TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
129


__ADS_3

Faris dan Vanes baru saja selesai sarapan di villa setelah itu keduanya memutuskan kembali jalan jalan ke pantai.


Saat berjalan menuju pantai, Faris melihat ada seorang gadis menangis didekat pantai.


Karena penasaran, Faris dan Vanes menghampiri gadis itu.


"Ada apa dek?" tanya Faris duduk disamping gadis yang menangis itu.


Gadis itu mendongak menatap Faris dan Vanes bergantian lalu kembali menangis. Kali ini tangisannya terdengar lebih kencang membuat Faris dan Vanes kebingungan.


"Apa yang terjadi?" seorang pria berbadan tegap dan besar menghampiri mereka bertiga.


"Tolong saya pak." Gadis itu berlari ke arah pria dewasa itu.


"Apa yang kalian lakukan pada keponakan saya?" tanya Pria itu menatap Faris dan Vanes bergantian.


"Kami tidak melakukan apapun, dia sudah menangis sebelum kami datang." ucap Faris membela diri.


"Bohong! Paman mereka berdua berniat menculik ku bahkan pria itu ingin melecehkanku." ungkap Gadis itu sambil menunjuk ke arah Faris dan Vanes.


Sontak Faris dan Vanes terkejut dengan pengakuan gadis muda itu.


"Jangan bohong dek, kami bahkan hanya bertanya!" Vanes mulai kesal menatap gadis muda itu.


"Tangkap mereka paman, laporkan mereka." gadis muda itu kembali menjerit dan menangis.


Pria itu berteriak memanggil teman temannya, Faris dan Vanes terkepung dengan penduduk lokal yang tinggal disekitar sana.


"Bawa ke kantor polisi saja." ucap salah satu warga.


"Apa kalian gila? Kami bahkan tidak melakukan apapun!" Faris mulai emosi karena tidak ada yang mempercayai dirinya.


"Sudah sebaiknya kalian ikut kami ke kantor polisi." kata salah satu pria paling tua diantara mereka.


Faris dan Vanes tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan orang orang lokal itu.


"Gadis itu berbohong, kami bahkan tidak melakukan apapun." kata Faris kembali membela diri saat sudah sampai dikantor polisi.


"Benar pak, kami hanya berlibur disini , tidak ingin menculik anak anak." tambah Vanes ikut membela suaminya.


"Tapi gadis itu bilang kalian berniat jahat bahkan ada banyak saksi yang melihat." kata polisi itu menatap Faris sinis.

__ADS_1


"Jika ada saksi dan mereka berkata seperti itu berarti mereka berbohong. Kami sama sekali tidak berniat jahat." bela Faris lagi.


"Aku akan menghubungi pengacara keluargaku dan kalian yang bersaksi bohong akan mendapatkan balasan setelah ini." ucap Vanes dengan emosi.


Vanes merasa Ia dan Faris sedang dijebak. Ia merasa gadis muda itu sengaja menangis untuk menjebak dirinya dan Faris.


"Saya punya solusi untuk masalah ini." kata Pria berbadan besar itu menghentikan gerakan tangan Vanes yang berniat menghubungi pengacaranya.


"Solusi apa?"


"Lebih baik berikan gadis itu uang dan kalian akan bebas."


Faris dan Vanes tertawa bersama, "Sudah ku duga hanya itu yang kalian inginkan." ucap Faris menatap gadis muda itu dengan kesal karena sudah berani menfitnahnya.


"Kami tidak akan memberikan sepeserpun uang karena kami tidak bersalah!" ucap Vanes dengan tegas.


"Baiklah jika seperti itu kalian akan diproses hukum." ucap polisi yang berjaga.


"Kau gila pak? Apa kau juga bersetongkol dengannya?" Faris menatap polisi itu dengan emosi.


"Kalian ini yang gila, sudah melakukan kejahatan namun tidak mau mengakui!"


Vanes menggelengkan kepalanya tak percaya, benar benar tak habis pikir dengan pikiran polisi itu karena berani memproses hukum orang yang tidak bersalah.


