TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
41


__ADS_3

Vanes baru saja selesai menyiapkan makan malam. Ia melihat ke arah jam dinding masih pukul 7 malam, masih ada 1 jam sebelum Rizal pulang, biasanya Rizal pulang pukul 8 malam.


Vanes pun memilih duduk untuk menonton televisi sambil meninggu Rizal hingga tak terasa sudah pukul 9 malam namun Rizal masih belum pulang.


Vanes berdecak, "Apa aku dibohongi?" batin Vanes merasa kesal.


Vanes masih menunggu Rizal hingga pukul 10 malam barulah Vanes pergi untuk makan malam sendiri.


"Dasar pria brengsek! Dia tidak berubah dan hanya membohongiku saja!" umpat Vanes.


"Non Vanes makan sendirian?" tanya Bik Sri yang baru saja keluar kamar.


"Sudah jam 10 tapi Mas Rizal belum pulang, aku pikir Mas Rizal sudah berbohong padaku." adu Vanes.


Bik Sri tersenyum, "Kita tunggu saja Non, mungkin sedang perjalanan."


Vanes mengangguk hingga Ia mendengar suara dering telepon rumah.


"Biar saya yang angkat Non." ucap Bik Sri segera berlari menghampiri letak suara.


Tak berapa lama Bik Sri kembali dengan raut wajah pucat, "Non, Tuan ..."


"Ada apa Bik?"


"Tuan kecelakaan."


Seketika Vanes menjatuhkan sendok yang Ia pegang.


"Sekarang Tuan sedang berada dirumah sakit citra medika."


Vanes mengangguk mengerti, Ia segera naik ke atas untuk bersiap pergi kerumah sakit.


"Non naik taksi saja, sudah saya pesankan taksi." kata Bik Sri.


Vanes menatap ke arah Bik Sri karena Ia tak meminta Bik Sri untuk memesan taksi.


"Saya sengaja Non karena tak mau Nona menyetir sendiri disaat seperti ini." jelas Bik Sri.


"Makasih Bik." ucap Vanes segera keluar dan memasuki taksi yang sudah menunggu diluar rumah.


Saat ini Vanes merasa gelisah, meskipun Ia sudah tak mencintai Rizal namun perasaan khawatir tentu saja masih ada.


Sampai dirumah sakit, Vanes menanyakan pada perawat tentang keberadaan Rizal.


"Saat ini pasien sedang dioperasi karena mengalami gegar otak. Silahkan tunggu didepan ruang operasi." ucap Perawat itu yang akhirnya diangguki oleh Vanes.


Vanes kini sudah duduk didepan ruang operasi, menunggu Rizal selesai operasi sambil terus memanjatkan doa agar operasinya berjalan lancar.


Pintu ruang operasi dibuka, tampak Dokter keluar dari ruangan dan beberapa perawat yang berjalan dibelakang Dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keaadan suami saya Dok?" tanya Vanes langsung menghampiri Dokter.


"Operasinya berjalan lancar hanya menunggu pasien sadar."


Vanes bisa bernafas lega mendengar ucapan Dokter.


Kini Rizal sudah dipindahkan keruang perawatan. Vanes sempat menghubungi Mertua dan Papanya untuk memberitahu kondisi Rizal.


Tak berapa lama Tantri datang dan tampak shock melihat keadaan putranya itu.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tantri sambil menangis.


"Vanes juga tidak tahu Bu tapi sepertinya Polisi sedang menyelidiki penyebab kecelakaan."


"Astaga putraku, kenapa kau harus mengalami ini nak." tangis Tantri semakin pecah.


Vanes memilih keluar dari ruangan perawatan Rizal, Ia ingin memberi waktu untuk Tantri agar bisa berduaan dengan Rizal yang masih belum sadar.


Ia duduk didepan ruangan Rizal, "Aku sudah berpikiran buruk, aku pikir dia membohongiku namun ternyata dia malah kecelakaan. Maafkan aku yang masih belum bisa mempercayaimu." gumam Vanes merasa bersalah.


"Kenapa duduk disini?" suara Wira, Papa Vanes membuat Vanes terkejut.


"Papa..." Vanes segera beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan Wira.


"Kenapa malah berada diluar? Tidak menemani suamimu didalam?"


"Apa kamu tidak sedih?" tanya Wira melihat raut wajah putrinya terlihat biasa saja.


Sedih? entahlah Vanes merasa biasa saja, Ia hanya merasa bersalah karena telah menunduh Rizal berbohong dan sedikit khawatir, ya hanya sedikit.


