
Tika... Salah satu teman Arga yang sudah lama naksir Arga tampak berjalan mendekat lalu cup... Mencium pipi Arga dengan cepat. Baik Arga, Gala maupun Sara sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Tika.
Sara yang kesal langsung melepaskan genggaman tangan Arga.
"Lo apa apaan!" umpat Arga menatap Tika marah.
"Kangen tau, salah sendiri nggak pernah nongkrong." ucap Tika.
"Gila Lo Tik, bisa bisanya Lo nyium Arga didepan calon bininya." omel Gala ikut tak terima dengan apa yang Tika lakukan apalagi setelah melihat wajah kesal Sara.
"Calon bini? Mana?" Tika tak sadar jika disampingnya ada Sara.
Tika menatap ke arah Sara yang juga sedang menatapnya, "Ini... Serius?" tanya Tika sambil menunjuk ke arah Sara.
Tanpa diduga respon Sara cukup mengejutkan Arga dan Gala, "Iya bener, gue calon istrinya Arga." ucap Sara lalu mengulurkan tangan pada Tika namun Tika tak menerima uluran tangan Sara.
Tika merasa marah pada Arga, "Bisa ya Lo punya calon istri, selama ini Lo anggep gue apa?"
Arga berdecak, "Nggak usah lebay deh Tik, perasaan selama ini kita temenan biasa. Apa masalahnya?" heran Arga.
"Gue suka sama Lo!"
"Tapi gue nggak suka."
"Gila Lo Ga, Lo nyakitin gue banget!" ucap Tika lalu mendorong Sara dan pergi meninggalkan semua orang.
"Dasar cewek gila!" omel Arga membantu Sara yang jatuh karena didorong oleh Tika.
"Dia tergila gila sama Lo jadi ya wajar aja marah." ucap Gala.
"Ya gue mana suka sama dia, mana nggak perawan lagi." omel Arga seketika menyentak Sara.
Sara terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Arga.
Jika Arga menginginkan gadis yang masih perawan kenapa malah menikahi dirinya yang jelas jelas sudah tidak perawan?
"Pulang aja yuk." ajak Sara dengan suara pelan.
Arga mengangguk kembali meneguk alkoholnya hingga habis lalu mengandeng tangan Sara dan mengajaknya keluar dari club.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil.
"Jangan salah paham." ucap Arga.
Sara menggelengkan kepalanya, "Kamu yakin nikah sama aku?"
Arga menatap Sara keheranan, "Aku lagi nggak mood ribut jadi jangan tanya yang akhirnya cuma memancing emosi." ucap Arga lalu melajukan mobilnya.
Saat ini perasaan Arga sedang tak karuan, Ia hanya tak ingin Sara ikut menambahkan racun yang akhirnya membuat perasaan Arga semakin tak karuan.
__ADS_1
"Aku nggak mau ngajak ribut cuma..."
"Cuma apa?" tanya Arga menghentikan laju mobilnya didepan taman.
"Tadi kamu bilang nggak mau sama Tika karena Tika sudah nggak perawan sementara kamu tahu kalau aku juga sudah nggak perawan bahkan status aku janda, apa kamu yakin mau nikahi aku?" tanya Sara dan Arga masih diam, "Aku nggak mau nanti kamu nyesel setelah-" ucapan Sara terhenti saat tiba tiba Arga mencium bibirnya.
Awalnya Sara tidak membiarkan bibir Arga masuk namun akhirnya Sara ikut ******* bibir Arga hingga keduanya berciuman cukup lama dan akhirnya Arga melepaskan tautan bibirnya.
"Karena kamu beda, sejak pertama kita bertemu aku merasa kamu beda nggak murahan. Kamu janda wajar jika sudah tak perawan sementara Tika masih gadis tapi sudah tak perawan, aku tidak suka gadis seperti itu. Apa kau mengerti?"
Sara tersenyum entah mengapa Ia merasa lega setelah mendengar ucapan Arga padahal tadinya Ia merasa sesak dan sedih.
Arga kembali mencium bibir Sara dan kali ini Sara mendorong Arga, "Jangan mengambil kesempatan terus!"
Arga tertawa, "Akhirnya mengomel juga."
