
Hari pertama bekerja dan menjadi pemimpin perusahaan sedikit melelahkan untuk Faris. Setelah perkenalan yang membuat pikirannnya kacau juga pekerjaan yang cukup rumit untuknya benar benar menguras tenaga dan pikiran Faris.
Rasanya Faris ingin pulang dan mengatakan pada Vanes jika Ia ingin menyerah namun jika mengingat raut wajah Vanes yang mungkin kecewa membuat Faris mengurungkan niatnya itu.
Faris meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik baik saja dan Ia bisa membuktikan jika Ia bisa menjadi pemimpin yang baik, membungkam mulut para atasan dikantor Wira yang merasa tak rela jika Ia yang menjabat sebagai pemimpin.
Pintu ruangan dibuka, tampak Sara memasuki ruangan baru Faris bersama seorang gadis muda yang mungkin seusia Sara.
"Siang pak..." sapa Sara dengan senyuman mengejek.
"Siapa dia?" tanya Faris tak ingin basa basi.
"Perkenalkan dirimu." pinta Sara pada Gadis berwajah ayu itu.
"Nama saya Wulan."
"Dia akan menjadi asisten pribadimu." tambah Sara.
"Ohh, apa aku tidak boleh request?" tanya Faris.
"Request apa?"
"Untuk asisten aku ingin pria saja."
Sara berdecak, "Tidak ada, Wulan itu karyawan terbaik disini dan pekerjaanmu pasti lebih mudah jika bersama Wulan."
"Baiklah baiklah, aku hanya bertanya."
"Dan untuk Wulan, tolong bantu Pak Faris dalam segala hal yang ada diperusahaan ini. Jangan sekali kali kau mencoba menggoda Pak Faris karena Pak Faris sudah memiliki istri, apa kau paham?"
"Ya Saya paham Bu, saya akan bekerja dengan baik."
"Bagus." Sara menepuk bahu Wulan lalu Ia keluar dari ruangan Faris.
Faris tersenyum menatap Sara yang begitu tegas menjadi pemimpin. Ia merasa harus belajar dari Sara agar bisa menjadi pemimpin yang disegani.
"Pak nanti pukul 6 petang ada rapat dengan pihak dengan kertajaya." kata Wulan mulai memberikan pekerjaan Faris.
"Pukul 6 petang? Apa tidak bisa dimajukan?" tanya Faris.
"Tidak pak, ini permintaan dari pihak Kertajaya." ucap Wulan yang akhirnya diangguki oleh Faris.
Padahal rencana Faris, hari ini Ia ingin pulang awal namun gagal karena masih ada pekerjaan.
Pukul 6, Faris pergi ke hotel untuk meeting dan Ia baru pulang meeting pukul 8 malam. Faris masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertinggal hingga Ia pulang pukul 10 malam.
__ADS_1
Faris memasuki mobil, sebelum melajukan mobilnya, Faris menyempatkan untuk membuka ponsel yang seharian ini belum Ia buka.
Ada banyak pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari Vanes karena ponselnya Ia silent jadi tidak tahu jika istrinya itu menghubunginya.
Faris membaca pesan istrinya satu persatu, Ia hanya tersenyum tanpa ada niat ingin membalas pesan Vanes.
Faris meletakan ponselnya didashboard lalu Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor.
Sesampainya dirumah, Faris langsung disambut wajah manyun Vanes yang menunggunya didepan rumah.
"Kenapa disini? Udaranya dingin." ucap Faris merangkul tubuh Vanes mengajak Vanes masuk kerumah.
"Aku menunggumu, kenapa tidak menjawab teleponku? Pesan ku saja hanya dibaca tidak sekalipun dibalas." omel Vanes.
Faris malah tertawa, "Maafkan aku sayang, aku terlalu sibuk dikantor hingga tak melihat ponsel sekalipun."
Vanes yang awalnya ingin marah kini tampak mengerti, "Apa melelahkan?"
Faris mengangguk, "Sedikit tapi tidak masalah."
Vanes menatap Faris, terlihat sangat jelas jika suaminya itu merasa kelelahan.
"Aku akan menyiapkan makan malam." kata Vanes membiarkam Faris masuk ke kamar mereka.
