
Faris tadinya hanya ingin turun untuk minum namun Ia malah bertemu dengan Alea yang baru masuk dari pintu belakang. Faris merasa aneh karena tengah malam begini Alea keluar rumah.
"Dari mana kau malam malam begini?" tanya Faris yang masih belum dijawab oleh Alea karena gadis itu hanya menunduk, tak berani menatap Faris seperti takut dengan Faris.
"Kau tidak bisa tidur?" tanya Faris sekali lagi dan kini Alea menjawab meskipun hanya mengangguk.
"Baiklah, kembali ke kamar mu dan tidur."
"Baik Tuan." ucap Alea lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
Faris merasa keheranan dengan cara jalan Alea yang menurutnya sedikit aneh namun Ia tak terlalu memusingkan hal itu.
Faris kembali meneguk minumannya dan kali ini Ia benar benar terkejut saat pintu dibuka dan Ken yang baru masuk dari sana.
Tak hanya Faris yang terkejut namun juga Ken yang terkejut.
"Aku tidak bisa tidur jadi merokok di taman." ucap Ken terdengar gugup padahal Faris tidak menanyakan apapun.
"Ohh..." balas Faris lalu melewati Ken.
Faris sempat melihat ada bercak merah di leher Ken.
Faris menutup pintu kamarnya dan kembali berbaring disamping istrinya. Entah mengapa pikirannya sedikit tak tenang. Ia merasa aneh dengan Alea yang dari luar bersamaan dengan Ken yang juga diluar. Entah kebetulan atau tidak, Faris merasa curiga dengan mereka berdua.
"Apa mungkin dia memaksa Sara melakukan hubungan padahal Sara sedang sakit?" batin Faris yang sempat melihat ada bercak merah dileher Ken. Faris tidak bodoh, bercak merah itu pasti tanda cinta bukan karena gigitan serangga.
Hingga pagi pun Faris masih memikirkan tentang Ken dan Alea.
"Pagi pagi kok sudah melamun." cibir Vanes yang ternyata sudah bangun dan sedang menatap dirinya.
"Aku ngerasa ada yang aneh."
"Aneh kenapa mas?"
"Semalam aku..." ucapan Faris terhenti kala mendengar suara seseorang mengetuk pintu dengan keras.
"Non Vanes.... Tuan Faris...." panggil seseorang dari luar kamar.
"Kayak suaranya Bik Sri." gumam Vanes segera beranjak dari ranjang untuk membuka pintu.
"Ada apa Bik?"
"Anu Non... Tuan Wira... Tuan Wira..."
Karena Bik Sri tak kunjung menyelesaikan ucapannya, Vanes segera turun ke bawah untuk melihat keadaan Papa nya.
"Papa sadar..." Gumam Vanes melihat Wira sudah membuka matanya dan duduk bersandar di ranjang. Vanes segera memeluk Wira.
__ADS_1
"Kami tak menyangka Tuan Wira akan sadar dan langsung menghubungi kami." ucap dokter yang selalu mengontrol keadaan Wira.
"Semalam Papa bangun, karena bingung jadi Papa tekan tombol telepon itu dan ternyata tersambung sama dokternya." ucap Wira masih dengan suara lemah.
"Maaf Pa.... Maafin Vanes nggak bisa jagain Papa setiap waktu sampai nggak tahu kalau Papa sadar." Vanes merasa bersalah.
Wira tersenyum, senyumnya semakin mengembang saat melihat Faris memasuki kamarnya dan masih mengenakan baju tidur, "Apa menantuku tinggal disini sekarang?"
Vanes mengangguk, "Mas Faris juga yang menggantikan Papa mengurus perusahaan. Bukankah itu harapan Papa?"
Wira mengangguk,
"Maaf Pa, sudah lancang menggantikan posisi Papa." ucap Faris ikut duduk disamping Vanes.
Wira kembali tersenyum, "Itu yang ku harapkan."
Tak berapa lama, Ken ikut masuk ke kamar Wira.
"Tuan .... Sudah sadar?"
Wira mengangguk, "Mana Sara?"
"Sara dan Ken sudah menikah Pa... Dan sekarang Sara diharuskan bedrest karena sedang hamil muda."
