
Ken memukul stir mobilnya, Ia merasa kesal dengan kebodohan Alea yang tidak minum pil penunda kehamilannya.
Rasanya Ia ingin kembali kerumah untuk memberi Alea pelajaran.
"Apa gadis itu sengaja? Aku yakin dia pasti sengaja!" omel Ken didalam mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sial, aku benar benar kesal."
Sesampainya dikantornya, bersamaan dengan Rani dan Dylan yang juga baru saja sampai dikantor. Mereka berdua terlihat gembira bahkan tak sungkan saling bercanda didepan Ken.
"Beri aku rangkuman hasil kerja kalian selama diluar kota!" pinta Ken menatap Rani tajam.
"Saya sudah mengirimkan filenya ke-"
"Aku ingin berkasnya! Jika kau keberatan kau boleh pergi dari sini sekarang!" omel Ken yang akhirnya diangguki oleh Rani.
"Dia benar benar menjengkelkan! Bagaimana bisa kita langsung kerja padahal kita baru saja pulang dari luar kota!" omel Dylan merasa tak terima melihat kekasihnya dibentak oleh Ken.
"Sudahlah, aku akan membuat berkasnya dulu. Sebaiknya kau juga segera keruangan mu sebelum dia kembali mengamuk." ucap Rani dengan sabar.
Dylan mengangguk, segera menuruti Rani dan pergi ke ruangannya.
Setelah selesai membuat berkas yang di inginkan oleh Ken, Rani segera membawa berkas itu ke ruangan Ken.
"Ini pak... Silahkan dicek." ucap Rani sambil menyodorkan berkasnya.
Ken menatap ke arah berkas sejenak lalu bergantian menatap Rani, "Apa yang kalian lakukan selama disana?"
Rani terkejut dengan pertanyaan frontal Ken namun tetap menjawabnya dengan sopan, "Tentu saja kami bekerja pak, untuk apa lagi kami kesana."
Ken malah tertawa, "Apa kau yakin? Dylan tidak mencari kesempatan untuk-"
"Jangan samakan Dylan dengan Bapak." potong Rani merasa sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Kau marah? Apa artinya..."
"Ya benar pak, saya dan Dylan sudah menjalin hubungan dan saya rasa pertanyaan Bapak tidak menyangkut pekerjaan jadi saya izin untuk keluar." ucap Rani masih dengan nada kesal lalu keluar meninggalkan Ken yang tampak tercenggang.
"Mereka sudah menjadi pasangan kekasih? Sialan, apa yang ku takutkan akhirnya terjadi!" umpat Ken lalu mengacak rambutnya merasa semakin frustasi.
...****************...
Jam 12 siang, semua orang yang bekerja dirumah Wira tengah istirahat namun tidak untuk Bik Sri. Ia harus mengantar makanan ke kamar Tuannya dan Nona Sara yang berada dikamar mereka masing masing.
__ADS_1
Bik Sri membawa nampan menuju kamar Wira. Setelah mengetuk pintu dan mendengar suara Wira yang mempersilahkan dirinya masuk, Bik Sri membawa nampan itu masuk ke dalam kamar, melihat Wira tengah berbaring diranjangnya dengan mata terpejam.
Tak ingin mengusik lelap Wira, Bik Sri memilih meletakan nampan dimeja.
Baru ingin berbalik, melangkahkan kaki keluar dari kamar, suara Wira terdengar, menghentikan langkah kaki Bik Sri.
"Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Wira dengan suara lemah.
Bik Sri kembali mendekati Wira, "Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Tolong suapi aku makan." pinta Wira.
Bik Sri tersenyum dan segera menuruti permintaan Wira karena Ia memang sudah sering menyuapi Wira makan.
"Tadi pagi Tuan terlihat sehat." ucap Bik Sri disela sela menyuapi Wira mengingat pagi tadi Wira ikut sarapan bersama dimeja makan sembari bercanda dengan anak menantunya.
"Aku tidak ingin makan sendiri." ucap Wira lalu menatap ke arah Bik Sri namun Bik Sri malah menunduk, tak berani membalas tatapan Wira.
"Apa kau sudah lama menjanda?" tanya Wira yang cukup mengejutkan Bik Sri.
"Sudah Tuan, 1 tahun setelah bekerja dengan Nona Vanes."
