TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
189


__ADS_3

Pipi Arga sakit dan lebam karena pukulan Ken kini bertambah sakit karena tamparan Sara meskipun tamparannya pelan namun tetap saja rasanya sakit.


"Kenapa malah menampar pipi ku? Sakit!" keluh Arga.


"Jika sakit berhentilah membual. Keadaan seperti ini kau malah membual seperti itu!"


Arga berdecak, "Keadaan seperti ini kenapa? kita baik baik saja."


"Bagaimana kau bisa bilang baik baik saja? Ken mengancam mu Arga!"


Arga tersenyum tengil, "Apa kau mengkhawatirkan ku sayang?"


Sara memutar bola matanya malas, "Bukan masalah khawatir atau tidak, aku hanya tidak ingin ada yang terluka."


Arga kembali tersenyum, "Tidak ada yang terluka, percayalah semua akan baik baik saja." kata Arga meyakinkan Sara.


Sara menghela nafas panjang, "Ada yang ingin ku katakan."


"Apa?" Arga terlihat penasaran.


"Ayo kita coba."


Arga mengerutkan keningnya tak mengerti, "Menikah, ayo kita coba menikah." ucap Sara yang seketika membuat bibir Arga melengkungkan senyuman lebar.


"Kau serius? Tidak bercanda?"


Sara menganggukan kepalanya.


"Apa mungkin karena ancaman Ken hingga kau ingin kita menikah?" tanya Arga.


Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan karena itu. Aku sudah memikirkan sejak kemarin dan aku ingin mencobanya bersamamu." ucap Sara.


Arga menyentuh tangan Sara lalu mengenggamnya, "Aku tahu pasti berat untukmu, aku juga tahu pasti kau masih merasakan trauma akan masa lalu mu dan aku tidak bisa berjanji banyak, aku hanya akan terus berusaha untuk melindungimu." ucap Arga yang langsung membuat Sara tersenyum dan mengangguk.


"Rasanya seperti mimpi." gumam Arga lalu tersenyum.


"Berhentilah didepan, aku ingin membeli sesuatu." pinta Sara melihat didepan ada apotik.


Arga menuruti permintaan Sara, menghentikan mobilnya didepan apotik, "Apa yang ingin kau beli?" tanya Arga.


Sara tak menjawab dan langsung keluar begitu saja meninggalkan Arga.


Tak berapa lama, Sara kembali membawa kapas, alkohol dan salep.


"Aku akan merawat lukamu, pindahlah ke belakang." pinta Sara yang sudah duduk dibangku belakang.


Arga menurut saja, Ia merasa diperhatikan oleh Sara jadi Ia akan menurut saja agar hubungan mereka semakin erat.


"Pelan pelan." pinta Arga.


"Hmm."


Sara mulai merawat luka lebam Arga sedangkan Arga asyik menatap wajah cantik Sara.


"Berhentilah menatapku!" omel Sara.


"Jika jarak dekat begini cantikmu bertambah sepuluh kali lipat." ucap Arga membuat Sara kesal dan menekan kapas sedikit kasar.

__ADS_1


"Auhhhh, sakit!" Arga tampak kesal.


Sara tertawa, "Berhentilah mengoceh!"


Arga menghela nafas panjang lalu kembali menatap Sara diam diam.


"Bagaimana jika Ayahmu tahu dan marah?" tanya Sara khawatir.


"Tidak akan, Ayahku sudah sering melihatku seperti ini."


"Maksudnya?"


"Ya melihatku babak belur seperti ini."


"Ohh, jadi kau memang berandalan ya?" ejek Sara.


"Dan berandalku bisa sembuh karenamu."


Sara menekan kapasnya lagi dan kali ini sangat keras hingga membuat Arga menjerit sakit. Sara tertawa melihat Arga kesakitan namun tiba tiba Ia terkejut saat Arga mendekatkan wajahnya pada Sara.


"Ap apa yang kau lakukan?"


"Mencium mu." dan Cup... Satu ciuman mendarat di pipi Sara.


"Kau gila!" Sara kesal dan langsung memukuli lengan Arga.


Arga menangkap tangan Sara agar tidak lagi memukulinya, "Bukankah ini tak adil? Kau menyakitimu tapi aku malah mencium mu." ucap Arga.


Sara menarik tangannya, tak lagi memukuli Arga.


"Pakai salepmu!" pinta Sara memberikan salep untuk Arga.


