
Ken berdiri didepan balkon kamarnya, Ia terkejut saat ada tangan yang melingkar dipinggangnya. Ken tersenyum lalu mengenggam erat telapak tangan yang kini ada diperutnya itu.
"Disini dingin, kenapa tidak masuk ke kamar?" suara lembut istrinya membuat Ken kembali tersenyum.
Rasanya Ken masih tak percaya jika Sara yang awalnya sangat arogan dan galak sekarang bisa bersikap lembut padanya.
Sara benar benar sudah membuktikan jika Sara bisa menjadi istri yang baik untuk Ken.
"Apa kau sudah tak sabar melakukannya sayang?" goda Ken membuat Sara tersenyum malu.
"Jika kau lelah dan sedang tidak ingin, aku tak akan memaksa."
Ken mengendong tubuh Sara, "Aku tak akan membiarkan istriku menahan diri sendirian." ucap Ken lalu membaringkan tubuh Sara di ranjang.
"Aku ingin permainan yang keras untuk malam ini."
Ken tersenyum smirk, "Aku akan membuatmu berteriak malam ini." ucap Ken lalu memulai permainannya.
Ken menarik selimut hingga menutupi tubuh Sara seusai melakukan permainan yang menyenangkan itu.
Ken mengecup kening Sara lalu berbaring disamping Sara.
"Ada apa?" tanya Ken melihat Sara masih menatap ke arahnya, belum tidur.
"Apa kau belum siap memiliki seorang anak?" tanya Sara mengejutkan Ken.
"Anak?"
"Ya, kau selalu membuangnya keluar jadi apa karena kau belum siap memiliki anak?"
Ken tampak diam seolah bingung, tak tahu harus menjawab apa.
Ken tak pernah memikirkan seorang anak apalagi untuk memilikinya. Selama ini Ia selalu bermain aman dengan para gadis termasuk Sara istrinya sendiri.
"Pasti karena kau belum siap kan? ya sudah tidak masalah. Aku hanya bertanya." kata Sara masih tersenyum manis menatap Ken.
"Apa kau sudah menginginkannya?" tanya Ken.
Sara tersenyum, "Sepertinya menyenangkan jika kita memiliki satu bayi kecil."
"Bagaimana dengan karirmu?"
"Mungkin aku akan meninggalkannya, lagipula sudah ada Faris. Dia bisa menjadi pemimpin perusahaan dengan baik."
Ken kembali terdiam lalu beranjak dari tidurnya, "Baiklah, ayo kita memiliki satu bayi." kata Ken kembali memulai permainannya.
...****************...
Pagi pagi sekali Vanes dan Faris sudah bersiap dengan koper mereka. Rencananya mereka akan berangkat honeymoon hari ini.
"Aku titip Rani, tolong ajari dia dengan baik dan jangan sekalipun membentaknya." ucap Vanes pada Ken.
__ADS_1
"Nona tenang saja, saya akan memperlakukan Rani dengan baik." balas Ken yang langsung diancungi jempol Vanes.
Rani yang juga berada disana hanya diam, jujur Ia masih merasa kalut saat ini. Antara harus tetap bekerja atau pulang ke kampung halamannya.
Semalam Rani sempat menelepon ibunya, mengatakan jika Ia ingin pulang, membatalkan pekerjaan dikota namun Ibunya malah mengomel karena ibunya sudah pamer pada orang orang dikampungnya tentang Rani yang bekerja di kota dengan gaji tinggi.
Jika Rani pulang bisa bisa ibunya akan malu.
Mengingat itu membuat Rani terpaksa melanjutkan rencananya untuk bekerja dikota.
"Aku juga ingin honeymoon." pinta Sara dengan suara manja.
"Kau bisa pergi honeymoon setelah kami." kata Faris.
"Mari kita lakukan sayang." pinta Sara menatap Ken penuh ingin.
Ken merasa tak nyaman apalagi melihat raut wajah sedih Rani membuat Ken merasa bersalah sebab Ialah yang membuat Rani sedih.
"Ya kita lihat jadwal pekerjaan kita, jika memang memungkinkan, kita bisa pergi." ucap Ken yang langsung diangguki Sara.
Selesai sarapan, mereka berangkat menuju tempat tujuan masing masing.
Vanes dan Faris memasuki mobil dan segera berangkat ke kampung halaman Faris.
