
Dengan tangan bergetar, Pak Kades mengakhiri panggilan istrinya seraya bertanya dalam hati, Apa yang terjadi dirumahnya?
Pak Kades melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap bisa segera sampai rumah agar Ia tahu apa yang sedang terjadi.
Sampai dirumah, ada beberapa warga yang mengerumuni didepan rumahnya. Saat Pak kades keluar dari mobil, semua mata memandang sinis ke arah Pak Kades.
"Ada apa ini!" sentak Pak kades pada beberapa warga yang ada dirumahnya.
"Tega sekali Pak Kades menfitnah Faris sementara Pak Kades sendiri melakukan hal yang sama pada gadis lain!"
Karena tak mengerti apa maksud salah satu warga itu, Pak Kades akhirnya masuk kerumahnya dan Ia terkejut saat melihat seorang gadis seumuran Ani yang sangat Ia kenali.
Fatima, nama gadis itu yang berasal dari kampung sebelah. Putri dari salah satu petani miskin.
"Apa yang kau lakukan disini!" Sentak Pak Kades.
"Jangan membentaknya pak! Apa yang sudah kau lakukan padanya!" Bu Kades menatap tajam Pak Kades yang terlihat marah.
Tak hanya Fatima, ada Roni kepala polisi dan orangtua Fatima juga beberapa polisi lain yang ada diruang tamu rumahnya.
"Apa apaan ini! Ada apa dengan kalian semua?" tanya Pak Kades menatap Roni dan istrinya secara bergantian.
"Kau dilaporkan karena memperkosa gadis ini." ucap Roni dengan lantang.
Mata Pak Kades langsung melotot, "Kau... Bagaimana bisa kau menusuk ku seperti ini Hah!" Pak Kades maju ingin menghajar Roni namun 2 anak buah Roni menahan Pak Kades.
"Lepas, akan ku bunuh pria pembohong ini!" ucap Pak Kades masih berteriak.
"Borgol dia, bawa ke kantor sekarang." pinta Roni membuat Pak Kades semakin brutal namun tenaganya kalah melawan dua anggota polisi yang kini sudah berhasil memborgol Pak kades.
"Kita melakukan bersama, kita memperkosa bersama, bagaimana bisa kau melimpahkan semua padaku!" ucap Pak Kades dengan geram.
"Jadi kau sudah mengakuinya mas?" tanya Bu Kades menatap tak percaya, "Tega sekali kau mengkhianati ku seperti ini mas!" sentak Bu Kades lalu menangis.
Pak Kades tak mengubris ucapan istrinya Ia malah menatap Fatima yang terlihat menunduk dan menangis.
"Katakan Fatima, katakan pada semua orang yang ada disini jika bukan hanya aku yang menikmati tubuhmu, katakan sekarang!" sentak Pak Kades.
__ADS_1
"Cukup pak! Sudah cukup kau menyakiti putri kami!" orangtua Fatima yang sedari tadi hanya diam kini terdengar membuka suaranya. "Kami memang orang miskin tapi tak seharusnya kau merusak masa depan putri kami seperti ini." tegas pria renta itu membela putrinya.
"Brengsek, kalian brengsek semua!" ucap Pak kades dengan emosi.
Pak Kades kini dibawa ke mobil tahanan dengan tangan diborgol, semua warga menyaksikan penangkapan kades dikampung mereka.
Bu Kades dan Ani hanya bisa menangis ditempat melihat Pak Kades ditangkap oleh aparat.
Fatima, si gadis malang itu dibawa masuk ke mobil Roni bersama orangtuanya.
"Semua sudah berakhir, aku bisa bertanggung jawab penuh atas dirimu." kata Roni lalu merangkul Fatima.
Roni memang menyukai Fatima sejak lama, bahkan Ia yang pertama kali memperkosa gadis cantik itu namun Roni melakukan itu agar Fatima mau menjadi istri keduanya namun sayangnya Pak Kades tahu akan hal ini. Pak Kades meminta Roni agar bisa menikmati gadis itu juga bahkan Pak Kades mengancam Roni jika Roni tidak membiarkan Pak Kades ikut menikmati tubuh Fatima, Pak Kades akan melaporkan perbuatan Roni pada istrinya.