"Tidak usah dijawab jika bingung." kata Wira menepuk bahu Vanes lalu pergi memasuki ruang perawatan Rizal.


"Pak Wira..." sapa Tantri yang langsung menghentikan tangisnya melihat Wira memasuki ruangan bersama Vanes.


"Tidak perlu khawatir dan sedih, semua akan baik baik saja." kata Wira mencoba menenangkan Tantri.


"Rizal sangat pandia menyetir mobil, rasanya aneh jika dia mengalami kecelakaan seperti ini." ungkap Tantri.


Wira tersenyum, "Kesialan bisa terjadi kapan saja, tidak perlu khawatir lagi, Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Rizal, kita hanya bisa berdoa dan menunggu Rizal siuman dan sembuh." ucap Wira.


"Tapi Pak, saya sangat yakin jika ini pasti kesengajaan, apa Bapak tidak ada niat untuk menyelidiki penyebab kecelakaan? Bagaimana jika ada orang jahat yang memang sengaja membunuh Rizal?"


Vanes yang berada dibelakang Wira tampak memutar bola matanya malas karena Tantri terlalu berlebihan.


"Apa bapak ingin putri Bapak menjadi janda?" tanya Tantri lagi yang benar benar membuat Vanes kesal.


Tantri hanya tidak tahu saja bagaimana perilaku Rizal sebelumnya. Rizal sudah membuat Vanes merasa janda dan kini Ia pun tak takut jika harus menjadi janda yang sesungguhnya.


"Baiklah saya akan meminya anak buah saya untuk menyelidiki kasus ini."

__ADS_1


Seketika Tantri tersenyum lebar mendengar permintaannya dipenuhi oleh Wira.


"Dan saya ingin ruangan anak saya diberi penjagaan ketat karena saya tidak mau ada orang jahat yang menggunakan tempat ini untuk membunuh putra saya." pinta Tantri lagi.


"Baiklah, saya akan lakukan semua yang Ibu inginkan."


"Terima kasih pak, terima kasih banyak. Saya meminta ini hanya untuk kebaikan kita bersama agar kita terus menjadi besan."


"Saya mengerti sangat mengerti."


Setelah puas berbincang dengan Tantri, Wira memutuskan untuk keluar dari ruangan Rizal dan masih diikuti oleh Vanes.


"Apa permintaan Mama tidak berlebihan Pa?" tanya Vanes.


Wira tersenyum, "Ada apa denganmu? Ini semua untuk suamimu. Seharusnya kau juga meminta seperti itu pada Papa." kata Wira membuat Vanes terdiam karena takut ketahuan jika hubungannya dengan Rizal tidak baik baik saja sejak awal.


Melihat putrinya hanya diam, Wira menepuk bahu Vanes, "Papa pulang dulu, jika terjadi sesuatu segera hubungi Papa." pamit Wira.


"Baiklah Pa." Vanes sempat memeluk Wira sebelum Wira memasuki mobilnya.


Melihat Mobil Wira sudah melaju meninggalkan rumah sakit, Vanes kembali masuk dalam.


"Aku ada pekerjaan untukmu." ucap Wira pada Ken anak buahnya yang ikut berada didalam mobil itu.


"Kali ini apa yang harus saya lakukan Tuan?"


"Selidiki penyebab kecelakaan Rizal."


"Baik Tuan."


"Dan cari tahu apa ada hubungannya dengan wanita itu."


"Baiklah Tuan."


Wira menghela nafas panjang. Mengingat beberapa tahun yang lalu Ia sempat mengalami kecelakaan, menabrak Papa Rizal hingga meninggal. Semenjak itu Wira selalu membantu kesulitan yang dialami Tantri sebagai tanda minta maaf karena telah membuat Tantri menjadi janda.


Hingga satu hari Tantri meminta agar Wira menjodohkan putrinya dengan Rizal putra Tantri.


Wira yang tak memiliki pilihan lain akhirnya menyetujui permintaan Tantri apalagi melihat Vanes menyukai Rizal.


Namun ternyata langkah yang diambil Wira salah karena Ia tahu jika hanya Vanes yang mencintai Rizal sementara Rizal tidak.


Wira sempat menyesali keputusannya karena telah membuat putrinya menderita namun malam ini Wira melihat ada yang berbeda dari putrinya.


Wira bisa merasakan sudah tidak ada cinta dimata putrinya untuk Rizal.


Ya Wira bisa merasakan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2