
Sara keluar dari ruangan Arga. Entah mengapa Ia merasa gugup mendengar ucapan Arga yang terkesan merayu.
Sara melangkah kakinya dengan cepat takut jika Arga mengejarnya dan benar saja pria itu terlihat mengejar Sara.
"Mau ku antar?" tawar Arga.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri." balas Sara tanpa menatap Arga.
"Mana mobil jemputanmu?" Arga melihat ke sekitar tidak ada mobil berhenti atau menunggu Sara.
"Mungkin belum datang, aku akan menunggu."
"Kalau bagitu aku juga akan menemanimu." kata Arga santai berdiri disebelah Sara.
"Tidak perlu, kau pergilah. Pergi sana." usir Sara galak.
Arga tersenyum, "Kenapa kau berubah menjadi singa? Aku hanya ingin berbuat baik saja."
"Aku tidak butuh!"
Arga akhirnya diam, jika Ia terus menggoda Sara bisa bisa gadis itu malah semakin marah padanya.
Hampir 15 menit mereka berdiri didepan kantor Arga namun jemputan Sara tak kunjung datang.
"Ayolah ku antar saja." ajak Arga lagi dan kali ini terdengar memaksa.
"Tidak, aku akan menunggu sampai jemputan ku datang."
"Baiklah."
30 menit berlalu, semua karyawan Arga berhamburan untuk pulang karena memang ini sudah jam pulang.
"Tidak ada pilihan lain dan aku akan memaksa." ucap Arga menggandeng tangan Sara dan membawa Sara memasuki mobil.
"Lepaskan, jangan menyentuhku!" omel Sara yang kini sudah berada didalam mobil.
"Baiklah baiklah, tidak akan lagi." kata Arga dan Sara mendengus sebal.
Arga mulai melajukan mobilnya, "Kerumah atau kantor?"
"Kantor."
"Bukankah ini sudah jam pulang?" heran Arga.
"Pemilik perusahaan tidak akan pulang tepat waktu."
"Oh baiklah baiklah." Arga kembali menyerah.
Sampai dikantor Wira, Arga ingin ikut keluar namun Sara melototi dirinya, "Untuk apa kau keluar?"
"Tentu saja mengantarmu sampai dalam."
__ADS_1
"Tidak perlu!"
Arga berdecak, "Ada apa denganmu? Aku hanya ingin bersikap baik."
"Ku bilang tidak perlu!" omel Sara lagi dan Arga kembali menyerah.
"Baiklah, nanti pulang ku jemput."
Sara kembali melototi Arga, "Tidak, aku bisa pulang sendiri!"
"Terserah." Arga akhirnya tidak bisa bersabar lagi.
Sara keluar dari mobil dan Arga masih memandangi punggung Sara hingga tak terlihat lagi.
"Aku semakin tak sabar ingin menikahimu." gumam Arga tersenyum tipis lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan kantor Wira
Sementara Sara sudah berada diruangannya, Ia duduk di kursi lalu meneguk sebotol air mineral yang ada dimejanya.
"Gila, ada apa dengan pria itu!" omel Sara lalu kembali meneguk air mineralnya.
Ponsel Sara yang masih ada didalam tas berdering, Sara mengambil ponselnya dan melihat pengacaranya menghubungi dirinya, "Besok sidang pertama?" tanya Sara pada pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Ken.
"Baik, lakukan saja tanpa aku. Aku tidak akan datang dan pastikan kau segera membawa akta cerainya untuk ku." kata Sara lalu mengakhiri panggilan.
Sara menghela nafas panjang, Faris benar jika Ia berada dikantor setidaknya tidak membuat dirinya mengingat kenangan bersama Ken lagi. Sejenak Sara bisa melupakan rasa sakitnya meskipun kini Ia dibuat kesal oleh tingkah konyol Arga.
Sara meletakan ponselnya dimeja lalu kembali meneguk air mineralnya hingga habis.
Dikantor lain, Dylan masih sibuk belajar menjadi pengganti Ken sebagai Ceo lapangan kantornya Wira. Sedikit sulit dan membuatnya pusing namun Dylan harus melakukan ini dengan baik agar kehidupannya bisa berubah lebih baik apalagi Ia memiliki rencana untuk menikahi Rani, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan Dylan merasa ini akan menjadi jalan agar perekonomian dirinya tidak ada masalah.
