
Selesai makan siang Faris melihat ke arah jam tangan yang ada dipergelangan tangannya. Masih ada sisa waktu 30 menit untuk jam istirahatnya.
Faris mengambil ponsel yang ada dikantong celananya, Ia mendial nomor Vanes.
"Apa kelasmu sudah habis?" tanya Faris.
Raut wajah Faris berubah kecewa saat Vanes menjawab jika kelasnya belum berakhir dan masih ada 2 kelas lagi.
"Sayang sekali padahal aku ingin menjemputmu." ucap Faris.
"Baiklah kalau begitu aku akan kembali bekerja saja agar nanti bisa pulang lebih awal." ucap Faris lalu mengakhiri panggilannya.
Faris segera kembali keruangannya dimana sudah ada Wulan disana.
"Apa kau tidak istirahat?"
"Tidak pak, saya sedang puasa."
Faris cukup terkejut mengetahui Wulan puasa mengingat pergaulan dikota yang rentan dengan kenakalan namun masih ada anak muda yang tidak terpengaruh dengan kenakalan disini.
"Puasa senin kamis?" tebak Faris mengingat ini hari kamis.
"Benar pak."
"Bagus sekali, jarang ada anak muda yang masih mau puasa senin kamis sepertimu." puji Faris yang hanya disenyumi oleh Wulan.
Satu jam... Dua jam... Waktu berlalu tak terasa hari sudah berganti malam.
Faris bersiap pulang. Kali ini Ia tak pulang larut lagi. Pukul 8 malam pekerjaannya selesai dan semua anak buahnya juga sudah hanyak yang pulang.
"Pulang dengan siapa?" tanya Faris saat berpapasan dengan Sara di lift.
"Naik taksi."
"Pulang bersamaku saja, lagi pula kita serumah." ajak Faris.
Karena takut naik taksi sendirian saat malam begini, Sara pun mengiyakan tawaran Faris. Sara memang galak dan arogan namun sejujurnya dia sangat penakut. Sejak kecil Sara selalu dijaga pengawal kemanapun Sara pergi mengingat kedua orangtua Sara adalah Mafia. Dan karena hal itu, Sara tumbuh menjadi orang yang penakut hingga sekarang.
"Sejujurnya aku juga tidak terbiasa naik kendaraan umum." ucap Sara saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Ya aku mengerti, kau terlahir sebagai sultan pasti akan diantar kemanapun oleh sopirmu." balas Faris menanggapi cerita Sara sambil bercanda.
"Sebenarnya bukan karena itu."
Faris mengerutkan keningnya tak mengerti, "Lalu karena apa?"
__ADS_1
"Mendiang orangtuaku adalah mafia yang memiliki banyak musuh jadi aku memang dijaga ketat namun hal itu membuatku menjadi penakut sekarang." akui Sara lalu tertawa hambar.
"Rasanya aku tidak percaya dengan ceritamu."
"Kenapa tidak percaya?" heran Sara.
"Ya, kau ini gadis galak dan arogan, mustahil jika penakut."
Sara kembali tertawa, "Memang begitu kenyataannya."
"Ah iya aku penasaran dengan sesuatu." ucap Faris tiba tiba.
"Penasaran dengan apa?"
"Bagaimana kau dan Ken bisa saling jatuh cinta?"
Sara malah tertawa, "Kau pikir kami memiliki hubungan spesial? Sama sekali tidak!"
"Lalu? Kenapa kau mau tidur dengannya?" heran Faris.
"Kami mabuk dan tak sengaja melakukan itu tapi kau dan mbak Vanes malah salah paham dan memaksa kami menikah." ungkap Sara membuat Faris terkejut.
"Jadi kau dan Ken baru melakukan sekali?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Entah 4 kali atau mungkin 6 kali, aku juga lupa."
Sara kembali tertawa, "Ya kami mengakui salah tapi seharusnya mbak Vanes tidak memaksaku untuk menikah dengan Ken."
"Jika kau tidak menikah dengan Ken, memang ada yang mau menikahimu dan menerimamu apa adanya?" tanya Faris.
"Tentu saja ada, kau saja mau menikah dengan Mbak Vanes yang sudah janda, menerima Mbak Vanes apa adanya."