"Kalian benar benar gila, aku akan menghubungi pengacaraku!" umpat Vanes mengambil ponselnya lalu mendial nomor Pak Harsa, pengacara papanya yang biasanya menanggani masalah luar perusahaan.


Setelah mengadukan segalanya pada Pak Harsa, Faris dan Vanes dibawa ke sel penjara. Mereka akan berada disana sampai Harsa datang.


"Apa kita berikan saja uangnya?" tanya Faris memeluk Vanes yang terlihat sedih bahkan hampir menangis.


"Tidak mas, kita tunggu pak Harsa saja. Mereka benar benar sudah keterlaluan. Jika kita biarkan, kasihan pasti akan ada korban lainnya lagi nanti." ucap Vanes dengan suara serak.


"Jangan menangis, hmmm." Faris memeganggi pipi Vanes.


"Aku sedih mas, kenapa orang orang begitu jahat."


Faris mengangguk, "Aku mengerti sayang, kita tidak bersalah dan pasti kebenaran akan terungkap."


Sehari ini hingga malam Faris masig berada di sel penjara. Mereka bahkan belum diberi makan dan baru makan sekali sewaktu sarapan pagi tadi.


Wajah Vanes mulai pucat karena mereka duduk dilantai dingin dan hanya beralaskan tikar tipis.

__ADS_1


Tepat pukul 9 malam, Pak Harsa datang ke kantor polisi dengan membawa beberapa rekannya. Setelah perdebatan alot dan Pak Harsa menceritakan tentang Wira, akhirnya polisi yang memenjarakan Vanes ketakutan.


"Jika kau tak segera membebaskan Nona kami dan suaminya, saya pastikan kau akan segera dicopot dari jabatanmu ini!" ancam Pak Harsa.


Polisi itu hanya diam, berjalan menuju sel penjara dan membuka pintu sel tahanan dengan tangan gemetar.


"Maafkan saya." ucap polisi itu tanpa menatap Faris dan Vanes.


"Kau hanya meminta maaf saja?" tanya Faris sinis, Ia masih marah dengan polisi itu.


"Saya minta maaf karena saya sudah salah tangkap, saya pikir itu cukup dan jangan melebarkan kasus ini kemana mana." kata polisi itu masih tak berani menatap Faris dan Vanes.


"Semudah itu? lebih baik kau akui semua jika kau bekerja sama dengan orang orang tadi!" ucap Vanes dengan geram.


"Tidak, jangan menuduh sembarangan."


"Kau yang sudah menuduh pihak kami padahal mereka tidak bersalah, akui saja atau kau akan ku laporkan pada atasanmu!" ancam Harsa yang membuat nyali polisi itu menciut, hanya diam tak lagi melawan.


"Masih tidak mau mengaku?" tanya Faris.


"Baiklah baiklah, Mereka memang sengaja melakukan itu agar mendapatkan uang." akui polisi itu.


"Kalian benar benar gila!" umpat Vanes.


"Mereka bodoh, biasanya mencari korban bule dan sekarang malah orang lokal!" umpat Polisi itu dengan suara pelan.


"Sekarang aku mau kau tangkap mereka!" pinta Faris.


Polisi itu terkejut lalu menggelengkan kepalanya, "Kalian minta aku jujur dan aku sudah jujur, sekarang kalian minta aku menangkap mereka? Aku tidak mau!"


"Apa karena kau dibayar jadi tidak mau menangkap mereka?'' tanya Faris sinis.


Polisi itu kembali diam, dalam hatinya tidak berhenti mengumpat karena sudah salah korban. Selama ini tidak ada yang berani melawannya karena kebanyakan korbannya orang bule namun sekarang, Ia merasa sedang sial karena sudah salah sasaran.


"Bagaimana kau tidak mau menangkap mereka?" tanya Faris lagi.


"Aku bilang tidak bisa, jangan memaksa apalagi mengancamku!" omel polisi itu.


"Baiklah jika memang tidak mau tapi jangan salahkan kami jika besok kau dipecat."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2