"Masih belum selesai sayang, apa kau mau menungguku hingga selesai?"
Rani mengangguk, "Tentu saja aku akan menunggu, aku juga sudah membuatkan kopi untukmu."
Dylan tersenyum manis dengan perhatian Rani, "Terima kasih sayang, kau memang yang terbaik."
Dylan kembali melajutkan pekerjaannya sedangkan Rani hanya menonton saja karena pekerjaan Rani sudah selesai.
"Apa sulit dan membuatmu pusing?"
Dylan mengangguk, "Sedikit tapi aku yakin bisa mengatasinya." balas Dylan membuat Rani tersenyum melihat semangat Dylan.
"Jika gajiku naik, segalanya akan menjadi mudah." ucap Dylan setelah pekerjaannya selesai.
"Tentang apa?" tanya Rani tak paham maksud Dylan.
Dylan tersenyum, "Nanti kau juga akan tahu sayang."
Rani berdecak, "Jangan membuatku penasaran."
Dylan masih tersenyum dan merangkul pundak istrinya, "Belum waktunya, sekarang aku akan mengantarmu pulang sekaligus aku akan menemui Tuan Wira." kata Dylan yang akhirnya hanya diangguki oleh Rani.
__ADS_1
Dylan dan Rani baru saja sampai rumah dan belum ada mobil yang terparkir disana menandakan jika Faris dan Sara belum pulang.
"Kau sudah pulang?" tanya Vanes yang sedang menyirami bunga ditaman depan rumah.
"Ya Mbak... Apa Pak Wira sedang istirahat?" tanya Rani.
"Tidak, Papa sedang duduk ditaman belakang, ada apa mencari Papa?"
"Mas Ken minta Mas Dylan buat ketemu sama Pak Wira mbak."
Vanes berohh ria, "Jadi jabatan Ken diberikan oleh kekasihmu?"
Dylan yang ada disebelah Rani mengangguk malu, "Baiklah, aku akan mengantarmu menemui Papa dan Rani bisa pergi mandi." kata Vanes meletakan selang lalu berjalan memasuki rumah di ikuti Dylan.
"Papa ada tamu." ucap Vanes pada Wira yang kini duduk digazebo yang ada ditaman belakang.
"Bukankah kamu..."
"Nama saya Dylan Pak, pengganti Pak Ken."
"Ah iya aku tahu, kau juga kekasihnya Rani kan?" tebak Wira akhirnya ingat.
"Benar sekali pak, saya kesini karena Pak Ken meminta saya untuk datang."
"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan bicara banyak. Jika Ken memilihmu itu artinya Ken percaya padamu. Lakukan pekerjaan sebaik mungkin dan jangan mengecewakan orang orang yang sudah memberikan kepercayaan padamu." kata Wira yang langsung diangguki oleh Dylan.
"Baik Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin."
Wira mengangguk, "Kau tidak perlu takut atau sungkan, jika ada sesuatu yang mungkin membuatmu bingung tanyakan saja pada Faris dan Sara."
"Baik Pak."
Selesai berbicara dengan Wira, Dylan kembali masuk kerumah. Kini Ia sudah berada diruang tamu dimana Rani menunggunya disana.
"Kau berkeringat, apa kau gugup?" ejek Rani.
Dylan mengangguk, mengakui jika Ia gugup bertemu dengan Pak Wira, "Tentu saja aku gugup, dia bos besar diperusahaan."
"Aku setiap hari bertemu dengannya tapi tidak gugup." ejek Rani lagi.
Dylan berdecak, Ia gemas mendengar ucapan Rani dan rasanya ingin mengigit bibir gadis itu jika saja Ia bisa namun Dylan sadar masih belum waktunya Ia melakukan itu.
"Lihat saja mulai besok aku yang akan membuatmu gugup setiap hari." ancam Dylan.
"Kau tidak akan bisa." balas Rani lalu mengulurkan secangkir coklat hangat untuk Dylan.
"Coklat hangat bisa menghilangkan rasa gugup dan takut."
"Benarkah? Bagaimana dengan ini?" Dylan menyentuh bibir Rani menggunakan jempolnya membuat Rani terkejut dan jantungnya berdegup kencang.
"Apa kau gugup?" ejek Dylan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa