TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
115


__ADS_3

Selama 3 hari Vanes tidak bertemu dengan Faris. Ia sangat merindukan pria itu dan masih terus berharap Faris mau tinggal bersama dirinya dikota dan bekerja diperusahaan Papanya.


Dan pagi pagi sekali Vanes sudah mencari Pak Hadi agar segera pergi menjemput Faris.


"Sudah kangen banget ya Non?" goda Pak Hadi yang hanya membuat Vanes tersenyum kecil.


Setelah meminta tolong pak Hadi, Vanes kembali masuk ke dalam. Sempat berpapasan dengan Sara dan Ken namun Ia hanya diam saja karena sudah 3 hari ini Sara marah padanya. hanya diam dan tidak menjawab jika diajak bicara.


Hingga saat siang, penantiannya akhirnya terbayar setelah saat ini Faris sudah datang. Vanes memeluk pria itu dengan erat, mencium aroma wangi khas ditubuh Faris.


"Jadi apa kamu sudah membuat keputusan mas?" tanya Vanes.


Faris mengangguk, "Aku mau tinggal disini dan bekerja di kantor Papa."


Vanes kembali memeluk Faris karena terlalu senang, "Terima kasih Mas... Terima kasih." ucap Vanes bersamaan dengan Pak Hadi yang masuk membawa barang barang milik Faris dan beberapa barang penting milik Vanes yang ada dikampung.


"Ini mau ditaruh dimana Den?" tanya Pak Hadi.


"Biarkan saja disini pak nanti saya bawa sendiri ke kamar."


"Baik Den." ucap Pak Hadi lalu keluar karena tak mau menganggu roman antara Vanes dan Faris.


"Aku juga sudah mengundurkan diri sebagai dosen juga sudah mengurus berkas perpindahanmu. Kita akan mencari kampus disini untukmu." jelas Faris yang memang memanfaatkan waktu 1 hari kemarin untuk mengurus pekerjaannya dan juga kuliah Vanes.


"Lalu bagaimana dengan Ibu? Kenapa Ibu tidak ikut kesini?" tanya Vanes yang langsung digelengi oleh Faris.


"Ibu nggak mau meninggalkan rumah kenangan bersama Bapak."


Raut wajah Vanes berubah sedih, "Apa Mas baik baik saja meninggalkan Ibu dikampung?"


Faris tersenyum lalu mengangguk meskipun jujur Ia juga sangat berat meninggalkan Ibunya namun Ia juga tak punya pilihan lain. Papa Wira sedang membutuhkannya dan Ia tak ingin kecewa lagi jika salah mengambil keputusan. Faris hanya berharap Ibunya selalu sehat agar Ia juga tenang berada disini.


Faris mengecup kening Vanes lalu berbisik, "Ayo kita ke kamar." ucap Faris dengan suara nakal yang langsung bisa dipahami oleh Vanes jika mungkin Faris menginginkan itu.


Faris menarik 2 koper besarnya ke atas dan membawanya ke kamar. Ia mengunci kamar sebelum kini sudah berbaring disamping Vanes.


"Aku sangat merindukanmu." ucap Faris, tangannya mulai berkelana menyusuri area tubuh Vanes.

__ADS_1


Keduanya pun melakukan permaianan yang menyenangkan yang 3 hari ini tidak mereka lakukan hingga mereka kelelahan dan terlelap bersama.


Sore hari ini seperti biasa Vanes berada diruangan Wira, membersihkan tubuh Wira lalu mengganti baju Wira.


Setiap hari Vanes melakukan itu 2 kali, pagi dan sore agar badan Wira tetap bersih dan wangi meskipun sedang koma.


Vanes menatap Wira, Ia merasa sangat bahagia saat ini mengingat Faris mau tinggal disini dan mengurus perusahaan.


Vanes mengenggam tangan Wira lalu menciumnnya.


Pintu terbuka, terlihat Faris memasuki ruangan itu dan mendekat ke arah Vanes lalu mencium keningnya.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Faris.


"Tidurmu nyenyak sekali mas, aku nggak tega mau bangunin."


Faris mengelus kepala Vanes lalu duduk disamping Vanes, ikut menatap Wira yang masih koma.


Melihat Wira mengingatkan Faris dengan Bapaknya, Slamet yang kini sudah meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.


Rasanya Faris masih tak menyangka jika Slamet akan pergi secepat itu mengingat selama ini Slamet jarang sakit dan tidak memiliki riwayat penyakit parah.


Jika saja Faris tidak menolak, mungkin Slamet akan melihatnya menikah sebelum meninggal. Nasi sudah menjadi bubur, kecewa pun juga percuma karena Slamet tidak akan pernah kembali. Saat ini Faris hanya ingin memperbaiki segalanya, belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Keputusan tinggal dikota ini sudah benar, Faris memang harus berjuang untuk cintanya dan juga orangtuanya.


Cukup lama keduanya berada diruangan Wira. Tidak ada yang mereka lakukan, hanya memandangi Wira sambil sesekali mengajak ngobrol meskipun tahu jika Wira tidak akan merespon.


Keduanya keluar saat makan malam dimana Ken dan Sara sudah berada dimeja makan. Entah jam berapa mereka pulang, Vanes juga tak tahu.


Faris dan Vanes segera duduk ikut makan malam bersama mereka. Vanes segera mengisi piring Faris dengan nasi lalu menanyakan lauk yang di inginkan oleh Faris.


"Mau tahu bacem apa ayam goreng mas?"


"Tahu saja sama kasih tumisnya."


Vanes mengangguk, menuruti request Faris. Tanpa keduanya sadari, Sara yang sedari tadi melihat dan mendengar merasa aneh dengan kebiasaan Vanes yang selalu mengambilkan makanan Faris padahal Faris bisa mengambilnya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa harus repot mengambilkan makanan padahal sudah didepan mata, seharusnya ambil sendiri biar tidak merepotkan." ucap Sara merasa tak tahan hanya diam sedari tadi tanpa berkomentar.


"Memang sudah kewajiban kita sebagai istri untuk melayani suami, seharusnya kau juga melakukan hal yang sama." kata Vanes yang langsung membuat Ken tersenyum geli seolah mengejek Sara.


"Kenapa kau malah tersenyum!" omel Sara karena Ken tak mau membelanya.


"Ya karena memang benar seharusnya seperti itu."


"Tapi aku tidak mau!"


"Ya sudah, aku juga tidak meminta." kata Ken santai.


Sara memanyunkan bibirnya kembali menikmati makan malamnya.


"Besok aku mulai bekerja, tolong bantu aku." ucap Faris menatap Sara membuat Sara seketika tersedak.


"Apa kau yakin? kau tidak bercanda kan?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Mana berani aku bercanda pada Gadis galak sepertimu." ucap Faris mengundak gelak tawa semua orang yang ada dimeja makan.


"Tidak lucu!"


"Maaf, aku hanya tidak ingin suasana ini jadi tegang karena kita keluarga dan tinggal bersama, seharusnya kita rukun." ucap Faris.


"Kenapa kau berubah pikiran?" tanya Ken tiba tiba mengingat kemarin Faris sempat menolak tinggal dikota dan memimpin perusahaan.


"Karena hidup memang butuh pengorbanan dan aku rasa, aku harus berkorban untuk kebahagiaan istriku." kata Faris yang langsung membuat raut wajah Ken berbeda. Terlihat jelas jika Ken tidak menyukai apa yang baru saja Ia ucapkan.


Sebelum Ia kembali kesini Faris memang merasa jika sikap Ken padanya sangat aneh. Ken terlihat tak menyukainya padahal Faris tidak pernah berbuat salah yang membuat Ken membencinya.


Faris coba menebak, mungkin Ken menyukai Vanes diam diam hingga Ken merasa iri padanya karena berhasil mendapatkan Vanes.


"Memikirkan apa mas?" tanya Vanes membuyarkan lamunan Faris.


"Tidak ada." ucap Faris kembali melanjutkan makannnya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2