur aku pun bergegas memasuki kamar mandi dan mencuci muka, ku dengar ketiganya tengah berdebat diruang depan dengan suara kecil. aku yakin mereka pasti tak ingin aku mendengarnya, aku tajamkan pendengaran agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"mama gamau tau ya man, kamu harus dapet lagi itu atmnya. mama gamau sampai Diah tak memberikan mama jatah seperti seharusnya, nanti bagaimana mama memberikan abangmu disana kalo bukan uang dari kamu," kata ibu mertua membuatku kaget dengan kenyataan yang baru saja aku dengar, ternyata selama ini mereka menutupi keburukan Abang dengan sengaja menyuruhnya pergi dan membiarkan mas Lukman yang menanggung semua perbuatannya.


aku masih terdiam dan menutup mulut mendengarkan apa yang mereka bicarakan, begitu tak ada artinya aku Dimata mas Lukman bahkan masih ada kebohongan lain yang ia tutupi dariku.


"iyaa mama tenang aja, aku yakin nanti dia pasti akan balikin ATM kerja aku ma. sekarang aku mau baik-baikin dia dulu dan mama juga harus bersikap seperti itu dulu pada Diah, jangan terus membuatnya emosi. apalagi sampai membahas hal ini lagi, kalo itu terjadi aku yakin akan lebih sulit untuk membujuk Diah ma" jawab mas Lukman dengan lembut pada ibu dan juga kak Yuni.


"oohh jadi begini mas, ternyata kalian sekeluarga saling menutup kesalahan masing-masing. bagus sekali, aku ga menyangka kalian ternyata licik." kataku yang sedari tadi hanya mendengarkan pun mulai menampakkan diri kehadapan ketiga orang tersebut.


"Diah, dari kapan kamu disitu?" tanya mas Lukman mantapku dengan wajah gugup.


"cukup lama, ya cukuplah untuk mendengar semua yang kalian katakan dan kalian rencanakan. aku ngga nyangka ya mas ternyata kamu sangat licik sebagai seorang lelaki, dan sangat pengecut sebagai seorang suami" jawabku membuat mas Lukman menajamkan mata mendengar apa yang aku katakan.


"apa melihatku kaya gitu? apa ada yang salah dengan kata-kataku? atau kalian merasa tersinggung?" lanjutku dengan wajah seolah tak bersalah.

__ADS_1


"tutup mulutmu Diah, jaga bicaramu ingat jika Lukman adalah suamimu" kata kak Yuni dengan nada menekan.


"suami? suami yang seperti apa? suami yang tega membohongi istrinya mentah-mentah? suami yang tega berbuat culas pada istrinya sendiri, atau suami yang ngga pernah mau menghargai istrinya? hah, suami yang mana kak?" jawabku memberikan banyak pertanyaan ya g membuat ketiganya diam tak bisa menjawab hingga akhirnya mas Lukman mengeluarkan suara.


"semuanya ngga seperti apa yang kamu dengar dan kamu fikirkan Diah, mas bisa jelaskan" kata mas Lukman mencoba meraih tanganku namun aku segera menepisnya sebelum ia sampai menyentuhku.


"apa? memang apa yang aku dengar? memang kamu tau apa yang aku fikirkan?" tanyaku dengan nada sinis menatap mas Lukman yang terlihat sangat salah tingkah.


"sudah cukup mas, sudah cukup dengan semua kebohongan kamu. semakin kamu bicara semakin banyak kebohongan yang akan keluar dari mulutmu, hah hanya demi keluargamu kamu rela membohongiku lagi mas. lebih baik kalian pergi dari sini, mas bawa keluargamu keluar dari rumah ini sekarang" lanjutku menatap mas Lukman yang membelalakan mata mendengar aku mengusirnya berserta ibu dan juga kakaknya.


"ngga bisa gitu lah Diah, aku ini ibu mertuamu. kurang ajar kamu berani mengusirku dari sini, ingat ini rumah anakku juga" kata ibu mertua memelototkan mata menatapku yang hanya menyunggingkan senyum sinis.


"ibu sadar ngga ini masih jam berapa? pagi-pagi buta Bu, bahkan matahari belum menampakkan sinar dan ibu sudah bertamu bahkan membahas hal yang ngga penting" jawabku dengan nada mencemooh.


"lihat Lukman gimana kurang ajarnya istrimu itu pada mama, lihat. mendingan ceraikan aja istri kaya gini, bukan mendekatkan kamu pada keluarga ini malah mau menjauhkan kamu pada keluarga." kata kak Yuni yang menatapku dengan tatapan tak suka.


"cukup kak, ini rumah tanggaku. jangan ikut campur, benar kata Diah mendingan kalian pulang. ma, pulang lah dulu nanti aku akan kerumah mama jika masalahku dengan Diah sudah selesai" kata mas Lukman dengan lembut pada ibu mertua.


"man man kamu itu kepala keluarga, jangan takut begitu sama istri. pantesan aja harga dirimu terus diinjak injak oleh dia, seolah olah dia ngga butuh kamu. padahal jika kamu tinggalin dia ngga bisa melakukan apapun" jawab ibu mertua membuatku tertawa kecil.


"Bu, ibu. ngga salah Bu? mohon maaf ya Bu, bahkan ibu sendiri tau jika pun aku berpisah dengan mas Lukman aku masih bisa mengantungkan diriku pada keluargaku terutama pada adikku Rey. beda dengan anak ibu yang ntah akan bagaimana jika memang kami bercerai, aku yakin ibu tetap akan menggerogotinya sampai habis tak bersisa" jawabku dengan nada ketus pada ibu mertua.


maafkan aku yaallah aku berbuat tak sopan sedari kemarin oleh orang yang lebih tua, namun nenek sihir ini kalo tak dibalas pun tak akan bisa diam dan akan tetap terus merendahkan aku begitu aja.

__ADS_1


"baru begitu aja udah sombong kamu Diah, jika Lukman meninggalkan kamu aku yakin hidupnya akan tetap makmur karna kerja kerasnya hanya untuk baktinya pada mama" jawab kak Yuni membuatku semakin tertawa lebar.


"oh ya, yakin untuk baktinya pada ibu? kasian sekali, mas Lukman meniatkan untuk bakti kenyataannya untuk menghidupi hahaha" kataku dengan terbahak.


"cukup Diah, kamu ngga boleh bicara begitu dengan mama biar bagaimana pun beliau itu ibuku. mertuamu" kata mas Lukman yang sedari tadi diam.


"sudah ku bilang, usir mereka dan suruh pulang sebelum kesabaranku habis mas. kamu bukannya menyuruh pergi malah diam aja mendengar perbedaan kami" jawabku menatap malas mas Lukman yang menggaruk tengkuknya.


"mama pulang dulu ya ma, nanti aku kesana" kata mas Lukman dengan mengedipkan sebelah matanya.


"huh, yaudah kalo gitu. ayok kita pulang Yun, ingat ya mas kamu harus berhasil" kata ibu mertua mengingatkan anak lelakinya tersebut, mas Lukman pun hanya terdiam sebagai respon.


"mas mas, kapan kamu berubah mas. terus aja bohongin istrimu sendiri" kataku setelah kedua orang itu pergi pada mas Lukman.


"kalo aku jujur apa kamu akan kasih Diah? ngga akan kan! jadi lebih baik aku diam dan tak memberi tahu kamu" jawabnya dengan santai.


"yaa bagus, berhubung sekarang semuanya padaku kamu harus ikuti apa yang aku katakan. ingat mas, uang ini akan aku bayarkan untuk hutang pada Rey. aku ngga peduli dengan Abang atau kak mu, aku hanya akan berikan pada ibumu untuk pegangannya" jawabku dengan tegas pada mas Lukman yang tak berani menatapku.


"tapi Diah,,,,," jawabnya terputus.


"ngga ada tapi tapian mas, kalo kamu punya uang lain silahkan kamu berikan tapi kalo ngga lebih baik kamu diam dan tak banyak menuntut. karna selama ini aku pun diam dan tak pernah menuntut apapun" ...


bersambung.....

__ADS_1


________________________________________


Alhamdulillah bisa tiga bab ya guys, ini untuk ganti karna ngga update kemarin.🙏😊


__ADS_2