Faris berdecak, "Kau tidak tahu saja Vanes itu janda rasa perawan tapi aku mencintainya jadi tidak mempermasalahkan hal seperti itu." batin Faris.
"Jika seorang pria mencintaiku seharusnya Ia juga menerima masa lalu ku. Bukankah begitu?"
"Ya ya terserah kau saja." balas Faris mengakhiri perdebatannya.
"Aku pikir akan menyesal setelah menikah dengan Ken tapi ternyata tidak." ungkap Sara.
"Jadi kau sudah mulai jatuh cinta pada Ken?" tanya Faris penasaran.
"Entahlah, aku tidak tahu jatuh cinta itu seperti apa hanya saja jantungku selalu berdegup kencang saat dia melakukan hal yang manis."
Faris tertawa lalu menghentikan laju mobilnya karena mereka sudah sampai rumah, "Artinya kau sudah jatuh cinta pada Ken."
__ADS_1
"Ck, jangan katakan ini pada Ken. Aku tidak mau dia menjadi semena mena padaku jika tahu aku sudah jatuh cinta padanya."
Faris kembali tertawa, "Baiklah, aku akan keluar sekarang karena istriku sudah menunggu didepan." ucap Faris menunjuk ke arah pintu dimana sudah ada Vanes yang menunggunya turun dari mobil.
"Dasar tukang pamer!" omel Sara lalu ikut turun dari mobil.
"Aku memberi Sara tumpangan karena Ken harus keluar kota." Faris memberi penjelasan pada Vanes karena tidak ingin Vanes salah paham.
"Kenapa Ken keluar kota?" Vanes malah bertanya pada Sara yang akan melewatinya.
"Gudang milik Paman sedang bermasalah jadi Ken pergi untuk mengurusnya." balas Sara dengan malas lalu melewati Vanes dan masuk kerumah lebih dulu.
"Jangan salah paham sayang, aku hanya memberi tumpangan saja karena kasihan jika harus naik taksi sendirian padahal ini sudah malam." jelas Faris melihat raut wajah Vanes yang sedikit berbeda tidak seramah kemarin malam.
Vanes memaksakan senyum, "Aku tidak salah paham mas, justru aku senang melihatmu akur dengan Sara."
Faris ikut tersenyum, Ia bisa melihat jika istrinya sedang cemburu saat ini.
Faris mengelus kepala Vanes lalu mengecup keningnya dan merangkul Vanes, mengajak Istrinya masuk ke dalam rumah.
Selesai mandi, Faris menyusul Vanes dan Sara yang sudah ada dimeja makan bersiap untuk makan malam bersamanya.
Awalnya makan malam terasa hening sebelum akhirnya Sara mulai mengajak Faris membicarakan masalah perusahaan.
"Jadi kemarin kau sudah menemui pihak keryajaya?" tanya Sara.
"Ya semalam aku menemui pemilik kertajaya."
"Dia mau menemuimu?" tanya Sara menatap tak percaya.
Faris mengangguk, "Ya kami bertemu dan membahas segalanya berdua."
"Hebat sekali dia mau bertemu denganmu." puji Sara, "Padahal sebelumnya dia tidak mau bertemu selain dengan Paman."
"Mungkin karena aku menantu Papa Wira atau mungkin pimpinan Kertajaya sudah mengetahui kecerdasanku jadi beliau mau bertemu denganku." ucap Faris dengan nada pamer.
"Huh, kau sombong sekali!" ucap Sara membuat Faris tertawa.
Tanpa keduanya sadari diantara mereka ada Vanes yang sedari tadi hanya diam karena tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Faris dan Sara.
"Kau akrab sekali dengan Sara sampai tak mengubrisku yang juga ada disana tadi." cibir Vanes saat keduanya sudah masuk ke kamar.
Faris tersenyum lalu memeluk Vanes, "Apa istriku cemburu?"
"Apa aku tidak boleh cemburu?" tanya Vanes dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, tapi kau juga harus percaya jika aku tidak akan mengkhianati cinta kita sayang." ucap Faris melepaskan pelukannya lalu mencium kening Vanes.
Bersambung ...