
Faris menundukan kepalanya, sesekali Ia memandang ke arah Slamet yang tengah menghisap rokoknya.
Faris menunggu Slamet mengatakan sesuatu namun Slamet masih diam hingga Faris yang memutuskan untuk berbicara lebih dulu.
"Tentang Mbak Vanes-"
"Kau menyukainya?" potong Slamet.
Faris tentu saja terkejut karena Ayahnya langsung bertanya seperti itu tanpa basa basi.
"Tidak salah menyukai seseorang karena perasaan juga tidak bisa dipaksa, masalahnya dia itu iparmu."
Faris kembali menundukan kepalanya, "Faris tahu pak, Faris salah."
Slamet beranjak dari duduknya lalu duduk disamping Faris, "Jika kau melakukan semuanya dengan benar pasti akan berakhir baik jadi lakukan sesuai jalannya, kau boleh menyukainya tapi jangan berharap bisa memilikinya karena dia sudah milik orang lain."
"Tapi Pak, mas Rizal-"
"Aku tahu." lagi lagi ucapan Faris dipotong oleh Slamet, "Aku tahu apa yang terjadi diantara mereka tapi jangan masuk ke dalam dan menambahkan api. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya lebih dulu." nasihat Slamet.
Saat ini Faris sedikit terkejut karena tidak hanya Ibunya yang tahu permasalahan Vanes dan Mas Rizal namun juga bapaknya.
Bagaimana semua orang bisa tahu ini padahal sebelumnya mereka juga tidak pernah bertemu selain ditempat pernikahan waktu itu batin Faris.
Kini Faris memilih diam, dari awal memang sudah jelas orangtuanya tak akan merestui hubungannya dengan Vanes.
Vanes disambut baik saja Faris sudah bersyukur.
"Ternyata Neng Vanes pinter masak juga ya?" puji Asih saat melihat Vanes tahu macam macam bumbu dapur dan kegunaannya.
"Belum pinter kok Bu, masih belajar."
"Sebelum nikah tidak bisa memasak?" tebak Asih.
Vanes mengangguk lalu tersenyum.
"Sama kok, dulu Ibu juga gitu tapi Ibu beruntung karena punya Ibu mertua baik mau ngajarin masak macem macem."
Vanes terdiam, Ia memikirkan ketidakberuntungan dirinya memiliki Ibu mertua yang selalu meminta cucu. Setiap datang selalu memberi jamu dan obat obatan seolah Vanes itu mandul tidak bisa hamil padahal penyebab Vanes tak kunjung hamil karena Rizal yang belum menyentuhnya.
Asih menatap raut wajah sedih Vanes, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Vanes, Asih pun menepuk bahu Vanes, "Lepaskan apapun yang membuatmu sedih, jangan paksakan jika memang sudah tak bisa." kata Asih.
Vanes menatap Asih terkejut, "Ibu tahu sesuatu?"
Asih tersenyum, "Faris tidak memberitahu apapun tentang apa yang terjadi padamu, hanya perasaan seorang Ibu saja. Maaf bila Ibu salah menebak."
Vanes menggelengkan kepalanya, sejujurnya Ia penasaran darimana Ibu Asih tahu tentang masalahnya, jika hanya menebak tidak mungkin bisa kebetulan seperti ini kan?
__ADS_1
Tumis kangkung dan tempe goreng sudah matang dan siap untuk dihidangkan.
Vanes menata semua makanan dimeja makan.
"Maaf Ya nak Vanes hanya lauk sederhana." kata Asih.
Vanes tersenyum, "Saya juga sering masak kayak gini kok Bu."
"Ya sudah Ibu mau panggil Bapak sama Faris dulu." kata Asih yang langsung diangguki oleh Vanes.
Tak berapa lama, Faris dan Slamet ikut bergabung di meja makan. Mereka makan siang bersama sambil bercanda ria, kehangatan terasa sekali dikeluarga Faris.
Sesekali Vanes melirik ke arah Faris, kini Ia tahu kenapa Faris bisa menjadi pria baik dan penyayang karena Faris terlahir dari keluarga yang harmonis dan penyayang membuat Faris tumbuh seperti itu.
Vanes jadi ingat saat Ibunya masih hidup, keluarganya juga harmonis seperti ini namun setelah Ibunya tiada, Ayahnya sering bersikap dingin dan jarang sekali memperhatikan dirinya.
Setelah makan siang, Faris mengajak Vanes jalan jalan ke ladang untuk melihat tanaman sayur yang ditanam oleh Slamet juga kolam ikan milik Slamet.
"Kolam ikannya ditengah ladang gini memangnya nggak takut dicuri sama orang?" tanya Vanes.
Faris tersenyum, "Dulu aku sempat tanya gitu sama Bapak tapi Bapak bilang nggak apa apa kalau dicuri, itung itung buat amal jariyah."
Vanes ikut tersenyum, "Keluarga kamu baik semua."
"Apa Budhe Tantri tahu kelakuan mas Rizal Mbak?" tanya Faris tiba tiba.
"Kok aneh ya? Dari mana Bapak sama Ibu bisa tahu?"
Vanes akhirnya ingat pembicaraan dirinya bersama Ibu Faris didapur, Ibu Faris seolah tahu apa yang terjadi diantara Vanes dan Rizal.
"Apa mungkin Mama tahu perilaku mas Rizal tapi pura pura tidak tahu?" tebak Vanes.
"Nggak tahu juga mbak, udahlah malah pusing aku." keluh Faris.
"Aku pikir kamu yang cerita."
"Awalnya mau cerita mbak tapi Ibu dan Bapak sudah tahu jadi ya sudahlah."
"Pasti mereka kecewa ya sama kamu karena bawa pulang aku." tebak Vanes.
"Sudahlah Mbak nggak usah dibahas nanti malah bikin sedih." kata Faris.
Vanes tertunduk diam, Ia merasa sudah membawa Faris ke dalam masalahnya.
"Woyyy Ris!" suara seorang pria memanggil Faris membuat Vanes dan Faris menatap ke arah pria itu bersamaan.
"Eh Sakti, apa kabar?" Faris tampak bersalamanan dengan pria muda yang seumuran dengan Faris itu.
__ADS_1
"Gila, baru 2 minggu ke kota pulang udah bawa cewek aja." celetuk Sakti.
Faris hanya tersenyum,
"Eh iya di universitas gue lagi ada lowongan dosen, gajinya lumayan sih 5 juta. Masih minat jadi Dosen nggak?" tawar Sakti.
Faris menggelengkan kepalanya, dulu memang dirinya berencana melamar kerja jadi dosen disatu universitas yang tak jauh dari rumahnya namun karena tergiur oleh tawaran Rizal yang lebih menjanjikan memnbuatnya mengubur impian untuk menjadi dosen.
"Udah nggak berminat." balas Faris cengegesan.
"Gaji dikota lebih gede nih makanya udah nggak minat." cibir Sakti.
Faris tak menjawab hanya tersenyum.
Faris dan Vanes kembali pulang kerumah karena hari mulai petang.
"Mau pulang malam ini?" tanya Asih.
Faris mengangguk,
"Maaf ya Neng, bukan nggak ngebolehin nginep tapi dikampung ini peraturan untuk tamu menginap memang sedikit ketat."
Vanes tersenyum, "Saya mengerti Bu, justru saya yang minta maaf karena sudah merepotkan disini."
Asih menggelengkan kepalanya, "Enggak merepotkan neng, Ibu malah senang."
Faris dan Vanes akhirnya berpamitan, mencium tangan Asih dan Slamet bergantian setelah itu keduanya memasuki mobil.
Faris segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Bagaimana ini pak?" keluh Asih.
Slamet menghela nafas panjang, "Kita tidak tahu rencana Tuhan dibalik semua ini. Jadi biarkan mereka mengikuti alur takdir mereka Bu."
"Ibu cuma takut kalau Mbak Tantri tahu trus nyalahin Faris padahal Rizal yang bersalah." khawatir Asih.
"Semua akan terbuka pada waktunya Bu, kesalahan Rizal pasti akan terbongkar."
Asih mengangguk namun Ia tetap saja khawatir. Beberapa bulan yang lalu saat menghadiri pesta pernikahan Rizal dan Vanes, Asih yang ingin ke toilet tak sengaja melihat Rizal berciuman dengan seorang gadis padahal waktu itu acara resepsi sedang berlangsung.
Sementara Slamet sendiri melihat Rizal tidak masuk ke kamar pengantinnya melainkan ke kamar sebelahnya bersama wanita lain.
Asih dan Slamet tahu segalanya namun selama ini mereka hanya diam karena sadar itu bukan urusan mereka namun kini, Faris putra mereka satu satunya malah masuk ke dalam hubungan Rizal dan Vanes.
Asih dan Slamet hanya bisa mendoakan semoga putranya baik baik saja, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Asih dan Slamet.
Bersambung....
__ADS_1