"Apa kau belum makan malam?" tanya Faris.
Faris tersenyum, "Aku masih lapar."
"Baiklah akan ku siapkan sekarang." kata Vanes segera berlari ke dapur.
Sejujurnya Faris sudah kenyang karena sudah makan malam bersama klien dan Ia akan makan malam lagi karena tak ingin membuat Vanes kecewa.
Selesai makan malam, Faris dan Vanes segera ke kamar untuk istirahat.
"Bagaimana harimu mas?" tanya Vanes yang kini sudah mengenakan lingerie untuk memberikan Faris jatah malam.
"Melelahkan, aku hanya belum terbiasa."
"Aku takut jika membuatmu tidak nyaman." kata Vanes yang kini sudah memeluk tubuh Faris.
"Aku akan mengusahakan yang terbaik." kata Faris lalu mengecup kening Vanes dan berlanjut ke bibir.
"Apa sudah ada wanita yang menggodamu dikantor?" tanya Vanes setelah melepaskan ciumannya.
Faris tersenyum, "Aku rasa tidak akan ada yang berani menggodaku."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena aku memiliki penjaga yang ganas."
Vanes mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksudnya?"
"Sara ... Adikmu itu tidak membiarkan ada wanita kantor yang mendekatiku."
Vanes tersenyum, "Sepertinya aku harus berterima kasih pada Sara karena sudah menjaga suamiku."
Faris tertawa kecil dan memulai permainan panasnya.
Sementara itu dikamar sebelah, Sara dan Ken berbaring diranjang yang sama namun keduanya sibuk dengan ponselnya masing masing hingga Ken beranjak dari ranjang membuat Vanes menatap ke arahnya.
"Ada apa?"
"Aku harus pergi." balas Ken memakai celana panjang lalu jaketnya.
"Kemana?" heran Sara mengingat Wira sedang koma dan tak mungkin memberikan tugas untuk Ken.
"Mencari wanita."
Mata Sara seketika melotot tak percaya, "Apa maksudmu?"
Ken tersenyum sinis, "Aku merasa punya istri tapi sama sekalu belum merasakan kenikmatan bercinta. Aku ini pria, aku tak tahan jika tidak bercinta karena kau selalu menolakku!" tegas Ken.
"Lalu kau akan bercinta dengan pelacur?"
"Kenapa tidak, asal aku mendapatkan kepuasan. Bukankah kau menolak bercinta denganku?" Ken menatap sinis lalu meninggalkan Sara yang masih shock dengan apa yang baru saja Ia ucapkan.
"Dia sangat menyebalkan!" omel Sara ikut beranjak dari ranjang dan bersiap mengikuti Ken.
Ken memasuki mobilnya, Ia berdiam diri sejenak didalam mobil lalu tersenyum geli mengingat wajah shock Sara.
Sejujurnya Ken tidak ingin mencari wanita, Ia hanya menakuti Sara dan ingin melihat respon Sara apakah Sara cemburu atau tidak. Jika dilihat dari respon Sara, Ken merasa jika Sara cemburu.
Brakkk... Ken terkejut saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup kasar dan saat Ken melihat ke samping sudah ada Sara yang kini mengenakan dress ketat yang seksi.
"Kau pikir hanya kau saja yang bisa, aku pun juga bisa mencari pria lain!!"
Ken tersenyum nakal, "Kenapa harus mencari pria lain jika ada pria yang siap melayanimu hingga puas." ucap Ken yang entah mengapa membuat Sara jadi gugup.
Sejujurnya Sara tidak ingin menolak ajakan bercinta Ken. Sara juga ingin melakukannya bersama Ken namun jika mengingat beberapa minggu yang lalu saat Ken meninggalkannya selama sebulan tanpa mengatakan apapun setelah mereka bercinta dalam keadaan sadar, Sara merasa kesal dan membenci Ken hingga Ia ingin membalas Ken dengan cara menolak ajakan Ken.
"Bagaimana kalau kita kembali ke kamar saja?" bisik Ken.
__ADS_1
Seolah terbius dengan senyuman Ken, Sara akhirnya mengikuti kemauan Ken membuat pria itu tersenyum puas.
Bersambung....