TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
89


__ADS_3

Wira menunda meetingnya pagi ini karena Ia kedatangan tamu spesial. Ya tamu yang Ia harapkan akan segera menemuinya pun akhirnya datang.


"Apa saya menganggu kesibukan Tuan?" tanya Faris dengan sopan.


"Jangan memanggilku Tuan karena kau bukan anak buahku." ucap Wira lalu menatap ke arah Ken yang masih berdiri disana. Wira memberikan lirikan yang menandakan Ken harus keluar sekarang.


Ken tampak paham meskipun sedikit kecewa namun akhirnya Ia menurut, keluar dari ruangan Wira.


"Panggil aku Papa, aku merasa kau datang membawa kabar baik untuk ku." ucap Wira dengan senyuman lebar.


"Yang pertama saya kesini membawa kabar buruk dan yang kedua mungkin kabar baik."


Wira mengerutkan keningnya, "Katakan apa kabar buruknya?"


"Bapak saya meninggal."


Wira tampak terkejut, "Sial, kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang ini!" omel Wira.


"Tidak apa apa Tuan, sudah berlalu seminggu. Semua baik baik saja."


Wira mengangguk, "Aku turut berduka cita, maaf aku tidak datang karena aku benar benar tidak tahu."


Faris tersenyum, "Saya bisa mengerti. Sebelum Bapak saya meninggal, beliau memberikan saya buku tabungan dimana ada nominal uang yang cukup lumayan. Bapak ingin saya menggunakan uang itu untuk menikahi Vanes tapi saya menolak."jelas Faris.


"Karena kau ingin berusaha sendiri jadi kau menolak uang Ayahmu?" tebak Wira.


Faris mengangguk, "Benar Tuan, saya hanya tidak ingin merepotkan orangtua namun sepertinya sekarang saya berubah pikiran."


"Saya akan menggunakan uang itu untuk menikahi Vanes karena itu wasiat terakhir Bapak saya dan saya minta maaf karena pernah mengatakan ingin berusaha sendiri namun kenyataannya saya berubah pikiran." ucap Faris mengakhiri penjelasannya dengan raut wajah sedih.


Wira menghela nafas panjang, "Jadi kabar baiknya kau akan menikahi putriku?"


Faris mengangguk, "Benar Pak, jika Anda merestui saya akan segera melamarnya."


Wira tersenyum, ada perasaan senang pada Faris namun sedikit ragu juga. Wira senang karena Faris pria baik dan bertanggung jawab bahkan Faris jujur dalam segala keadaannya namun Ia juga ragu, jika Faris jadi menantunya, Wira tak yakin Faris mau menggantikan posisinya sebagai pemilik perusahaan melihat kegigihan Faris yang tak mau merepotkan orangtua menandakan jika Faris bukan penikmat harta warisan orangtua.


"Entah aku harus senang atau sedih." ucap Wira membuat Faris terkejut.


Faris pikir Wira akan langsung menyetujui, memberi restu namun tatapan Wira menandakan jika Wira ragu saat ini.

__ADS_1


"Aku senang karena akhirnya putriku mendapatkan pria baik sepertimu tapi aku jadi ragu akan sesuatu."


"Apa yang membuat Anda ragu pak? Apa karena saya menikahi Vanes menggunakan uang orangtua?" tanya Faris yang langsung disambut tawa oleh Wira.


"Bukan karena itu, aku bahkan tidak peduli dengan uang mahar atau apapun asal kau bisa membuat putriku bahagia. Aku hanya ingin mencari menantu yang bisa menggantikan posisiku untuk mengurus perusahaan." ucap Wira yang langsung membuat wajah Faris pucat.


Wira kembali tertawa, "Kenapa wajahmu langsung pucat seperti itu, apa aku menakutkan?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu pak, saya ingin menolak keinginan Bapak hanya saja saya tidak tahu bagaimana cara saya menolak."


Wira tersenyum, "Aku sudah bisa menebak kau akan menolak." ucapnya lalu menghela nafas panjang, "Jika memang seperti itu, aku tidak bisa berbuat apapun selain menuruti keinginanmu."


Faris langsung terlihat lega, "Jadi lamaran saya diterima Tuan?"


"Hmmm aku masih belum yakin."


