TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
70


__ADS_3

Asih mengajak Vanes masuk ke dalam rumahnya. Slamet yang duduk diruang tamu pun memaksakan senyum saat melihat Vanes. Suka tidak suka Vanes adalah tamunya dan Ia harus bersikap baik jika ada tamu.


"Bagaimana kabarnya Bapak?" tanya Vanes dengan sopan sembari menunggu Asih selesai membuat minuman.


"Baik Neng, kalau Neng Vanes sendiri?"


Vanes tersenyum, "Saya juga baik Pak."


"Nyari Faris?" tebak Slamet.


Vanes mengangguk, "Apa terjadi sesuatu pada Mas Faris?"


Slamet menghela nafas panjang bersamaan dengan Asih yang baru datang dari dapur membawa 2 cangkir teh hangat untuk Vanes dan Slamet.


"Faris di fitnah dan sekarang dia dipenjara." ungkap Asih.


Sontak ucapan Asih membuat Vanes terkejut, "Bagaimana bisa bu?" Raut wajah Vanes berubah cemas.


Asih dan Slamet bergantian menceritakan apa yang terjadi pada Faris hingga berakhir dipenjara.


"Kita ini orang miskin Neng, jadi nggak ada yang percaya sama kita." ungkap Asih dengan raut wajah sedih.


Vanes mengenggam tangan Asih, "Kebenaran pasti akan terungkap Bu, Mas Faris orang jujur jadi pasti akan mendapatkan banyak kebaikan." hibur Vanes.


"Ibu cuma takut jika terlambat menyelamatkan Faris dan Faris..." Asih tak sanggup melanjutkan ucapannya hingga Ia kembali menangis.


"Sudahlah Bu, pasti nanti ada jalan buat membebaskan Faris." ucap Slamet tak ingin melihat Asih menangis.


"Bapak benar Bu, pasti akan ada jalan buat Mas Faris." tambah Vanes.


Asih pun menghentikan tangisnya, "Kenapa kamu bisa disini neng? Memang Rizal tidak marah?"


Vanes menggelengkan kepalanya lalu menceritakan tentang perceraiannya pada Asih dan Slamet.


"Jadi sekarang kamu kuliah dikampusnya Faris?"


Vanes mengangguk, "Sudah lama saya ingin melanjutkan sekolah Bu."


Pak Slamet menghela nafas panjang, Ia bukan tak tahu maksud Vanes berkuliah disana. Slamet tahu sangat tahu modus Vanes agar bisa lebih dekat dengan Faris.


"Kami cuma takut sama omongan saudara kalau sampai kalian bersama nanti." ungkap Slamet dengan jujur.


Vanes memaksakan senyum, sejak tadi Ia datang kesini rasanya sudah berbeda dengan beberapa bulan yang lalu dimana Vanes diterima hangat oleh keluarga Faris sementara sekarang, ada banyak kekhawatiran dimata orangtua Faris.


"Saya tahu Bu dan sangat paham dengan apa yang Ibu rasakan." ucap Vanes, "Jika memang kami tidak berjodoh, biarkanlah takdir yang memisahkan kami." tambah Vanes yang langsung diangguki oleh Slamet dan Asih.

__ADS_1


"Benar, biarkan semua berjalan tanpa harus ada paksaan." kata Slamet.


"Jadi, apa boleh saya berteman dengan Mas Faris?" tanya Vanes memastikan.


Asih dan Slamet mengangguk bersamaan membuat Vanes tersenyum lega.


Cukup lama Vanes berbincang dengan orangtua Faris hingga akhirnya Ia memutuskan untuk pamit pulang.


Vanes tidak pulang ke kos melainkan ke kantor polisi tempat Faris dipenjara.


Dengan menaiki ojek yang ada didekat rumah Faris, Vanes akhirnya sampai dikantor polisi.


"Neng cantik ini tadi dari rumah Faris dan sekarang ke kantor polisi, apa Neng cantik ini mau ketemu sama Faris?" tanya abang ojek sembari menunggu Vanes mengambil uang.


"Iya, saya mau ketemu sama Mas Faris."


"Duh... Neng, Neng..."


"Ada apa Mas?" heran Vanes lalu mengulurkan uangnya.


"Faris itu bukan pria baik, dia memperkosa anak pak Kades hingga hamil dan nggak mau tanggung jawab." adu Abang Ojek, "Neng cantik ini hati hati saja jangan sampai jadi korban."


