
aku dan Rey pun saling pandang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh mas Lukman.
"terserah mas Lukman lah siapa yang mau mengurus, lagipula kan ada ibu mas Lukman dan juga saudara mas Lukman. lagi pula seharusnya mas Lukman yang mengurus mbak ku yang habis melahirkan, bukan mbakku yang mengurus mas Lukman. gimana sih, lagian bukannya udah jelas ya waktu itu kalo mas Lukman minta mbak Diah dan ada orang yang mengurus kerjaan dirumah ini. tapi mana, kayanya aku ga lihat siapapun dari tadi. bahkan mbak Diah pun menyediakan minuman untukku sendiri" jawab Rey membuat mas Lukman membelalakan mata mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"memang kok ada wa Ida yang membantu mbak kamu, kalo mgga percaya tanyakan aja sendiri pada mbakmu. iyakan Diah?" jawab mas Lukman dengan melorotkan matanya menatapku yang langsung menundukkan kepala melihat respon yang ditunjukkan mas Lukman.
"apa iya mbak?!" tanya Rey dengan nada penegasan.
aku yang mendengar pertanyaan Rey pun tak mampu menjawab, karna memang mas Lukman pun mengeluarkan tatapan tajamnya padaku. aku yakin dengan aku yang tak menjawab Rey pun pasti akan mengerti.
"udah jelas kan. mbak Diah ngga bisa jawab dan mas Lukman pun dari tadi aku lihat menatap mbak Diah dengan tatapan tajam, aku yakin mbak Diah takut berkata jujur karna dibawah tekanan yang mas Lukman berikan." jawab Rey dengan santai.
"jangan asal nuduh kamu Rey, ngga mungkin Lukman menekan kakak kamu itu. emang dasar kakak kamu aja yang aneh, ditanya bukannya jawabalah diam aja. sok merasa paling tersakiti" jawab ibu mas Lukman membuatku mendongak menatap ibu mertuaku itu dengan raut wajah tak suka, kemudian bergantian menatap mas Lukman yang terbengong mendengar perkataan ibu kandungnya.
"ooohh baiklah, biar saya kasih tau ya Bu. memang rey, mas Lukman berbohong. selama sebulan aku dirumah ini,semua aku kerjakan sendiri. bahkan wa Ida yang katanya mau membantu dirumah ini pun ngga pernah ada, bahkan mas Lukman atau pun ibu mertua mbak ini ngga pernah sekalipun membantu mbak mengurus rumah ataupun membantu mengurus kedua anak mbak. begitulah ibu mertua? puas kan atas jawaban yang keluar dari mulutku!!" jawabku membuat keduanya tercengang karna menjawab tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.
__ADS_1
mungkin ibu mertua pikir aku akan menjawab dengan kebohongan karna takut telah dipelototin oleh anak lelakinya, tapi sayangnya aku tak sama sekali merasa takut. hanya saja dari tadi aku diam karna melindungi harga diri suamiku didepan mas Reihan.
"bohong!! jangan bohong kamu Diah, selama ini Lukman sudah memberikan orang yang membantu kamu dirumah tapi kamunya aja yang ngga bersyukur karna udah dicarikan orang yang bantu-bantu. pake acara bohong segala lagi" kata ibu mertua dengan nada angkuh melipat tangannya didepan dada.
"oohh baik kalo gitu tolong panggilkan wa Ida nya kalo memang dia membantu mbak Diah melakukan perkejaan rumah, ingat ya mas andai sampai mas Lukman ketauan berbohong dan mbak Diah yang benar maka aku gaakan segan-segan melaporkan mas pada kepolisian atas tuduhan penelantaran" jawab Rey dengan nada tegas membuat mas Lukman seketika menciut.
"mana bisa begitu, lagipula ya Rey memang itu kan tugas mbakmu sebagai ibu rumah tangga. Yuni aja bisa mengerjakan perkejaan rumah sendiri tanpa dibantu orang lain, masa Diah ngga bisa" jawab ibu mertuaku dengan entengnya.
"jelas saja beda Bu, anak kak Yuni dia ibu yang mengurus. justru andai kak Yuni ngga bisa mengurus pekerjaan rumah sementara anaknya ada ibu yang mengurus yang yu namanya kebangetan, sedangkan kakakku. lahiran Cesar, ngga ada yang membantu. bahkan ibu yang harusnya membantu menantu ibu pun ngga sama sekali kan? waktu mbak Diah dirumah mama, semuanya dibantu oleh kami semua bu. sama dengan kak Yuni, mbak Diah menjadi ratu dikeluarganya" jawab Rey dengan nada kesal menjawab setiap perkataan ibu mertua.
"kamu rupanya songong juga ya Rey sama ibuku selalu aja menjawab" kata mas Lukman memandang kesal kearah Rey yang hanya terkekeh mendengar perkataan kakak iparnya.
"sabar Rey, setidaknya kita harus mengumpulkan banyak bukti untuk dipersidangan nanti" jawab lelaki bernama Reihan tersebut dengan santai.
