
Vanes memasangkan dasi untuk Faris. Pagi ini Faris mulai bekerja dikantor. Sejak subuh tadi Vanes sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipakai oleh Faris ke kantor.
Baju, sepatu, tas dan masih banyak lagi hingga kini Faris sudah siap dengan setelan kemeja kantor yang membuatnya terlihat sangat tampan.
Vanes sedikit membanggakan dirinya karena berhasil memiliki suami setampan Faris.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Faris yang sudah bersiap untuk turun ke bawah, sarapan bersama.
"Aku jadi takut jika nanti ada yang menggodamu melihatmu tampan seperti ini mas."
Faris tersenyum lalu menciumi pipi istrinya, "Sejak kapan kamu pintar menggombal seperti ini hmmm." ucap Faris masih gemas dan kembali menciumi pipi Vanes yang semakin hari semakin chubby.
"Aku tidak menggombal, aku hanya mengatakan yang sebenarnya mas."
Faris kembali tersenyum, "Aku tidak akan tertarik dengan wanita lain karena dirumah ada wanita hebat yang sangat ku cintai." ucap Faris lalu mencium kening Vanes.
Semenjak menikah dengan Faris, Vanes merasa bahagia setiap hari karena Faris selalu melakukan hal romantis yang membuatnya semakin jatuh cinta pada pria itu.
Perlakuan Faris sangat berbeda dengan mediang Rizal.
Vanes dibuang seperti sampah dan ditemukan oleh Faris yang membuatnya menjadi berlian.
Vanes hanya berharap agar rumah tangganya selalu baik baik saja dan bahagia seperti ini setiap harinya.
Keduanya turun kebawah dimana sudah ada Sara dan Ken yang duduk dimeja makan untuk sarapan.
"Wah Aden ganteng sekali." puji Bik Sri yang datang membawa 2 gelas susu untuk Vanes dan Faris.
"Jangan naksir Bik, udah punya istri nih." balas Vanes dengan nada bercanda membuat Bik Sri tertawa.
"Ampun Non, cuma muji aja nggak ada niat buat ngrebut." balas Bik Sri.
Faris hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Bik Sri dan Vanes sementara Ken dan Sara diam membisu sambil memandang ke arah Faris dan Vanes bergantian.
"Hari ini aku ingin mencari kampus, apa kau ada rekomendasi Ken?" tanya Vanes pada Ken.
"Kampus Bina Karya jika Nona mau, saya akan menguruskan segalanya." jawab Ken tampak semangat.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, sekarang kau ini adik iparku bukan asisten Papa lagi jadi aku akan melakukan sendiri." kata Vanes "Lagi pula sudah ada Mas Faris yang akan membantu mengurus segalanya."
"Benar kata Vanes, mulai sekarang aku yang akan mengurus segala keperluan Vanes, kau tidak perlu repot lagi." tambah Faris seolah tak terima melihat Ken sangat antusias membantu Vanes karena sejujurnya Faris sedikit khawatir, melihat gelagat Ken, sepertinya Ken menyukai Vanes. Faris takut jika Vanes sampai jatuh ke pelukan Ken seperti saat dulu dimana Vanes jatuh cinta padanya dan meninggalkan Rizal. Meskipun Faris percaya, Vanes tidak mungkin mengkhianati dirinya mengingat Ia sudah memperlakukan Vanes dengan baik selama ini.
__ADS_1
"Baik Nona jika memang seperti itu."
"Dan satu lagi, berhenti memanggilku Nona." protes Vanes, "Panggil aku mbak saja."
"Maaf untuk itu saya masih belum terbiasa Nona." kata Ken.
"Ck, berhenti meributkan sesuatu yang tidak penting!" ucap Sara tampak kesal sedari tadi mendengar ocehan Vanes dan Ken.
Semua orang akhirnya diam tak ada yang berbicara lagi hingga mereka selesai sarapan.
"Jika kau ingin mengantar Mbak Vanes tidak masalah asal kau bisa sampai dikantor pukul 8 pagi ini karena hari ini ada penyerahan jabatan untukmu." kata Sara mengingatkan saat mereka keluar dari rumah bersama.