"Tidak mau."


Arga mendekat ingin mencium Sara namun kali ini Sara menghindar, "Baiklah, baiklah, akan ku pakaikan untukmu!" ucap Sara mengambil salep lalu mulai mengoleskan ke luka lebam Arga.


Arga tersenyum penuh kemenangan, "Kenapa wajahmu memerah? Apa kamu malu?" goda Arga tanpa henti.


"Aku sedang marah jadi wajahku merah!"


Arga tertawa, "Tapi kau tetap cantik meskipun sedang marah."


Sara baru ingin menekan jarinya namun tatapan serigala Arga membuat Sara mengurungkan niatnya, Ia tak mau dicium oleh Arga yang membuat pipinya terasa panas.


"Sudah selesai, sekarang antar aku pulang!" pinta Sara.


"Baiklah sayang, kita pulang sekarang." Arga pindah ke kursi depan di ikuti oleh Sara.


Sementara itu dirumah sakit...


Alea baru bisa memejamkan matanya kembali setelah tadi Ken mengusik tidurnya untuk menyiksanya.


Rasanya baru beberapa menit, Alea merasakan ada yang mencabut infusnya.


Alea pikir itu hanya mimpi namun saat Alea membuka matanya, Alea melihat Ken berdiri disamping ranjangnya dan infusnya memang sudah dilepas oleh Ken.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Alea menatap Ken takut.

__ADS_1


"Pulang!"


"Ta tapi perut saya masih sakit." keluh Alea namun tak digubris oleh Ken.


Pria itu memaksa Alea turun dari ranjang lalu menarik pergelangan tangannya, mengajak Alea keluar dari ruang rawatnya.


"Jangan berusaha meminta bantuan." sentak Ken menatap tajam Alea yang ingin meminta bantuan pada seseorang yang baru saja lewat.


"Tapi, kau mau membawaku kemana?"


"Diam!" sentak Ken lagi yang akhirnya membuat Alea diam dan menuruti ucapan Ken.


Ken menaiki motornya, Ken juga meminta Alea untuk menaiki motor.


"Perut saya masih sakit Tuan." keluh Alea.


"Aku tidak peduli, Naik sekarang!"


Alea tak memiliki pilihan lain, Ia akhirnya naik ke atas motor Ken sembari menahan perutnya yang sakit.


Ken melajukan motornya hingga keduanya sampai dirumah.


Ken menyeret masuk Alea lalu melemparnya ke ranjang.


Lagi lagi Alea hanya bisa meringgis menahan sakit atas perlakuan Ken.


"Semua gara gara kau! Semua salahmu." Ken kembali menyalahkan Alea.


Bejatnya, Ken memperkosa Alea hingga gadis itu menjerit tak kuat menahan rasa sakit atas perlakuan kasar Ken.


"Sudah Tuan, ampun... Ampuni saya." ucap Alea berkali kali namun Ken sama sekali tak mengubris.


Ken terus memasuki Alea hingga Ia merasakan puas.


Tak cukup sekali, Ken kembali memperkosa Alea dengan banyak gaya hingga gadis itu tak kuat menahan segala siksa dan akhirnya pingsan.


Ken tersenyum puas, entah mengapa Ia merasa senang saat melihat Alea tersiksa seperti ini. Ken merasa jiwa psikopatnya keluar saat sedang bersama dengan Alea.


Setelah puas menyiksa Alea, Ken ikut berbaring disamping Alea dan terlelap disana.


Satu jam berlalu... Alea membuka matanya, rasanya masih sakit, seluruh tubuhnya masih sakit.


Alea mendengar suara dengkuran dan saat Ia berbalik ada Ken disampingnya.


Ken... Pria yang sudah menyiksa dirinya bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Alea benar benar tersiksa, Alea tak tahan lagi. Ia harus mengakhiri segalanya pada Ken, tak peduli dengan cintanya lagi, Alea tidak ingin memiliki hubungan dengan pria psiko seperti Ken.


Alea menguatkan tubuhnya untuk bangun, Ia pergi ke dapur untuk mengambil pisau lalu kembali ke kamar.


Alea menatap wajah Ken untuk terakhir kalinya, "Selamat tinggal."


Jleb... Jleb... Jleb...


Suara tusukan terdengar hingga darah mengucur membuat sprei berwarna putih berubah merah.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa...


__ADS_2