
Arga menatap Sara tak percaya. Ia sengaja membelikan dress untuk Sara namun tak menyangka jika dress warna hitam yang Ia belikan untuk Sara sangat pas dan cocok dipakai oleh Sara.
Sara terlihat sangat cantik dan seksi menggunakan dress itu apalagi Sara juga memakai riasan, membuat Arga tak berkedip melihat Sara.
"Ini pasti bukan Sara, bukan!" Arga masih tak percaya.
"Kalau bukan Sara siapa? Setan?" Sentak Sara dengan raut wajah kesal seperti biasa.
"Setan terlalu cantik, aku merasa kamu itu bidadari yang jatuh dari langit." ucap Arga masih menatap Sara tanpa kedip.
"Dasar gila!" omel Sara.
Wira dan Vanes yang ada disana hanya bisa tertawa mendengar ucapan Arga yang terdengar sangat gombal.
"Jadi jalan nggak nih? Kalau enggak aku ganti nih bajunya, aku ganti!" ancam Sara.
"Eh ya jadi dong sayang, duh galak amat calon istri aku." celetuk Arga lalu mengenggam tangan Sara.
"Dijagain Ga, awas kalau macem macem!" ancam Vanes.
"Siap kakak ipar, bakal dijagain dan disayang. Macem macemnya nanti saja kalau sudah, ehem... sah." kata Arga sambil tersenyum tengil.
"Udah sana nanti keburu ngambek malah nggak jadi pergi." kata Wira yang akhirnya diangguki oleh Arga.
"Pergi dulu ya Om." Arga mencium punggung tangan Wira, "Da Da mbak ipar." ucap Arga sambil melambaikan tangannya ke arah Vanes.
"Ck, udah gede tapi kelakuan masih kayak bocah." gumam Vanes menatap ke arah Arga yang kini sudah memasuki mobil bersama Sara.
"Namanya juga lagi bucin, kamy sama Faris dulu juga gitu." kata Wira merangkul Vanes, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Didalam mobil, Arga mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Wira. bibirnya terus mengulas senyum karena berhasil mengajak Sara berkencan.
"Kau suka genre film apa?"
"Apapun, asal jangan horror." balas Sara.
Arga terdiam sejenak, Ia mendapatkan 1 ide yang akan membuat hubungannya dengan Sara semakin dekat. Hanya membayangkan saja sudah membuat Arga tersenyum apalagi jika Ia berhasil menjalankan idenya itu.
"Apa ada yang lucu?" heran Sara melihat Arga terus saja tersenyum.
"Tidak, aku hanya bahagia karena akhirnya kita bisa berkencan."
Sara berdecak, "Kau sudah mengatakan itu lebih dari 100 kali dalam sehari ini, aku bahkan sudah bosan mendengarnya!"
__ADS_1
"Padahal aku berharap kau senang mendengarnya." raut wajah Arga berubah sedih.
Sara menggelengkan kepalanya, lagi lagi Arga memainkan drama dengan menggunakan wajah sedihnya agar Ia tak mengomel pada Arga.
Sara memilih diam hingga akhirnya mereka sampai di bioskop.
"Tunggu disini, biar aku belikan tiketnya." ucap Arga yang langsung diangguki oleh Sara.
Sara duduk disalah satu kursi tunggu, tak berapa lama Ia melihat Arga datang membawa 2 tiket, 1 popcorn dan 2 minuman.
"Sayang sekali untuk hari ini hanya ada genre film horror." ucap Arga memberikan 1 gelas minuman untuk Sara karena Ia kesulitan membawa gelasnya.
"Kalau begitu kita pulang saja."
Arga berdecak, "Aku sudah rela mengantri untuk membeli tiket ini dan kau malah mengajak pulang? Apa kau tidak bisa sedikit saja menghargai perjuangan ku ini?"
Sara menatap raut wajah kecewa Arga dan kali ini Sara merasa Arga benar benar kecewa padanya. Sara merasa tak enak hingga Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti Arga.