Sementara Sara, Ken dan Rani satu mobil menuju ke kantor.
"Maaf ya harus mengantarku ke kantor dulu." ucap Sara yang duduk dikursi depan, disamping Ken.
"Tidak apa apa mbak." Rani memaksakan senyuman padahal hatinya terasa teriris melihat Ken menyetir mobil dengan satu tangan dan tangan yang satunya mengenggam tangan Sara.
Sesampainya didepan kantor, Sebelum keluar, Sara mencium punggung tangan Ken dibalas kecupan mesra didahi Sara.
Rani memalingkan wajahnya karena tak tahan melihat adegan romantis yang lagi lagi menyakiti hatinya itu.
"Bye Rani." ucap Sara yang kini sudah keluar, sempat melambaikan tangan ke arah Rani yang juga membalas lambaian tangan Sara.
"Mau pindah ke depan?" tawar Ken pada Rani namun Rani tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya saja.
Ken kembali melajukan mobilnya menuju kantornya yang berada tak jauh dari kantor pusat.
"Kita sudah sampai, disinilah kita akan bekerja. Semoga kita bisa menjadi team yang baik." kata Ken yang langsung diangguki Rani.
Keduanya turun dari mobil, seorang pria berperawakan tinggi dan wajah tampan tampak menghampiri keduanya.
"Selamat pagi bosss." sapa pria itu.
"Dylan ini Rani, asisten baruku." Ken tampak memperkenalkan Rani pada Pria bernama Dylan itu.
Dylan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Rani, "Rani... Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik mas."
"Iya Neng, semoga kita bisa sampai pelaminan juga ehhh." celetuk Dylan yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Ken.
__ADS_1
"Udah kerja sana Lo, ada cewek aja langsung gatel!" omel Ken.
Dylan tertawa geli lalu berlari meninggalkan Ken dan Rani.
Ken berjalan memasuki ruangan diikuti oleh Rani.
"Ini ruangan kita," ucap Ken.
"Kita satu ruangan?" Rani tampak terkejut.
Ken mengangguk, "Kalau kamu keberatan, mau beda ruangan nggak masalah."
Rani tampak berpikir sebelum akhirnya Ia menjawab, "Kalau bisa ruangan kita terpisah ya mas tapi kalau nggak ada ya nggak apa apa."
Ken mengangguk paham, "Sementara kamu disini dulu nanti biar ruangan kamu disiapin sama Dylan."
Rani tersenyum lega, jika ruangan mereka berbeda, setidaknya Ia tak harus melihat Ken setiap saat.
Ken membawa setumpuk berkas dari mejanya, "Ini kamu cek lagi, setiap hari job kita apa dan harus kemana, kamu ringkas lalu kasih ke aku." pinta Ken yang langsung diangguki Rani.
"Kalau ada yang nggak kamu pahami, bisa tanya aku."
"Baik Pak."
"Pak?" Ken tersenyum geli mendengar Rani memanggilnya Pak.
"Karena kamu atasanku jadi aku manggil pak, masa mau manggil mas."
Ken berohh ria lalu mengangguk setuju. Panggilan Pak lebih baik dari pada Rani memanggilnya Mas, malah membuat keduanya akan canggung.
Ken sudah fokus menatap layar laptopnya begitu juga dengan Rani yang mulai fokus mengerjakan satu persatu berkas yang diberikan oleh Ken hingga keduanya dikejutkan oleh suara pintu ruangan yang terbuka.
"Manggil saya bos?" tanya Dylan yang baru saja masuk keruangan tanpa mengetuk pintu.
"Lain kali ketuk pintunya!" omel Ken.
Dylan berdecak, "Biasanya juga nggak ngetuk pintu bos, tegang amat apa karena ada cewek cantik?" goda Dylan.
Ken melotot menatap Dylan kesal, "Kamu siapkan ruangan buat Rani."
Dylan malah tersenyum lebar, "Biar satu ruangan sama saya aja bos."
"Nggak bisa! Biar diruangan sendiri."
"Aaa si bos cemburu ya?" goda Dylan membuat Ken semakin kesal hingga melempar pulpen ke arah Dylan.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa
Buat yang nanya kok update nya cuma 1 karena authornya lagi down gaesss wkwkw...
__ADS_1
Lagi banyak problematika yang bikin nggak bisa mikir hehe...
maafiiin author ya gaesss yaaaa