"persidangan apaan, jangan macam-macam kamu Rey. seenaknya aja mau masukin hal seperti ini ke meja hijau, aku rasa kamu udah ngga waras Rey" jawab mas Lukman membantak Rey yang menatap sinos kearahnya.
__ADS_1
"kenapa? takut kalah ya karna ngga bisa sewa pengacara? nikmatin aja permainan mu mas, ini lah hasil dari apa yang kamu lakukan pada kakakku. aku tak sebodoh yang kamu fikirkan mas, aku akan melawanmu andai kamu berbuat macam-macam padaku." jawab Rey membuat mas Lukman seketika terdiam dan aku yakin ia pun tengah ketar ketir mendapat perlawanan yang sangat diluar dari ekspektasinya.
"sudah sudah, jadi gimana dengan hutang mas Lukman sekarang? adanya berapa untuk mencicil, ingat ya mas satu Minggu lagi aku akan kembali kesini untuk menagihnya dan mbak Diah cepatlah bereskan barang-barangmu kita akan kembali kerumah mama untuk satu Minggu atau sampai batas waktu yang tidak ditentukan. ingat mas, satu Minggu!!" tekan Rey pada mas Lukman yang langsung menundukkan kepala.
"baiklah, ini mas hanya punya uang empat juta. mas berikan semua sama kamu, untuk mencicil hutang itu, satu Minggu lagi mas akan melunasinya. tapi mas mohon jangan sampai semua ini mempengaruhi rumah tangga mas dan juga mbakmu Rey" jawab mas Lukman membuat Rey kembali terkekeh mendengar permintaan yang mas Lukman ajukan.
"mas, mas kenapa ngga dari kemarin saat mas mulai menandatangani surat perjanjian itu? kenapa baru sekarang, menyesal karna ternyata lawan mas Lukman ngga sebanding dengan otak licik mas Lukman? iya!! mas Lukman syok karna aku lebih bisa bermain pintar menghadapi mas Lukman yang terlalu bodoh untukmu, begitu?" jawab Rey yang aku kira membuat harga diri mas Lukman runtuh seketika begitupun keangkuhan dan kesombongannya yang seolah menjadi orang paling pintar ketika dihadapanku.
"jangan kurang ajar Rey, biar gimana pun anak lelaki ku ada alah kakak iparmu. hormati dia, bukan malah kamu buat malu didepan orang lain. dasar ngga punya adab!!" bentak ibu mertuaku pada Rey yang langsung menatap tajam kearahnya.
"aku? ngga punya adab? apa aku ngga salah Bu, bukannya anak ibu yang ngga punya adab? selama ini anak ibu memperlakukan kakakku seenaknya Bu, memberikan jatah harian lima puluh ribu. minta makanan yang selalu enak tapi ternyata memberikan uangnya pada ibu dan juga kakak kandungnya sendiri lebih besar dari apa yang mas Lukman berikan pada istri dan anak-anaknya. ibu seharusnya sadar, andai kak Yuni yang diperlakukan seperti kakakku apa yang ibu rasakan?" jawab Rey menatap tajam ibu mertuaku yang memalingkan wajahnya.
"wajar saja, kami keluarganya dan Diah hanya orang lain yang kebetulan dinikahi oleh Lukman. seharusnya dia yang sadar diri, karna dia ngga berjasa apapun dalam diri Lukman yang saat ini. semua yang Lukman miliki sekarang karna doa ibu sebagai ibu kandungnya. ingat Rey, anak lelaki meskipun telah menikah tetap milik ibunya!" jawab ibu mertuaku menekan kalimat akhirnya.
"aku tau Bu, sangat tau bahkan aku faham. tapi aku rasa ibu yang salah kaprah dengan kalimat itu. ibu taukah apa yang dimaksud dengan kalimat itu, bukan berarti semuanya diberikan pada ibu. harusnya ibu tau, seluruh tanggung jawab anak lelaki walaupun dia sudah menikah tetap tanggung jawab orangtuanya. misalnya, seperti mbak Diah dan juga mas Lukman sudah menikah dan mereka tidak memiliki uang atau bahan makanan untuk mereka makan, suatu hari mas Lukman datang kerumah ibu dan meminta kebutuhan makanan untuk anak dan istrinya. maka ibu wajib memberikan pada mas Lukman dan anak-anaknya, bukan malah ibu menguasai hak anak dan istri mas Lukman. mas Lukman juga harus ingat mas, surga memang dibawah telapak kaki ibu tapi suami pun tak akan mendapat surga bila mendzalimi istri dan anak-anaknya. satu lagi bu, tanggung jawab orangtua pada anak perempuan memang hingga ia menikah karna digantikan oleh suaminya tapi tanggung jawab orangtua pada anak lelakinya bahkan sampai ke akhirat Bu!!" jawab Rey dengan panjang lebar memberikan jawaban yang menohok bagi ibu dan anak tersebut.
__ADS_1
aku sebagai kakak Rey pun merasa takjub atas apa yang Rey sampaikan, bahkan aku sendiripun tak tau hal sedetail itu tapi Rey mampu menjabarkannya hingga membuat mereka terdiam.
bersambung.....