
seperti yang sudah dibicarakan antara aku dan juga mas Hamid. aku memutuskan akan menerima pekerjaan yang mas Hamid berikan, tak jarang kan ada hal seperti ini. bukannya saat ini sangat susah mencari pekerjaan, hehehe.
pagi-pagi aku telah siap menyambangi kantor mas Lukman, berhubung hari ini hari Sabtu jalanan pasti agak lengnggang. kenapa aku memilih hari ini untuk menemui mas hamid dikantornya, karna kebetulan kantor mas Hamid pun masih buka walau hanya setengah hari. jadi aku memutuskan untuk membawa CV yang sudah aku buat subuh tadi hari ini, agar nanti dihari Senin aku sudah bisa mulai bekerja bergabung dengan para pekerja yang lainnya.
"Mbak udah siap mau kekantor mas Hamid?" tanya Rey yang melihatku mengenakan pakaian putih hitam dan juga sepatu hak setinggi lima senti sebagai penunjang penampilanku.
"iyaa, doain ya semoga mbak bisa bekerja di perusahaan itu" kataku yang langsung dijawab anggukan oleh Rey.
"udah pasti kerja diperusahaan itu lah mbak, wong yang merekrut langsung pemiliknya kok" jawab Rey dengan terkekeh kecil.
"biarpun yang merekrut ku langsung itu mas Hamid, tapi belum tentu kan aku diterima. secara dari segi pendidikan aja aku udah terlalu rendah untuk ukuran menjadi staff perusahaan" jawabku dengan wajah tertunduk.
"tas mbak jaman sekarang itu ada yang namanya the power off orang dalam" kata Rey terkekeh.
"Yee kamu apaan si Rey, udah ah mbak berangkat dulu. mana sini pinjam motornya" kataku merebut kunci motor ditangan Rey.
"pelan-pelan aja mbak, ngga usah ngebut-ngebut. alamatnya kan gak begitu jauh juga" kata Rey yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"iyaa, mbak titip Nayla samabl Syifa ya." kata ku berpamitan pada Rey setelah tadi lebih dulu berpamitan pada mama sebelum bertemu Rey.
"iyaaa tenang aja, beres kok. lagian kan semuanya dirumah hari ini" jawab Rey yang langsung aku angguki.
"yaudah ya, assalamualaikum" salamku mulai menyalakan mesin motor.
"waalaikumsalam" jawab Rey, aku pun meninggalkan pekarangan rumah dengan mengendarai motor milik Rey dengan kecepatan sedang.
tak perlu waktu lama, setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit aku pun sampai disebuah bangunan menjulang tinggi. aku pun memarkirkan motor Rey dibarisan parkir motor yang tertata dengan rapi, kemudian melangkahkan kaki memasuki gedung tersebut secara ragu.
"permisi mbak,,," kataku pada resepsionis yang bekerja pada halaman depan gedung tersebut.
"iyaaa ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya resepsionis tersebut dengan ramah.
"saya mau ketemu sama mas,,, emm pak Hamid, dimana ya?" tanyaku dengan wajah bingung.
"ooh pak Hamid, beliau belum datang mbak" jawabnya dengan ramah.
"ooohh belum datang ya, biasa datang jam berapa ya mbak?" tanyaku
"pak Hamid biasa datang jam delapan tepat mbak, ini masih jam delapan kurang lima belas menit. masih lima belas menit lagi, kalo saya boleh tau mbak nya ada keperluan apa ya sama pak Hamid?" tanyanya masih dengan sopan.
"kebetulan saya diberikan alamat kantor ini sama pak Hamid, katanya ada lowongan. jadi saya mencoba melamar mbak" kataku dengan sedikit berbohong.
__ADS_1
"waaahh mau melamar kerja disini ya, iyaa memang ada lowongan mbak. kebetulan memang ada bagian staff yang kosong, sebetulnya bukan kosong tapi karna memang membutuhkan tenaga baru mbak" kata salah satu staff pegawai yang baru saja datang.
"ealah mbak Ratih ini tiba-tiba Nyamber aja, untung aku ngga punya riwayat jantung" kata resepsionis itu menegur staff pegawai yang baru saja datang tersebut.
"hehe ya maaf ri, abis kan saya ngga sengaja dengar. oiyaa tadi saya dengar kamu tau lowongan ini dari pak Hamid ya? ih kok bisa sih?" tanya nya dengan sedikit centil.
"mbak ih malu lah sama tamu nya pak Hamid, mau tau dari siapa itu bukan urusan mbak" kata resepsionis bernama ria itu.
"Yee Nyamber aja kamu ri kaya petasan, saya ini cuma bertanya loh. kok bisa-bisa nya dia kenal sama pak Hamid, kamu kan tau sendiri bahkan sama kariyawan perempuan nya aja dia hampir ga pernah mengangkat kepalanya." kata staff bernama Ratih tersebut.
"mbak mungkin ini saudara pak Hamid loh mbak, lagian memangnya kenapa kalo mbak ini kenal dengan pak Hamid. memang buat mbak Ratih rugi? udah sana-sana mendingan mbak absen terus masuk, jangan bikin rusuh disini" kata ria mengusir Ratih.
"heh jangan belagu kamu ria, kamu itu cuma resepsionis disini. berani-beraninya kamu saja staff seperti saya" jawab Ratih dengan sangat pongah.
"mbak pikir saya takut sama mbak? sorry ya, kalo mbak mau adu saya jabanin mbak" jawab ria menantang Ratih yang terbelalak mendengar keberanian ria.