"Berapa anakmu?" tanya Wira lagi.
Wira mengangguk, "Apa kau menyayanggi Vanes?"
Bik Sri mengangguk dengan cepat, "Tentu saja Tuan, saya sangat menyayanggi Nona Vanes melebihi anak saya sendiri. Nona Vanes sangat baik pada saya." ucap Bik Sri membuat Wira tersenyum.
"Kalau begitu, tidak bisakah kamu juga menyayanggi Papanya Vanes?"
Bik Sri terkejut, saking terkejutnya sendok yang Ia pegang jatuh ke mangkok bubur setelah mendengar ucapan Wira.
"Tentu saja saya menyayanggi Tuan." ucap Bik Sri dengan bibir bergetar.
"Tapi bukan sebagai Tuanmu, sayangi aku sebagai seorang pria."
Tak hanya bibirnya yang bergetar, tangan Bik Sri pun ikut bergetar. Sungguh Ia bahkan tak mampu mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar ungkapan dari Wira.
"Aku ingin menikahimu, aku tahu mungkin ini terdengar aneh dan lucu tapi melihat ketulusanmu pada Vanes dan keluargaku membuatku semakin mantap ingin menikah denganmu, menghabiskan masa tua bersamamu." ungkap Wira.
"Jangan jawab sekarang, tidak perlu terburu buru, kau boleh memikirkan semua ini lebih dulu. Aku akan menunggu jawabanmu dengan sabar." tambah Wira.
Bik Sri akhirnya mengangguk karena tak tahu harus menjawab apa namun Ia rasa harus memikirkan segalanya lebih dulu sebelum memberi jawaban pada Wira.
__ADS_1
Selesai menyuapi Wira dan memberi obat yang harus diminum Wira, Bik Sri segera ke kamar Sara, membawakan makan siang untuk Sara.
Bik Sri mengetuk kamar Sara cukup lama namun tidak mendapatkan respon dari Sara hingga Ia memutuskan untuk memanggil mang Ujang tukang kebun ditaman untuk mendobrak pintu kamar Sara.
Satu kali dobrakan, dua kali dobrakan dan tidak kali dobrakan akhirnya pintu kamar Sara terbuka meskipun harus rusak.
Betapa terkejutnya Bik Sri dan Mang Ujang melihat Sara tergeletak dilantai dengan bersimbah darah yang sangat banyak.
Bik Sri bahkan sampai berteriak hingga membuat para maid naik ke atas termasuk Alea.
"Kita harus panggil dokter."
"Tidak kita harus panggil Tuan Ken lebih dulu."
"Tidak seharusnya kita panggil ambulance lebih dulu."
Semua orang berbicara dan berbeda pendapat membuat kepala Bik Sri terasa pening karena terlalu bingung.
"Bagaimana ini?" tanya Mang Ujang pada Bik Sri.
Bik Sri mengatur nafasnya, inhale... Exhale... Setelah itu Bik Sri berjalan mendekati telepon rumah dan segera menelepon rumah sakit agar segera mengirimkan ambulance dan Sara bisa ditangani dengan cepat.
Hanya 15 menit, Ambulance memasuki rumah mewah Wira. Beberapa perawat pria keluar dan segera membawa Sara masuk ke mobil ambulance. Bik Sri yang merasa paling tua ikut masuk ke ambulance untuk mengurus Sara dirumah sakit.
"Apa yang terjadi?" tanya Wira mendengar suara ramai dan juga suara ambulance.
"Nona Sara pingsan dan berdarah Tuan." balas Alea yang membawa ember dan kain pel, bersiap membersihkan darah Sara.
"Astaga, cucuku... Apa kalian sudah menghubungi Ken? Segera hubungi dia."
Alea mengangguk dan segera menghubungi Ken dengan telepon rumah.
Satu kali tak dijawab, dua kali bahkan tiga kali masih tak dijawab namun Alea tak menyerah hingga akhirnya keempat kalinya panggilan Alea dijawab oleh Ken.
"Tuan..."
"Ada apa?" Ken terdengar malas mendengar suara Alea.
"Nona Sara... Nona Sara dirumah sakit sekarang Tuan."
"Apaaaa!"
Bersambung...
__ADS_1