Sara berdecak, "Sejak kemarin aku bersabar karena kau sedang kesal tapi ternyata kesabaranku malah menjadi kesempatan nakalmu!"
Arga masih tertawa karena apa yang Sara ucapkan benar, "Jangan salahkan aku, salahmu karena memundurkan tanggal pernikahan. Apa kau tidak tahu jika selama ini aku sangat menahan diriku!"
Sara menghela nafas panjang, "Aku tahu, sebenarnya aku juga ingin mengatakan jika..." Sara menghentikan ucapannya.
"Jika apa?"
"Tidak, lupakan saja."
Arga berdecak, kembali melajukan mobilnya hingga akhirnya keduanya sampai dirumah Wira.
Arga menggelengkan kepalanya, "Aku ingin segera pulang, aku lelah."
"Janji pulang? Tidak datang ke club lagi." tanya Sara dengan raut wajah menyelidik.
"Aku tidak yakin jika Tika masih menungguku mungkin aku akan-"
Plak ... Plak... Plak... Sara memukuli lengan Arga hingga membuat Arga tertawa.
"Awas saja jika kau berani ke club tanpa aku." ancam Sara.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Memotong otongmu!" ancam Sara yang langsung membuat Arga menutupi adik kecilnya itu.
Sara tak mengatakan apapun lagi, Ia segera keluar dari mobil Arga.
"Benar benar menakutkan." gumam Arga melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Wira.
Selesai mandi, Sara turun ke bawah untuk makan malam dimana semua orang sudah berkumpul disana.
"Mana Arga? Apa dia tidak mampir?" tanya Wira.
__ADS_1
"Capek Pa... mau cepet sampai rumah katanya."
"Kalian bertengkar apa gimana?" tanya Wira.
Sara menggelengkan kepalanya, "Nggak Kok Pa, kami baik baik saja."
"Biasalah Pah, calon pengantin kan biasanya gitu suka ada perbedaan." celetuk Vanes iku mengomentari.
"Tapi Papa kok adem ayem aja ya?" ejek Wira.
Sara berdecak, "Papa sama Bik Sri sama sama sudah tua, sudah banyak pengalaman tentu saja adem ayem." ucap Sara tak mau kalah.
Wira tertawa.
"Persiapan sudah sampai mana Pa?" tanya Sara.
"Sudah hampir 80% selesai. besok hari sabtu Papa kesana buat persiapan hari minggunya." jelas Wira, "Nanti kamu satu mobil sama Herman saja."
Sara mengangguk, "Rencananya juga gitu Pa."
"Papa nggak sabar nunggu sampai hari minggu."
Sara berdecak, "Dasar bucin."
Selesai makan malam, Sara tidak langsung ke kamar. Ia masih duduk di meja makan, menunggu Wira yang juga masih duduk disana.
"Nggak istirahat?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Nanti Pa... ada yang mau Sara omongin sama Papa."
"Ngomong apa?"
"Pa... boleh nggak kalau besok Sara ijab dulu sama Arga di kua trus resepsinya bulan depan?" tanya Sara yang sontak membuat Wira terkejut.
"Kenapa tiba tiba gitu?"
"Sejujurnya..." Sara menceritakan pada Wira tentang rencana awal pernikahannya hingga akhirnya harus mundur satu bulan, Sara juga menceritakan jika Arga kecewa dan marah karena hal itu.
"Papa merasa malu karena sudah tua dan nggak ngalah sama kamu." ucap Wira terlihat menyesal.
"Bukan salah Papa, Sara nggak mau ganggu kebahagiaan Papa apalagi buat merayu anak Bik Sri sedikit susah jadi Sara bisa ngerti posisi Papa." kata Sara.
Wira menghela nafas panjang, "Kalau memang harus begitu, Papa nggak masalah. Kamu bisa ijab besok pagi biar Papa minta asisten Papa buat mengurus keperluannya." kata Wira.
Sara menggelengkan kepalanya, "Nggak perlu Pa... Aku udah ada orang yang bakal ngurus segala keperluan." kata Sara.
Sara mengambil ponselnya lalu mendial nomor Zil, "Zil, ada yang harus kau kerjakan malam ini."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaa