
Mira kembali memakai bajunya lalu berlari keluar karena mendengar keributan.
Dan betapa terkejutnya Mira saat melihat kedua tangan Nathan diborgol oleh beberapa polisi yang berdiri didepan pintu rumah mereka.
"Ada apa ini pak? Kenapa suami saya ditangkap?" tanya Mira dengan wajah sembab habis menangis.
"Suami Anda terbukti telah melakukan pembunuhan terhadap saudara Rizal, mohon kerjasamanya." ucap salah satu polisi membuat Mira terkejut hingga jatuh ke lantai.
"Saya tidak melakukannya, saya tidak membunuh siapapun!" ucap Nathan memberontak, mencoba melepaskan diri.
"Ada banyak bukti, jelaskan saja dikantor polisi." ucap polisi itu menarik paksa Nathan membawa masuk ke dalam mobil polisi.
"Jangan percaya, aku tidak melakukannya Mira, aku tidak melakukannya." teriak Nathan dari dalam mobil.
Mira yang masih tersungkur dilantai kembali menangis. Kini Ia sudah tak memiliki siapapun. Tidak ada Rizal juga Nathan, hanya dirinya seorang dan bayi yang dikandungnya.
Mira menangis lebih kencang, tidak peduli dengan para tetangga yang berdatangan menanyakan apa yang terjadi pada Mira, Ia tetap menangis.
...****************...
Selesai acara pengajian yang diadakan oleh Wira, Asih dan Slamet bergegas istirahat karena besok pagi mereka ingin pergi ke lapas untuk menemui Tantri sebelum kembali ke kampung.
Sementara Faris terlihat sedang menunggu Wira selesai berbicara dengan tamunya, rencananya Faris ingin berbicara dengan Wira.
"Menunggu apa?" tanya Vanes yang sudah berganti baju, dari gamis kini hanya mengenakan piyama.
"Papa mu, aku ingin bicara."
Vanes tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum, "Bicara tentang apa?"
"Rahasia."
Vanes memanyunkan bibirnya, "Katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan?" Vanes memaksa karena penasaran. "Apa tentang kita?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Sayang sekali tidak tapi mungkin akan ku pikirkan lagi."
Vanes kesal lalu memukuli lengan Faris, "Apa kau sedang mengodaku!"
Faris terkekeh, "Ternyata kau bisa galak juga ya."
Vanes kembali memanyunkan bibirnya.
"Kau ingin aku bicara apa?" tanya Faris.
"Terserah,"
Faris kembali terkekeh, "Apa terserah artinya marah? Kau sedang marah?" tebak Faris.
"Tidak, lakukan apapun yang kau suka." kata Vanes lalu berbalik dan pergi meninggalkan Faris.
Faris panik saat Vanes benar benar marah, Ia berencana mengejar Vanes namun suara Wira menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Wira mengerutkan keningnya.
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, hanya kesalahpahaman kecil, apa tamu anda sudah pulang?"
Wira mengangguk, "Istirahatlah, ini sudah malam."
Faris menggelengkan kepalanya, "Saya ingin berbicara dengan Anda."
Wira langsung tersenyum, "Ck, aku sudah menunggumu lama sekali." ucap Wira lalu berjalan memasuki ruangannya diikuti oleh Faris.
"Duduklah disini." Wira menepuk nepuk sofa disampingnya.
Faris mengangguk, kini Ia sudah duduk disamping Wira.
"Saya minta maaf karena terlambat tapi saya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuan karena Tuan sudah membebaskan saya dari penjara."
Wira kembali tersenyum, "Ternyata masalah itu, aku pikir masalah tentang Vanes."
Faris terkejut dan menatap Wira tak percaya membuat Wira langsung tertawa, "Aku hanya bercanda, tapi jika kau menganggap ini serius tidak masalah dan tentang membebaskan mu dari penjara bukan masalah besar, aku hanya tidak suka melihat orang diperlakukan tidak adil. Itu saja."
Faris mengangguk, "Tetap saja saya harus mengucapkan terima kasih."
Faris dan Wira diam sejenak sebelum akhirnya Faris kembali berbicara, "Tentang Vanes, saya merasa belum pantas."
