TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
10


__ADS_3

Vanes berbaring diranjangnya, kakinya merasa pegal setelah seharian berjalan kaki di mall bersama Faris.


Setelah menikah, mungkin ini kali pertamanya Vanes menggunakan uang Rizal sebanyak itu. Selama ini Vanes selalu ingin melakukan hal seperti ini sebagai protes karena Rizal mencampakannya sejak mereka menikah namun karena Vanes masih berusaha untuk mengejar cinta Rizal, Vanes menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang membuat Rizal tidak tertarik padanya.


Dan hari ini Vanes sudah memutuskan, Ia tidak akan mengejar cinta Rizal lagi. 6 bulan sudah umur pernikahan mereka yang artinya masih ada waktu 6 bulan untuk mereka berdua.


Dalam surat perjanjian, jika setahun mereka menikah dan tidak akan rasa cinta, mereka akan bercerai.


Kini Vanes sudah memutuskan untuk berpisah saja karena rasanya menyakitkan jika mencintai pria yang tidak pernah mencintainya.


Setidaknya Vanes sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Rizal. Jika Rizal masih belum bisa menerimanya, Vanes akan mundur lebih awal.


"Hmm ternyata rasanya menyenangkan seperti ini? Apa aku senang karena berbelanja atau mungkin aku senang karena..." Vanes tidak melanjutkan ucapannya, Ia malah menggelengkan kepalanya, "Tidak Nes, jangan bodoh. Dia itu adik iparmu. Jangan lagi jatuh cinta pada pria yang tidak melihatmu. Jangan jatuh ke lubang yang sama!" omel Vanes pada dirinya sendiri.


Jika Vanes dikatakan jatuh cinta dengan Faris, Vanes ingin menyangkalnya karena Ia tidak mau jatuh cinta dengan adik iparnya meskipun Vanes merasa aman dan nyaman saat bersama Faris.


Satu hari ini menghabiskan waktu dengan Faris membuat Vanes bisa merasakan jika Faris adalah pria yang baik, perhatian dan sederhana.


Entah mengapa Vanes menyukai waktunya saat bersama dengan Faris.


"Lebih baik aku tidur, dari pada memikirkan hal gila seperti ini!" umpat Vanes, menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.


Baru saja ingin memejamkan mata, pintu kamarnya terbuka, ada suara langkah kaki seseorang yang mendekati ranjang.


Vanes membuka matanya, terkejut melihat Rizal berdiri disamping ranjangnya.


"Apa yang kau lakukan?" heran Vanes menatap Rizal yang terlihat kesal.


"Justru seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan uangku?"


Vanes menghela nafas panjang, Ia tersenyum senang saat melihat Rizal kesal karena tingkahnya hari ini, memang itu yang di inginkan oleh Vanes.


"Sejak menikah, aku tidak pernah belanja untuk diriku sendiri jadi aku membeli tas, sepatu dan baju, apa masalahnya?"


"Dengan jumlah sebanyak itu?" Rizal menatap Vanes tak percaya.

__ADS_1


Vanes menunjuk ke arah meja dimana paper bag berisi barang barang mewahnya masih berada disana, "Lihatlah, aku membeli tas brand luar negeri sudah pasti harganya mahal." kata Vanes santai.


Rizal menatap ke arah paper bag dan mengepalkan tangannya, "Aku bisa memaklumi kali ini, tapi jangan pernah melakukan itu lagi aku benar benar tidak bisa melihat orang menyianyiakan uang dengan membeli barang yang tidak berguna itu!"


Vanes tersenyum sinis, "Aku ini istrimu, aku memiliki hak atas uangmu. Lagipula Ayahku juga memberikan saham yang bisa menghasilkan uang setiap bulannya, kenapa kau bersikap pelit seperti ini!" protes Vanes membuat Rizal tak berkutik.


Rizal hanya berdecak lalu pergi meninggalkan Vanes.


"Melihatmu seperti ini membuat ku semakin bersemangat untuk menghabiskan uangmu." kata Vanes tersenyum puas, "Setidaknya kau merasakan apa yang kurasakan selama ini!"


Vanes kembali tidur sementara Rizal turun ke bawah untuk mengambil minuman. Ia benar benar kesal pada Vanes dan ingin menenangkan diri dengan minuman beralkohol malam ini.