Tentu saja Roni takut hingga akhirnya Ia mempersilahkan Pak Kades ikut menikmati tubuh Fatima yang malang.
Hanya sekali itu dan Roni merasa beruntung karena bantuan Tuan Wira, Ia bisa melakukan ini tanpa takut Pak Kades melaporkan pada istrinya.
"Kau mau kan menikah denganku?" tanya Roni.
Fatima menggelengkan kepalanya, "Saya tidak mau, biarkan saja saya seperti ini."
"Lebih baik saya melahirkan anak ini sendiri toh semua warga sudah tahu saya diperkosa dari pada saya harus merusak rumah tangga orang."
Deg... jantung Roni berdenyut nyeri mendengar ucapan Fatima.
Gagal sudah rencananya untuk memiliki Fatima seutuhnya.
"Kau yakin tidak mau menikah denganku?"
Fatima menggelengkan kepalanya dengan mantap, "Tidak, saya sudah memikirkannya."
Roni menghela nafas panjang lalu beralih memandang ke arah Orangtua Fatima, "Bagaimana ini pak?"
"Keputusan ada ditangan Fatima, jika dia meminta seperti itu, aku tidak bisa berbuat apapun." kata Ayah Fatima.
Roni tampak kecewa namun Ia juga tidak bisa memaksa, "Jika begitu, saya akan tetap memberikan uang bulanan seperti biasa tapi izinkan saya ikut merawat anak kita." pinta Roni namun Fatima hanya diam saja tidak menjawab.
__ADS_1
Sejujurnya Fatima juga jatuh cinta pada Roni, meskipun jarak umur mereka terpaut jauh namun Roni pria yang baik dan penyayang. Roni bahkan sering membantu perekonomian keluarganya.
Fatima hanya kecewa saat Roni memperkosanya berkali kali dan tak hanya itu, Roni juga mengizinkan pak Kades ikut menikmati tubuhnya yang membuat Fatima merasa hancur dan tak memiliki harga diri lagi.
Meskipun sekarang Pak Kades sudah ditangkap dan dipenjara tapi rasanya tidak cukup karena seharusnya Roni pun ikut ditangkap juga. Sungguh hukum yang tidak adil pikir Fatima.
...****************...
Faris duduk didepan kamar Vanes, Ia mendengar suara mobil diluar. Jantung Faris berdegup kencang karena tahu jika itu mobil milik Papa Vanes.
Faris tampak gugup dan bingung apakah dia harus menemui Pak Wira atau tidak. Namun setelah mengingat jika Pak Wira yang sudah mengeluarkannya dari penjara, Faris beranjak dari duduknya, berniat mengucapkan terima kasih karena Pak Wira sudah membantunya keluar dari penjara.
"Eh..." suara Vanes terdengar.
Faris melihat ke belakang punggung Vanes namun tidak ada Pak Wira disana.
"Mencari Papa ku?" tebak Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
"Papa ku sudah pulang, jika aku tahu kamu menunggu disini pasti aku memintanya untuk turun dulu." ucap Vanes lalu tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Sayang sekali padahal aku ingin mengucapkan terima kasih." ungkap Faris.
"Untuk apa?"
"Bukankah Pak Wira yang sudah membantuku bebas?"
Mata Vanes langsung saja melotot, "Dari mana kau tahu?"
Faris tersenyum lalu melirik ke arah Nani yang tengah menyapu lantai.
"Ada apa kalian menatapku seperti itu!" sentak Nani dengan galak.
"Bukankah aku sudah mengatakan jangan menceritakan ini pada siapapun?" protes Vanes pada Nani.
"Aku tak sengaja, lagipula sangat bagus jika dia tahu jadi dia memiliki hutang budi dan tak akan menyakitimu seperti mantan suamimu." ucap Nani dengan sinis lalu pergi dari sana.
Vanes hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya sementara Faris malah tertawa.
__ADS_1
Bersambung...