
Acara resepsi Wira dan Sri masih 2 hari lagi. liburan kali ini Arka menyempatkan untuk pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan Nimas, kekasih hatinya.
Ia sudah sangat rindu padahal mereka baru berpisah selama seminggu.
Arka pulang tidak naik kendaraan umum melainkan menggunakan mobil Faris.
Faris memang sengaja meminjamkan mobilnya untuk Arka dan dengan izin Wira dan Sri, Arka bisa meminjam mobil Faris.
4 jam perjalanan, tak terasa akhirnya Arka sampai di kampung halamannya. Arka membelokan mobilnya menuju taman desa dimana Nimas sudah menunggunya disana.
Dengan membawa bucket bunga yang Ia beli dikota, Arka mengejutkan Nimas yang sedang duduk sendiri ditaman.
"Untukmu..." ucap Arka mengulurkan bucket bunga yang langsung membuat Nimas tersenyum.
"Kau datang dari mana? Kenapa aku tak melihatmu turun dari ojek?" tanya Nimas.
Arka tersenyum, "Aku dipinjami mobil Mas Faris."
Nimas berohh ria. Ia tak terkejut jika Arka datang membawa mobil mengingat Ayah sambung Arka orang kaya.
"Kau ingin disini atau jalan jalan?" tanya Arka.
"Terserah."
"Kalau terserah, ayo kita jalan jalan." ucap Arka langsung mengenggam tangan Nimas dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa melamun!" sentak Arka saat memasangkan seatbelt untuk Nimas dan Nimas malah terdiam kaku.
"Aku takut nanti akan mengotori mobilnya."
Arka tertawa mendengar kepolosan Nimas, "Kalau kotor aku bisa mencucinya, apa kau sedang datang bulan?"
Nimas mengangguk.
"Tidak masalah jangan khawatir." ucap Arka lalu mengelus kepala Nimas.
Arka segera melajukan mobilnya, kali pertama Ia pergi membawa Nimas menggunakan mobil karena biasanya Arka hanya bisa mengajak Nimas naik motor butut miliknya.
"Bagaimana disekolahan, apa Sekar masih menganggumu?" tanya Arka (Sekar teman sekelas Nimas yang suka membully Nimas karena Nimas sangat cantik dan Sekar iri akan kecantikan Nimas).
Nimas menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, masih ada Nanang yang menjagaku."
Arka berdecak, "Jangan sampai kau jatuh cinta pada Nanang!"
Nimas tersenyum geli, "Dia teman baik mu, mana mungkin merebutku dari mu."
"Terkadang teman baik itu justru bisa membunuh kita dari belakang." ucap Arka.
Nimas berdecak, "Jangan berpikiran buruk, aku juga tidak menyukai Nanang."
Arka tersenyum lega mendengar ucapan Nimas.
Mobil Arka berhenti di sebuah resort yang terkenal bagus dan juga mahal dikotanya.
__ADS_1
"Kita masuk kesana?" tanya Nimas terlihat ragu.
"Tentu saja, kenapa? tidak mau?"
Nimas mengangguk, "Kebanyakan yang datang kesini orang kaya jadi sepertinya..." Nimas melihat baju yang dia kenakan sangat biasa tidak ada kesan mahalnya. Nimas insecure jika harus masuk ke area orang orang kaya seperti itu.
"Kita juga orang kaya karena kita naik mobil." ucap Arka lalu terkekeh dan keluar dari mobil. Arka segera membukakan pintu untuk Nimas agar gadis itu ikut keluar bersamanya.
Mau tak mau Nimas keluar dari mobil. Arka segera mengenggam tangan Nimas dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Kita makan siang dulu setelah itu jalan jalan." ucap Arka yang hanya diangguki oleh Nimas.
Keduanya mencari tempat duduk dan pelayan segera datang membawa buku menu, "Kenapa mahal mahal sekali." bisik Nimas pada Arka.
"Pesan apapun yang kau suka jangan lihat harganya." kata Arka masih tersenyum geli.
Arka ingat sebelum Ia menjadi anak sambung Wira, Ia hanya bisa mengajak Nimas makan semangkuk soto dan kali ini karena Ia sudah banyak uang, Arka ingin Nimas juga merasakan enaknya jadi orang kaya yang bisa membeli apapun tanpa melihat harganya.