"ooohh kamu berani sama saya" bentak Ratih menggulung lengan kemejanya.
"mbak pikir saya takut, heran jadi orang kok julid banget. mending mbak pergi deh dari sini, malas saya ngeladenin mbak" kata ria menatap kesal kearah Ratih.
"ada apa ini ribut-ribut" suara menggelegar membuat kedua nya berhenti berdebat, sementara aku yang sedari tadi melihat perdebatan mereka seketika mengalihkan pandangan menatap sang empunya suara.
"mas Hamid,,,"gumamku kecil yang ternyata masih bisa terdengar ditelinga ria.
"bu-bukan begitu pak, i-ini ada yang mencari bapak. ta-tapi mbak Ratih malah menyepelekan pak, mbak Ratih merasa ga yakin jika mbak ini tamu bapak. makanya terjadi lah kesalahpahaman ini" kata ria yang tampak menundukkan kepala.
"atas dasar apa Ratih tak percaya jika dia ini tamu saya?" tanya mas Hamid dengan wajah tegasnya.
"a-anu pak,,,,,," jawab Ratih dengan gugup.
"ria, tolong jawab" kata mas Hamid memotong perkataan Ratih.
"emm karna pak Hamid tak mungkin memiliki tamu perempuan pak, karna pada karyawan perempuan saja pak Hamid tak pernah menegakkan kepala atau menatap kami bapak selalu menundukkan kepala" jawab ria dengan menggigit bibir bawahnya.
"baiklah sudah cukup, kalian kembali ketempat kalian masing-masing. Diah, ayok ikut saya keruangan" kata mas Hamid yang langsung meninggalkan ku dimeja resipsionis.
"permisi mbak,,," kataku pada ria dan juga Ratih yang masih terbengong ditempatnya.
"Diah, ayok cepet!" teriak mas Hamid didepan lift.
aku pun melangkah kan kaki dengan ragu mengikuti mas Hamid menuju ruangannya.
__ADS_1
"silahkan masuk di" kata mas Hamid setelah sampai disalah satu ruangan yang cukup besar dikantor tersebut. aku pun mengikuti perkataan mas Hamid sambil menelisik keseluruh ruangan tersebut.
"duduk di, mau minum apa?" tanya mas Hamid tanpa menatap aku yang kini duduk di sofa dalam ruang kerjanya
"a-apa aja mas" balasku gugup.
"maaf ya ternyata adanya hanya ini" katanya menyerahkan minuman jeruk dingin dengan kemasan botol.
"gapapa mas, terimakasih" jawabku dengan sedikit senyum.
"jadi kamu menerima tawaranku?" tanya mas Hamid sedikit melirikku.
"i-iya mas, ini CV saya. maaf kalo belum sempurna, itu dibuatkan Rey dadakan subuh tadi" kataku menyerahkan map coklat yang berisikan biodata diriku.
mas Hamid pun menerima dan membaca sekilas, ia juga menelisik sekilas rapot SMK ku yang sengaja ku bawa foto copy nya. sekilas terlihat keterkejutan diwajahnya.
"ini benar nilai rapot dan hasil ujian kamu dulu?" tanyanya membuatku menganggukan kepala dengan cepat.
"bagus kok. tapi kenapa kamu mau bertahan sebagai ibu rumah tangga, padahal kamu bisa memiliki pendapatan lebih dari suamimu?" tanyanya membuatku mendongak seketika.
"karna saat itu suami saya tidak memberi izin saya bekerja pak" jawabku yang langsung kembali menundukkan kepala.
mas Hamid pun merespon dengan anggukan kepala.
"baik lah, kamu bisa langsung ke HRD untuk ditunjukkan letak meja kerjamu" kata mas Hamid membuatku membelalak kaget.
"a-apa ru-ruang kerja? maksud bapak saya kerja mulai hari ini?" tanyaku memastikan.
"iyaa, apa ada yang salah?" tanya mas Hamid dengan dahi menyerit.
"ti-tidak, saya pikir saya akan memulai kerja Senin nanti karna hari ini hari Sabtu" jawabku dengan rasa tak enak pada mas Hamid.
"ooohh begitu, apa kamu belum izin pada anakmu jika kamu akan memulai bekerja?" tanya mas Hamid membuatku langsung menganggukan kepala.
"iyaa, lebih tepatnya saya hanya bilang akan mendatangi kantor untuk memberikan CV belum untuk bekerja. tapi jika saya harus mulai hari ini tak apa, saya izin hubungi orang rumah dulu" jawabku tanpa menatap mas Hamid.
"ooohh tidak usah kalo begitu, kamu boleh mulai bekerja hari Senin nanti. habiskan waktumu untuk kedua anakmu dua hari ini, karna setelah itu waktumu pasti akan berkurang banyak untuk mereka" kata mas Hamid membuatku mendongakkan kepala menatapnya yang ternyata juga menatapku.
sesaat kami pun saling tatap sampai mas Hamid mengalihkan pandangannya, aku pun langsung kembali menundukkan kepala.
"terimakasih pak, kalo begitu saya izin ke bagian HRD sebelum kembali kerumah dan akan kembali hari Senin nanti" kataku yang langsung diangguki oleh mas Hamid.
__ADS_1
"assalamualaikum" kataku yang sudah berdiri dan langsung meninggalkan ruangan mas Hamid setalah dia menjawab salam.
bersambung....