
Vanes kembali masuk setelah memberikan kotak bekal berisi roti goreng yang Ia buat pagi tadi. Vanes memang sengaja membuat roti itu untuk Faris sebagai tanda terimakasih karena sudah menemaninya semalam dan siapa sangka pagi tadi Tantri, Ibu mertuanya malah datang kerumah.
Vanes terpaksa kembali berbohong jika Rizal sudah berangkat dan untuk kotak bekalnya, lagi lagi Vanes berbohong pada Ibu mertuanya. Vanes mengatakan jika Ia menitipkan kotak bekal untuk Rizal padahal Ia memberikan pada Faris.
Sementara dikantor, Faris baru saja keluar dari mobil. Ia terlihat sumringah meskipun terlambat berangkat ke kantor.
Saat Ia berjalan menuju ruangannya, Faris berpapasan dengan Rizal.
"Baru berangkat Ris?" tanya Rizal melihat ke arah jam dan ini sudah terlewat 1 jam setelah jam masuk kantor.
"Maaf mas, semalam Pak Wira datang kerumah dan-"
Ucapan Faris terpotong karena Rizal sangat terkejut, "Kenapa kamu nggak telepon aku, harusnya kamu telepon aku jadi aku langsung pulang." kata Rizal terlihat panik.
"Santai Mas, Mbak Vanes bilang ke Pak Rizal kalau Mas masih lembur dan Pak Rizal langsung pulang." jelas Faris membuat Rizal langsung lega.
"Trus alasan kamu terlambat kenapa?"
"Tadi pagi mau berangkat, Budhe Tantri datang trus-"
"Mamaku datang? Gila trus gimana? Mama curiga nggak kalau aku nggak pulang?" potong Rizal lagi.
Faris menghela nafas panjang, kesal menatap Rizal yang takut perselingkuhannya terbongkar namun masih saja melajutkan berselingkuh.
"Mbak Vanes bilang sama Budhe kalau Mas berangkat subuh."
Rizal kembali terlihat lega, "Mbak Vanes sudah nyelametin mas 2kali, mungkin kalau mbak Vanes jujur, semalam udah ribut gede mas." kata Faris berharap Rizal sadar akan kesalahannya namun bukannya berterimakasih pada Vanes, Rizal malah mengatakan sesuatu yang membuat Faris kesal,
"Lah itu kan udah kewajiban istri menjaga aib suami." kata Rizal dengan santainya.
Rasanya Faris ingin membogem mulut Rizal saat ini juga, jika saja Rizal bukan bosnya mungkin Faris sudah melakukannya.
"Itu apa Ris?" tanya Rizal melihat kotak makanan yang dibawa oleh Faris.
"Bekal mas."
"Buat aku ya? Kok tumben dikit biasanya bawa rantang?" heran Rizal mengingat Ia pernah memberitahu Vanes jika ingin membawakan makanan harus 2 porsi dan semenjak itu, Vanes membawakan bekal dirantang agar cukup 2 orang.
"Ini buat aku kok mas," kata Faris lalu pergi melewati Rizal begitu saja.
Rizal melongo tak percaya, ini kali pertamanya Vanes tidak mengirimi bekal untuknya padahal Faris membawa bekal.
__ADS_1
"Ada apa dengan Vanes? Benar benar menyebalkan!" umpat Rizal kembali memasuki ruangannya.
"Kita cari sarapan diluar." ajak Rizal.
Mira mengerutkan keningnya, "Ada apa? Apa istrimu tidak membawakan bekal untuk kita?"
Rizal menggelengkan kepalanya,
Mira menghela nafas panjang, "Apa yang dilakukan istrimu dirumah? Dia tidak bekerja dan hanya menghabiskan uangmu, sekarang dia bahkan tidak membawakan makanan untuk kita?"
"Sudahlah, aku tahu kau sudah kelaparan karena menunggu sedari tadi jadi sebaiknya kita keluar sekarang." ajak Rizal tak mau mendengarkan omelan Mira.
Keduanya keluar dari kantor untuk mencari sarapan dengan perasaan kesal karena mereka sudah menunggu bekal sedari tadi namun berakhir zonk.
Sementara diruangan lain, Faris tampak menikmati roti goreng buatan Vanes yang rasanya sangat enak.
"Wah sepertinya enak," celetuk Nisa ingin memgambil 1 roti namun tangannya langsung dipukul oleh Faris.
"Nggak boleh ambil Nis!"