Nimas terlihat bingung harus memesan apa, semua menu harganya 10 kali lipat dari warung makan. Contohnya soto, biasanya Ia membeli semangkok soto hanya 5 ribu namun disini harganya 50 ribu. Benar benar membuat takut Nimas untuk memesan.
"Berikan apapun yang paling enak disini." pinta Arka pada pelayan karena Nimas tak kunjung memesan.
"Baiklah." Pelayan itu segera pergi meninggalkan meja Arka.
"Apa uangmu sangat banyak? Bagaimana jika-"
"Tenang saja, aku pasti bisa membayarnya. Lagipula kita jarang bertemu dan aku ingin saat kita bertemu melakukan apapun yang belum pernah kita lakukan termasuk menikmati makanan mahal disini." potong Arka.
Arka tersenyum, gemas dengan Nimas dan mengacak rambut Nimas.
Sembari menunggu pesanan datang, Nimas bercerita tentang apa saja yang dilakukan Nimas saat Arka tidak ada.
Saat sedang asyik bercerita, ponsel Arka berdering membuat Nimas menghentikan ceritanya dan membiarkan Arka menerima panggilan.
"Dari siapa?" tanya Nimas.
"Genta... Temen ku satu kelas. Mau ngajak nongkrong." balas Arka lalu meletakan ponselnya di meja.
Nimas tersenyum, "Udah dapet penggantinya Nanang nih?"
Arka menggelengkan kepalanya, "Mereka nggak sama, Nanang anak baik sementara Genta anaknya nakal."
Raut wajah Nimas berubah cemas, "Jangan ikut ikutan ya?"
Arka tersenyum lalu mengangguk, "Enggak akan."
"Dikota pasti ada yang naksir kamu ya?" tanya Nimas dengan raut wajah khawatir.
"Enggak ada, cuma kamu aja lagian mana ada yang mau sama aku." balas Arka lalu tertawa.
"Sepertinya memang ada yang naksir kamu ya?" tebak Nimas membuat Arka sedikit panik. Arka hanya tidak ingin Nimas tahu tentang Suci.
"Nggak ada sayang."
__ADS_1
"Ya deh aku percaya."
Arka kembali mengacak rambut Nimas dengan gemas.
Pesanan mereka datang dan keduanya mulai menikmati makanan mahal mereka.
"Enak nggak?"
Nimas mengangguk lalu tersenyum.
"Habisin, nanti nambah lagi."
Nimas langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak, ini aja udah kenyang.
Selesai makan dan membayar bil, Arka mengajak Nimas berjalan jalan ke taman resort.
"Setelah lulus aku mau pendidikan polisi. Apa kamu masih sabar menungguku?" tanya Arka.
Nimas mengangguk, "Aku akan menunggumu."
"Janji ya?"
Nimas kembali mengangguk kali ini ditambah senyum manisnya, "Iya."
Arka tersenyum senang lalu memeluk Nimas.
Dan mengingat mereka sedang ditempat umum, Nimas segera melepaskan pelukan Arka.
"Banyak anak kecil nanti dikira kita sedang mesum!" omel Nimas.
Arka tertawa, "Gimana dong, kangen dan nggak tahan juga."
Nimas segera menyilangkan tangan di dadanya, "Nggak usah aneh aneh!"
Tawa Arka semakin membuncah, "Nggak akan sayang, aku nggak mungkin melakukan hal buruk sama kamu tapi kamu juga harus janji ya harus bisa jaga diri buat aku."
Nimas tersenyum lalu mengangguk. Arka kembali memeluk Nimas dan kali ini Nimas membiarkan Arka memeluknya.
Tak terasa hampir 1 jam keduanya berjalan jalan ditaman. Arka merasakan ingin buang air kecil, Ia menitipkan dompet dan ponselnya pada Nimas.
Nimas duduk disalah satu bangku, menunggu Arka keluar dari toilet.
Ponsel Arka berdering, Suci nama kontak yang saat ini memanggil Arka.
"Siapa Suci?" gumam Nimas namun tak menjawab panggilan Arka.
Ponsel Arka kembali berdering hingga mau tak mau Nimas menerima panggilan dari kontak bernama Suci itu.
"Beb jemput aku sekarang dong."
Seketika tangan Nimas bergetar mendengar suara si pemanggil.
Bersambung....
__ADS_1