Wajah Faris kembali pucat, "Anda akan menolak lamaran saya Tuan?"


Wira tertawa, "Tentu saja tidak, aku hanya menggodamu." ucap Wira yang langsung membuat Faris bernafas lega sekaligus ikut tertawa bersama Wira.


"Aku harap kau bisa menyegerakan keinginanmu itu, jangan menundanya. Aku benar benar sudah ingin mengendong cucu."


Faris kembali tersenyum, "Saya akan melamar Vanes sepulang dari sini." ungkap Faris yang langsung diangguki setuju oleh Wira.


Faris tak langsung pulang ke kampung, Ia menyempatkan ke makam Rizal lalu ke lapas untuk bertemu dengan Tantri.


Faris tengah duduk didalam ruang tunggu tak berapa lama Ia melihat Tantri keluar dengan tangan diborgol dan wajah datar menatapnya.


"Budhe apa kabar?" tanya Faris menyodorkan sebungkus sate kesukaan Tantri.


"Ternyata bukan Wira yang membunuh Rizal, bukan Wira." ucap Tantri dengan tatapan mata nanar.


"Ya, Faris juga sudah tahu. Pria itu namanya Nathan, dia suami dari mantan simpanan mas Rizal." jelas Faris.


Tantri meneteskan air matanya, "Aku sudah tidak punya siapapun lagi."


"Budhe masih punya Faris dan ibu."


Tantri tersenyum sinis, "Kalian hanya akan menghina ku."

__ADS_1


Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak Budhe, kita ini keluarga. Kita bisa saling menyayanggi satu sama lain."


Tantri menghentikan tangisnya, "Jika seperti itu, aku ingin kau membebaskan ku dari sini." pinta Tantri yang seketika membuat Faris terdiam.


"Kau tidak bisa kan?" Tantri tersenyum sinis, "Kau hanya membual, kau bukan keluargaku!"


"Budhe, Bapak sudah meninggal."


Tantri malah tertawa, "Bapakmu meninggal? Hahahaha akhirnya kau jadi anak yatim sekarang."


Deg... Jantung Faris serasa berhenti berdetak saat melihat respon Tantri yang tak sesuai dengan harapannya.


"Lain kali datanglah jika kau bisa membebaskanku namun jika hanya memberikan informasi tak penting seperti ini sebaiknya jangan datang lagi." ucap Tantri lalu beranjak dari duduknya.


Tantri mengambil sebungkus sate yang dibeli oleh Faris lalu dibuang ke lantai, "Aku sudah tidak suka makanan orang miskin seperti itu. Jika kau ingin membelikanku seharusnya steak atau burger." ucap Tantri lalu keluar dari ruangan itu.


Faris hanya bisa menghela nafas panjang, Ia tak menyangka Budhenya itu banyak berubah.


Setelah dari lapas, Faris kembali melajukan motornya untuk pulang kerumah. Tidak ada lagi yang Ia temui dikota jadi Faris memutuskan untuk pulang.


Sebelum itu Faris melewati toko perhiasan, Ia pun mampir untuk membelikan Vanes cincin yang akan Ia gunakan melamar Vanes.


"Mau berapa gram mas?" tanya si pelayan toko saat Faris melihat cincin ring untuk pernikahan.


"3 gram mbak ukuran 14."


Pelayan itu memberikan salah satu cincin yang bagus dan entah mengapa Faris langsung menyukai cincin itu.


Setelah membayar, Faris memasukan kotak kecil berisi cincin itu ke dalam kantong jaketnya.


Faris kembali melanjutkan perjalanan hingga Ia menghentikan motornya mendadak saat melintasi jalanan sepi dan ada pengendara motor yang menghentikan motornya ditengah jalan.


Pengendara motor pria berbadan tegap itu turun dari motor dan menatap Faris, sayanganya dia mengenakan masker jadi Faris tak mengenali siapa pria itu.


Tanpa basa basi, pria berbadan tegap itu langsung menghajar Faris.


Faris yang belum siap akhirnya terjungkal jatuh ke bawah.


Saat pria itu ingin memukul lagi, Faris menangkisnya dan menendang ******** si pria, "Siapa kau!" sentak Faris pada pria berbadan tegap yang kini meringgis kesakitan.

__ADS_1


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2