"Nanti mabuk mas." suara Faris terdengar saat Rizal tengah mengambil sebotol minuman beralkohol didalam kulkas.


"Lagi stres Ris, mau tenangin pikiran dulu."


"Stres kenapa mas?"


Rizal menghela nafas panjang, "Si Vanes sudah mulai berani sekarang, bisa bisanya hari ini pakai kartu kredit dengan nominal yang sangat banyak. Aku harus segera memberikan batas limit pada kartu kreditnya agar gadis itu tidak seenaknya sendiri menggunakan uangku!"


Faris menahan diri untuk tidak tertawa, Ia tidak menyangka jika Rizal begitu perhitungan dengan Vanes.


Rizal menatap Faris tak percaya, "Gila kamu Ris, bisa bangkrut aku!"


"Katanya Mas Rizal ada perjanjian nikah sama Mbak Vanes, nanti kalau Mas mau minta cerai kan ada alasan yang tepat biar keluarga kalian nggak curiga kalau tentang hubungan gelap Mas Rizal."


"Alasan apa?" Rizal tampaknya mulai tertarik dengan ucapan Faris.


"Ya kan Mas Rizal minta cerai karena Mbak Vanes suka belanja dan habisin uang Mas Rizal, udah jelas kan yang salah Mbak Vanes."


Seketika bibir Rizal menyunggingkan senyum lebarnya, ide yang diberikan oleh Faris memang sangat cemerlang dan bisa digunakan.


"Kok Lo pinter banget sih Ris, gue malah nggak kepikiran tentang ini."


Faris tersenyum, "Cuma sekedar ngasih saran aja mas, kalau diterima, aku juga senang."

__ADS_1


Rizal mengembalikan botol minuman alkohol dikulkas, Ia mengurungkan niatnya, tidak jadi mabuk malam ini.


"Kalau gitu, aku bakal biarin di Vanes belanja sepuasnya biar aku bisa segera ceraiin dia!" kata Rizal mantap.


Faris mengangguk setuju. Rizal terlihat sangat senang, Ia bahkan menepuk punggung Faris sebelum akhirnya kembali ke atas.


"Gila sih ini, sebenarnya yang bodoh itu siapa?" gumam Faris lalu tertawa.


Rizal kembali naik ke atas, Ia kembali membuka pintu kamar Vanes. Melihat gadis itu sudah terlelap.


Rizal sempat memandangi wajah Vanes saat terlelap, terlihat seperti boneka hidup yang mengemaskan.


Rizal memukul kepalanya, menyadarkan dirinya agar tidak terbuai dengan kecantikan Vanes.


"Bangun..." ucap Rizal dengan suara keras membuat tidur Vanes terusik.


"Apa lagi?" tanya Vanes dengan wajah mengantuk.


"Mulai sekarang, belanja lah sepuasnya, belilah apapun yang kau mau!" ucap Rizal lalu keluar dari kamar Vanes.


Vanes menatap punggung Rizal keheranan, "Apa dia gila?"


Dilantai bawah,


Faris mematikan televisi yang baru saja ditonton, Ia memasuki kamarnya, segera berbaring karena Ia juga kelelahan hari ini namun meski begitu, Faris merasa senang karena bisa membantu Vanes.


Selama beberapa hari tinggal dirumah Rizal, Faris memang sedikit tertekan. Melihat kelakuan brengsek saudaranya juga kasihan dengan Vanes.


Dan kini Faris sudah mendapatkan jalan untuk membalas perbuatan Rizal meskipun Rizal adalah sepupunya tapi perilaku Rizal tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.


Faris tidak akan berpihak pada sepupunya, meskipun Rizal yang membawanya kesini dan memberikan dirinya pekerjaan namun Faris tidak mau berpihak pada kebrengsekan Rizal.


Ia akan membantu Vanes, bukan tanpa sebab jika Ia lebih memilih Vanes. Yang pertama karena dirinya tidak menyukai ketidakadilan seperti ini dan yang kedua mungkin karena Faris sudah jatuh cinta dengan gadis itu.


Memang terdengar gila, namun Faris tidak bisa menahan diri lagi.

__ADS_1


Faris memang jatuh cinta pada Vanes.


Bersambung....


__ADS_2