"Hanya 1 jam? Mana mungkin bisa!" protes Faris melihat saat ini sudah pukul 7 pagi.
"Terserah, kau harus pandai mengatur waktu." balas Sara acuh.
"Saya punya ide, bagaimana jika Nona Vanes biar saya yang antar, Sara dan mas Faris berangkat bersama?" tawar Ken tiba tiba.
"Aku tidak masalah." balas Sara.
"Tidak, biar aku saja yang mengantar istriku dan ku pastikan aku sampai dikantor sebelum pukul 8." kata Faris.
Faris dan Vanes pun juga sudah masuk ke dalam mobil mereka.
Faris segera melajukan mobilnya menuju kampus bina karya rekomendasi dari Ken. Rencananya Ia hanya akan mengantar Vanes mendaftar lalu setelah itu berangkat ke kantor.
Sampai dikampus, Vanes segera mengisi formulir pendaftaran dan mengumpulkan berkas yang dibutuhkan.
Hanya butuh waktu 30 menit, akhirnya semua urusan pendaftaran Vanes selesai.
"Aku naik taksi saja, jika mengantarku pasti nanti terlambat ke kantor." kata Vanes saat Faris kekeh ingin mengantar Vanes.
"Tidak apa apa, aku akan melajukan mobilnya dengan kencang."
Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak mas, aku benar benar tidak masalah jika harus naik taksi."
Faris menghela nafas panjang, waktu terus berjalan dan jika mereka berdebat tanpa menemukan solusi sudah pasti Ia akan benar benar terlambat.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu mendapatkan taksi." kata Faris mengenggam tangan Vanes dan mengajak istrinya itu keluar kampus.
"Jangan terlalu dekat dengan Ken." kata Faris saat keduanya berada dihalte.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Sepertinya Ken menyukaimu."
Vanes tertawa, "Aku sudah tahu itu."
Faris tampak terkejut.
"Sudah lama itu bahkan sebelum aku menikah dengan mas Rizal. Aku tidak memiliki perasaan pada Ken jadi Mas jangan khawatir." kata Vanes yang membuat Faris bernafas lega.
Faris memeluk tubuh istrinya lalu mengecup kening Vanes, tak peduli jika banyak orang yang melirik ke arah mereka dengan iri.
Taksi pesanan Vanes sudah tiba, setelah memastikan istrinya aman, Faris membiarkan taksi itu melaju meninggalkan halte.
Faris berlari kembali masuk ke parkiran kampus dimana mobilnya masih ada disana.
Waktunya tinggal 15 menit dan Ia harus sampai kantor sebelum itu karena jika tidak, Faris harus siap menerima omelan dari Sara.
10 menit perjalanan akhirnya Faris sampai di kantor.
Salah satu satpam yang berjaga nampak menghampiri Faris yang baru keluar dari mobilnya, "Selamat pagi Pak Faris, saya Tomo satpam yang ditugaskan untuk mengantar Bapak menuju ruangan meeting."
"Apa sudah dimulai?" tanya Faris.
"3 menit lagi pak."
"Baiklah, mari kita kesana." ajak Faris yang langsung diangguki Tomo.
Meskipun sudah terbiasa bertemu dengan banyak orang, Faris tetap saja bisa merasakan gugup apalagi yang datang diruang meeting pagi ini kemungkinan orang orang penting diperusahaan Wira. Ia takut jika mereka akan meremehkan Faris karena pengalaman Faris di perkantoran memang masih sedikit.
Dan benar saja, ketakutan dan kecemasan Faris benar terjadi saat Faris memperkenalkan diri dan mendapatkan tatapan sinis dari beberapa orang yang ada disana.
"Saya akan bekerja dengan baik dan maksimal, mohon bantuannya." ucap Faris mengakhiri perkenalannya lalu duduk disamping Sara.
"Disini ada direktur dan wakil direktur, kenapa malah orang awam yang harus dijadikan pengganti? Apa karena menjadi menantunya pak presdir?" celetuk salah seorang yang ada diruangan itu.
"Hey pria tua... Jika kau tidak setuju dengan keputusan pemilik perusahaan, seharusnya kau mengundurkan diri saja!" omel Sara yang akhirnya membuat semua orang terdiam.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1