
Herman mendapatkan kabar dari Arga jika Wira dan Sri akan kembali ke kota malam ini. Herman tentu saja tidak menyianyiakan kesempatan ini. Sedari pagi Ia sudah sibuk mencari baju bagus untuk kerumah Wira malam ini. Niatnya Herman ingin menyambut kedatangan Wira serta bertemu wanita pujaan hatinya Asih.
Sudah 2 hari Ia tak melihat Asih, entah mengapa rasanya ada yang kurang. Jika Herman datang kerumah Wira tanpa ada Wira tentu saja Ia akan sungkan, Ia masih belum berani terang terangan mendekati Asih.
Dan malam pun tiba, Herman langsung naik ke mobil Arga meskipun Arga tidak mengajaknya pergi.
"Ayah mau ketemu siapa sih ganteng amat." goda Sara sambil tertawa geli.
"Masih keliatan ganteng kan Ayah?" bukannya malu, Herman malah semangat mendengar godaan Sara.
"Iya masih ganteng kok Yah, mas Arga saja kalah." tambah Sara membuat Herman semakin senang.
"Oh gitu ya gitu ya!" omel Arga memanyunkan bibirnya.
Sara hanya tertawa melihat kelakuan Ayah dan Anak yang sama sama kekanakan.
Ketiganya sampai dirumah Wira lebih awal sebelum Wira datang.
Arga dan Faris merampungkan dekorasi kamar yang akan dipakai oleh Arka sementara para wanita pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Herman duduk diruang tamu tak berapa lama Asih datang dengan membawa secangkir teh juga pisang goreng untuknya.
Herman tentu saja senang akhirnya bisa melihat wanita pujaannya.
"Eh duduk disini saja." pinta Herman pada Asih, "Kita ini sudah tua biarkan anak anak yang bekerja." tambah Herman.
Baru ingin menolak Herman, Sara malah datang dan langsung meminta Asih untuk duduk, "Bener banget kata Ayah, harusnya Bu Asih duduk disini saja, urusan dapur biar diselesaikan Bik Tri." kata Sara, "Sara, Vanes sama Rani mau siapin kamar Papa dulu." tambah Sara lalu pergi begitu saja meninggalkan Herman dan Asih.
Dengan sangat terpaksa, Asih akhirnya duduk disamping Herman menemani Herman minum teh.
Baru ingin mengajak Asih ngobrol, klakson mobil terdengar yang menandakan jika Wira sudah datang.
Arga dan Faris langsung turun ke bawah di ikuti Vanes, Sara dan Rani yang juga ikut keluar.
Arga sempat melirik ke arah Ayahnya lalu tertawa kecil, "Dasar!" gumam Arga pelan lalu kembali berlari keluar.
"Itu Pak Wira sudah datang sepertinya kita juga harus keluar." ajak Asih namun langsung ditolak oleh Herman.
"Tidak perlu, kita menunggu disini saja sebentar lagi juga masuk orangnya." kata Herman yang akhirnya diangguki oleh Asih.
Faris dan Arka masuk lebih dulu keduanya langsung naik ke atas kamar baru Arka lalu disusul Sara, Vanes, Rani juga Arga dan terakhir Wira dan Sri.
Wira tampak terkejut melihat Herman duduk di ruang tamunya bersama Asih.
"Loh siapa ini?" suara usil Wira terdengar membuat Herman berdecak kesal karena Ia sudah tahu jika Wira pasti akan mengerjainya.
__ADS_1
"Selamat datang dirumah kembali pak." sapa Asih dengan suara lembut.
"Terima kasih Bu Asih, saya senang melihat Bu Asih disini karena adanya Bu Asih membuat banyak orang bahagia termasuk..." Wira tak melanjutkan ucapannya, Ia menatap ke arah Herman yang tengah melototinya.
Asih mengerutkan keningnya tak mengerti maksud Wira.
"Sudahlah Mas, jangan menganggu mereka." bisik Sri seolah tahu apa yang di inginkan oleh Herman melihat tatapan mata Herman kepada Asih.