"Ya ampun pak, jangan pelit dong."
Faris tersenyum, Ia merasa senang karena Vanes membuatkan ini spesial untuknya. Faris berpikiran seperti ini bukan tanpa sebab. Hanya dirinya yang dibawakan bekal cemilan sementara Rizal tidak.
Tanpa sadar, Nisa mencomot 1 buah roti goreng dan memuji hal yang sama, "Rasanya enak pak, Bapak bikin sendiri?"
Melihat Nisa berhasil mengambil 1 roti goreng membuat Faris langsung menutup kotak bekalnya.
"Bapak pelit banget deh!" omel Nisa namun Faris tak mengubris dan malah kembali sibuk bekerja.
Jam bekerja sudah usai, malam ini Rizal tidak lagi menginap dikantor. Rizal tampak ikut pulang bersama Faris padahal Faris berharap Rizal tak pulang agar Ia bisa berduaan lagi dengan Vanes namun Rizal malah pulang.
Saat didalam mobil, keduanya lebih banyak diam. Rizal terlihat masih kesal dengan Faris karena masalah bekal tadi pagi.
Sampai dirumah, tak ada sambutan pulang dari Vanes. Gadis itu malah asyik duduk diruang tengah menonton televisi. Saat melihat Rizal pulang barulah Vanes beranjak dan segera mempersiapkan makan malam dimeja makan.
Rizal, Vanes dan Faris bersiap untuk makan malam bersama. Tidak ada obrolan hangat diantara mereka. Hanya saling diam dan fokus menikmati makan malam mereka.
Saat sudah selesai, Faris tampak membantu Bik Sri membersihkan meja makan.
"Mbak, makasih ya roti gorengnya enak." bisik Faris saat Vanes mengambil air mineral, takut Rizal mendengar.
__ADS_1
Vanes mengangguk, tersenyum menatap Faris sebentar lalu berbalik dan pergi.
Vanes naik ke atas, Ia ingin segera tidur malam ini. Saat sudah sampai atas, Vanes terkejut melihat Rizal berdiri didepan kamarnya.
"Ada apa?" tanya Vanes dengan suara malas.
"Kenapa tadi pagi tidak membawakan bekal?"
"Aku kesiangan jadi tidak sempat."
Rizal tersenyum sinis, "Kesiangan tapi bisa bikinin bekal buat Faris?" protes Rizal.
Vanes berdecak, "Apa masalahnya? Dia membantuku untuk berbohong pada Ayah dan Mama jadi aku hanya ingin berterima kasih. Seharusnya kau juga berterima kasih padanya karena Faris mau berbohong agar orangtua kita tidak mengetahui perselingkuhanmu!" omel Vanes lalu menggeser Rizal dan melewatinya tanpa menunggu jawaban dari Rizal.
"Ken kenapa dia sekarang berani mengomeliku? Sebelumnya dia tidak berani berbicara padaku." Rizal merasa terkejut dengan perubahan sikap Vanes.
Ia ingin masuk ke kamar Vanes namun karena pintunya terkunci akhirnya Ia mengetuk pintu kamar Vanes.
"Apa lagi?" tanya Vanes galak.
"Apa yang terjadi padamu? Apa kau jatuh dan membentur sesuatu?"
Vanes mengerutkan keningnya heran, "Apa maksudmu? Kau berharap aku jatuh dan membentur sesuatu? apa kau berniat mencelakaiku?" sewot Vanes dengan mata melotot tak terima.
"Bu bukan itu maksudku, aku hanya penasaran kenapa sekarang kau berani berbicara galak padaku, siapa yang mengajarimu seperti ini?"
Vanes menghela nafas panjang, "Jika kau hanya ingin membicarakan hal yang tidak penting, aku akan menutup pintunya." Ucap Vanes lalu segera menutup pintunya.
Rizal benar benar dibuat keheranan dengan perubahan sikap Vanes.
"Aku benar benar penasaran siapa yang sudah membuatnya jadi seperti itu."
Rizal turun ke bawah dan mencari Faris, "Ada apa mas?"
"Apa kamu yang mempengaruhi Vanes biar berani ngelawan aku?"
Faris mengerutkan keningnya, "Aku nggak ngerti maksud mas Rizal apa."
Rizal menatap Faris, mencari kebohongan Faris namun Ia tak melihat Faris berbohong.
Mungkin memang Vanes yang sudah berubah.
__ADS_1
Bersambung...