Lagi lagi Wira tersenyum, "Akhirnya... Apa gadis itu masih arogan saat hamil?"
"Kenapa kau masih memanggil Tuan, seharusnya Papa karena sekarang sudah jadi mertuamu." protes Vanes.
"Ya benar, panggil aku Papa mulai sekarang." pinta Wira yang akhirnya diangguki oleh Ken.
Faris hanya diam saja, entah mengapa Ia merasa semakin tak suka dengan gelagat Ken yang menurutnya semakin aneh.
Vanes dan Faris keluar dari kamar Wira karena Wira ingin berbicara pribadi dengan Ken orang kepercayaannya sebelum dirinya koma.
"Kau sudah tidak menyukai Vanes lagi karena kau sudah memiliki Sara sekarang." ucap Wira.
Ken mengangguk, "Saya ingin fokus dengan Sara mulai sekarang Tuan."
Wira tersenyum, "Dia sedang mengandung bayimu. Jangan membuatnya kecewa apalagi saat ini dia sebatang kara, sudah tidak mempunyai orangtua selain aku."
Ken mengangguk, "Saya mengerti Tuan."
"Bagus, aku percayakan Sara padamu Ken." ucap Wira penuh harap.
Ken mengangguk dan segera keluar dari kamar Wira, entah mengapa dadanya merasa sesak mendengar ucapan Wira karena sampai saat ini Ken masih ada rasa dengan Vanes ditambah lagi perasaannya dengan Rani dan kebrengsekannya pada Alea. Entahlah, Ken sendiri juga bingung kenapa sampai sekarang Ia masih belum bisa menyukai Sara yang jelas jelas sudah berubah lebih baik untuknya.
"Ada apa mas?" tanya Sara saat melihat Ken masuk ke kamar dan hanya diam melamun.
__ADS_1
"Tidak apa apa, aku membawa berita baik untukmu." ucap Ken berjalan mendekati istrinya.
"Berita tentang?" Sara menatap Ken serius saking seriusnya Ia bahkan melihat ada bercak merah dileher Ken.
"Tunggu mas... Ini apa?" tanya Sara menyentuh bercak merah yang ada dileher Ken sebelum Ken berbicara.
"Memang apa?"
"Bercak merah."
Jantung Ken berdegup kencang mendengar ucapan Sara. Ia segera berdiri untuk melihat didepan cermin.
Dan betapa terkejutnya Ken saat melihat tanda cinta yang dibuat oleh Alea tanpa Ia sadari.
"Sepertinya semalam belum ada tanda itu." ucap Sara lagi.
"Semalam aku merokok ditaman, apa mungkin digigit serangga?" tanya Ken pura pura bodoh.
Sara berdecak, "Seharusnya jangan duduk disana. biasanya kau merokok di balkon."
"Aku tidak mau asap rokoknya masuk ke dalam kamar jadi aku memilih ditaman."
Sara tersenyum, Ia merasa suaminya sangat menjaga dan memperhatikan dirinya.
"Kenapa kau malah tersenyum?" heran Ken melihat Sara tersenyum padahal jantungnya sudah berdisko didalam sana karena takut ketahuan.
"Tidak apa apa mas, aku hanya merasa kau sangat memperhatikan kesehatanku."
Ken tersenyum, kembali mendekati istrinya, "Tentu saja karena aku mencintaimu."
"Aku beruntung sekali memiliki suami sepertimu mas." ucap Sara namun kali ini Ken terdiam, tak merespon ucapan Sara.
Dikamar lain, Vanes membantu Faris memakai dasinya. Ia merasa heran dengan suaminya karena sejak bangun tadi, Faris banyak diam dan melamun padahal seharusnya saat ini Faris bahagia karena Wira sudah sadar dari koma.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan mas?"
Faris menghela nafas panjang, Ia tak mau memikirkan ini sendirian, "Semalam aku melihat Alea baru saja dari luar padahal sudah tengah malam." cerita Faris.
"Lalu masalahnya apa mas? Bisa saja Alea tidak bisa tidur dan mencari angin diluar." kata Vanes.
"Setelah Alea masuk tak berapa lama Ken juga masuk, Ia juga dari luar."
Kali ini Vanes terdiam.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1