Wira tertawa, "Kalau begitu lanjutkan dulu obrolannya, saya mau melihat kamar pengantin bersama istri saya." kata Wira dengan nada mengejek ke arah Herman.
"Sialan!" desis Herman dengan suara pelan.
Kini Herman kembali berdua bersama Asih.
Baru ingin mengajak Asih mengobrol, lagi lagi datang gangguan, Faris turun bersama Arka dan langsung duduk disamping Asih.
"Ke meja makan yuk Bu, kayaknya udah pada siap buat makan malam." ajak Faris yang langsung diangguki Asih.
"Ayo Om kita makan malam dulu." Faris tak lupa mengajak Herman.
Karena kesal, Herman tak menjawab hanya mengangguk saja.
Semua orang akhirnya berkumpul di meja makan untuk makan malam, "Gimana Arka suka sama kamarnya kan?" tanya Sara yang langsung diangguki oleh Arka.
"Syukur deh kalau suka, tadi yang dekor kamar Mas Faris sama Mas Arga." tambah Vanes.
"Makasih Mas." ucap Arka sambil menatap Faris dan Arka bergantian. Arka terlihat masih sungkan.
"Sekolah barunya Arka sudah siap?" tanya Wira yang langsung diangguki Faris.
"Sudah kok Pa, biar besok aku sama Vanes yang nganterin Arka." kata Faris.
"Sendiri juga nggak apa apa mas." balas Arka.
"Nanti kamu malah kesasar, biar dianterin sama mereka." tambah Sara yang akhirnya membuat Arka mengangguk setuju.
Wira tersenyum bahagia dan lega melihat putri dan putra sambungnya sangat akur seperti ini.
"Rani gimana sama kamu? Sudah memikirkan untuk menikah?" tanya Wira tiba tiba.
Rani sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan lama lama, bukankah Dylan juga sudah serius?" tanya Wira lagi yang langsung menambah kesedihan Rani.
"Pa... Aku sama Mas Arga saja belum resepsi, Papa udah mikirin nikahnya Rani." ucap Sara membela Rani karena tahu jika Rani masih terhalang restu.
__ADS_1
"Sara benar Pa... Sebaiknya kita pikirin resepsi pernikahan Papa sama Sara dulu saja." tambah Faris.
"Dari pada Papa sibuk mikirin Rani yang belum siap menikah lebih baik Papa pikirkan besti Papa yang juga ngebet mau nikah tuh." celetuk Arga yang langsung membuat mata Herman melotot dan mengijak kaki Arga.
"Aduh, sakit Yah!" omel Arga pada Herman.
"Maaf, Ayah nggak sengaja." kata Herman tanpa merasa bersalah.
Wira tertawa, "Besti yang mana nih?"
"Itu tuh." Arga melirik ke arah Herman.
"Udah ada calon nya Om?" tanya Faris.
Herman berdecak, Ia merasa dikerjai oleh Arga dan Wira.
"Belum ada, kamu mau nyariin?" tanya Herman.
Faris tertawa, "Nggak ah Om lagian dikantor banyak cewek cantik pastilah mau sama Om Herman."
"Ayah sukanya sama yang seumuran." tambah Arga yang lagi lagi kakinya di injak oleh Herman membuat suara mengaduh Arga lebih keras.
"Sakit Yah!" omel Arga lagi.
"Makanya kamu tuh jangan usil Mas!" Sara malah mengomeli Arga.
"Sudah sudah, kalau mau nanti biar aku yang carikan." kata Wira melerai perdebatan.
"Papa sudah ada pandangan calon nya?" tanya Vanes penasaran.
"Ada tapi nggak tahu mau apa enggak soalnya Herman sudah tua." ejek Wira.
"Sialan." desis Herman lagi lagi dengan suara pelan karena takut Asih mendengar.
Selesai makan malam bersama Wira mengajak Herman pergi ke taman belakang untuk mengobrol berdua.
"Jatuh cinta beneran?" tanya Wira kembali menggoda Herman.
"Gue juga nggak nyangka, pesonanya luar biasa." ungkap Herman.
Wira tertawa renyah.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1