Vanes tersenyum, "Seharusnya jika baru sekali diperkosa kemungkinan tidak akan langsung membuat hamil kecuali yang merasa korban sudah berkali kali diperkosa baru bisa hamil. Nah yang mengherankan disini bagaimana bisa korban diam saja setelah diperkosa sekali? Seharusnya korban melaporkan sejak diperkosa pertama kali kan pak." ucap Vanes lalu memberikan helm pada Abang ojek dan pergi meninggalkan tukang ojek yang terlihat bengong mendengar ucapannya.


Setelah meminta izin pada polisi, Vanes akhirnya bisa bertemu dengan Faris.


"Penjahat karena fitnah bukan hal yang memalukan." balas Vanes lalu mengenggam tangan Faris.


"Dia menfitnah ku, Kades itu menfitnah ku!" ucap Faris dengan bibir bergetar, "Dan karena aku memilih jujur, aku berakhir disini."


Vanes tersenyum, "Kau akan segera bebas, percayalah padaku kau akan segera bebas."


Faris ikut tersenyum, kini Ia berani menatap Vanes, "Ucapanmu sedikit menghiburku tapi entahlah, aku juga tidak tahu karena semua polisi disini sudah disogok oleh Pak Kades jadi rasanya akan sulit keluar dari sini."


"Kau pesimis sekali." ucap Vanes lalu tertawa membuat Faris ikut tertawa.


"Bagaimana kau tahu aku disini?" tanya Faris.


"Aku kerumahmu."


Faris terkejut lalu menatap Vanes, "Kenapa menatapku seperti itu?" heran Vanes.


Faris menggelengkan kepalanya, Ia penasaran apakah orangtuanya menerima Vanes atau tidak.


"Orangtuamu masih baik padaku jadi jangan cemas." kata Vanes seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Faris.

__ADS_1


Faris terlihat lega, "Orangtuaku hanya memikirkan pandangan keluarga besar kami, kamu cukup tahulah Budhe Tantri itu orang yang seperti apa."


Vanes mengangguk mengerti dengan ucapan Faris, Ia juga paham perjalanan cintanya dengan Faris mungkin tidak akan bisa diraih dengan mudah mengingat musuh mereka bukan orang sembarangan.


Tantri dan Rizal dua orang yang sangat ambisius dan tidak akan melepaskan Vanes dengan mudah.


"Apa kau lapar? Mau makan?" tawar Vanes.


"Rasanya aku tidak bisa makan apapun."


Vanes berdecak, "Jangan terlalu dipikirkan, kau harus makan agar tetap hidup dan melawan kejahatan seperti ini."


Faris hanya mengangguk lemah dan tak berapa lama, Nani wanita gemuk penjaga kos Vanes juga datang ke kantor polisi dengan membawa banyak makanan.


"Jika bukan karena kau yang memintaku, aku tidak akan membelikan ini semua untuk pria itu!" ucap Nani sambil menunjuk ke arah Faris. Sebelum masuk ke kantor dan bertemu dengan Faris, Vanes meminta Nani untuk membelikan makanan dan Vanes tak menyangka Nani akan menuruti keinginannya.


Vanes tersenyum, "Aku tahu kau orang baik pasti akan melakukan apapun demi kami." ucap Vanes.


"Jangan merayuku!" sentak Nani.


"Jika berdandan seperti ini kau terlihat sangat cantik," puji Faris yang langsung membuat pipi Nani merona.


"Jangan terlalu cantik jika kesini bisa bisa semua polisi akan terpesona dengan kecantikanmu." tambah Faris yang akhirnya membuat Nani tersenyum untuk pertama kalinya.


"Hey kau, berhenti merayuku didepan kekasihmu!"


"Aku tidak merayu, aku hanya berkata sejujurnya."


Vanes tersenyum melihat Faris dan Nani mulai akur, "Lebih baik kau segera pulang dan terima kasih atas bantuannya."


"Lihat, kekasihmu cemburu dan mengusirku." adu Nani membuat Faris dan Vanes tertawa.


Setelah Nani pergi, Vanes menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh Faris.


"Kau tidak ikut makan?"


Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku harus ke toilet sekarang, aku akan segera kembali."


Faris mengangguk membuat Vanes segera keluar dari ruangan.


Namun ternyata Vanes tidak ke toilet melainkan pergi ke tempat sepi lalu menghubungi seseorang.


"Vanes butuh bantuan Papa."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeenn


__ADS_2