"Aku sudah bilang jika aku tidak suka film horror dan kau malah membeli tiketnya, benar benar kau ini!" omel Sara sambil berjalan ke arah bioskop dimana film akan segera dimulai.
Dibelakang Sara, Arga bersorak senang karena Ia berhasil menjalankan misinya.
Film baru dimulai beberapa menit namun Sara sudah mulai tak nyaman karena di awal sudah banyak adegan horror yang membuat Sara harus menutup matanya menggunakan telapak tangan.
Arga merentangkan tangannya, "Jangan takut, aku akan memelukmu."
Sara mendengus sebal, "Tidak mau, singkirkan tanganmu dari punggungku!"
"Baiklah baiklah, jika tidak mau." Arga kembali menarik tangannya.
30 menit berlalu, pop corn ditangan Sara sudah habis dan adegan semakin horror. Sara benar benar takut hingga ada adegan yang membuat Sara terkejut hingga akhirnya Ia memeluk Arga.
Arga tersenyum puas karena rencananya berhasil dan Ia segera menyembunyikan ekspresi bahagianya itu dengan pura pura kesal, "Tadi kau menolak ku dan sekarang kau memeluk ku!"
Sara merasa malu dan melepaskan diri dari Arga, "Ini semua salahmu, kau yang memilih genre horror membuatku tak bisa menikmati filmnya." omel Sara.
Arga menarik Sara dan membawanya ke dalam pelukannya, "Diamlah, jika kau berisik semua orang yang ada disini bisa mengomelimu!"
Sara menatap ke samping kanan dan kirinya, mereka semua memang sedang menatap ke arahnya saat ini.
Sara membuang gengsinya, Ia kembali memeluk Arga agar tak merasa ketakutan lagi.
"Hangatnya pelukan janda." batin Arga tersenyum lebar, merasa senang dan puas karena berhasil mengelabui Sara.
__ADS_1
1 jam 30 menit terlewati dan akhirnya film selesai ditayangkan.
Sara tampak bernafas lega karena akhirnya Ia bisa keluar dari bioskop sekarang.
"Aku tidak mau lagi nontom film bersamamu!" ucap Sara saat berada didalam mobil.
"Kenapa? Bukankah kau memiliki kesempatan memeluk ku saat sedang menonton film?"
Mata Sara melotot tak terima, "Aku terpaksa dan tidak punya pilihan lain!"
Arga berdecak, "Jujur saja aku juga tidak masalah."
Sara menatap Arga kali ini tatapan Sara tampak intens membuat Arga menjadi salah tingkah, "Apa aku tampan?" tanya Arga menyembunyikan salah tingkahnya.
"Tidak, aku hanya merasa kau sengaja mengajak ku nonton film horror agar aku memeluk mu kan?" tebak Sara yang memang benar.
"Tidak, mana mungkin aku seperti itu!" sangkal Arga.
"Kau benar benar tak bisa dipercaya!"
Arga malah tersenyum, "Ingin makan apa?"
"Terserah, asal jangan mengajak ku makan di hotel."
Arga tertawa, "Baiklah kalau begitu kita akan makan disini." ucap Arga menghentikan mobilnya didepan warung nasi goreng pinggir jalan.
"Disini?" Sara tampak tak yakin karena Ia belum pernah makan di pinggir jalan.
"Meskipun ini di pinggir jalan tapi rasanya sangat enak, ayo keluar." ajak Arga yang akhirnya dituruti oleh Sara.
Arga memesan makanan sedangkan Sara berdiri dibelakang Arga.
"Kita duduk disana." ucap Arga mengajak Sara duduk didalam tenda.
Sara mengangguk namun seketika Ia menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Arga yang akhirnya mengikuti sorot mata Sara dimana Sara sedang menatap ke arah 1 pria yang duduk disalah satu kursi yang ada didalam tenda.
Pria yang tak lain adalah Ken mantan suami Sara itu tersenyum menatap ke arah Sara lalu menepuk bangku sebelahnya agar Sara duduk disamping Ken.
"Kita duduk di tikar luar tenda saja." ajak Arga menarik tangan Sara keluar dari tenda.
Bersambung...
__ADS_1