
Faris dan Vanes sama sama kikuk setelah keduanya baru saja berpelukan.
Vanes merasa sedikit tenang karena pelukan Faris hanya saja Ia merasa malu setelahnya.
"Aku terbawa suasana hingga tak sadar memelukmu. Maafkan aku mbak." ucap Faris akhirnya.
Vanes mengangguk, Ia tak tahu harus menjawab apa. Rasanya ingin marah karena Faris sudah kurang ajar padanya namun pelukan Faris bahkan membantu membuatnya tenang. Vanes akhirnya hanya diam saja.
"Masuk yuk mbak, udah makin dingin nih udaranya." ajak Faris.
Tanpa protes, Vanes mengangguk dan langsung beranjak dari duduknya, meninggalkan Faris lebih dulu.
Faris mengerutkan keningnya, "Apa Mbak Vanes marah ya sama aku?" heran Faris lalu memukul kepalanya, "Dasar bodoh, bisa bisanya aku memeluknya seperti itu. Sudah pastilah dia marah." omel Faris pada dirinya sendiri.
Faris ikut masuk, Ia pikir Vanes sudah naik ke atas kamarnya namun ternyata gadis itu malah duduk didepan televisi tengah menonton film.
"Nggak jadi tidur mbak?" tanya Faris ikut nibrung duduk disamping Vanes.
Lagi lagi Vanes tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya membuat Faris gemas, "Mbak beneran marah sama aku? Maaf mbak aku beneran nggak sengaja tadi."
Vanes terkejut, sejujurnya Ia tak marah pada Faris, Ia hanya ingin menenangkan diri karena jantungnya berdegup sedari tadi setelah Faris memeluknya.
"Eng enggak marah, aku tu cuma..." Vanes tak melanjutkan ucapannya.
"Bener nggak marah? Lain kali enggak lagi deh mbak, aku janji." kata Faris sambil memperlihatkan kedua jarinya.
Vanes kembali mengangguk dan mulai fokus menonton filmnya. Dan karena Vanes menonton film bergenre romance komedi, ada beberapa kali adegan ciuman.
Vanes ingin mempercepat durasinya namun Ia merasa tak enak melihat Faris juga ikut menonton disana.
"Gila tuh cowoknya nyosor aja." celetuk Faris mengomentari adegan ciuman.
Vanes memutar bola matanya malas, Faris mengomentari adegan ciuman padahal dirinya tadi juga nyosor memeluknya.
Tak terasa sudah 2 jam mereka duduk didepan televisi. Sudah pukul 12 malam, Faris bahkan menguap menandakan jika Ia sudah mengantuk.
__ADS_1
"Aku tidur duluan ya mbak." pamit Faris sudah tidak bisa menahan lagi.
Vanes terlihat masih enggan ditinggalkan oleh Faris namun Ia juga sadar jika Faris harus bekerja besok pagi.
Vanes akhirnya mengangguk, mempersilahkan Faris tidur lebih dulu.
Vanes menghela nafas panjang, menatap punggung Faris yang kini baru saja memasuki kamarnya.
Andai saja Rizal memiliki rasa kepedulian padanya seperti yang dilakukan Faris, mungkin Vanes tidak akan merasa kesepian seperti ini.
Vanes benar benar tersiksa namun Ia juga tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hingga Rizal melepaskannya.
Sementara itu dikantor,
Rizal dan Mira belum tidur, mereka tengah melakukan olahraga malam dimana Rizal begitu gagah berada diatas Mira dan Mira tampak menikmati permainan yang didominasi oleh Rizal.
"Aku ingin hamil." ungkap Mira saat Rizal baru saja menyemburkan benih ke rahimnya.
"Jangan lupa minum obatmu sayang." ucap Rizal lalu mencium kening Mira dan berbaring disamping Mira.
"Aku benar benar membenci obat itu!" akui Mira.
Rizal mengelus kepala Mira, "Sebentar lagi sayang, kita bisa memiliki bayi setelah urusanku dengan Vanes selesai."
Mira tersenyum sinis,"Aku tidak yakin jika hubunganmu berakhir, aku yakin sebentar lagi kau pasti akan jatuh cinta pada jala-" Mira tak melanjutkan ucapannya karena Rizal membungkam bibirnya menggunakan bibir Rizal.
