TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
169


__ADS_3

Dylan dan Rani menatap Sara dengan tatapan penuh goda sambil menahan senyum geli seolah meledek Sara.


Setelah berkenalan dengan Arga, Rani dan Dylan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Sara masih berdiri ditempatnya, menatap Arga penuh protes.


"Bisa bisanya kamu bilang gitu ke mereka!" omel Sara.


"Trus aku harus bilang apa? Aku salah lagi? Aku memang selalu salah dimata kamu!" ucap Arga dengan raut wajah sedih.


"Bukan gitu tapi... Ah sudahlah. Susah ngomong sama kamu." ucap Sara berjalan meninggalkan Arga memasuki mobil Arga.


Arga tersenyum lebar lalu ikut masuk ke mobil.


"Tahu gitu kemarin mobilku nggak aku tinggal dikantor!" omel Sara lagi.


"Kenapa? Bukannya enak dijemput sama aku?"


"Udahlah, nggak usah banyak drama, nggak usah banyak omong!" omel Sara lagi.


"Oke oke, aku nggak akan ngomong lagi tapi sekarang jawab aku, kenapa semalam aku ditinggal padahal belum selesai makan?"


"Nggak apa apa, aku cuma males."


"Ck, kalau sama calon suaminya nggak boleh gitulah." celetuk Arga membuat Sara geram saja.


"Gila ya kamu, bisa bisanya kamu lamar aku padahal aku baru saja selesai cerai dari suami aku!" ucap Sara akhirnya meluapkan kekesalannya.


"Aku emang gila, tapi gimana lagi aku udah terlanjur sayang sama kamu." ucap Arga dengan santainya.


Sara menggelengkan kepalanya tak percaya, Rasanya percuma bicara dengan Arga yang sama sekali tak mengerti dirinya.


Keduanya sama sama diam hingga Mereka sampai dikantor Sara, "Aku tahu mungkin ini terlalu cepat tapi kamu harus percaya sama aku kalau aku serius sama kamu dalam hal ini. Aku nggak main main Sara. Aku bener bener mau nikah sama kamu dan menyembuhkan luka hati kamu." ungkap Arga yang entah mengapa membuat Sara gugup dan tak tahu harus menjawab apa.


Sara keluar dari mobil tanpa menjawab ucapan Arga dan Arga yang masih ada didalam mobil bersorak gembira, merasa berhasil meluluhkan hati Sara.


Semetara itu dikampung halaman...


Faris dan Vanes bersiap untuk pulang ke kota setelah menginap semalam.


"Kapan kapan kalian nginepnya seminggu jangan cuma sehari." ucap Asih seolah masih tak rela melihat Faris dan Vanes pulang ke kota.


"Trus kapan Ibu mau nginep ditempatnya Faris sama Vanes?" tanya Faris.


"Nanti kalau Vanes sudah lahiran, Ibu ke kota dan nginep disana."


"Masih lama Bu." protes Faris dan Asih hanya tertawa.


Baru akan masuk ke mobil, suara Siti terdengar memanggil Faris.

__ADS_1


"Kamu pulang kok nggak ngajak Rani?" tanya Siti yang tak lain adalah Ibu Rani.


"Paling besok minggu Rani pulang Bulek." balas Faris yang langsung membuat Siti senang.


"Udah kangen nih sama Rani, padahal baru beberapa bulan ditinggal." ucap Siti


"Lah bukannya udah biasa ditinggal ya Bulek?"


"Iya tapi tetep aja kangen sama anak midok kesayangan." ungkap Siti.


"Kalau Rani pulang nggak bawa uang, masih dikangenin nggak bulek?" goda Faris.


Raut wajah Siti berubah kesal, "Kamu pikir bulek mata duitan!''


Faris tertawa, "Bercanda Bulek, gitu aja marah."


"Ya sudah Bulek kami balik ke kota dulu ya, Assalamualaikum." pamit Vanes tak ingin membuat Siti semakin marah.


"Wa alaikum salam!" jawaban Siti masih terdengar ketus.


"Mas kalau bercanda jangan gitu lah, Bulek tersinggung banget kayaknya." ucap Vanes mengingatkan.