Wira tersenyum, "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tanya Wira.
"Saya hanya dosen dengan gaji yang minim, saya tidak yakin bisa membahagiakan Vanes." ungkap Faris.
"Jika Kau ingin terlihat pantas, masuklah ke perusahaan Rizal. kau bisa memulainya dari awal, aku yakin kau berbakat dibidang itu."
Faris menggelengkan kepalanya, "Saya tidak ingin mengambil apapun dari saudara saya."
Wira kembali tersenyum, "Jika seperti itu, aku akan memberimu waktu 1 tahun."
Faris terkejut dan kembali menatap Wira, "Dalam waktu 1 tahun kau harus bisa menikahi Vanes jika tidak, aku mungkin akan memberikan Vanes pada orang lain." kata Wira.
"Ta tapi pak..."
"Aku tahu kalian saling mencintai tapi aku juga tidak mau putri ku satu satunya harus menjanda dalam waktu yang lama. Kau harus berusaha karena ada 1 pria yang juga mencintai Vanes dengan tulus. Jika kau terlambat, aku mungkin akan memberikan Vanes pada pria itu."
Setelah terdiam cukup lama akhirnya Faris mengangguk, "Baiklah, saya akan berusaha lebih keras lagi agar bisa segera menikahi Vanes."
Wira tertawa, "Aku suka semangatmu anak muda."
Pintu terbuka, Ken tampak memasuki ruangan Wira.
"Kalau begitu saya pamit keluar." ucap Faris tak ingin menganggu Wira dan Ken.
"Ya Istirahatlah, besok pagi ajaklah Vanes pergi ke makam Mamanya, sudah lama Vanes tidak kesana."
Faris mengangguk, "Baik Pak."
__ADS_1
Setelah Faris keluar, Ken mendekat ke arah Wira. "Tuan akan memberikan Nona pada Pria itu?" tanya Ken memberanikan diri.
Wira menatap Ken sejenak lalu mengangguk kan kepalanya, "Kau tidak suka?"
"Tidak Tuan, mana mungkin saya berani mengatakan tidak suka dengan keputusan Tuan."
Wira tersenyum, "Seharusnya kau berani jika apa yang kau katakan itu benar."
Ken menunduk, "Saya hanya tidak mau Nona tersakiti lagi Tuan."
"Kau menyukai putriku?"
Ken menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, mana mungkin saya berani menyukai Nona Vanes." ucap Ken dengan suara gemetar dan terdengar gugup.
Wira tertawa, "Aku hanya bercanda, kenapa harus serius seperti ini."
Ken menghela nafas panjang, terlihat sangat lega, "Saya hanya tidak mau melihat Nona sakit lagi Tuan."
Wira mengangguk, "Ya karena jika Vanes sakit aku pun juga akan merasakan sakitnya juga."
Ken mengangguk, "Apakah Tuan ingin saya menyelidiki pria itu?"
"Tidak perlu, aku sudah tahu banyak tentang pria itu dari Vanes."
"Tapi Tuan, bagaimana jika pria itu ternyata sama seperti Rizal?" raut wajah Ken tampak khawatir.
"Tidak, aku yakin mereka tak sama."
Ken menghela nafas panjang, seperti kecewa namun Ia juga tak bisa melakukan apapun.
"Kabar apa yang kau bawa?" tanya Wira.
"Nathan baru saja diringkus oleh polisi Tuan."
Wira tersenyum lega, "Bagus, Tantri harus tahu ini agar dia segera sadar, bukan aku pembunuhnya."
Ken mengangguk setuju, "Saya permisi Tuan."
"Ya, istirahatlah."
Ken segera pergi dari ruangan Wira.
Sebelum keluar dari ruangan Wira, Ken sempat berdiri menatap ke arah foto keluarga dimana ada Wira, istrinya dan Vanes.
Ken menghela nafas panjang lalu segera keluar dari rumah Wira.
Entah mengapa dadanya kembali terasa sesak mendengar Tuan Wira menyukai pria pilihan Vanes.
"Apa aku harus menyerah lagi?" gumam Ken tersenyum hambar lalu memasuki mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn yaaa