"Kenapa susah sekali membuatmu percaya padaku? aku bahkan tidak pernah menyentuh Vanes sama sekali, kamar kami bahkan berbeda." ungkap Rizal terlihat frustasi karena Mira selalu cemburu padahal Ia benar benar hanya mencintai Mira.
"Setelah kau menerima perjodohan itu, aku sudah tak percaya lagi dengan apa yang kau ucapkan." tegas Mira mengingat rasa sakitnya 7 bulan yang lalu saat Rizal menerima perjodohan orangtuanya. Mira merasa sakit hati dan ingin meminta putus namun Rizal tak mau mengakhiri hubungan mereka dan berjanji akan meninggalkan Vanes setelah 1 tahun pernikahan. Meskipun begitu, tetap saja rasa sakit Mira masih membekas hingga sekarang.
"Setelah hubunganku berakhir dengan Vanes, aku akan segera menikahimu dan kita akan memiliki bayi seperti yang kau inginkan. Aku tidak akan meninggalkanmu, meskipun Ibuku melarang, aku akan tetap menikahimu." janji Rizal lalu memeluk Mira yang kini sudah sesenggukan menangis.
...****************...
Pagi ini Faris bangun terlambat, bukan tanpa sebab karena semalam Ia menemani Vanes hingga tengah malam dan membuatnya bangun kesiangan.
__ADS_1
Setelah mandi dan bersiap dengan kilat, Faris keluar dari kamar dan terkejut saat melihat Budhe Tantri, kakak dari ibunya atau ibu dari mas Rizal sudah berada dimeja makan bersama Vanes.
"Faris... bisa bisanya kamu baru bangun padahal Rizal udah berangkat subuh tadi." omel Tantri pada keponakannya.
Faris menatap ke arah Vanes dan mendapatkan kedipan mata yang artinya Vanes berbohong lagi padahal Rizal tidak pulang semalam.
Faris akhirnya tersenyum, pura pura malu, "Mau gimana lagi Budhe, namanya juga anak muda."
"Sudah sudah sini sarapan, nanti kalau kamu kurusan bisa bisa Budhe di omelin sama Asih." celetuk Tantri.
Awalnya Faris ingin menolak mengingat dirinya sudah sangat terlambat namun karena Tantri memaksa, Faris tak memiliki pilihan lain selain duduk ikut sarapan bersama Tantri dan Vanes.
"Jamu yang udah Ibu kasih sudah diminum kan Nduk?" tanya Tantri pada Vanes disela sela sarapan.
"Sudah Bu,"
"Jamunya bagus lho nduk buat kesuburan rahim biar kamu dan Rizal cepet dapet momongan." kata Tantri membuat Faris menghentikan kunyahannya.
Faris bisa melihat dengan jelas raut sedih Vanes. Budhe nya bahkan tidak mengetahui kebrengsekan putranya hingga entengnya mengatakan hal seperti itu pada Vanes.
"Nggak usah buru buru Budhe, lagian yang menjalani pernikahan itu Mas Rizal sama Mbak Vanes, kalau sampai sekarang belum hamil mungkin mereka masih ingin menikmati masa berdua lebih dulu." kata Faris membela Vanes.
"Tetap saja mereka nggak boleh santai. Ibu sama Ayahnya Vanes itu sudah tua dan kami ingin mengendong cucu sebelum meninggal."
"Hus, budhe nggak boleh ngomong gitu, Faris doain Budhe panjang umur agar bisa memiliki kesempatan mengendong cucu." kata Faris yang langsung diamini oleh Tantri.
"Cucu hasil mal praktek sama selingkuhannya bukan sama Vanes maksud aku Budhe." batin Faris lalu tersenyum sinis.
Selesai sarapan, Faris bersiap untuk berangkat. Tak lupa Ia mencium punggung tangan Tantri karena mau bagaimanapun, Tantri juga orangtuanya.
Faris langsung keluar, saat Ia baru akan memasuki mobil, Vanes terlihat menyusulnya keluar membawa kotak bekal yang Faris tebak pasti berisi makanan.
"Mau nitip buat Mas Rizal mbak?" tanya Faris terlihat tak suka.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Bukan buat mas Rizal tapi buat kamu.".
__ADS_1