"Iya maaf deh." balas Faris mulai melajukan mobilnya.


"Harusnya minta maaf sama Bulek mas bukan sama aku."


"Iya iya nanti telepon bulek buat minta maaf." kata Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.


"Non Vanes mau makan siang sama apa? Biar bibik masakin." tanya Bik Sri yang sangat antusias mengingat Vanes hamil.


"Mau yang kuah kuah deh bik."


"Apa non? Sop apa opor ayam?"


"Opor ayam aja deh Bik." pinta Vanes, "Sama tolong bikinin sambel rujak ya Bik." tambah Vanes.


"Mau rujakan Non?" Bik Sri tersenyum geli.


"Iya nih Bik, pohon mangga dibelakang ada buahnya, nanti minta Mas Faris buat ngambilin." ucap Vanes.


"Duh yang lagi ngidam." goda Bik Sri yang hanya membuat Vanes tersenyum.


Vanes pergi menghampiri Faris yang sedang mengobrol dengan Wira, Ia langsung bergelayut manja dilengan suaminya.


"Mas... Boleh minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa sayang?"


"Ambilin buah mangga dikebun belakang dong." pinta Vanes dengan suara manja. "Mau rujakan mangga muda." pinta Vanes lagi.

__ADS_1


Faris tersenyum, "Ngidam nih sayang aku." Faris mengelus kepala Vanes lalu mencium keningnya.


"Mangganya belum mateng kan?" Wira ikut menimpali.


"Belum Pa... pakenya mangga muda kan namanya rujak." ucap Vanes.


Faris beranjak dari duduknya, pergi ke taman belakang dan segera memajat pohon mangga. Beruntung Ia dari desa jadi tidak kesusahan memanjat pohon karena Ia sudah terbiasa memanjat pohon.


Satu... Dua... Tiga buah mangga berhasil Faris petik.


Faris membawa 3 mangga muda itu turun ke bawah.


"Sambelnya sudah siap Non." ucap Bik Sri yang juga sudah membawa semangkuk sambel rujak yang sangat menggiurkan.


Bik Sri membantu Vanes mengupas mangga. Vanes yang tak sabar mencicipi sedikit mangga dengan sambelnya dan Ia sangat suka.


"Asem Bik tapi enak." ucap Vanes sambil terus mengunyah mangga hingga tanpa disadari Vanes sudah makan 2 buah mangga muda.


"Kamu nggak mau mas?" Vanes menawarkan pada Faris namun langsung digelenggi oleh Faris.


"Nggak suka asem."


"Papa juga nggak mau?" Vanes bergantian menawarkan pada Wira namun sama saja, Wira menggelengkan kepalanya.


"Enggak, kamu aja tapi jangan banyak banyak nanti perut kamu sakit." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Vanes.


Vanes menghabiskan semua mangga yang dipetik oleh Faris. Ia merasa perutnya kenyang.


"Opornya sudah matang Non." ucap Bik Sri yang baru selesai memasak opor.


"Duh kenyang Bik." keluh Vanes memperlihatkan perutnya.


"Aku ambilin makan ya?" tawar Faris.


"Kenyang banget mas, nggak sanggup habisin." keluh Vanes.


"Dikit aja sayang." bujuk Faris.


Vanes mengangguk, mau tak mau Ia makan karena suaminya yang meminta.


Setelah berhasil membujuk Vanes, Faris segera masuk untuk mengambilkan Vanes makan siang. Faris keluar membawa sepiring nasi opor kesukaan Vanes.


"Kasih telurnya mas." pinta Vanes.


"Nggak malem nggak siang mintanya telur terus." ejek Faris membuat Vanes malu lalu menepuk bahu Faris.


Faris mulai menyuapi Vanes namun baru sesuap, Vanes merasa perutnya mual hingga mau tak mau Ia berlari ke wastafel dan memuntahkan makanan yang baru saja ditelan.


"Nggak mau makan lagi," keluh Vanes.

__ADS_1


Bik Sri menepuk bahu Vanes, "Kadang memang gitu non, yang disukai malah nggak doyan yang nggak disukai malah doyan."


Bersambung...


__ADS_2